Kumpulan Khotbah Kristen
Friday, October 16, 2026
Wednesday, October 14, 2026
Monday, October 12, 2026
Pujian Versus Teguran
Yesus berkata kepada Petrus: ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah (Matius 16:23). Yesus cinta kepada Petrus dan ingin memberikan kunci Kerajaan Sorga kepadanya dan menjadikannya pemimpin umat, sehingga dia harus ditegur keras. Salomo berkata: "Lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi" (Amsal 27:5)
Bersyukurlah jika ada orang yang dipakai oleh Tuhan untuk menegur dan mengingatkan kita tentang kebenaran. Tuhan memakai Natan untuk menegur Daud. Sebab tidak semua orang punya cara, keberanian dan keinginan untuk menyatakannya.Sebagian besar tidak peduli, terkadang orang lebih memilih untuk menjaga perasaan orang dari pada menyatakan kebenaran.
Tapi perlu dipastikan, bahwa menegur bukan menghakimi. Jangan pernah mendatangi firman Tuhan dengan niat jahat dan menjadikannya sebagai alat untuk menyayat, sebab sesungguhnya firman Tuhan adalah obat.
(Pdt.Nelson Sembiring,M.Th)
Friday, October 9, 2026
Tuesday, October 6, 2026
Mengetahui Karunia Roh Dalam Diri Kita
“Sekarang tentang karunia-karunia Roh, aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.”
(1 Korintus 12:1)
PENDAHULUAN
Setiap orang percaya memiliki tempat dan fungsi dalam pekerjaan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang diselamatkan hanya untuk menjadi penonton di dalam gereja. Tuhan menyelamatkan kita supaya kita dapat melayani-Nya dan menjadi berkat bagi orang lain.
Dalam 1 Korintus 12, Rasul Paulus berbicara secara khusus mengenai karunia-karunia Roh. Menarik bahwa Paulus berkata: “Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui...”
Artinya, mengetahui karunia Roh bukanlah sesuatu yang tidak penting. Orang percaya perlu memahami bahwa Roh Kudus memberikan kemampuan rohani tertentu untuk dipakai dalam pelayanan.
Karena itu, pertanyaan penting bagi kita adalah:
“Karunia apa yang Tuhan berikan kepada saya?”
Jangan sampai kita sudah lama menjadi orang Kristen, aktif di gereja, tetapi belum mengetahui apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Hari ini kita akan melihat tiga hal:
- Arti Karunia Roh
- Cara Mengetahui Karunia Roh Dalam Diri Kita
- Tujuan Karunia Roh Dalam Diri Kita
I. ARTI KARUNIA ROH
Karunia Roh adalah kemampuan atau pemberian khusus yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang percaya untuk dipakai dalam pelayanan dan membangun tubuh Kristus.
Karunia Roh bukanlah sesuatu yang kita hasilkan dengan kekuatan sendiri. Karunia adalah pemberian Allah.
1. Karunia Roh berasal dari Roh Kudus
1 Korintus 12:4 berkata:
“Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.”
Jadi, sumber karunia rohani bukan manusia, bukan pendidikan, bukan jabatan gereja, tetapi Roh Kudus.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan berbicara yang baik, kemampuan mengajar, kemampuan memimpin, kemampuan menolong, atau kemampuan lainnya. Namun, karunia rohani harus dipahami sebagai pemberian Allah yang dipakai untuk tujuan-Nya.
2. Karunia Roh berbeda-beda
Tidak semua orang mempunyai karunia yang sama.
1 Korintus 12:11:
“Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.”
Ada yang menerima karunia mengajar, ada yang melayani, ada yang memberi, ada yang memimpin, ada yang menunjukkan kemurahan, dan sebagainya.
Roma 12:6:
“Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan sesuai dengan kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.”
Jadi, jangan iri terhadap karunia orang lain.
Jangan berkata:
“Mengapa saya tidak seperti dia?”
Sebaliknya katakan:
“Tuhan, apa yang Engkau berikan kepada saya dan bagaimana saya dapat menggunakannya bagi kemuliaan-Mu?”
3. Karunia bukan untuk kebanggaan pribadi
Karunia Roh bukan diberikan supaya seseorang menjadi terkenal.
Karunia bukan alasan untuk berkata:
“Saya lebih hebat daripada orang lain.”
