Sunday, October 25, 2026

TUHAN YANG ATUR

 

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)

Ayat pendukung: Amsal 19:21; Roma 8:28; Yeremia 29:11.

Tujuan khotbah: Jemaat memahami bahwa Tuhan berdaulat atas kehidupan, belajar mempercayai cara Tuhan bekerja, dan memiliki sikap yang benar ketika Tuhan mengatur jalan hidup kita.

PENDAHULUAN

Setiap manusia mempunyai rencana dalam hidupnya. Kita merencanakan pendidikan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, masa depan, dan berbagai hal lainnya. Kita ingin semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita.

Namun, kenyataan tidak selalu sesuai dengan rencana. Ada saatnya pintu yang kita harapkan terbuka justru tertutup. Ada saatnya kita harus menunggu lebih lama daripada yang kita pikirkan. Ada juga saatnya Tuhan membawa kita melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ketika hal itu terjadi, kita mungkin bertanya, “Tuhan, mengapa ini terjadi? Mengapa jalanku berbeda dari yang kurencanakan?”

Di sinilah kita perlu belajar satu kebenaran penting: Kita boleh membuat rencana, tetapi Tuhanlah yang memegang kendali atas hidup kita.

Amsal 16:9 mengajarkan bahwa manusia dapat merencanakan jalannya, tetapi Tuhan menentukan arah langkahnya.

Tuhan bukan hanya mengetahui masa depan kita, tetapi Dia juga sanggup bekerja melalui keadaan yang tidak kita pahami untuk menggenapi kehendak-Nya.

Mari kita mempelajari tiga kebenaran tentang Tuhan yang mengatur kehidupan kita.

I. ARTI TUHAN YANG ATUR

A. Tuhan berdaulat atas segala sesuatu

Amsal 16:9

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”

Tuhan Yang Atur berarti Tuhan memiliki kuasa dan kedaulatan atas kehidupan kita. Tidak ada sesuatu pun yang berada di luar pengetahuan dan kuasa-Nya.

Kita mempunyai kehendak, keinginan, dan rencana. Namun, kita bukan pemilik mutlak atas masa depan kita. Tuhanlah yang mengetahui seluruh perjalanan hidup kita, bahkan hal-hal yang belum kita lihat.

Amsal 19:21 berkata:

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.”

Ayat ini tidak berarti kita tidak perlu membuat rencana. Kita tetap harus berpikir, bekerja, dan bertanggung jawab. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa rencana kita perlu tunduk kepada kehendak Tuhan.

B. Tuhan mengatur bukan berarti semua berjalan sesuai keinginan kita

Sering kali kita menganggap bahwa Tuhan sedang bekerja apabila semua berjalan lancar. Sebaliknya, ketika mengalami masalah, kita merasa Tuhan meninggalkan kita.

Padahal, kehadiran masalah tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Ada hal-hal yang Tuhan izinkan untuk membentuk iman, kedewasaan, kesabaran, dan karakter kita.

Roma 8:28 berkata:

“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Ayat ini tidak mengatakan bahwa semua peristiwa itu sendiri baik. Namun, Tuhan sanggup bekerja melalui berbagai keadaan, termasuk penderitaan dan kekecewaan, untuk mendatangkan kebaikan sesuai dengan tujuan-Nya.

C. Tuhan melihat keseluruhan perjalanan kita

Kita sering hanya melihat apa yang terjadi hari ini, sedangkan Tuhan mengetahui keseluruhan perjalanan hidup kita.

Kita melihat pintu yang tertutup, tetapi Tuhan mengetahui apa yang ada di balik pintu itu. Kita melihat penundaan, tetapi Tuhan mengetahui waktu dan tujuan-Nya.

Karena itu, kita tidak boleh menilai kesetiaan Tuhan hanya berdasarkan keadaan yang sedang kita alami.

