Monday, September 4, 2023
Saturday, August 26, 2023
Melayani untuk kebaikan jemaat
Thema : Melayani untuk
kebaikan jemaat
Nats : 2 Kor. 8:16-19
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
A.
PENDAHULUAN
Melayani adalah tugas setiap orang percaya.
Bahwa setiap orang yang sudah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terangnya
yang ajaib bertanggung jawab untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang
besar (1 Pet. 2:9). Setiap orang mempunyai karunia yang berbeda-beda di tengah
pelayanan. Tapi yang penting bagaimana akhirnya pelayanan kita mendatangkan
kebaikan bagi orang lain. Sebab tidak bisa dipungkiri banyak orang melayani dengan
motivasi yang keliru. Mari kita belajar dari pesan yang ditulis oleh rasul
Paulus saat mengutus Titus dan dua orang rekannya untuk melaksanakan pelayanan
ke jemaat yang ada di Korintus.
B.
ISI
Sikap atau karakter yang layak kita teladani
dari Titus, dkk. dalam melakukan tugas pelayanan sehingga mendatangkan kebaikan
di tengah jemaat adalah:
1. Memiliki kesungguhan
dalam melayani (ay. 16)
Artinya ketika Titus diutus oleh Paulus maka ia
tidak setengah hati melakukan pelayanan tetapi dengan sungguh-sungguh. Kepada
jemaat di Roma Paulus menasihatkan “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,
biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Rm. 12:11). Ketika seorang
hamba Tuhan melayani dengan sungguh-sungguh dan semangat maka jemaat yang
dilayani juga akan mengalami pertumbuhan hari lepas hari.
2. Memiliki keikhlasan
(sukarela) dalam melayani (ay. 17)
Artinya Titus berangkat melayani jemaat dengan
sukarela. Bukan karena ada sesuatu yang ia terima sehingga ia mengerjakan
pelayanan itu. Ia meneladani Yesus yang berkata: Anak manusia datang bukan
untuk dilayani tetapi untuk melayani (Mat. 20:28). Sebab dari masa lalu sampai
hari ini ada orang yang melayani dengan motivasi yang tidak benar. Paulus mengingatkan jemaat di Roma bahwa ada
orang yang melayani untuk kepentingan perut mereka (Rm. 16:18). Bahwa melalui
pelayanan yang dilakukan oleh seorang hamba Tuhan ia beroleh berkat secara
jasmani itu adalah cara Tuhan memberkatinya, tetapi jika ada hamba Tuhan
melayani dengan tujuan mendapatkan berkat (amplop) maka sadarlah anda bukan
melayani Tuhan. Dengan ketulusan seorang pelayan maka jemaat pun akan merasa
nyaman dan mengalami pertumbuhan.
3. Memiliki reputasi yang
baik (ay. 18)
Mengapa Paulus mengutus Titus dan bukan yang
lain? Karena ia seorang “yang
terpuji di semua jemaat”. Menjadi seorang pelayan Tuhan tidak hanya
selalu berbicara kepintaran dan kecakepan, tetapi nama baik itu sangat penting.
Bagaimana seseorang menyampaikan kebenaran jika ia sendiri hidup tidak benar.
Rasul Paulus mengatakan kepada Timotius: Karena itu penilik
jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat
menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar
orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai bukan hamba
uang (1 Tim. 3:2-3). Jika hamba Tuhan memiliki reputasi yang baik maka akan
bisa menjadi teladan bagi semua jemaat.
C.
PENUTUP
Mari melayani Tuhan dengan hati. Bahwa Tuhan
telah memberikan kepada kita keselamatan dan damai sejahtera maka itu harus
kita bagikan kepada orang lain melalui pelayanan yang kita lakukan. Apapun
pekerjaan dan profesi yang kita lakukan, mari melayani Tuhan melalui pekerjaan
itu, terlebih lagi di tengah jemaat. Jika Tuhan mempercayakan sebuah pelayanan
kepada kita di tengah jemaat Tuhan, maka kerjakanlah dengan sepenuh hati
sehingga mendatangkan kebaikan bagi semua dan kemuliaan bagi nama Tuhan.
Wednesday, August 16, 2023
Baptisan Roh menurut Injili dan Karismatik
Thema : Baptisan Roh menurut Injili dan Karismatik
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
Nats : Mat. 3:11
1.
Apakah arti
baptisan Roh?
a.
Menurut
Injili
Suatu peristiwa ketika seseorang percaya dan dimeteraikan dengan
Roh Kudus sehingga Roh Kudus menjadi jaminan bahwa orang tersebut adalah milik
Allah (Ef. 1:13-14).
b.