Karunia adalah kepercayaan Tuhan.
Semakin besar karunia yang Tuhan berikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar.
Ayat pendukung
1 Petrus 4:10
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”
Perhatikan kata “pengurus.”
Kita bukan pemilik karunia. Kita adalah pengelola karunia yang Tuhan berikan.
II. CARA MENGETAHUI KARUNIA ROH DALAM DIRI KITA
Pertanyaan berikutnya adalah:
Bagaimana saya mengetahui karunia Roh yang Tuhan berikan kepada saya?
Kita tidak perlu menebak-nebak. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.
1. Mengenal Firman Tuhan
Karunia Roh harus dipahami berdasarkan Firman Tuhan.
Kita tidak boleh menentukan karunia hanya berdasarkan perasaan atau keinginan pribadi.
Roma 12:2 berkata:
“Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Semakin kita mengenal Firman Tuhan, semakin kita belajar mengenal kehendak Tuhan.
Karena itu, orang yang ingin mengetahui karunianya harus dekat dengan Alkitab.
2. Berdoa dan meminta hikmat Tuhan
Yakobus 1:5 berkata:
“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah...”
Kita dapat berkata:
“Tuhan, tunjukkan kepadaku apa yang Engkau percayakan kepadaku.”
Mintalah Tuhan membuka mata kita terhadap kemampuan yang sudah Tuhan berikan.
3. Mulai melayani
Kadang-kadang seseorang tidak akan mengetahui karunianya sebelum dia mulai melayani.
Misalnya:
- Mulai mengajar anak-anak, ternyata ia mampu menjelaskan Firman dengan baik.
- Mulai mengunjungi orang yang sakit, ternyata ia memiliki hati yang kuat untuk menghibur.
- Mulai membantu pekerjaan gereja, ternyata ia memiliki kemampuan melayani yang besar.
- Mulai memimpin kelompok kecil, ternyata ia mampu mengarahkan dan membangun orang lain.
Karena itu, jangan menunggu mengetahui karunia baru mau melayani.
Sering kali, ketika kita mulai melayani, Tuhan justru memperlihatkan karunia yang ada dalam diri kita.
4. Perhatikan buah pelayanan
Matius 7:16 berkata:
“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”
Perhatikan apa yang terjadi ketika kita melayani.
Apakah orang lain diberkati?
Apakah pelayanan tersebut membangun iman orang lain?
Apakah Tuhan memakai kita untuk menolong orang lain?
Kesaksian orang lain juga dapat membantu kita mengenali karunia yang Tuhan berikan.
Kadang-kadang kita tidak menyadari kemampuan kita sendiri, tetapi orang lain melihatnya.
5. Jangan membandingkan diri dengan orang lain
1 Korintus 12:18 berkata:
“Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.”
Tuhan tidak meminta kita menjadi orang lain.
Tuhan meminta kita menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki.
Karunia bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk digunakan.
III. TUJUAN KARUNIA ROH DALAM DIRI KITA
Mengapa Tuhan memberikan karunia Roh?
Karunia Roh bukan sekadar supaya kita merasa istimewa. Ada tujuan yang lebih besar.
1. Untuk membangun tubuh Kristus
1 Korintus 12:12 berkata:
“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak... demikian pula Kristus.”
Gereja adalah tubuh Kristus.
Setiap orang percaya mempunyai fungsi.
Ada yang seperti tangan, ada yang seperti kaki, ada yang seperti mata, ada yang seperti telinga. Semuanya berbeda, tetapi semuanya penting.
Efesus 4:12 menjelaskan bahwa pelayanan diberikan:
“untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
Jadi karunia kita harus membuat gereja semakin kuat, semakin dewasa, dan semakin bertumbuh.
2. Untuk melayani dan memberkati orang lain
Karunia tidak boleh berhenti pada diri kita sendiri.
1 Petrus 4:10 berkata:
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang...”
Karunia yang Tuhan berikan kepada kita sebenarnya dapat menjadi jawaban Tuhan bagi kebutuhan orang lain.
Mungkin Tuhan memberi kita kemampuan mengajar karena ada orang yang membutuhkan pengajaran.
Mungkin Tuhan memberi kita kemampuan menghibur karena ada orang yang sedang mengalami kesusahan.