Ilustrasi: Seorang penumpang dan pilot pesawat

Seorang penumpang naik pesawat untuk menuju suatu kota. Ia tidak mengetahui setiap keputusan yang harus diambil selama penerbangan. Ketika pesawat mengalami perubahan jalur karena cuaca buruk, penumpang itu mungkin merasa cemas.

Namun, pilot memiliki informasi dan tanggung jawab untuk menentukan jalur yang aman menuju tujuan.

Demikian juga dengan hidup kita. Kita tidak mengetahui seluruh keadaan di depan, tetapi Tuhan mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Kita harus belajar mempercayai pimpinan-Nya.

Tentu, ilustrasi ini hanya menggambarkan keterbatasan pandangan kita; Tuhan jauh lebih berkuasa dan sempurna daripada manusia.

Aplikasi:

  1. Jangan menganggap diri kita sebagai penguasa mutlak atas kehidupan sendiri.

  2. Buatlah rencana dengan sungguh-sungguh, tetapi serahkan hasilnya kepada Tuhan.

  3. Ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan, jangan langsung menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita.

  4. Belajarlah berkata, “Tuhan, aku belum memahami semuanya, tetapi aku mau mempercayai-Mu.”

Pertanyaan untuk jemaat: Apakah selama ini kita sungguh-sungguh menyerahkan rencana hidup kepada Tuhan, atau kita hanya meminta Tuhan menyetujui rencana kita?

Kesimpulan garis besar pertama: Tuhan Yang Atur berarti kita mengakui kedaulatan-Nya dan menyadari bahwa hidup kita berada dalam tangan-Nya.

II. CARA TUHAN MENGATUR HIDUP KITA

Tuhan mempunyai banyak cara untuk mengarahkan kehidupan manusia. Cara-Nya tidak selalu sama, dan tidak semuanya langsung kita pahami.

A. Tuhan mengatur melalui firman-Nya

 Mazmur 119:105

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Tuhan memberikan firman-Nya sebagai pedoman bagi kehidupan kita. Melalui firman, kita belajar membedakan yang benar dan yang salah, yang berkenan kepada Tuhan dan yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Ketika kita bingung mengambil keputusan, firman Tuhan menolong kita menentukan prinsip yang benar.

Misalnya, ketika menghadapi godaan untuk berbohong demi keuntungan pribadi, firman Tuhan mengajar kita untuk hidup dalam kebenaran. Ketika kita ingin membalas kejahatan, firman Tuhan mengajar kita untuk mengampuni.

Jadi, kita tidak boleh berkata, “Tuhan, aturlah hidupku,” tetapi kita mengabaikan firman-Nya.

Aplikasi:

  • Bacalah Alkitab secara teratur.

  • Terapkan firman Tuhan dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan hubungan dengan sesama.

  • Jangan hanya mencari ayat yang menyenangkan hati, tetapi bersedialah menaati firman yang menegur dan memperbaiki kita.

B. Tuhan mengatur melalui proses dan keadaan hidup

Yakobus 1:2–4

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Tuhan dapat memakai proses kehidupan untuk membentuk karakter kita. Ada kalanya kita belajar melalui keberhasilan, tetapi ada kalanya kita justru belajar melalui kegagalan.

Ada orang yang menjadi lebih sabar setelah menghadapi kesulitan. Ada orang yang belajar berserah setelah menyadari keterbatasannya. Ada orang yang semakin memahami pentingnya doa ketika menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan kekuatannya sendiri.

Namun, kita perlu berhati-hati: tidak setiap penderitaan berarti Tuhan sedang menghukum kita atau memberikan pesan khusus. Kita tidak selalu mengetahui alasan suatu peristiwa. Yang dapat kita pegang adalah bahwa Tuhan sanggup menyertai dan membentuk kita di tengah proses tersebut.

Ilustrasi: Emas yang dimurnikan

Emas yang masih bercampur dengan kotoran perlu melalui proses pemurnian. Proses itu melibatkan panas agar kotoran dapat dipisahkan.

