I. PENDAHULUAN
Ada satu kebiasaan manusia yang sering kali tidak disadari: kita menghabiskan banyak waktu untuk mengejar sesuatu yang kita pikir akan membuat kita bahagia.
Ada orang berkata:
Kalau saya punya banyak uang, saya pasti bahagia.
Kalau saya memiliki rumah besar, hidup saya pasti tenang.
Kalau saya mempunyai jabatan tinggi, saya pasti dihargai.
Kalau saya terkenal, hidup saya pasti menyenangkan.
Kalau semua keinginan saya terpenuhi, saya pasti puas.
Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada orang kaya yang tidak bisa tidur dengan tenang. Ada orang terkenal yang merasa kesepian. Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi kehilangan kebahagiaan dalam keluarga.
Mengapa?
Karena tidak semua yang kita inginkan adalah sesuatu yang kita butuhkan, dan tidak semua yang menyenangkan dapat memberikan kebahagiaan sejati.
Ilustrasi pembuka: Orang yang kehausan di padang gurun
Bayangkan seseorang berjalan di padang gurun dalam keadaan sangat kehausan. Tiba-tiba ia melihat sebuah tempat yang menjual berbagai barang mewah: pakaian bagus, perhiasan, kendaraan, dan makanan mahal.
Apakah semua itu dapat menghilangkan rasa hausnya?
Tidak!
Yang ia butuhkan bukan perhiasan, bukan pakaian, dan bukan barang mewah. Yang ia butuhkan adalah air.
Demikian juga kehidupan manusia. Kita sering mengejar banyak hal yang sebenarnya bukan kebutuhan utama jiwa kita.
Kita mengejar uang, tetapi jiwa kita tetap haus. Kita mengejar kesenangan, tetapi hati kita tetap kosong. Kita mengejar popularitas, tetapi batin kita tetap tidak tenang.
Melalui Yesaya 55:1–13, Tuhan mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang jauh lebih utama daripada semua yang ditawarkan dunia.
Mari kita belajar melalui empat kebenaran firman Tuhan.
II. ISI KHOTBAH
1. UTAMAKAN APA YANG DAPAT MEMUASKAN JIWA, BUKAN HANYA MEMUASKAN KEINGINAN (Ayat 1-2)
Ayat 2 berkata:
"Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?"
Ini adalah pertanyaan Tuhan yang sangat penting.
Tuhan sedang menegur manusia yang menghabiskan uang dan tenaga untuk sesuatu yang tidak benar-benar memberikan kepuasan.
Perhatikan kata-kata: sesuatu yang tidak mengenyangkan.
Artinya, manusia dapat menghabiskan banyak sumber daya untuk mendapatkan sesuatu, tetapi akhirnya tetap merasa tidak puas.
Contohnya:
Mengejar uang, tetapi tidak pernah merasa cukup.
Mengejar jabatan, tetapi selalu ingin jabatan yang lebih tinggi.
Mengejar popularitas, tetapi selalu membutuhkan pengakuan orang lain.
Mengejar kesenangan, tetapi setelah kesenangan itu berlalu, hati kembali kosong.
Ilustrasi:
Ada seseorang yang membeli telepon genggam baru karena merasa telepon lamanya sudah tidak membahagiakan.
Setelah membeli yang baru, ia merasa senang. Tetapi beberapa bulan kemudian, muncul model yang lebih bagus. Ia kembali ingin membeli yang terbaru.
Setelah mendapatkannya, ia kembali melihat barang lain yang lebih menarik.
Akhirnya, hidupnya menjadi lingkaran keinginan yang tidak pernah selesai.
Masalahnya bukan pada telepon genggam. Masalahnya adalah hati manusia yang terus mencari kepuasan dari hal-hal yang tidak dapat memberikan kepuasan sejati.
Aplikasi:
Saudara, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah selama ini saya lebih banyak mengejar uang daripada mencari Tuhan?
Apakah saya lebih banyak memikirkan kebutuhan jasmani daripada kebutuhan rohani?
Apakah saya begitu sibuk memenuhi keinginan sendiri sampai tidak punya waktu untuk Tuhan?
Tuhan tidak melarang kita bekerja, mencari uang, atau menikmati berkat kehidupan.
Tetapi jangan sampai kita mengorbankan hal yang kekal demi sesuatu yang sementara.
Jangan menghabiskan seluruh tenaga untuk mendapatkan sesuatu yang tidak dapat memuaskan jiwa. Utamakan Tuhan, sumber kepuasan sejati.
2. UTAMAKAN HUBUNGAN DENGAN TUHAN DARIPADA MENGEJAR KEJAYAAN DUNIA (Ayat 3-5)
Ayat 3 berkata:
"Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup!"
Perhatikan tiga panggilan Tuhan dalam ayat ini:
Sendengkanlah telingamu.
