Saturday, April 4, 2020

MENYENANGKAN TUHAN


Thema                        : Menyenangkan Tuhan
Nats                : Kol. 1:10
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.


A.        PENDAHULUAN
Sebuah syair lagu berkata “Menyenangkan-Mu  senangkan-Mu, hanya itu kerinduanku”. Apakah setiap orang yang melantunkan lagu ini sungguh memaknainya atau hanya sekedar bernyanyi saja? Sebab tidak jarang lagu ini kita dengar juga dinyanyikan oleh orang-orang di lampu merah atau tempat-tempat tertentu hanya untuk memperoleh lembaran uang ribuan. Bahkan lebih mirisnya lagi, lagu ini dinyanyikan di lingkungan rohani tetapi tetapi orang yang menyayikannya tidak menunjukkan sikap seorang yang sungguh mau hidup menyenangkan Tuhan. Menyenangkan Tuhan bukanlah sebatas perkataan tetapi lebih dari itu seluruh aspek hidup kita menjadi milik Tuhan. Bagaimanakah hidup yang menyenangkan Tuhan? Rasul Paulus memberi pesan kepada jemaat di Kolose tetang cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.

B.        ISI
1.      Arti menyenangkan Tuhan
Menyenangkan Tuhan berarti suatu usaha untuk senantiasa  berkenan di hadapan Tuhan dalam seluruh aspek hidup (ay. 10). Untuk berkenan di hadapan Tuhan kita tidak bisa tinggal diam tetapi sesuatu yang harus diusahakan dan dikerjakan, sehingga Paulus berkata :”Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar (Fil. 2:12). Bahwa ketika seseorang telah menerima keselamatan maka ia akan berusaha hidup menyenangkan Tuhan, jika tidak demikian maka menjadi suatu pertanyaan, benarkah dia sudah diselamatkan?
2.      Bagaimanakah  hidup yang menyenangkan Tuhan?
·      Melaksanakan visi (amanat) Tuhan Yesus yaitu Injil bagi seluruh dunia (ay. 6). Bahwa hari ini kita menjadi orang percaya karena ada yang memberitakan Injil kepada kita maka menjadi tugas kita untuk memberitakannya kepada orang lain.
·      Menjadi pelayan Tuhan yang setia (ay. 7). Ketika kita setia maka Tuhan akan berkenan dan akan mempercayakan perkara yang lebih besar kepada kita (Mat. 25:21).
·      Berusaha mengerti kehendak Tuhan (ay. 9). Banyak orang Kristen yang berusaha semaksimal mungkin untuk mengerti tentang Allah. Bahkan pengertiannya mendahului kepercayaannya kepada Tuhan. Hal ini menyebabkan banyak orang yang beralih dari Tuhan saat pengertiannya tidak mampu menembus keberadaan Allah. Seharusnya kita berkata: “Aku tidak berusaha mengerti agar percaya, tetapi aku percaya agar mengerti.”
·      Hidup memberi buah (ay 10). Matius berkata : “Sebab dari buahnyalah pohon itu dikenal (Mat. 12:33). Orang yang mau menyenangkan Tuhan akan selalu: tekun (ay.11), sabar (ay. 11), bersyukur (12), bersukacita (ay. 12).
·      Bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (ay. 10). Sebuah buku karangan Kelly M. Kapic berkata “Dari masa lampau hingga saat ini banyak teolog yang hanya mahir berteologi dengan ribuan teorinya tentang Allah tetapi sampai akhir hidupnya tidak pernah menyembah Allah itu sendiri”. Artinya bahwa pengetahuan yang ia miliki tidak membuatnya bertumbuh dalam mengenal Allah dengan benar.
3.      Hasil bagi orang yang hidup menyenangkan Tuhan.
Ketika kita senantiasa hidup berkenan (menyenangkan Tuhan) maka semuanya tidak akan sia-sia (1 Kor. 15:58). Apakah yang kita peroleh? Beroleh bagian dalam kerajaan Allah (ay. 12-13). Artinya, ketika kita setia sampai akhir maka tidak semata hanya keselamatan yang kita terima tetapi ada mahkota (bagian) yang Tuhan sediakan bagi kita (Why. 2:10c).