Demikian juga, dalam kehidupan orang percaya, proses yang sulit dapat menyingkapkan kesombongan, ketidaksabaran, ketakutan, atau ketergantungan kita pada diri sendiri.

Tentu, penderitaan manusia tidak sama persis dengan proses pemurnian emas. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa proses yang tidak menyenangkan dapat menghasilkan perubahan yang berharga.

Aplikasi:

  • Jangan hanya bertanya, “Kapan masalah ini selesai?” Tanyakan juga, “Tuhan, apa yang perlu kupelajari dalam keadaan ini?”

  • Tetaplah setia ketika hasil belum terlihat.

  • Jangan menyia-nyiakan proses; gunakan masa sulit untuk bertumbuh dalam iman dan karakter.

C. Tuhan mengatur melalui orang lain dan kesempatan

Amsal 15:22

“Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.”

Tuhan dapat memakai nasihat orang tua, pasangan, pemimpin rohani, guru, sahabat yang bijaksana, maupun orang lain untuk menolong kita melihat sesuatu dengan lebih jelas.

Tuhan juga dapat memakai kesempatan pelayanan, pekerjaan, pertemuan, dan pengalaman tertentu untuk mengarahkan langkah kita.

Namun, kita harus menguji setiap nasihat berdasarkan firman Tuhan. Tidak semua pendapat manusia pasti benar, dan tidak setiap kesempatan yang terbuka otomatis merupakan kehendak Tuhan.

Ilustrasi: Musa dan Yitro

Dalam Keluaran 18:13–24, Yitro melihat Musa melayani bangsa Israel seorang diri sampai kelelahan. Yitro kemudian memberikan nasihat agar Musa membagi tanggung jawab kepada orang-orang yang cakap dan takut akan Allah.

Musa menerima nasihat itu dan mengatur pelayanan dengan lebih baik.

Melalui peristiwa ini, kita melihat bahwa nasihat yang bijaksana dapat menolong seseorang menjalankan tanggung jawabnya dengan lebih baik.

Aplikasi:

  • Jangan merasa bahwa kita selalu benar dan tidak membutuhkan nasihat.

  • Belajarlah mendengarkan orang yang dewasa secara rohani dan bijaksana.

  • Ujilah nasihat berdasarkan firman Tuhan dan pertimbangkan akibatnya dengan bertanggung jawab.

  • Bersikaplah terbuka terhadap kesempatan baru, tetapi tetap gunakan hikmat.

D. Tuhan mengatur dengan waktu-Nya

Pengkhotbah 3:11

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”

Ada hal-hal yang kita inginkan segera, tetapi kenyataannya membutuhkan waktu. Kita ingin doa segera dijawab, masalah cepat selesai, dan perubahan langsung terjadi.

Namun, kita tidak selalu memahami waktu Tuhan. Menunggu bukan berarti Tuhan tidak bekerja. Pada saat yang sama, kita tidak boleh menggunakan ayat ini untuk menjamin bahwa setiap keinginan kita pasti akan terwujud sesuai harapan.

Yang harus kita lakukan adalah tetap setia, melakukan bagian kita, dan mempercayakan hasil kepada Tuhan.

Ilustrasi: Petani yang menunggu panen

Seorang petani tidak menanam benih hari ini lalu menuntut panen pada hari berikutnya. Ia harus menyiapkan tanah, menanam, menyiram, merawat, dan menunggu pertumbuhan.

Ia tidak dapat memaksa tanaman bertumbuh hanya karena ia ingin cepat memperoleh hasil.

Demikian pula, ada proses dalam kehidupan yang membutuhkan kesabaran dan kesetiaan.

Aplikasi:

  • Jangan mengambil keputusan yang salah hanya karena tidak sabar menunggu.

  • Gunakan masa menunggu untuk mempersiapkan diri dan memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki.