Menurut
Karismatik
Aliran karismatik atau sering disebut neo-Pentakosta mengatakan
bahwa baptisan roh adalah suatu peristiwa dimana seorang percaya mengalami
pencurahan Roh Kudus dengan tanda awal mampu berbahasa lidah (glosolalia).
2.
Hubungan
baptisan Roh dengan baptisan air?
a.
Menurut
Injili
Baptisan air adalah sebagai tanda pertobatan (Mat. 3:11). Seorang
yang sudah dibaptis dengan air tidak serta merta mengalami baptisan Roh Kudus.
Apakah bisa terjadi secara simultan (bersamaan)? Bisa, bahwa saat seseorang
dibaptis oleh hamba Tuhan dan pada saat itu ia sungguh-sungguh merasakan
kehadiran Roh Kudus dalam hatinya. Contoh: Kepala penjara Filipi (Kis.
16:31-33).
b.
Menurut
Karismatik
Seorang dibaptis dengan air adalah mereka yang sudah percaya dan
bertobat (Kis. 2:41 dan 44). Bahwa semua orang percaya telah dibaptis oleh Roh
Kudus tetapi tidak semua orang percaya mengalami baptisan dalam Roh Kudus (Charles
C. Ryrie). Artinya mereka yang sudah percaya dan dibaptis tetapi belum memiliki karunia
berbahasa roh maka mereka belum mengalami kuasa Roh Kudus. Kemampuan berbahasa
roh seakan membuat baptisan menjadi semakin sempurna dan mereka menyebutnya
sebagai second blessing (berkat kedua).
3.
Hubungan
baptisan roh dengan baptisan api.
a.
Menurut
Injili
Paulus berkata bahwa kepada kita dikaruniakan bukan hanya
untuk percaya tetapi juga untuk menderita (Fil. 1:29). Bahwa orang yang sudah
dibaptis Roh Kudus (percaya) akan mengalami baptisan api yaitu suatu
penderitaan sebagai ujian untuk memurnikan iman. Contoh: Sadrakh, Mesakh,
Abednego masuk perapian dan Daniel masuk goa singa untuk memurnikan imannya
dihadapan Tuhan.
b.
Menurut
Karismatik.
Karismatik populer dengan pemahaman teologi kemakmuran. Dengan
mengutip Ul. 18:8 “sebab Dialah (Allah) yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh
kekayaan”. Bahwa orang percaya akan menikmati kemakmuran dalam hidup.
Jika ada orang yang mengaku percaya tetapi hidupnya sulit (secara ekonomi) maka
akan diragukan apakah ia sudah benar-benar percaya.
4.
Hubungan baptisan
roh dengan peristiwa pecurahan Roh Kudus serta gereja masa kini.
a.
Menurut
Injili
Sebelum Roh Kudus dicurahkan jemaat mula-mula sudah mengalami baptisan
Roh Kudus (percaya). Peristiwa pencurahan Roh Kudus di jemaat mula-mula adalah
peristiwa yang luar biasa. Mengapa luar biasa? Karena itu peristiwa khusus bagi
jemaat mula-mula dan tidak ada lagi peristiwa yang serupa terjadi pada masa
kini, dimana Roh Kudus hadir seperti lidah-lidah api (Kis. 2:3). Bahwa
peristiwa itu menjadi suatu historis dimana Roh Kudus hadir untuk semua bangsa
(Kis. 2:11, 1 Kor. 12:13). Di gereja masa kini Roh Kudus hadir dengan berbagai
manifestasi (cara) dengan satu tujuan mendiami dan memenuhi hati orang percaya.
b.
Menurut
Karismatik.
Sebelum Roh Kudus dicurahkan jemaat mula-mula sudah dibaptis oleh
Roh Kudus tetapi belum mengalami kuasa Roh Kudus (second blessing). Peristiwa
pencurahan Roh Kudus di jemaat mula-mula adalah peristiwa yang biasa. Mengapa
biasa? Bukan kejadiannya tidak ajaib. Tetapi hal ini dipandang sesuatu yang biasa,
karena sekarang pun mereka terus mengalaminya. Di gereja masa kini Roh Kudus
hadir dengan manifestasi utama yaitu memampukan jemaat untuk berbahasa lidah
pada setiap ibadah. Dan saat mereka belum menerima second blessing (bahasa roh)
maka menjadi ragu dengan first blessing (keselamatan).
5.
Hubungan
baptisan roh dengan metode baptisan.
a.
Menurut
Injili
Metode baptisan bukanlah sesuatu yang esensial. Kembali kepada
perkataan Yohanes: Aku membaptis kamu dengan air tetapi Ia yang datang kemudian
lebih berkuasa dari padaku akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api.
