1 Korintus 9:27
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
(1 Korintus 9:27)
Pendahuluan
Melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Karena itu, pelayanan tidak boleh dilakukan asal-asalan.
Profesional dalam pelayanan bukan berarti kita harus menjadi sempurna atau menjadikan gereja seperti perusahaan. Melayani dengan profesional berarti melayani dengan sungguh-sungguh, disiplin, bertanggung jawab, memiliki persiapan, terus belajar, dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan.
Paulus memberikan teladan. Ia berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya.” Artinya, seorang pelayan Tuhan harus mampu mendisiplinkan dirinya.
Pelayanan yang besar membutuhkan pelayan yang mau didisiplinkan.
1. ARTI MELAYANI DENGAN PROFESIONAL
A. Melayani dengan sungguh-sungguh
Kolose 3:23
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Profesional berarti tidak bekerja setengah hati.
Kalau kita dipercaya:
- berkhotbah, persiapkan khotbah dengan baik;
- memimpin pujian, persiapkan diri;
- menjadi pemain musik, berlatih;
- menjadi guru sekolah minggu, pelajari materi;
- menjadi panitia, kerjakan tanggung jawab;
- menjadi pengurus, laksanakan tugas dengan baik.
Tmapak mata kita sedang melayani manusia, tetapi sesungguhnya kita melayani Tuhan.
B. Melayani dengan disiplin
Paulus berkata:
“Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya.”
Kata “melatih” menunjukkan adanya proses, latihan dan disiplin.
Tidak ada pelayanan yang berkualitas tanpa disiplin.
Pelayan yang profesional belajar:
- tepat waktu,
- mempersiapkan diri,
- menepati janji,
- menyelesaikan tugas,
- menerima evaluasi,
- dan terus meningkatkan kemampuan.
C. Melayani dengan standar yang terbaik
Memberikan yang terbaik bukan berarti harus memiliki fasilitas yang mahal.
Yang Tuhan lihat bukan kemewahan, tetapi kesungguhan hati dan kualitas tanggung jawab kita.
Maleakhi 1:14 memperingatkan tentang memberikan kepada Tuhan sesuatu yang tidak layak.
Karena itu:
Jangan memberikan kepada Tuhan sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa perhatian kita. Berikan yang terbaik.
Ilustrasi: Dokter
Bayangkan kita datang kepada seorang dokter. Dokter tersebut berkata:
“Saya tidak pernah belajar lagi setelah lulus sekolah. Saya tidak pernah membaca perkembangan ilmu kedokteran. Saya juga tidak pernah mempersiapkan diri sebelum menangani pasien.”
Kita tentu akan merasa takut.
Mengapa?
Karena kita mengharapkan seorang profesional mempersiapkan dirinya sebelum melakukan tugas.
Demikian juga pelayanan.
Pelayan Tuhan harus mempersiapkan diri sebelum melayani Tuhan dan umat-Nya.
Aplikasi
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah saya memberikan yang terbaik dalam pelayanan yang Tuhan percayakan kepada saya?”
Jangan berkata:
“Yang penting sudah melayani.”
Tetapi katakan:
“Saya ingin melayani dengan sebaik-baiknya karena Tuhan layak menerima yang terbaik.”
2. SIKAP PELAYAN YANG PROFESIONAL
Pelayanan yang profesional bukan hanya masalah kemampuan, tetapi juga karakter.
Ada orang yang memiliki talenta besar, tetapi sikapnya buruk. Talenta dapat membuat seseorang dikenal, tetapi karakter membuat seseorang dapat dipercaya.
A. Rendah hati dan mau belajar
Amsal 12:15
“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.”
Pelayan yang profesional tidak merasa:
“Saya sudah tahu semuanya.”
Sebaliknya:
“Saya masih harus belajar.”
Salomo berkata:
"baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu" (Amsal 1:5)
Seorang pelayan yang profesional mau menerima:
- nasihat,
- koreksi,
- evaluasi,
- kritik yang membangun,
- dan masukan dari orang lain.
B. Bertanggung jawab
1 Korintus 4:2
“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.”
Perhatikan kata:
“Dapat dipercayai.”
Pelayan profesional adalah pelayan yang dapat dipercaya.
Kalau diberi tugas, dikerjakan.
Kalau berjanji, ditepati.
Kalau diberi tanggung jawab, tidak menghilang.
C. Tidak mudah menyerah
Pelayanan tidak selalu mendapatkan pujian.
Kadang kita:
- dikritik,
- disalahpahami,
- mengalami kegagalan,
- merasa lelah,
- atau hasil pelayanan tidak seperti yang kita harapkan.
Tetapi seorang pelayan harus tetap setia.
Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik...”
D. Menjaga kehidupan pribadi
Ini sangat penting karena konteks 1 Korintus 9:27 bukan hanya berbicara tentang kemampuan Paulus, tetapi tentang penguasaan dirinya.
Seorang pelayan tidak boleh hanya sibuk memperbaiki pelayanan di depan orang lain tetapi melupakan kehidupan pribadinya.