  • Teruslah berdoa, bekerja, dan melayani sambil menyerahkan waktu dan hasil kepada Tuhan.

Kesimpulan garis besar kedua: Tuhan dapat mengarahkan kita melalui firman, proses kehidupan, nasihat orang lain, kesempatan, dan waktu-Nya. Karena itu, kita harus peka, berhikmat, dan tetap setia.

III. SIKAP KITA SAAT TUHAN ATUR

Setelah memahami bahwa Tuhan berdaulat dan mempunyai banyak cara untuk mengatur kehidupan kita, pertanyaannya adalah: bagaimana seharusnya sikap kita?

A. Percaya kepada Tuhan sekalipun belum mengerti

Amsal 3:5–6

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Percaya kepada Tuhan bukan berarti kita selalu memahami apa yang sedang terjadi. Percaya berarti kita tetap berpegang kepada karakter, firman, dan kesetiaan-Nya sekalipun keadaan belum jelas.

Abraham dipanggil Tuhan untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukkan kepadanya (Kejadian 12:1–4). Ia harus melangkah tanpa mengetahui seluruh perjalanan di depan.

Iman tidak berarti kita mengetahui semua jawaban. Iman berarti kita bersedia menaati Tuhan berdasarkan apa yang telah Dia nyatakan.

Ilustrasi: Anak yang memegang tangan ayahnya

Seorang anak berjalan bersama ayahnya di tempat yang belum pernah ia kunjungi. Anak itu tidak mengetahui seluruh jalan, tetapi ia merasa aman ketika memegang tangan ayahnya.

Keamanan anak itu bukan karena ia mengetahui semua hal, melainkan karena ia mempercayai orang yang menuntunnya.

Demikian pula, kita tidak selalu mengetahui apa yang akan terjadi besok. Namun, kita dapat tetap berjalan dalam iman kepada Tuhan.

Aplikasi:

  • Jangan menunggu sampai semua pertanyaan terjawab untuk mulai menaati Tuhan.

  • Ketika bingung, kembali kepada firman dan berdoalah meminta hikmat.

  • Beranilah melangkah dalam ketaatan meskipun masa depan belum terlihat jelas.

B. Bersabar dan tidak bersungut-sungut

Mazmur 37:7

“Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia.”

Ketika Tuhan tidak bertindak sesuai waktu kita, kita mudah menjadi gelisah, kecewa, bahkan marah.

Kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita bertanya mengapa orang lain tampaknya lebih cepat berhasil, sementara kita masih menunggu.

Namun, setiap orang mempunyai perjalanan yang berbeda. Kita tidak boleh mengukur kesetiaan Tuhan hanya berdasarkan kecepatan memperoleh jawaban.

Bersabar bukan berarti pasif atau berhenti berusaha. Bersabar berarti kita tidak meninggalkan iman, tidak mengambil jalan yang salah, dan tetap melakukan tanggung jawab kita sambil menantikan pimpinan Tuhan.

Ilustrasi: Yusuf di Mesir

Dalam Kejadian 37–41, Yusuf mengalami perjalanan yang panjang dan sulit. Ia dijual oleh saudara-saudaranya, menjadi budak, lalu dipenjarakan meskipun tidak bersalah.

Akan tetapi, kisah Yusuf tidak berhenti di penjara. Tuhan kemudian memakai Yusuf untuk menafsirkan mimpi Firaun dan mengangkatnya menjadi penguasa di Mesir.

Kejadian 50:20 memperlihatkan bagaimana Yusuf memahami bahwa Allah sanggup mengubah keadaan yang dimaksudkan untuk kejahatan menjadi sarana untuk memelihara banyak orang.

Kita tidak boleh menyimpulkan bahwa setiap orang yang menderita pasti akan memperoleh jabatan atau keberhasilan seperti Yusuf. Pelajaran utamanya adalah bahwa Tuhan dapat bekerja bahkan ketika perjalanan hidup terasa sangat sulit.