Artinya bahan dan metode Yohanes bukanlah sesuatu yang utama dibanding dengan
hadirnya Roh Kudus. Ditenggelamkan, dituang atau dipercik semua sah dihadapan
Tuhan.
b.
Menurut
Karismatik
Metode baptisan sesuatu yang sangat penting, jika Yesus di
selamkan maka pengikutnya juga wajib diselamkan. Apakah juga harus di sungai
Yordan? Apakah tidak bertentangan dengan baptisan Roh Kudus yang mereka pahami
sebagai second blessing? Roh kudus dicurahkan keatas kepala mereka, tidakkah
air sebagai baptisan harusnya dicurahkan (dituang/dipercik) ke atas kepala
mereka? Sepertinya terjadi ketidakkonsistenan mereka.
Thursday, August 3, 2023
Karakter Yang Diubahkan
Thema : Karakter Yang
Diubahkan
Nats : 1 Kor. 13:11
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
1. Apakah itu karakter?
a.
Secara praktis: menurut KBBI, arti
karakter adalah tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti
yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak.
b.
Secara
teologis: menurut Rasul Paulus karakter adalah SIFAT. Sekarang sesudah
aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (1 Kor.
13:11)
2. Bagaimanakah karakter
manusia yang tidak mengenal Kristus?
a.
Secara
praktis: Banyak orang yang baik secara etika walaupun tidak mengenal Kristus.
Bahkan terkadang lebih baik dari mereka yang mengatakan mengenal Kristus.
Artinya, untuk sekedar beretika banyak orang tidak menjadikan Kristus sebagai
dasarnya.
b.
Secara
teologis: Orang yang tak mengenal Krsitus adalah najis dan kotor. Bahwa segala
perbuatan orang diluar Kristus tidak ada nilainya di hadapan Tuhan (Yes. 64:6)
3. Bagaimanakah karakter
manusia yang telah mengenal Kristus?
a.
Secara
teologis: Sudah dibersihkan dari yang jahat (Ibr. 10:22). Bahwa kita yang tidak
bernilai menjadi berharga oleh karena Kristus. Yang dulu adalah hamba Dosa kini
menjadi hamba kebenaran (Rm. 6:18).
b.
Secara
Praktis: Idealnya orang yang sudah mengenal Kristus karakternya berubah semakin
menyerupai Kristus. Misalnya:
1.
Orang
Majus. Sebelum mengenal Kristus fokusnya hanya harta (emas). Tetapi perjumpaan
dengan Kristus membuat jalan hidupnya menjadi lain (Mat. 12:2). Mereka lebih
mendengar suara Tuhan dari pada suara Raja.
2.
Rasul
Paulus. Sebelum mengenal Kristus fokusnya adalah dunia (pendidikan, jabatan,
ketenaran). Tapi setelah berjumpa dengan Kristus maka ia melupakan semua masa
lalunya (Fil. 3:13). Sebelum mengenal Kristus ia seorang keras dan kejam tetapi
setelah mengenal Kristus ia menjadi pribadi yang sangat sabar.
3.
Zakheus.
Sebelum mengenal Kristus fokusnya hanya harta kekayaan dan sangat kikir. Tetapi
setelah berjumpa Tuhan Yesus ia menjadi seorang yang sangat murah hati (Luk.
19:8).
4.
Mengapa
orang yang sudah mengenal Kristus masih menampilkan karakter lama?
a.
Karena
kuasa dosa yang sangat besar di dunia ini. Paulus berkata : Yang baik yang ku
kehendaki tetapi yang jahat yang kuperbuat (Rm. 7:19).
b.
Karena
manusia sering fokus dengan daging dan lupa dengan roh. Yesus berkata : roh
memang penurut tapi daging lemah (Mat. 26:41).
c.
Karena
memberi kesempatan kepada dosa/iblis ambil bagian dalam hati kita (Luk. 22: 3
dan 6).
5. Bagaimana agar karakter
kita sungguh-sungguh diubahkan?
a.
Mematikan
segala sesuatu yang duniawi (Kol. 3:5, Rm. 8:13). Apakah mudah? Tidak, tapi ada
Kristus yang menolong dan takkan membiarkan kita terus gagal.
b.
Melakukan
segala perkara atas nama Tuhan (Kol. 3:23). Bahwa kita hidup untuk Tuhan dan
mati pun untuk Tuhan. Berkeluarga karena Tuhan, bekerja juga untuk Tuhan.
Sehingga segala sesuatu bukan beban tapi pelayanan di hadapan Tuhan.