C.        KESIMPULAN
Menyenangkan Tuhan adalah hidup kita, sebab untuk kebahagian kita IA telah berikan segalanya. Sesungghunya Tuhan tidak membutuhkan kita, sebab tanpa kita pun IA tetap Tuhan yang besar dan Maha segalanya, tetapi kitalah yang butuh Tuhan sebab tanpaNya maka kita tiada arti dan tiada guna. Oleh karena kita sangat dan sangat membutuhkanNya marilah kita senantiasa hidup untuk menyenangkanNya. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

MEMILIKI HIDUP YANG BERBEDA


Thema                 : Memiliki Hidup Yang Berbeda
Nats                       : Kej. 6:9
Oleh                      : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.     PENDAHULUAN
Ketika semua orang berjalan ke arah utara, apakah kita juga akan ke berjalan ke sana? Ketika semua orang berbelok ke kiri beranikah kita sendirian ke kanan? Ketika kita tidak ikut ke utara atau kita berbelok ke kanan bukan semata supaya kita berbeda dari orang lain. Demikian juga ketika kita ikut ke utara atau ikut ke kiri bukan semata karena semua orang ke sana. Tetapi karena kita tahu bahwa disanalah kebenaran yang sejati kita temukan. Menjadi orang beragama Kristen tidaklah sama dengan menjadi pengikut Kristus. Banyak orang yang beragama Kristen tetapi cara hidupnya tidak berbeda dengan orang yang tak mengenal Tuhan. Seorang pengikut Kristus haruslah memiliki hidup yang berbeda dari orang yang tak mengenal Tuhan. Bagaimanakah hidup yang berbeda itu?

B.     ISI
1.       Arti  dan contoh memiliki hidup yang berbeda
·      Memiliki hidup yang berbeda berarti memiliki cara hidup tidak seperti orang lain pada umumnya.
·      Pada zaman Nuh semua manusia menjalankan hidup yang rusak (ay. 12), semua manusia melakukan kejahatan (ay. 5), semua manusia melakukan kekerasan (ay. 13). Tetapi Nuh memiliki hidup yang berbeda ditengah-tengah zaman yang rusak tersebut (ay. 9, 7:1).
2.       Ciri-ciri pribadi yang memiliki hidup yang berbeda
Mengapa Nuh menjadi pribadi yang berbeda pada zamannya? Karena ia memiliki hidup yang bertolak belakang dengan orang lain pada zamannya.
·      Hidup benar dihadapan Tuhan (ay. 9, 7:1)
Nuh dan keluarganya benar dihadapan Tuhan bukan karena mereka tidak pernah berbuat dosa tetapi selalu berusaha hidup berkenan kepada Allah. Sebagaimana Ayub selalu menguduskan dan mempersembahkan korban bakaran tatkala anak-anaknya selesai melakukan pesta (Ayub 1:5).
·      Tidak bercela (ay. 9)
Nuh dan keluarganya tidak bercela bukan semata di hadapan manusia tetapi dihadapan Tuhan. “sebab engkaulah yang Kulihat benar dihadapanKu..”. Banyak orang menjaga sikap, perkataan dan perbuatannya hanya dihadapan manusia agar dipandang baik.
·      Hidup bergaul dengan Allah (ay. 9)
Apa yang memampukan Nuh dan keluarganya hidup benar dan tidak bercela? Karena mereka selalu hidup bergaul dengan Allah. Paulus berkata :Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik (1 Kor. 15:33). Dengan siapa kita bergaul maka itu sangat menentukan karakter hidup kita. Ilustrasi: Burung Elang yang sudah jinak.
·      Memberitakan kebenaran (2 Pet. 2:5).
Di tengah zaman yang rusak Nuh memberitakan tentang Allah yang ia sembah. Melalui bahtera yang ia buat ia sedang menceritakan dan menyaksikan tentang Allah yang maha besar. Didengar atau tidak yang penting baginya adalah memberitakan perbuatan Allah.
·      Taat perintah Tuhan (ay. 22)
Tidak mudah bagi Nuh untuk membuat sebuah bahtera yang begitu besar tetapi mereka tetap taat dan tidak mengeluh sampai bahtera itu selesai.
3.       Tantangan untuk menjadi pribadi yang berbeda.
Dapat dipastikan bahwa Nuh mendapat tantangan ketika memiliki hidup yang berbeda.
·      Dianggap sebagai manusia sok suci. Ketika Nuh dan keluarga berusaha hidup benar dan tidak tercela dengan senantiasa hidup bergaul dengan Allah maka orang-orang sezamannya akan memandang mereka sebagai manusia aneh.
·      Dianggap sebagai manusia gila. Ketika Nuh dan keluarga membuat sebuah bahtera di pegunungan (dataran tinggi) maka jika hari itu kita ada bersama mereka mungkin kita juga ikut menilai mereka sudah tidak normal lagi. Dalam hal ini Nuh lebih beruntung dari Ayub, sebab Nuh dan keluarganya sehati. Sementara ketika Ayub mempertahankan hidup yang berbeda, isterinya pun mengutukinya.
4.       Hasil ketika memiliki hidup yang berbeda
·      Mendapat berkat jasmani.
Kehidupan Nuh dan keluarganya serta anak cucunya dipelihara oleh Tuhan (ay. 18-19, 9:1-2)
·      Mendapat berkat Rohani (hidup yang kekal)
Nuh mendapat kasih karunia dari Tuhan (ay. 8).
C.      KESIMPULAN
Dengan memiliki hidup yang berbeda mungkin kita akan berjalan sendiri. Tetapi ingatlah bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang mengikutinya. Adalah dukacita ditengah keramaian jika Tuhan tidak berkenan  sebaliknya berbahagialah dalam sepimu jika Tuhan hadir di sana. Aku ke kiri sendiri bukan semata agar berbeda dengan orang lain tetapi karena di sana Tuhan sedang berdiri menantiku untuk berjalan bersama mengarungi samudera kehidupan sampai akhir nanti. Tuhan Yesus memberkati. Amin. GBU.