Datanglah kepada-Ku.
Dengarkanlah, maka kamu akan hidup.
Tuhan sedang mengundang umat-Nya untuk membangun hubungan yang dekat dengan Dia.
Tuhan menawarkan perjanjian yang kekal dan kasih setia-Nya kepada umat-Nya.
Ini menunjukkan bahwa hal yang paling utama dalam kehidupan bukan sekadar memiliki banyak hal, tetapi memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.
Sering kali manusia membalikkan prioritas hidupnya.
Pagi-pagi sudah sibuk memikirkan pekerjaan. Sepanjang hari memikirkan uang dan kebutuhan hidup. Malam hari masih sibuk dengan berbagai urusan dunia. Tetapi kapan menyediakan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan?
Kita memiliki waktu untuk membaca berita, tetapi tidak memiliki waktu membaca Alkitab.
Kita memiliki waktu untuk berbicara dengan banyak orang, tetapi tidak memiliki waktu berdoa.
Kita berusaha menjaga hubungan dengan orang-orang penting, tetapi melupakan hubungan dengan Tuhan yang paling penting.
Ilustrasi:
Ada seorang ayah yang bekerja keras setiap hari untuk memberikan kehidupan yang terbaik bagi keluarganya.
Ia membelikan rumah yang bagus, menyediakan kendaraan, membayar pendidikan anak-anaknya, dan memenuhi semua kebutuhan mereka.
Tetapi karena terlalu sibuk bekerja, ia hampir tidak pernah memiliki waktu untuk berbicara dengan anak-anaknya.
Suatu hari anaknya berkata:
"Ayah, sebenarnya saya tidak hanya membutuhkan uang dari Ayah. Saya juga membutuhkan kehadiran Ayah."
Perkataan itu menyadarkan sang ayah bahwa memberikan segala sesuatu tidak sama dengan memberikan kehadiran.
Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan.
Jangan hanya mencari apa yang dapat Tuhan berikan, tetapi carilah Tuhan sendiri.
Jangan hanya datang kepada Tuhan ketika membutuhkan pertolongan. Datanglah karena kita mengasihi Dia.
Aplikasi:
Sediakan waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca firman Tuhan.
Jangan biarkan kesibukan pekerjaan mengalahkan kehidupan rohani.
Bangun hubungan pribadi dengan Tuhan, bukan hanya menjalankan kegiatan keagamaan.
Ajak keluarga untuk bersekutu dan bertumbuh bersama dalam Tuhan.
Belajarlah mencari Tuhan bukan hanya karena berkat-Nya, tetapi karena kita mengasihi-Nya.
Ingatlah: Berkat terbesar bukan hanya ketika Tuhan memberikan apa yang kita minta, tetapi ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.
3. UTAMAKAN MENCARI TUHAN SELAMA MASIH ADA KESEMPATAN (Ayat 6-7)
Ayat 6 berkata:
"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!"
Ini merupakan panggilan yang sangat serius.
Tuhan mengundang manusia untuk mencari Dia dan kembali kepada-Nya.
Mengapa harus sekarang?
Karena kehidupan manusia terbatas. Kita tidak tahu berapa lama kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita.
Banyak orang selalu berkata:
Nanti kalau sudah tua, saya akan lebih sungguh-sungguh melayani Tuhan.
Nanti kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan lebih banyak berdoa.
Nanti kalau sudah pensiun, saya akan lebih aktif dalam pelayanan.
Nanti kalau sudah tidak sibuk, saya akan membaca Alkitab.
Tetapi siapa yang menjamin bahwa kesempatan itu masih ada?
Jangan sampai kita menunda sesuatu yang paling penting dalam kehidupan.
Ayat 7 juga mengingatkan bahwa orang fasik harus meninggalkan jalannya dan orang jahat meninggalkan rancangannya, lalu kembali kepada Tuhan, sebab Tuhan berlimpah pengampunan.
Artinya, mencari Tuhan bukan hanya datang ke gereja atau mengikuti ibadah. Mencari Tuhan berarti bersedia bertobat, meninggalkan jalan yang salah, dan kembali hidup dalam kehendak-Nya.
Ilustrasi:
Bayangkan seorang pasien yang mengetahui dirinya sedang mengalami penyakit serius. Dokter sudah memberikan nasihat agar segera menjalani pengobatan.
Tetapi pasien tersebut berkata:
"Nanti saja, saya masih sibuk. Nanti kalau ada waktu."
Ia terus menunda sampai akhirnya kondisinya semakin parah.
Saudara, kesempatan yang ditunda tidak selalu datang kembali.
Demikian juga kehidupan rohani. Jangan menunggu sampai mengalami masalah besar baru mencari Tuhan. Jangan menunggu kehilangan sesuatu baru menyadari betapa berharganya hubungan dengan Tuhan.