Mungkin Tuhan memberi kita kemampuan memimpin karena ada pelayanan yang membutuhkan pemimpin.
Mungkin Tuhan memberi kita kemurahan hati karena ada orang yang membutuhkan pertolongan.
3. Untuk memuliakan Tuhan
Tujuan tertinggi dari semua karunia adalah kemuliaan Tuhan.
1 Korintus 10:31:
“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
Jadi pertanyaannya bukan:
“Bagaimana supaya saya terkenal melalui karunia saya?”
Tetapi:
“Bagaimana melalui karunia saya Tuhan semakin dimuliakan?”
Karunia yang besar tanpa kerendahan hati dapat menjadi sumber kesombongan.
Tetapi karunia yang digunakan dengan kasih dan kerendahan hati akan menjadi berkat bagi banyak orang.
ILUSTRASI: KUNCI YANG DIBERIKAN TUAN RUMAH
Bayangkan seseorang memberikan sebuah kunci kepada seorang pemuda.
Pemuda itu menerima kunci tersebut dan menyimpannya di dalam saku.
Setiap hari ia membawa kunci itu.
Ketika ditanya:
“Untuk apa kunci itu?”
Ia menjawab:
“Saya tidak tahu. Yang penting saya memilikinya.”
Padahal kunci tersebut diberikan untuk membuka sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat banyak perlengkapan yang dibutuhkan untuk menolong orang lain.
Demikian juga dengan karunia Roh.
Tuhan memberikan karunia kepada kita bukan supaya hanya disimpan, tetapi supaya digunakan.
Ada orang yang mempunyai karunia mengajar tetapi tidak pernah mengajar.
Ada yang mempunyai karunia menolong tetapi tidak mau terlibat dalam pelayanan.
Ada yang mempunyai kemampuan memimpin tetapi takut mengambil tanggung jawab.
Ada yang mempunyai hati untuk menghibur tetapi tidak pernah mendekati orang yang sedang mengalami kesusahan.
Karunia yang tidak digunakan seperti kunci yang tidak pernah dipakai.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa karunia saya?”
Tetapi lanjutkan dengan pertanyaan:
“Tuhan, untuk siapa karunia ini harus saya gunakan?”
APLIKASI
1. Kenali karunia yang Tuhan berikan
Luangkan waktu untuk berdoa dan mengevaluasi diri.
Tanyakan:
- Apa yang Tuhan berikan kepada saya?
- Dalam pelayanan apa saya dapat melayani dengan baik?
- Apa yang sering Tuhan pakai melalui hidup saya?
- Apa yang orang lain lihat dalam diri saya?
2. Jangan iri terhadap karunia orang lain
Jangan berkata:
“Saya ingin seperti dia.”
Belajarlah berkata:
“Saya bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan kepada saya.”
Tuhan tidak membutuhkan kita menjadi orang lain.
Tuhan membutuhkan kita setia dengan apa yang telah Dia percayakan.
3. Gunakan karunia untuk melayani
Jangan menjadi penonton dalam gereja.
Terlibatlah.
Mulailah dari hal yang sederhana.
Melayani tidak harus menunggu menjadi hebat.
Kesetiaan dalam perkara kecil dapat menjadi jalan bagi Tuhan untuk mempercayakan perkara yang lebih besar.
4. Gunakan karunia dengan kasih
1 Korintus 13 mengingatkan bahwa semua pelayanan harus dilakukan dengan kasih.
Karunia tanpa kasih dapat menjadi sesuatu yang kosong.
Karena itu:
Karunia + kasih = pelayanan yang menjadi berkat.
5. Jangan mencari kemuliaan diri
Ketika Tuhan memakai kita, jangan mengambil kemuliaan yang menjadi milik Tuhan.
Katakan:
“Tuhan, semua ini berasal dari-Mu, untuk-Mu, dan bagi kemuliaan-Mu.”
PENUTUP
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
1 Korintus 12:1 berkata:
“Tentang karunia-karunia Roh... aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui...”
Tuhan ingin kita mengetahui karunia yang telah diberikan-Nya.
Hari ini kita telah melihat tiga hal:
1. Arti Karunia Roh
Karunia Roh adalah pemberian Roh Kudus kepada orang percaya untuk digunakan dalam pelayanan.