TUNAIKAN TUGAS PELAYANANMU


Thema             : Tunaikan Tugas Panggilan
Nats                 : Yosua 1: 1-15
Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.


A.  PENDAHULUAN
Menunaikan sebuah tugas adalah suatu kewajiban. Ketika kita melaksanakan tugas yang dipercayakan oleh pimpinan maka itu menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang bertanggung jawab. Orang-orang Jepang terkenal sebagai pekerja keras dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya. Jika mereka yang tak mengenal Tuhan saja memiliki kualitas kerja yang tinggi maka sebagai orang percaya maka kita seharusnya lebih dari itu baik dalam menunaikan tugas sehari-hari terlebih dalam menunaikan tugas dan panggilan kita sebagai orang percaya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam menunaikan panggilan tersebut ada tantangan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Tetapi sejatinya bahwa tantangan yang ada tersebut akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Mari tunaikan panggilan kita dengan segala tantangan yang ada.
B.   ISI
1.      Arti Menunaikan Tugas Panggilan.
·      Tunai berarti menyelesaikan pembayaran (melunasi).
·      Menunaikan tugas panggilan berarti mengerjakan tugas (pelayanan) yang dipercayakan oleh Tuhan dalam segala situasi (2 Tim. 4:2).
2.      Tantangan Dalam Menunaikan Tugas Panggilan
Tiada lautan yang tak bergelombang sebab jika tak bergelombang maka pasti bukanlah lautan. Tiada tugas yang tak memiliki tantangan sebab jika tak ada tantangan maka itu bukanlah suatu tugas terlebih tugas dalam melayani Tuhan.
·      Tantangan Internal (dari dalam diri kita).
Ø  Kurang menguasai diri (tidak sabar).
Sesudah Musa hamba Tuhan itu mati (ay. 1). Oleh karena tidak menguasai diri (emosi), Musa di hukum Tuhan dan tidak masuk tanah perjanjian (Bil. 20:11-12).
Ø  Mental yang lemah
Tuhan meneguhkan Yosua sebanyak tiga kali: Kuatkan dan teguhkanlah hatimu (ay. 6, 7 dan 9). Mengapa sampai 3 kali, sebab Tuhan tahu tidak mudah bagi Yosua untuk memimpin bangsa Israel yang keras.
Ø  Godaan untuk mengikuti cara dunia (menyimpang ke kana/ke kiri, ay. 7).
Orang percaya/pelayan/hamba Tuhan juga adalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan yang sama dengan semua orang pada umumnya. Bedanya, bahwa bagi mereka yang di luar Tuhan tidak masalah menyimpang dari kebenaran dalam pemenuhan kebutuhan itu. Dalam hal ini orang percayapun terkadang tergoda untuk melakukannya.
·      Tantangan Eksternal (dari luar diri kita)
Ø  Alam yang kadang kurang mendukung.
Para imam pengangkat Tabut Perjanjian harus menyeberang sungai Yordan yang meluap (3:15).
Ø  Bangsa/orang yang tidak mengenal Tuhan (3:10). Yosua dan bangsa Israel harus berperang melawan bangsa-bangsa yang menghalangi perjalanan mereka.
Ø  Bangsa sendiri/umat Tuhan. Dengan tegas Yosua berkata: pilihlah kepada siapa kamu beribadah, kepada allah nenek moyangmu diseberang sungai Efrat ... tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (24:15).
