Nas: 1 Samuel 2:11–26
“Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.” (1 Samuel 2:26)
Pendahuluan
Pelayanan adalah sebuah kepercayaan, bukan sekadar pekerjaan. Ketika seseorang melayani Tuhan, ia sedang mengerjakan sesuatu yang kudus karena yang dilayani adalah Tuhan.
Namun, menarik sekali ketika kita membaca 1 Samuel 2:11–26. Dalam satu tempat yang sama, dalam rumah Tuhan yang sama, bahkan dalam lingkungan pelayanan yang sama, muncul dua perkembangan yang sangat berbeda.
Di satu sisi ada Hofni dan Pinehas, anak-anak Imam Eli. Mereka adalah orang yang berada di lingkungan Bait Allah, tetapi kehidupan mereka justru semakin jauh dari Tuhan.
Di sisi lain ada Samuel, seorang anak muda yang sejak kecil diserahkan kepada Tuhan. Samuel berada di tempat yang sama, tetapi pertumbuhan hidupnya justru semakin baik.
Hofni dan Pinehas mengalami kemunduran dalam pelayanan, sedangkan Samuel mengalami kemajuan dalam pelayanan.
Ini memberikan sebuah pelajaran penting:
Maju mundurnya sebuah pelayanan bukan terutama ditentukan oleh tempat kita melayani, jabatan yang kita miliki, atau lamanya kita melayani, tetapi oleh bagaimana kehidupan kita di hadapan Tuhan.
I. PELAYANAN MUNDUR KETIKA HATI TIDAK LAGI MENGHORMATI TUHAN
1 Samuel 2:12–17
Alkitab mengatakan:
“Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN.”
Ini sangat serius.
Hofni dan Pinehas bukan orang biasa. Mereka adalah anak imam. Mereka hidup dekat dengan mezbah, dekat dengan korban, dekat dengan kegiatan ibadah, dan dekat dengan pelayanan.
Tetapi masalahnya adalah:
Mereka dekat dengan pelayanan, tetapi jauh dari Tuhan.
Mereka mengambil bagian korban yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan. Bahkan mereka menggunakan pelayanan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.
Ada bahaya besar dalam pelayanan:
Seseorang bisa aktif melayani tetapi kehilangan hati yang takut Tuhan.
Bisa menyanyi (memainkan musik) tetapi tidak lagi menyembah.
Bisa berkhotbah tetapi tidak lagi hidup dalam firman.
Bisa memimpin doa tetapi kehidupan doanya sendiri mati.
Bisa menjadi pengurus gereja tetapi tidak lagi memiliki hati seorang hamba.
Aplikasi
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
- Mengapa saya melayani?
- Apakah saya melayani Tuhan atau mencari penghargaan?
- Apakah saya melayani karena kasih atau karena jabatan?
- Apakah saya masih takut akan Tuhan?
- Apakah kehidupan pribadi saya sejalan dengan pelayanan saya?
Pelayanan yang besar tidak akan berarti apabila hati kita sudah meninggalkan Tuhan.
Jangan sampai tangan kita sibuk melayani Tuhan, tetapi hati kita jauh dari Tuhan.
II. PELAYANAN MUNDUR KETIKA KEINGINAN PRIBADI MENGALAHKAN KEHENDAK TUHAN
1 Samuel 2:13–16
Hofni dan Pinehas mengambil bagian korban untuk kepentingan mereka sendiri.
Mereka tidak lagi melihat korban sebagai sesuatu yang kudus bagi Tuhan, tetapi sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Di sinilah pelayanan mengalami kemunduran.
Ketika pelayanan berubah dari:
“Apa yang bisa saya berikan kepada Tuhan?”
menjadi:
“Apa yang bisa saya dapatkan dari pelayanan?”
maka kita sedang berada di jalan yang berbahaya.
Ilustrasi: Pelayan dan Cermin
Bayangkan seseorang sedang bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah. Seharusnya ia memperhatikan kebutuhan tuannya.
Tetapi setiap kali bekerja, ia justru berdiri di depan cermin dan bertanya:
“Apa yang saya dapatkan? Apa yang saya terima? Apa keuntungan saya?”
Akhirnya ia lupa siapa yang harus dilayani.
Demikian juga dalam pelayanan gereja.
Kalau setiap pelayanan selalu diukur dengan:
- “Saya dapat apa?”
- “Saya dihargai atau tidak?”
- “Nama saya disebut atau tidak?”
- “Mengapa dia mendapat posisi itu?”
- “Mengapa saya tidak?”
maka perlahan-lahan motivasi pelayanan kita bergeser dari Tuhan kepada diri sendiri.
Aplikasi
Pelayanan yang sehat bertanya:
“Tuhan, apa yang Engkau mau saya lakukan?”