2. Cara Mengetahui Karunia Roh Dalam Diri Kita
Kita mengenalnya melalui Firman Tuhan, doa, keterlibatan dalam pelayanan, memperhatikan buah pelayanan, dan nasihat orang percaya lainnya.
3. Tujuan Karunia Roh Dalam Diri Kita
Karunia diberikan untuk membangun tubuh Kristus, melayani dan memberkati orang lain, serta memuliakan Tuhan.
Karena itu, jangan berkata:
“Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada Tuhan.”
Jika kita adalah milik Kristus, Tuhan telah mempercayakan sesuatu kepada kita.
Mungkin bukan karunia yang sama seperti orang lain.
Mungkin tidak terlihat besar.
Tetapi setiap karunia memiliki tempat dalam tubuh Kristus.
Jangan iri terhadap karunia orang lain.
Jangan menyimpan karunia yang Tuhan berikan.
Jangan menggunakan karunia untuk mencari pujian.
Tetapi kenalilah, kembangkanlah, dan gunakanlah karunia itu untuk melayani.
Karena karunia Roh bukan diberikan untuk kebanggaan kita, tetapi untuk pelayanan kita dan kemuliaan Tuhan.
Kalimat penutup:
“Kenali karuniamu, gunakan karuniamu, dan muliakan Tuhan melalui karuniamu.”
Sunday, September 20, 2026
Friday, September 18, 2026
Bijak Mengikuti Zaman
Nas: Ester 1:13
"Maka bertanyalah raja kepada orang-orang arif bijaksana, orang-orang yang mengetahui kebiasaan zaman – karena demikianlah biasanya masalah-masalah raja diurus di depan orang-orang yang mengetahui hukum dan peraturan."
Pendahuluan
Kita hidup di zaman yang terus berubah. Teknologi berkembang, cara berkomunikasi berubah, gaya hidup berubah, bahkan cara manusia memperoleh informasi juga berubah.
Sebagai orang percaya, kita tidak boleh anti terhadap perubahan, tetapi juga tidak boleh menelan semua perubahan tanpa pertimbangan.
Ada hal-hal dari zaman yang boleh kita ikuti, tetapi ada juga hal-hal yang harus kita tolak karena bertentangan dengan Firman Tuhan.
Karena itu, kita membutuhkan hikmat.
Ester 1:13 memperlihatkan bahwa Raja Ahasyweros ketika menghadapi persoalan tidak mengambil keputusan dengan sembarangan. Ia bertanya kepada orang-orang yang mengetahui kebiasaan dan hukum. Ini menunjukkan pentingnya pengetahuan, pertimbangan, dan hikmat dalam mengambil keputusan.
Bijak mengikuti zaman bukan berarti mengikuti semua yang sedang menjadi tren. Bijak mengikuti zaman berarti mampu menggunakan perkembangan zaman tanpa kehilangan kebenaran Firman Tuhan.
1. ARTI ORANG BIJAK
A. Orang bijak mampu membedakan yang benar dan yang salah
Orang bijak tidak hanya bertanya:
“Apakah ini sedang populer?”
Tetapi bertanya:
“Apakah ini benar di hadapan Tuhan?”
Tidak semua yang viral itu benar.
Tidak semua yang banyak dilakukan orang itu baik.
Tidak semua yang modern sesuai dengan kehendak Tuhan.
Amsal 14:8 berkata:
“Hikmat orang cerdik adalah mengerti jalannya...”
Orang bijak mempunyai kemampuan untuk mempertimbangkan arah hidupnya.
B. Orang bijak tidak mudah terbawa arus
Zaman mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap manusia.
Media sosial dapat memengaruhi cara berpikir.
Lingkungan dapat memengaruhi gaya hidup.
Teman dapat memengaruhi keputusan.
Tetapi orang bijak tidak berkata:
“Semua orang melakukannya, jadi saya juga harus melakukannya.”
Ia belajar mempertimbangkan semuanya berdasarkan kebenaran.
Roma 12:2 mengingatkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi mengalami pembaharuan budi.
C. Orang bijak mau belajar dan menerima nasihat
Dalam Ester 1:13, raja meminta pertimbangan orang-orang yang mengetahui hukum dan kebiasaan.
Ini memberikan prinsip penting:
Orang bijak tidak merasa dirinya selalu tahu.
Ia mau belajar.
Ia mau mendengar.
Ia mau bertanya.