Ø  Sesama hamba Tuhan (sesama orang percaya) Sering sekali tantangan dalam pelayanan juga datang dari rekan sepelayanan. Misalnya antara Daud dan Saul (Saul Iri kepada Daud), Euodia dan Sintikhe (tidak sehati/sejalan, Fil. 4:2), Paulus dan Petrus (perbedaan pandangan tentang adat Yahudi, Gal. 2:11)
3.      Sikap Dalam Menunaikan Tugas Panggilan.
Apapun tantangan dan masalahnya tugas panggilan harus tetap ditunaikan. Kita harus memiliki sikap dalam menunaikan tugas panggilan tersebut yaitu:
·      Selalu siap sedia (ay. 2). Siap atau tidak, Yosua harus siap menggantikan kepemimpinan Musa. Sebab tidak mungkin pekerjaan Tuhan berhenti di tangan kita.
·      Terus maju/pantang mundur (ay. 3). Jangankan untuk mundur, berhenti pun kita tidak boleh dalam melayani (mengikut) Tuhan.
·      Tidak menyimpang dari jalur (ay. 7) Bagaimana agar tidak menyimpang? Jadikan Firman (Taurat) Tuhan sebagai tolok ukur (ay. 8).
·      Menghindari perbantahan (Am. 20:3) dan mengabaikan cemooh (Ams. 12:16). Menghindari perbantahan bukan karena kita salah, mengabaikan cemooh bukan karena kita tidak punya hati. Tetapi semua untuk kebaikan. Sebuah pohon yang buahnya manis akan dilepari dan dijolok, segelas kopi membutuhkan sebuah sendok untuk mengaduk-aduk (mengacau) kopi dan gula agar menjadi manis dan nikmat.
C.   KESIMPULAN
Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2 Tim. 4:5). Tidak ada tantangan yang terlalu berat untuk dilalui. Tuhan Yesus sudah menjadi teladan bagi kita untuk menunaikan tugas panggilan kita. Tantangan yang kecil untuk orang kecil dan tantangan yang besar untuk orang besar. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

MERDEKA ATAU TERJAJAH


Thema : Merdeka Atau Terjajah
Nats     : Gal. 5:1
Oleh    : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.      PENDAHULUAN
Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia merayakan satu hari yang bersejarah itulah HUT Kemerdekaan RI. Pertanyaannya, benarkah bangsa in telah merdeka? Secara de yure benar kita telah merdeka artinya bangsa Indonesia telah berdaulat dan mendapat pengakuan dari dunia sebagai bangsa yang merdeka. Namun secara de facto (faktanya) dari lebih 220 juta rakyat negeri ini sebagian besar belumlah merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Sehingga sering terdengar ungkapan : “Menjadi kuli di negeri sendiri”. Menurut F. D. Roosevelt ada 4 jenis kemerdekaan yaitu kemerdekaan untuk beribadah, kemerdekaan untuk berbicara, kemerdekaan dari rasa takut dan kemerdekaan dari kekurangan. Jika kita kaji maka diantara keempat kemerdekaan ini belumlah ada yang sungguh-sungguh dirasakan oleh seluruh lapisan rakyat negeri ini (ilustrasi: 16 Agustus tahun 45). Seperti halnya kemerdekaan RI maka sebagai orang Kristen kita juga mengalami hal yang sama. Secara de yure kematian Kristus di tiang salib telah memerdekakan umatnya (Yoh. 8:36), namun secara de facto masih saja orang yang mengaku sebagai umat Tuhan itu terjajah (terbelenggu) oleh dosa. Bagaimanakah makna kemerdekaan di dalam Kristus? Mari kita belajar.

