Pdt. Nelson Sembiring, S.Pd., M.Th.
Nats: Amsal 24:3-4
"Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik." (Amsal 24:3-4)
Jabu ipanteki erpalasken kepentaren ras pengertin. I ja lit pemeteh, i je lit bilik-bilik kuh ras barang-barang si meherga ras mehuli (Karo)
Pendahuluan
Memasuki rumah baru merupakan salah satu momen yang penuh sukacita dan rasa syukur. Banyak orang menganggap rumah sebagai lambang keberhasilan, keamanan, dan masa depan keluarga. Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa rumah yang kokoh bukan hanya dibangun dengan semen, batu bata, besi, atau kayu, tetapi dengan hikmat, pengertian, dan takut akan Tuhan.
Rumah hanyalah bangunan, tetapi keluarga yang tinggal di dalamnya akan menentukan apakah rumah itu menjadi tempat damai atau tempat pertengkaran.
Karena itu, ibadah memasuki rumah baru bukan sekadar mendoakan bangunan, melainkan menyerahkan seluruh kehidupan keluarga kepada Tuhan.
I. Dengan Hikmat Rumah Didirikan
(Ayat 3a)
"Dengan hikmat rumah didirikan..."
Kata "hikmat" dalam Alkitab bukan sekadar kecerdasan, tetapi kemampuan menjalani hidup menurut kehendak Allah.
Rumah yang diberkati dibangun di atas:
- Takut akan Tuhan.
- Firman Tuhan.
- Doa.
- Kasih.
- Integritas.
Yesus berkata:
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya sama dengan orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu." (Matius 7:24)
Rumah yang dibangun hanya dengan uang bisa menjadi mewah, tetapi belum tentu bahagia.
Rumah yang dibangun dengan hikmat Tuhan akan tetap berdiri ketika badai kehidupan datang.
Ilustrasi
Ada orang menghabiskan miliaran rupiah membangun rumah yang indah, tetapi beberapa tahun kemudian keluarganya hancur karena perselingkuhan, kebencian, dan pertengkaran.
Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang tinggal di rumah kecil tetapi penuh kasih, doa, dan sukacita.
Ternyata kebahagiaan tidak ditentukan luas rumah, tetapi siapa yang menjadi pusat rumah itu.
II. Dengan Kepandaian Rumah Ditegakkan
(Ayat 3b)
"Kepandaian" berbicara tentang kemampuan mengelola kehidupan.
Rumah yang sudah dibangun harus dipelihara.
Artinya:
- mengelola keuangan dengan bijaksana,
- membangun komunikasi yang sehat,
- saling mengampuni,
- mendidik anak-anak,
- bekerja dengan rajin.
Rumah tidak akan bertahan hanya karena dibangun mahal.
Rumah bertahan karena setiap anggota keluarga belajar saling mengasihi.
Efesus 4:2-3 mengingatkan supaya kita hidup dengan rendah hati, lemah lembut, sabar, dan memelihara kesatuan.
Ilustrasi
Membangun rumah mungkin membutuhkan waktu satu tahun.
Tetapi membangun keluarga membutuhkan seumur hidup.
III. Dengan Pengertian Rumah Dipenuhi Berkat
(Ayat 4)
"Dengan pengertian kamar-kamar diisi..."
Yang dimaksud bukan hanya harta benda.
Rumah yang diberkati dipenuhi dengan:
- damai sejahtera,
- sukacita,
- kasih,
- kesehatan,
- iman,
- penyertaan Tuhan.
Mazmur 127:1 berkata:
"Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya."
Rumah yang paling kaya bukan rumah yang paling mahal.
Rumah yang paling kaya adalah rumah yang dipenuhi hadirat Tuhan.
Ilustrasi
Ada rumah yang dipenuhi barang-barang mewah tetapi penghuninya hidup saling membenci.
Ada pula rumah sederhana yang dipenuhi doa sehingga semua orang merasa damai ketika berkunjung.
Apa yang memenuhi rumah jauh lebih penting daripada apa yang menghiasi rumah.
IV. Jadikan Kristus Tuan Rumah
Dalam Wahyu 3:20 Yesus berkata:
"Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok."
Ironisnya, banyak orang mengundang Yesus saat ibadah rumah baru, tetapi setelah itu hidup tanpa melibatkan Dia lagi.
Biarlah rumah ini menjadi:
- Rumah doa.
- Rumah kasih.
- Rumah pengampunan.
- Rumah pelayanan.
- Rumah kesaksian bagi tetangga.
Yosua berkata:
"Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN." (Yosua 24:15)
Aplikasi
Setelah memasuki rumah baru, lakukan komitmen berikut:
- Jadikan doa keluarga sebagai kebiasaan setiap hari.
- Bacalah Firman Tuhan bersama seluruh anggota keluarga.
- Jangan biarkan kemarahan menguasai rumah.
- Gunakan rumah untuk melayani Tuhan dan sesama.
- Didik anak-anak mengenal Kristus sejak dini.
- Jadikan rumah sebagai tempat yang menghadirkan damai bagi setiap tamu yang datang.
Ilustrasi Penutup
Seorang misionaris pernah berkata:
"Rumah Kristen bukanlah rumah yang tanpa masalah, tetapi rumah yang selalu membawa setiap masalah kepada Tuhan."
Rumah yang diberkati bukan karena tidak pernah mengalami badai, tetapi karena Tuhan tinggal di dalamnya.
Kesimpulan
Amsal 24:3-4 mengajarkan bahwa rumah yang sejati dibangun dengan tiga hal:
- Hikmat → membangun rumah di atas kehendak Tuhan.
- Kepandaian → memelihara hubungan dan kehidupan keluarga dengan bijaksana.
- Pengertian → memenuhi rumah dengan berkat rohani dan nilai-nilai Kerajaan Allah.
Memasuki rumah baru bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari panggilan untuk membangun keluarga yang memuliakan Tuhan. Biarlah setiap sudut rumah menjadi saksi bahwa Kristus adalah Kepala keluarga, sehingga setiap orang yang datang dapat merasakan kasih, damai sejahtera, dan hadirat-Nya.
Kiranya rumah ini menjadi tempat yang penuh kasih, menjadi terang bagi lingkungan sekitar, dan menjadi warisan iman bagi generasi berikutnya. Amin.