Aplikasi:

  • Jangan meninggalkan Tuhan hanya karena doa belum dijawab.

  • Hindari keputusan terburu-buru yang bertentangan dengan firman demi memperoleh hasil cepat.

  • Tetaplah setia dalam hal-hal kecil selama menunggu.

  • Belajarlah melihat kembali perjalanan hidup dan mengenali pertolongan Tuhan yang mungkin dahulu tidak kita sadari.

C. Taat dan bersedia mengubah rencana

Lukas 22:42

“Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Di Taman Getsemani, Yesus menyatakan pergumulan-Nya menjelang penderitaan dan kematian-Nya. Ia berdoa kepada Bapa dan menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.

Ini merupakan teladan penyerahan diri yang luar biasa.

Sering kali kita berdoa agar Tuhan mengubah keadaan, tetapi kita tidak bersedia jika Tuhan meminta kita mengubah sikap, kebiasaan, atau rencana kita.

Kita meminta Tuhan memberkati pekerjaan, tetapi kita tidak mau meninggalkan ketidakjujuran. Kita meminta Tuhan memulihkan hubungan, tetapi kita tidak mau meminta maaf. Kita meminta Tuhan memakai kita dalam pelayanan, tetapi kita tidak mau belajar rendah hati.

Penyerahan diri yang sejati bukan hanya berkata, “Tuhan, lakukanlah apa yang aku inginkan,” tetapi juga, “Tuhan, bentuklah aku agar hidupku sesuai dengan kehendak-Mu.”

Ilustrasi: Pemahat dan batu

Seorang pemahat melihat sebuah batu yang belum berbentuk. Ia bekerja dengan memotong dan membuang bagian-bagian tertentu sampai terbentuk karya yang diinginkan.

Batu itu tidak dapat menentukan sendiri bentuk akhirnya. Ia harus mengalami proses pembentukan.

Demikian pula, kita perlu bersedia dibentuk oleh Tuhan. Ada kebiasaan yang perlu ditinggalkan, ada karakter yang harus diperbaiki, dan ada sikap yang perlu diubah.

Ilustrasi ini bukan berarti setiap kesulitan pasti merupakan teguran khusus dari Tuhan. Namun, kita dapat meminta Tuhan menolong kita bertumbuh melalui setiap keadaan.

Aplikasi:

  • Bersedia mengakui kesalahan dan bertobat.

  • Jangan mempertahankan rencana yang jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan.

  • Belajar berkata, “Tuhan, bukan hanya jalanku yang Engkau pimpin, tetapi hatiku juga mau Engkau bentuk.”

  • Tunjukkan ketaatan melalui tindakan nyata, bukan hanya perkataan.

D. Tetap bersyukur dalam segala keadaan

1 Tesalonika 5:18

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Bersyukur dalam segala keadaan tidak berarti kita harus berpura-pura bahagia ketika mengalami penderitaan. Kita boleh menangis, berduka, dan menyampaikan pergumulan kita kepada Tuhan.

Namun, di tengah kesedihan, kita tetap dapat mengingat bahwa Tuhan layak dipercaya dan kita masih dapat datang kepada-Nya.

Habakuk 3:17–18 menggambarkan iman yang tetap bersukacita di dalam Tuhan sekalipun hasil panen dan sumber penghidupan tidak sesuai harapan.

Ilustrasi: Paulus dan Silas di penjara

Kisah Para Rasul 16:22–25 menceritakan Paulus dan Silas yang dipukuli dan dipenjarakan. Di tengah penderitaan, mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah.

Mereka tidak menunggu sampai semua masalah selesai untuk memuji Tuhan.

Sikap mereka mengajarkan bahwa penyembahan tidak harus bergantung pada keadaan yang nyaman.