Bukan:
“Tuhan, apa yang bisa saya dapatkan?”
Yesus sendiri berkata:
“Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani...”
— Markus 10:45
III. PELAYANAN MUNDUR KETIKA DOSA DIBIARKAN TANPA PERTOBATAN
1 Samuel 2:22–25
Eli mengetahui perbuatan anak-anaknya.
Ia menegur mereka, tetapi masalahnya tidak benar-benar diselesaikan.
Dosa yang dibiarkan akan menjadi semakin besar.
Ada perbedaan antara:
mengetahui dosa dan bertobat dari dosa.
Hofni dan Pinehas mengetahui bahwa mereka melakukan kesalahan, tetapi mereka tidak menunjukkan pertobatan yang sungguh-sungguh.
Ilustrasi: Kebocoran Kecil
Sebuah kapal bisa tenggelam bukan hanya karena lubang yang besar.
Kadang-kadang kapal tenggelam karena lubang kecil yang tidak segera diperbaiki.
Air masuk sedikit demi sedikit.
Awalnya tidak terasa.
Tetapi kalau dibiarkan, air semakin banyak dan akhirnya kapal tenggelam.
Demikian juga dosa dalam kehidupan seorang pelayan.
Awalnya mungkin hanya:
- sedikit kompromi,
- sedikit kebohongan,
- sedikit kesombongan,
- sedikit iri hati,
- sedikit cinta uang,
- sedikit kepahitan,
- sedikit ketidakjujuran.
Tetapi kalau tidak dibereskan di hadapan Tuhan, “sedikit” itu dapat menjadi kehancuran besar.
Aplikasi
Jangan pelihara dosa hanya karena merasa:
“Ah, ini dosa kecil.”
Tidak ada dosa yang aman untuk dipelihara.
Apa yang Tuhan tunjukkan dalam hidup kita, segera bereskan.
Jangan menunggu sampai dosa menghancurkan keluarga, pelayanan, reputasi, dan hubungan kita dengan Tuhan.
IV. PELAYANAN MAJU KETIKA KITA BERTUMBUH DALAM PENGENALAN DAN KETAATAN KEPADA TUHAN
1 Samuel 2:18, 21, 26
Sekarang kita melihat sosok yang sangat berbeda: Samuel.
Alkitab berkata:
“Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN...”
— 1 Samuel 2:18
Kemudian ayat 26 berkata:
“Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.”
Perhatikan kata:
“Semakin besar.”
Artinya ada pertumbuhan.
Pelayanan Samuel tidak berhenti.
Ia bertumbuh secara:
- Rohani
- Karakter
- Ketaatan
- Relasi dengan Tuhan
- Kesaksian di hadapan manusia
Inilah pelayanan yang maju.
Pelayanan yang maju bukan hanya semakin banyak aktivitasnya, tetapi semakin dewasa kehidupan orang yang melayani.
Ada orang yang sudah lama melayani tetapi karakternya tidak bertumbuh.
Ada yang sudah bertahun-tahun menjadi pelayan Tuhan tetapi masih mudah tersinggung.
Masih mudah marah.
Masih suka bersaing.
Masih mencari pujian.
Masih sulit menerima teguran.
Artinya, aktivitas pelayanan bertambah, tetapi kedewasaan rohani tidak bertambah.
Samuel memberikan teladan bahwa pelayanan harus berjalan bersama dengan pertumbuhan hidup.
V. PELAYANAN MAJU KETIKA ADA KESATUAN ANTARA KEHIDUPAN DI HADAPAN TUHAN DAN DI HADAPAN MANUSIA
1 Samuel 2:26
Perhatikan kalimat:
“...disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.”
Ada dua arah kehidupan Samuel:
Vertikal: hubungan dengan Tuhan.
Horizontal: hubungan dengan manusia.
Seorang pelayan Tuhan harus menjaga keduanya.
Tidak cukup hanya baik di hadapan manusia tetapi buruk di hadapan Tuhan.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh berkata:
“Yang penting Tuhan tahu hati saya.”
Tetapi hidup kita menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Aplikasi
Kehidupan seorang pelayan harus menjadi kesaksian:
Di gereja baik.
Di rumah baik.
Di tempat kerja baik.
Di masyarakat baik.
Di media sosial juga baik.
Sebab orang bukan hanya mendengar khotbah kita.
Orang melihat kehidupan kita.
ILUSTRASI UTAMA: DUA POHON
Bayangkan ada dua pohon yang ditanam di halaman yang sama.
Keduanya mendapatkan:
- tanah yang sama,
- air yang sama,
- sinar matahari yang sama,
- udara yang sama.
Tetapi setelah beberapa tahun, pohon yang satu tumbuh subur dan menghasilkan buah, sedangkan pohon yang lain layu dan hampir mati.
Apa penyebabnya?