B.       ISI
1.      Arti Merdeka
·      Secara Praktis: dalam KBBI merdeka adalah Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri. Dalam konteks Alkitab misalnya ketika bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir.
·      Secara Teologis: merdeka berarti beralih posisi dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran (Rm. 6:18).  Misalnya: Saulus adalah hamba dosa tetapi Paulus adalah hamba kebenaran.
2.      Proses Beroleh Kemerdekaan.
·      Secara Praktis:
Ø Berjuang. Bangsa Israel, baik saat dipimpin Musa dan Harun maupun Yosua dan Kaleb selalu diperhadapkan dengan peperangan secara fisik mengahadapi berbagai bangsa sampai akhirnya sampai ke Tanah Perjanjian.
Ø  Mengandalkan Tuhan. Musa berkata bahwa tangan Tuhanlah yang membebaskan mereka dari perbudakan (Kel. 13:3). Hal yang sama diungkapkan dalam Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa....”.
·      Secara Teologis:
Ø Menerima tiket kemerdekaan (Yoh. 1:12). Seseorang dikatakan merdeka secara teologis ketika ia menjadi anak-anak Allah.
Ø Mengerjakan Kemerdekaan yang telah diterima (Fil. 2:12). Seseorang akan menerima kemerdekaan itu jika ia setia sampai akhir. Seorang yang telah merdeka bisa berbuat dosa (kesalahan), tetapi tidak akan pernah terjajah (diperbudak) oleh dosa itu. Jika ada yang mengaku telah menerima tiket kemerdekaan tetapi akhirnya terus diperbudak oleh dosa maka sesungguhnya ia belum pernah merdeka dari semula.
3.      Makna Kemerdekaan Dalam Kristus.
Manusia diciptakan sebagai makhluk bebas (bukan robot). Tetapi kebebasan itu memiliki konskuensi masing-masing. Merdeka yang berarti bebas tidak boleh salah dalam memaknainya. Kebebasan bukan berarti bebas sesuka hati tetapi sebaliknya bebas bertanggung jawab. Apakah kemerdekaan dalam Kristus?
·      Merdeka berarti bebas untuk melayani Tuhan (Gal. 5:13). Bahwa setiap orang percaya adalah imamat yang rajani (1 Pet. 2:9). Jika dahulu tidak semua orang bisa menjadi imam maka hari ini semua orang percaya adalah imam dan boleh datang kepada Tuhan kapan dan dimana saja tanpa perantara.
·      Merdeka berarti tidak tertawan oleh fisafat (ajaran) turun-temurun (Kol. 2:8). Jangan jamah, jangan kecap, jangan sentuh (ay. 22). Kita bebas makan ini dan itu, sunat/tidak sunat, dll., tapi berhikmatlah agar tidak menjadi batu sandungan.
·      Merdeka berarti tidak hidup dibawah hukum taurat tetapi kasih karunia (Rm. 6:14). Sebab jika hukum taurat menjadi landasan maka tidak ada yang selamat sebab tidak ada yang mampu melakukannya dengan sempurna termasuk para nabi dan rasul. Tetapi oleh kasi karunia kita diselamatkan.

C.       KESIMPULAN
Marilah kita menghidupi kehidupan ini sebagai orang merdeka. Musa telah membawa umat Tuhan dari perbudakan di Mesir dan selanjutnya Kristus telah membawa umat Tuhan dari perbudakan dosa kepada hidup yang kekal. Isilah kemerdekaan yang diberi Kristus dengan senantiasa setia sampai pada akhirnya. Amin. GBU.

DISIPLIN


Thema             : Disiplin
Nats                 : Ef. 5:15-16
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.