Aplikasi:
Jangan menunda pertobatan.
Jangan menunggu tua untuk melayani Tuhan.
Jangan menunggu sakit baru belajar menghargai kehidupan.
Jangan menunggu kehilangan keluarga baru belajar mengasihi.
Jangan menunggu mengalami kesulitan baru datang kepada Tuhan.
Jika ada dosa, tinggalkanlah. Jika ada kepahitan, lepaskanlah. Jika ada hubungan yang rusak, berusahalah untuk berdamai.
Jika selama ini kita jauh dari Tuhan, hari ini adalah kesempatan untuk kembali.
Jangan menunda mencari Tuhan, sebab kesempatan hidup yang kita miliki adalah anugerah dari-Nya.
4. UTAMAKAN FIRMAN DAN KEHENDAK TUHAN, BUKAN KEINGINAN SENDIRI (Ayat 8-11)
Ayat 8–9 berkata:
"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu"
Salah satu masalah manusia adalah sering menganggap bahwa apa yang diinginkannya pasti merupakan yang terbaik.
Kita memiliki rencana sendiri. Kita memiliki keinginan sendiri. Kita ingin semuanya berjalan sesuai dengan pikiran kita.
Tetapi Tuhan mengingatkan bahwa pikiran dan jalan-Nya jauh lebih tinggi daripada pikiran dan jalan manusia.
Kadang-kadang kita meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak memberikannya.
Kadang-kadang kita menginginkan jalan yang mudah, tetapi Tuhan mengizinkan kita melewati proses yang sulit.
Kadang-kadang kita merasa Tuhan terlambat menolong, padahal Tuhan sedang bekerja menurut waktu dan kehendak-Nya.
Karena itu, kebahagiaan sejati tidak ditemukan ketika semua keinginan kita terpenuhi, tetapi ketika kita belajar mempercayai dan mengikuti kehendak Tuhan.
Ilustrasi:
Seorang anak kecil ingin makan permen setiap hari. Menurut pikirannya, permen adalah sesuatu yang paling enak dan paling baik.
Tetapi orang tuanya melarang karena terlalu banyak permen tidak baik bagi kesehatannya.
Anak itu mungkin kecewa karena keinginannya tidak dipenuhi.
Namun orang tuanya mengetahui sesuatu yang belum dipahami oleh anak tersebut.
Demikian juga dengan Tuhan.
Kita hanya melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.
Kita melihat keinginan hari ini, tetapi Tuhan mengetahui kebutuhan dan masa depan kita.
Karena itu, jangan memaksakan kehendak sendiri kepada Tuhan.
Ayat 10–11 memberikan gambaran tentang hujan dan salju yang turun dari langit, menyirami bumi, dan membuatnya menghasilkan.
Demikian pula firman Tuhan. Firman yang keluar dari mulut-Nya tidak akan kembali dengan sia-sia, melainkan akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya.
Artinya, firman Tuhan memiliki kuasa dan tujuan. Firman Tuhan bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dipercaya dan ditaati.
Aplikasi:
Jangan hanya membaca firman Tuhan, tetapi lakukanlah.
Jangan hanya mencari ayat yang menyenangkan hati, tetapi terimalah juga firman yang menegur kehidupan kita.
Jangan memaksakan keinginan sendiri, tetapi belajarlah tunduk kepada kehendak Tuhan.
Ketika doa belum dijawab, tetaplah percaya.
Ketika jalan hidup tidak sesuai harapan, tetaplah berpegang pada firman Tuhan.
Jangan hanya menginginkan Tuhan mengubah keadaan kita. Izinkan Tuhan mengubah hati dan kehidupan kita melalui firman-Nya.
5. UTAMAKAN KEBAHAGIAAN SEJATI YANG BERASAL DARI TUHAN (Ayat 12-13)
Ayat 12 berkata:
"Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai..."
Perhatikan bahwa Tuhan menjanjikan sukacita dan damai sejahtera kepada umat-Nya.
Bagian ini menggambarkan pemulihan yang dikerjakan Tuhan. Umat yang sebelumnya mengalami penderitaan akan mengalami sukacita dan damai sejahtera.
Ini memberikan pelajaran penting: kebahagiaan sejati tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan di sekitar kita, tetapi pada hubungan kita dengan Tuhan.
Bukan berarti orang percaya tidak akan mengalami kesulitan. Bukan berarti orang yang dekat dengan Tuhan tidak pernah menangis atau menghadapi persoalan.
Tetapi orang yang hidup bersama Tuhan memiliki sumber pengharapan yang tidak dapat dirampas oleh keadaan dunia.
Ilustrasi:
Ada dua orang yang sama-sama mengalami kesulitan ekonomi.
Orang pertama kehilangan sukacita karena merasa hidupnya sudah tidak berarti. Ia terus membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa Tuhan tidak adil.