Ia mau menerima nasihat yang benar.
Amsal 11:14:
“Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.”
D. Orang bijak menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan
Pengetahuan tanpa hikmat dapat menjadi berbahaya.
Kita dapat mengetahui banyak hal melalui internet, tetapi belum tentu kita tahu bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut dengan benar.
Bijaksana berarti mampu mengubah pengetahuan menjadi keputusan yang benar.
2. SIKAP ORANG BIJAK TERHADAP ZAMAN
A. Orang bijak tidak menolak perkembangan zaman
Kita tidak perlu takut terhadap kemajuan teknologi.
Teknologi dapat digunakan untuk:
- belajar,
- bekerja,
- berkomunikasi,
- memberitakan Injil,
- memperoleh informasi,
- membantu pelayanan.
Masalahnya bukan semata-mata pada teknologinya.
Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya.
Handphone dapat menjadi alat berkat, tetapi dapat pula menjadi sumber pencobaan jika digunakan secara salah.
Internet dapat menjadi sumber pengetahuan, tetapi dapat pula membawa manusia kepada hal-hal yang merusak.
Prinsipnya:
Gunakan zaman sebagai alat, jangan biarkan zaman menjadi tuan atas hidup kita.
B. Orang bijak menyaring pengaruh zaman
Tidak semua budaya dan tren harus diterima.
Ada prinsip sederhana:
“Terima yang baik, tolak yang jahat.”
1 Tesalonika 5:21-22:
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.”
Ini adalah prinsip yang sangat relevan bagi kehidupan masa kini.
Sebelum mengikuti sesuatu, tanyakan:
- Apakah sesuai dengan Firman Tuhan?
- Apakah membangun kehidupan rohani?
- Apakah membawa saya semakin dekat kepada Tuhan?
- Apakah memberikan teladan yang baik?
- Apakah saya dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan?
C. Orang bijak tidak kehilangan identitasnya
Zaman boleh berubah.
Firman Tuhan tidak berubah.
Mode boleh berubah.
Teknologi boleh berubah.
Bahasa boleh berubah.
Cara berkomunikasi boleh berubah.
Tetapi nilai-nilai kebenaran Tuhan tetap menjadi dasar kehidupan.
Seperti Daniel yang hidup di Babel, ia berada di tengah budaya yang berbeda, tetapi tidak kehilangan identitasnya sebagai umat Allah.
Daniel 1:8:
“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya...”
Daniel hidup mengikuti perkembangan lingkungan di sekitarnya, tetapi ia tidak mengikuti dosa lingkungan tersebut.
Prinsip:
Kita boleh hidup di zaman modern, tetapi jangan sampai hati kita menjadi milik zaman.
D. Orang bijak menggunakan kesempatan pada zamannya
Ada orang yang hanya melihat zaman sebagai ancaman.
Tetapi orang bijak melihat bahwa setiap zaman mempunyai kesempatan.
Media digital dapat menjadi sarana menyebarkan Firman Tuhan.
Teknologi dapat membantu pendidikan.
Komunikasi modern dapat memperluas pelayanan.
Karena itu kita perlu memiliki prinsip:
“Saya tidak harus mengikuti semua yang dilakukan zaman, tetapi saya harus menggunakan kesempatan yang diberikan zaman untuk melakukan kehendak Tuhan.”
3. HASIL SAAT SESEORANG BIJAK
A. Terhindar dari keputusan yang salah
Banyak masalah terjadi bukan karena seseorang tidak mempunyai pengetahuan, tetapi karena ia mengambil keputusan tanpa hikmat.
Orang bijak belajar berpikir sebelum bertindak.
Amsal 19:2:
“Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.”
Hikmat membuat kita tidak mudah mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi atau tekanan lingkungan.
B. Hidup menjadi lebih terarah
Orang yang bijak mempunyai arah.
Ia tidak hidup hanya mengikuti:
- tren,
- teman,
- popularitas,
- keinginan daging,
- tekanan lingkungan.
Ia mempunyai prinsip.
Mazmur 119:105:
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Firman Tuhan menjadi kompas kehidupan.
C. Menjadi teladan bagi orang lain
Orang bijak bukan hanya menyelamatkan dirinya dari kesalahan, tetapi juga dapat menjadi teladan bagi orang lain.
Anak membutuhkan orang tua yang bijak.