Bukan karena tempatnya berbeda.
Tetapi karena akar dan kondisi pohonnya berbeda.
Demikian juga Hofni, Pinehas dan Samuel.
Mereka berada dalam lingkungan pelayanan yang sama.
Tetapi hasil kehidupannya berbeda.
Hofni dan Pinehas tidak menghormati Tuhan.
Samuel hidup sebagai pelayan Tuhan.
Jadi:
Lingkungan pelayanan tidak otomatis membuat seseorang bertumbuh. Yang menentukan adalah bagaimana ia merespons Tuhan di dalam pelayanan tersebut.
3 CIRI PELAYANAN YANG MAJU
1. Semakin Takut Akan Tuhan
Semakin dekat dengan Tuhan, semakin sadar bahwa pelayanan adalah sesuatu yang kudus.
2. Semakin Dewasa Karakternya
Bukan hanya kemampuan yang berkembang, tetapi juga:
- kesabaran,
- kerendahan hati,
- kesetiaan,
- penguasaan diri,
- kasih,
- tanggung jawab.
3. Semakin Menjadi Berkat
Pelayanan yang maju tidak hanya membuat kita dikenal.
Tetapi membuat orang lain diberkati dan nama Tuhan dimuliakan.
3 TANDA PELAYANAN MULAI MUNDUR
1. Ketika pelayanan menjadi rutinitas
Kita melayani tetapi hati tidak lagi bergairah untuk Tuhan.
2. Ketika kepentingan pribadi lebih utama
Kita mulai mencari jabatan, pujian, penghargaan dan keuntungan.
3. Ketika dosa mulai dikompromikan
Kita tahu salah, tetapi terus melakukannya dan tidak mau bertobat.
APLIKASI BAGI JEMAAT DAN PARA PELAYAN
1. Periksa kembali motivasi pelayanan kita
Tanyakan:
“Apakah saya masih melayani karena mengasihi Tuhan?”
Bukan karena:
- jabatan,
- pujian,
- penghargaan,
- popularitas,
- kepentingan pribadi.
2. Jangan hanya mengejar posisi, kejarlah kedewasaan
Lebih baik menjadi pelayan yang sederhana tetapi memiliki karakter Kristus daripada memiliki posisi besar tetapi kehidupan rohani kosong.
3. Jangan biarkan dosa tinggal dalam kehidupan kita
Kalau ada dosa, akui, tinggalkan, dan bertobat.
4. Bangun kehidupan doa dan firman
Pelayanan publik tidak boleh lebih besar daripada kehidupan pribadi kita bersama Tuhan.
Pelayanan yang kuat di depan umum harus memiliki kehidupan rohani yang kuat di tempat tersembunyi.
5. Jadilah teladan bagi generasi berikutnya
Samuel masih muda, tetapi hidupnya menjadi teladan.
Karena itu jangan berkata:
“Saya masih muda, saya belum bisa dipakai Tuhan.”
Samuel membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk dipakai Tuhan.
Sebaliknya, jangan pula berkata:
“Saya sudah lama melayani, jadi saya pasti benar.”
Lama melayani tidak menjamin seseorang tetap setia.
Yang Tuhan cari adalah kesetiaan.
PENUTUP
Saudara yang dikasihi Tuhan,
1 Samuel 2 memperlihatkan kepada kita dua arah pelayanan:
Hofni dan Pinehas — semakin jauh dari Tuhan.
Samuel — semakin dekat dengan Tuhan.
Mereka sama-sama berada dalam lingkungan pelayanan.
Tetapi hasilnya berbeda.
Karena itu hari ini Tuhan seolah-olah bertanya kepada kita:
“Ke arah mana pelayananmu sedang berjalan?”
Apakah semakin maju?
Atau sebenarnya perlahan-lahan sedang mundur?
Apakah kita semakin mengasihi Tuhan?
Apakah kita semakin rendah hati?
Apakah kita semakin taat?
Apakah karakter kita semakin menyerupai Kristus?
Atau justru kita semakin mencari kepentingan diri sendiri?
Mari kita ingat:
Pelayanan yang maju bukan pelayanan yang paling ramai, paling besar, atau paling terkenal. Pelayanan yang maju adalah pelayanan yang semakin membawa kita dekat kepada Tuhan dan semakin menjadi berkat bagi sesama.
Kiranya kehidupan kita bukan seperti Hofni dan Pinehas yang mengalami kemunduran, tetapi seperti Samuel yang:
“semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.”
Kalimat penutup yang dapat ditekankan:
“Jangan hanya bertanya: Apakah saya masih melayani? Tetapi bertanyalah: Apakah saya masih bertumbuh?”
“Sebab pelayanan yang tidak disertai pertumbuhan rohani pada akhirnya akan mengalami kemunduran.”
No comments:
Post a Comment