A.      PENDAHULUAN
Sebuah pepatah mengatakan “Time is money” yang artinya “Waktu adalah uang”. Memang tidak semua hal di ukur dengan uang, tetapi pepatah ini ingin menyampaikan suatu pesan bahwa waktu itu sangat berharga sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Siapakah yang dapat memanfaatkan dan mengatur waktu dengan baik? Tentulah mereka yang memiliki disiplin yang baik juga. Orang Jepang sangat terkenal dengan pengaturan waktu yang sangat efektif. Padahal secara umum mereka bukanlah orang-orang yang mengenal Yesus sebagai Tuhan. Jika mereka yang tidak “berTuhan” saja mampu mengatur waktu dengan baik, maka sebagai orang percaya seharusnya kita melebihi mereka. Sebab Alkitab sendiri mengajarkan bagaimana seorang percaya harus menggiunakan waktu dengan sebaik mungkin.
B.       ISI
1.      Arti Disiplin
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.
2.      Dalam hal apa sajakah kita harus disiplin?
Rasul Paulus menyampaikan pesan kepada jemaat di Efesus :” Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup” (ayat 16). Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh aspek hidup haruslah teratur (disiplin). Namun secara spesifik dikatakan bahwa kita harus berdisiplin dalam hal waktu (ayat 16). Mengapa masalah waktu sangat ditekankan? Sebab sesungguhnya disiplin waktu mencakup seluruh aspek hidup manusia. Bahwa ketika seseorang mampu mengatur dan menggunakan waktu dengan baik maka sesungguhnya ia sudah disiplin dalam hidupnya. Dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi ia tahu apa yang harus ia kerjakan.
3.      Ciri-ciri Orang Disipiln
Disiplin bukanlah sekedar ungkapan tetapi suatu karakter hidup dan akan terlihat dari ciri-ciri yang  dimiliki oleh seorang yang disebut disiplin. Bagaimanakah ciri-ciri seseorang yang yang disiplin menurut Alkitab?
·      Teliti
“Perhatikanlah dengan saksama” (ayat 15). Seorang yang disiplin serius dalam melakukan segala sesuatu (tidak asal). Segala sesuatu ia perhatikan dengan saksama, sehingga ia tahu merancang dan merencanakan segala sesuatu yang akan dikerjakan.
·      Tidak bebal (ayat 15)
Bebal berarti tidak cepat menanggapi sesuatu atau tidak peduli dengan segala sesuatu. Seorang yang disiplin tidak memiliki sifat seperti ini tetapi sebaliknya ia cepat tanggap dengan segala sesuatu yang terjadi disekitarnya sehingga ia dapat memberi respon yang positif.
·      Arif (ayat 15)
Arif berarti bijaksana; cerdik dan pandai; berilmu. Bijak bukan sekedar pandai, sebab banyak orang pandai tetapi tidak bijak. Bijak lebih kepada memiliki hikmat yang bersumber dari Tuhan (Amsal 1:7).   
·      On time / tepat waktu (ayat 16).
“Pergunakanlah waktu yang ada”. Seorang yang disiplin tidak akan pernah menunda-nunda waktu dalam mengerjakan segala sesuatu. Dalam hal ini kita masih sering gagal. Misalnya: menurut pembicaraan panitia maka perayaan Natal akan di mulai pukul 16.00 kenyataannya pikul 18.00 baru dimulai. Padahal panitia memberi tema kepada pembicara “Tepat Waktu”.
·      Belajar mengerti kehendak Tuhan (ayat 17).
Orang yang berdisiplin dalam konteks orang percaya tidak bertindak sembarangan. Ia akan memohon tuntunan Tuhan (mendengar suara Tuhan) melalui doa dan mendengar firmanNya.
C.      KESIMPULAN
Mari menjadi orang yang berdisiplin. Orang yang tak mengenal Tuhan pun mampu berdisiplin dan memiliki kehidupan yang baik (berkat jasmani), maka seharusnya kita sebagai orang yang percaya memiliki disipin yang lebih baik lagi. Percayalah, saat kita memiliki disiplin yang tinggi kita akan melihat karya Tuhan yang luar biasa dalam hidup kita baik secara jasmani terlebih secara rohani. Tuhan Yesus memberkati. Amin.