Orang kedua juga mengalami kesulitan yang sama. Tetapi ia tetap berdoa, bersyukur, bekerja, dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Apa yang membedakan mereka?
Bukan keadaan ekonominya, sebab mereka menghadapi persoalan yang sama.
Yang membedakan adalah sumber pengharapan mereka.
Orang pertama menggantungkan kebahagiaannya pada keadaan. Orang kedua menggantungkan pengharapannya kepada Tuhan.
Saudara, jika kebahagiaan kita hanya bergantung pada uang, maka ketika uang habis, kebahagiaan kita juga hilang.
Jika kebahagiaan kita bergantung pada pujian manusia, maka ketika orang tidak lagi memuji, kita akan kecewa.
Tetapi jika sukacita kita berakar di dalam Tuhan, kita tetap mempunyai pengharapan sekalipun keadaan tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Aplikasi:
Belajarlah bersyukur dalam segala keadaan.
Jangan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Jangan mengukur kebahagiaan hanya dari keberhasilan materi.
Peliharalah sukacita melalui doa, firman Tuhan, dan persekutuan.
Percayalah bahwa Tuhan sanggup mendatangkan kebaikan melalui setiap proses kehidupan.
Kebahagiaan sejati bukan berarti kita memiliki semua yang kita inginkan, tetapi kita memiliki Tuhan yang selalu menjadi pengharapan dalam segala keadaan.
III. KESIMPULAN: APAKAH YANG TERUTAMA DALAM HIDUP KITA?
Melalui Yesaya 55:1–13, kita telah belajar lima hal penting:
Utamakan apa yang dapat memuaskan jiwa. Jangan menghabiskan hidup untuk mengejar sesuatu yang tidak dapat memberikan kepuasan sejati (ayat 1–2).
Utamakan hubungan dengan Tuhan. Jangan hanya mencari berkat-Nya, tetapi carilah Pribadi yang memberkati (ayat 3–5).
Utamakan mencari Tuhan selama masih ada kesempatan. Jangan menunda pertobatan dan kehidupan yang berkenan kepada Tuhan (ayat 6–7).
Utamakan firman dan kehendak Tuhan. Jangan memaksakan keinginan sendiri, tetapi percayalah kepada rancangan-Nya (ayat 8–11).
Utamakan kebahagiaan sejati yang berasal dari Tuhan. Jangan menggantungkan sukacita hanya pada keadaan dunia (ayat 12–13).
Ada tiga pertanyaan untuk kita renungkan:
Selama ini, apa yang paling banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran kita?
Apakah kita lebih sibuk mengejar kebahagiaan dunia daripada membangun hubungan dengan Tuhan?
Jika hari ini Tuhan melihat prioritas hidup kita, apakah Tuhan masih menjadi yang terutama?
Mungkin kita sudah menghabiskan puluhan tahun untuk bekerja, mencari uang, membangun rumah, membesarkan anak, dan mengejar berbagai cita-cita.
Semua itu tidak salah. Tetapi jangan sampai kita lupa mempersiapkan kehidupan rohani dan membangun hubungan dengan Tuhan.
Jangan sampai kita berhasil dalam pekerjaan, tetapi gagal dalam kehidupan rohani.
Jangan sampai kita memiliki rumah yang indah, tetapi tidak memiliki damai sejahtera.
Jangan sampai kita memiliki banyak harta, tetapi kehilangan sukacita.
Jangan sampai kita mendapatkan segala sesuatu yang ditawarkan dunia, tetapi kehilangan hal yang paling berharga, yaitu hubungan dengan Tuhan.
IV. ILUSTRASI PENUTUP: SALAH MEMILIH HARTA
Bayangkan ada seorang ayah yang hendak memberikan warisan kepada kedua anaknya.
Kepada anak pertama, ia memberikan sebuah rumah mewah, kendaraan, dan sejumlah uang.
Kepada anak kedua, ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kesempatan untuk selalu hidup dekat dengan ayahnya, menikmati kasih, perhatian, dan bimbingannya.
Anak pertama begitu bangga dengan harta yang diterimanya, tetapi lama-kelamaan ia menyadari bahwa kekayaan tidak selalu memberikan kebahagiaan.
Sementara itu, anak kedua menikmati sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang, yaitu hubungan yang dekat dengan ayahnya.
Ilustrasi ini mengingatkan kita bahwa sering kali manusia lebih tertarik kepada pemberian daripada kepada pribadi yang memberikan.
Demikian juga dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Kita sering menginginkan berkat, kesuksesan, kesembuhan, pertolongan, dan jawaban doa. Tetapi apakah kita sungguh-sungguh menginginkan Tuhan sendiri?
Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar berkat Tuhan, sampai kita kehilangan waktu untuk menikmati hadirat Tuhan.