Murid membutuhkan guru yang bijak.
Jemaat membutuhkan pemimpin yang bijak.
Generasi muda membutuhkan teladan yang bijak.
Karena itu, hidup kita harus dapat berkata:
“Saya hidup di zaman ini, tetapi saya tidak kehilangan nilai-nilai Kerajaan Allah.”
D. Dapat memanfaatkan zaman untuk kemuliaan Tuhan
Ini hasil yang paling penting.
Tujuan kita bukan sekadar menjadi orang modern.
Tujuan kita adalah menjadi orang percaya yang hidup benar di tengah zaman yang berubah.
Efesus 5:15-16:
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada...”
Orang bijak tidak menyia-nyiakan zamannya.
Ia menggunakan kesempatan untuk:
Belajar → Bertumbuh → Melayani → Menjadi berkat → Memuliakan Tuhan.
ILUSTRASI: AIR DAN KAPAL
Bayangkan sebuah kapal berada di tengah laut.
Air laut berada di sekeliling kapal.
Kapal harus berada di dalam air supaya dapat bergerak menuju tujuan.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh terjadi:
Air tidak boleh masuk ke dalam kapal.
Kalau air masuk dan memenuhi kapal, kapal akan tenggelam.
Demikian juga dengan kehidupan kita.
Kita hidup di tengah dunia dan zaman yang terus berubah.
Kita tidak mungkin keluar dari dunia.
Kita menggunakan teknologi.
Kita berkomunikasi dengan manusia modern.
Kita bekerja dan belajar dalam perkembangan zaman.
Tetapi jangan sampai nilai-nilai dunia menguasai hati kita.
Kita harus berada di tengah zaman, tetapi jangan membiarkan zaman masuk dan menguasai kehidupan kita.
APLIKASI
1. Untuk orang tua
Jangan hanya melarang anak menggunakan teknologi.
Ajarkan mereka menggunakan teknologi dengan bijaksana.
Dampingi mereka.
Ajarkan mereka menyaring informasi.
Ajarkan mereka membedakan yang benar dan yang salah.
2. Untuk anak-anak dan generasi muda
Jangan mengikuti sesuatu hanya karena sedang viral.
Sebelum mengikuti tren, tanyakan:
“Apakah ini menyenangkan hati Tuhan?”
Popularitas hanya sementara, tetapi karakter menentukan masa depan.
3. Untuk jemaat
Jangan menjadi orang Kristen yang takut terhadap perubahan.
Belajarlah menggunakan perkembangan zaman untuk:
- belajar Firman Tuhan,
- membangun hubungan,
- melayani,
- memberitakan Injil,
- menjadi berkat.
4. Untuk semua orang percaya
Sebelum mengikuti sesuatu, saring dengan Firman Tuhan.
Bukan:
“Apa kata orang?”
Tetapi:
“Apa kata Firman Tuhan?”
Bukan:
“Apa yang sedang tren?”
Tetapi:
“Apakah ini benar di hadapan Tuhan?”
PENUTUP
Saudara-saudara,
Zaman terus berubah, tetapi Tuhan tidak berubah.
Kita tidak dipanggil untuk melarikan diri dari zaman, tetapi untuk hidup benar di tengah zaman.
Ester 1:13 mengajarkan pentingnya pertimbangan dan hikmat sebelum mengambil keputusan.
Karena itu:
Jadilah orang yang bijak!
Bijak dalam berpikir.
Bijak dalam memilih.
Bijak dalam menggunakan teknologi.
Bijak dalam mengikuti perkembangan zaman.
Bijak dalam mengambil keputusan.
Tetapi yang terutama:
Jangan biarkan zaman menentukan siapa kita. Biarlah Firman Tuhan menentukan siapa kita.
Kalimat penutup:
“Orang bijak bukanlah orang yang mengikuti semua perkembangan zaman, tetapi orang yang mampu menggunakan perkembangan zaman tanpa meninggalkan kebenaran Tuhan.”
Kiranya Tuhan menolong kita menjadi orang-orang percaya yang bijak—hidup di zaman kita, memahami zaman kita, menggunakan kesempatan zaman kita, tetapi tetap berdiri teguh di atas Firman Tuhan. Amin.




