Friday, July 14, 2023
Tantangan Sebagai Kaum Bapa
Thema : Tantangan Sebagai Kaum Bapa
Nats : Rut 1:1–6
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
Sejak dunia
diciptakan maka kepemimpinan langsung diserahkan kepada seorang lelaki (bapa).
Sehingga pelanggaran yang dimulai oleh Hawa menjadi tanggung jawab Adam. Dan
Adamlah yang dipanggil Tuhan saat mereka berbuat dosa. Artinya seorang bapa
menjadi penanggungjawab utama dalam perjalanan hidup keluarga. Baik dalam perkara
jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi seorang
bapa selain berserah penuh kepada Tuhan agar mampu memimpin keluarga.
1.
Tantangan
seorang bapa di tengah keluarga
a.
Tantangan dari
masalah ekonomi (ay. 1).
Terjadi kelaparan di tanah Israel tepatnya di Berlehem-Yehuda.
b.
Tantangan dari
anggota keluarga (ay. 1)
Seorang bapa sangat membutuhkan dukungan dari anggota keluarga.
Bahwa saat Elimelekh bingung seharusnya Naomi dan kedua anaknya tidak banyak
menuntut.
2.
Sikap
seorang bapa dalam menghadapi tantangan dalam keluarga
a.
Meyakini janji
penyertaan TUHAN (ay. 6)
Seharusnya Elimelekh peka dengan pimpinan Tuhan dalam hidupnya.
Elimelekh artinya Allah adalah Raja. Betlehem artinya Kota Roti. Artinya Allah
yang adalah Raja yang menyuruh ia tinggal di Betlehem akan senantiasa
memberkati hidupnya dengan roti.
b.
Bertahan
dalam ujian (ay. 1)
Ketika Elimelekh pergi bersama keluarganya meninggalkan Betlehem
menunjukkan bahwa ia tidak mampu bertahan dalam pergumulan. Paulus berkata :”kerap
kali aku tidak tidur, aku lapar dan dahaga, kerap kali aku berpuasa, kedinginan
dan tanpa pakaian”(2 Kor. 11:27). Tetapi ia tetap semangat dan berkata: “Kita
malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa
kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan
tahan uji menimbulkan pengharapan (Rm. 5:3-4). Bahwa saat kita bertahan maka
semua akan berlalu.
c.
Menghindari
pilihan yang salah (ay. 1)
Andaikata pun pergi menjadi suatu pilihan bagi Elimelekh, maka
harus meminta petunjuk Tuhan. Mengapa harus ke Moab? Moab adalah anak Lot dari
perkawinan sumbang dengan putri kandungnya yang tertua (Kej. 19:37). Moab dan
keturunannya adalah penyembah dewa-dewa (berhala). Jangan pernah memilih
sesuatu yang keliru hanya untuk urusan jasmani. Lebih baik mengurang porsi makan
dari pada menurunkan standar kebenaran.
d.
Bersikap
tegas dengan anggota keluarga (ay. 2).
Ketika Elimelekh bersepakat dengan isteri dan kedua anaknya untuk
meninggalkan Betlehem menunjukkan bahwa ia tidak tegas. Andaikatapun itu
tuntutan dari isteri dan anak-anak, maka ia harus tegas menolak. Seperti yang
dilakukan Ayub terhadap isterinya (Ayub 2:10). Dan sebagai seorang bapa
Elimelekh pun harus seperti Ayub yang selalu peduli dengan kerohanian anak-anak
(Ayub 1:5). Sebab seorang bapa yang membuat anaknya tersesat, maka batu
kilangan diikatkan dilehernya dan dicampakkan kedalam lautan (Mrk. 9:42).
3.
Akibat tak
mampu mengelola tantangan
a.
Hidup serasa
orang asing (ay. 1)
Elimelekh menjadi orang asing di tanah Moab sementaranya
keluarganya masih di Betlehem. Ketika seorang bapa tak mampu mengelola masalah
dalam keluarga, maka kehidupan takkan terasa nyaman dan tenteram. Akan selalu
merasa sunyi ditengah keramaian. Akan merasa seperti orang asing dimanapun ia
berada.
b.
Mengalami
penderitaan (ay. 3-5)
Elimelekh pergi ke Moab untuk mencari kebahagiaan, tetapi sampai
disana ia mati. Isterinya jadi janda dan anak-anaknya yatim. Anak-anaknya
menikahi perempuan penyembah berhala. Bahkan kedua puteranya mati muda di Moab.
Mari menjadi
kaum bapa yang selalu mengarahkan pandangan kepada Tuhan Yang Besar sehingga
semua tantangan yang ada akan menjadi kecil. Tuhan Yesus memberkati.






