Aplikasi:

  • Hitunglah berkat Tuhan, bukan hanya persoalan yang sedang dihadapi.

  • Tetaplah berdoa dan beribadah ketika mengalami masa sulit.

  • Jangan membiarkan kekecewaan membuat kita kehilangan kasih kepada Tuhan dan sesama.

  • Belajarlah mengucap syukur tanpa menyangkal kenyataan bahwa kita sedang mengalami pergumulan.

Kesimpulan garis besar ketiga: Saat Tuhan mengatur hidup kita, kita dipanggil untuk percaya, bersabar, taat, bersedia dibentuk, dan tetap bersyukur.

PENUTUP

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Dari firman Tuhan hari ini, kita telah mempelajari tiga hal penting.

  1. Arti Tuhan Yang Atur: Tuhan berdaulat atas kehidupan kita. Kita boleh merencanakan, tetapi kita harus mengakui bahwa Tuhan memegang kendali.

  2. Cara Tuhan Mengatur Hidup Kita: Tuhan dapat menuntun kita melalui firman-Nya, proses kehidupan, nasihat yang bijaksana, kesempatan, dan waktu-Nya.

  3. Sikap Kita Saat Tuhan Atur: Kita harus percaya, bersabar, taat, bersedia dibentuk, dan tetap bersyukur.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang menghadapi jalan buntu. Ada yang sedang menunggu jawaban doa. Ada yang kecewa karena rencananya tidak berjalan sesuai harapan. Ada juga yang belum memahami mengapa Tuhan mengizinkan keadaan tertentu terjadi.

Ingatlah bahwa kita tidak harus memahami seluruh perjalanan untuk tetap berjalan bersama Tuhan. Kita perlu melakukan bagian kita dengan setia, mengambil keputusan dengan hikmat, dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Jangan memaksa Tuhan mengikuti semua rencana kita. Belajarlah menyerahkan rencana kita kepada Tuhan dan mengikuti pimpinan-Nya.

Ketika pintu terbuka, bersyukurlah. Ketika pintu tertutup, tetaplah mencari hikmat Tuhan. Ketika harus menunggu, tetaplah setia. Ketika Tuhan menegur, bersedialah berubah. Dan ketika kita belum mengerti, tetaplah percaya kepada-Nya.

Tiga pertanyaan untuk direnungkan

  • Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan memegang kendali atas hidup saya?

  • Apakah saya bersedia mengikuti firman Tuhan ketika kehendak-Nya berbeda dari keinginan saya?

  • Apakah saya tetap setia kepada Tuhan ketika jawaban doa belum datang?

Ayat penutup: Amsal 16:3

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”

Ayat ini mengajak kita menyerahkan pekerjaan dan rencana kepada Tuhan. Penyerahan itu bukan jaminan bahwa semua keinginan kita akan terwujud persis seperti yang kita harapkan, melainkan panggilan untuk menjalani rencana kita dengan bersandar kepada-Nya.

Doa penutup

Bapa kami yang di surga, kami bersyukur karena Engkau adalah Tuhan yang berdaulat atas kehidupan kami. Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih mengandalkan pikiran dan kekuatan sendiri daripada mencari kehendak-Mu.

Ajarlah kami untuk memahami firman-Mu, mempercayai pimpinan-Mu, dan tetap setia ketika menghadapi kesulitan. Ketika jalan kami tidak sesuai dengan rencana, berikanlah kami hati yang sabar. Ketika kami belum memahami maksud-Mu, teguhkanlah iman kami. Bentuklah karakter kami agar semakin serupa dengan Kristus.

Kami menyerahkan keluarga, pekerjaan, pelayanan, masa depan, dan seluruh kehidupan kami ke dalam tangan-Mu. Tolong kami melakukan bagian kami dengan bertanggung jawab dan menyerahkan hasilnya kepada kehendak-Mu yang sempurna.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Tuhan Yesus memberkati

Kidung Natal Maria