Pelayanan publik harus didukung oleh kehidupan pribadi yang benar.
Jangan sampai kita sibuk membangun pelayanan tetapi gagal membangun kehidupan rohani.
Ilustrasi: Pemain Sepak Bola
Seorang pemain sepak bola profesional tidak hanya berlatih ketika pertandingan tiba.
Ia:
- menjaga makanan,
- mengatur waktu tidur,
- berlatih secara rutin,
- menjaga kebugaran,
- menerima instruksi pelatih,
- dan mengevaluasi kesalahannya.
Mengapa?
Karena ia tahu bahwa pertandingan yang baik lahir dari persiapan yang baik.
Demikian juga pelayanan.
Pelayanan di depan mimbar ditentukan oleh kehidupan di balik layar.
Aplikasi
Bangunlah kehidupan seorang pelayan melalui:
Doa → Firman → Disiplin → Latihan → Evaluasi → Perbaikan.
Jangan hanya bertanya:
“Bagaimana supaya pelayanan saya semakin hebat?”
Tetapi tanyakan:
“Bagaimana supaya hidup saya semakin berkenan kepada Tuhan?”
3. HASIL PELAYANAN YANG PROFESIONAL
Ketika pelayanan dilakukan dengan sungguh-sungguh, disiplin dan bertanggung jawab, akan muncul dampak yang positif.
A. Tuhan dipermuliakan
Tujuan utama pelayanan bukan supaya nama kita terkenal, tetapi supaya nama Tuhan dipermuliakan.
1 Korintus 10:31
“...lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
Jadi, setelah pelayanan berhasil, jangan berkata:
“Lihat apa yang saya lakukan.”
Tetapi:
“Lihat apa yang Tuhan kerjakan melalui saya.”
B. Jemaat diberkati
Pelayanan yang dipersiapkan dengan baik akan menolong orang lain menerima berkat.
Khotbah yang dipersiapkan dapat menguatkan jemaat.
Musik yang dipersiapkan dapat menolong jemaat beribadah.
Guru sekolah minggu yang mempersiapkan materi dapat menolong anak-anak mengenal Tuhan.
Kualitas pelayanan kita dapat menjadi berkat bagi kehidupan orang lain.
C. Pelayanan menjadi kesaksian
Pelayanan yang profesional juga menjadi kesaksian kepada orang yang melihat kehidupan kita.
Ketika orang melihat:
- ketepatan waktu,
- tanggung jawab,
- kerendahan hati,
- kesungguhan,
- integritas,
- dan kasih,
mereka dapat melihat bahwa kita tidak sedang bekerja sembarangan.
Matius 5:16
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
D. Pelayanan menghasilkan pelayan-pelayan baru
Pelayan profesional tidak hanya melakukan pekerjaannya sendiri.
Ia juga mempersiapkan generasi berikutnya.
Musa mempersiapkan Yosua.
Elia mempersiapkan Elisa.
Paulus membimbing Timotius.
Karena itu, pelayanan yang sehat bukan hanya bertanya:
“Siapa yang bekerja?”
Tetapi:
“Siapa yang sedang kita persiapkan untuk melanjutkan pelayanan?”
Ilustrasi: Tukang Bangunan
Ada dua tukang membangun rumah.
Tukang pertama berkata:
“Yang penting cepat selesai.”
Tukang kedua berkata:
“Saya ingin rumah ini dibangun dengan benar karena ada orang yang akan tinggal di dalamnya.”
Perbedaannya ada pada tanggung jawab.
Pelayanan juga demikian.
Kita sedang membangun sesuatu yang menyentuh kehidupan manusia.
Karena itu kita tidak boleh berkata:
“Yang penting selesai.”
Tetapi:
“Saya mau mengerjakannya dengan benar karena ada jiwa-jiwa yang akan menerima dampaknya.”
KESIMPULAN
1 Korintus 9:27 mengajarkan kepada kita bahwa seorang pelayan Tuhan harus mempunyai penguasaan diri dan disiplin.
Melayani dengan profesional berarti:
1. Sungguh-sungguh dalam pelayanan
Berikan yang terbaik untuk Tuhan.
2. Memiliki sikap pelayan yang benar
Rendah hati, mau belajar, bertanggung jawab, setia dan menjaga kehidupan pribadi.
3. Menghasilkan pelayanan yang menjadi berkat
Tuhan dipermuliakan, jemaat diberkati, dan pelayanan menjadi kesaksian.
Tiga Kalimat untuk Diingat
Talenta membuat kita mampu melayani, tetapi karakter membuat kita layak dipercaya.
Persiapan menentukan kualitas pelayanan.
Jangan hanya menjadi pelayan yang sibuk; jadilah pelayan yang bertanggung jawab, disiplin, dan berkenan kepada Tuhan.
Penutup
Mari kita berkata:
“Tuhan, bukan sekadar izinkan saya melayani-Mu. Ajarlah saya melayani-Mu dengan benar. Berikan saya hati yang tulus, karakter yang baik, disiplin yang kuat, dan kerinduan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi kemuliaan nama-Mu.”