Thursday, May 2, 2019

Tuhan Kok Mati ?


Thema             : Tuhan Kok Mati ?
Nats                 : 1 Kor. 11:26
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.


A.      PENDAHULUAN
Semua makhluk hidup yang ada di dunia akan mengalami satu peristiwa yang disebut kematian. Sehingga kematian seseorang adalah suatu hal yang biasa karena sudah menjadi ketetapan Tuhan (Ibr. 9:27). Bagaimana jika Tuhan yang mati?? Tuhan adalah penguasa atas segala isi dunia termasuk berkuasa atas hidup dan mati. Hal ini menimbulkan suatu pertanyaan besar baik di kalangan Kristen terlebih non Kristen, “Tuhan Kok Mati?”. Jika orang non Kristen yang bertanya tentang itu adalah sesuatu yang wajar, sebab yang mereka pahami bahwa Tuhan itu adalah pribadi yang transenden (jauh) dan tidak dapat dikenal. Sebaliknya jika orang Kristen yang menanyakan hal itu maka ini menunjukkan bahwa ia masih belum dewasa secara iman Kristen. Artinya, bahwa orang Kristen tersebut belum memahami dengan baik siapa Tuhan yang ia imani. Sehingga, ketika ada orang yang mempertanyakan hal itu kepadanya maka ia tidak mampu menjawab imannya sendiri, bahkan lebih buruk dari itu, ia meragukan apa yang ia imani sehingga tidak tertutup kemungkinan ia akan berpindah keyakinan. Mari kita belajar tentang peristiwa kematian Tuhan Yesus.
B.       ISI
1.      Bisakah Tuhan Mati?
Tuhan artinya yang berkuasa, berkuasa dalam hal ini bukan semata berkuasa atas sesuatu tetapi berkuasa atas segalanya (Mat. 28:18). Jadi kok Tuhan yang berkuasa di bumi dan di sorga bisa mati? Alkitab mencatat bahwa Yesus adalah manusia:
a.       Yoh. 1:14 : “Firman itu telah menjadi manusia, ...” Siapakah “Firman” ? Firman adalah gelar keilahian Yesus, bahwa ia adalah Firman Allah yang adalah Allah itu sendiri (Yoh. 1:1). Sebelum ia menjadi manusia pun Ia sudah ada bersama dengan Allah dan segala sesuatu dijadikan oleh Firman Allah.
b.      Ibr. 2:9: “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, ...”. Lebih rendah dari Tuhan adalah malaikat, lebih rendah dari malaikat adalah manusia.
Jadi, jika Yesus adalah manusia seperti kita maka ketika Ia mengalami kematian tidak ada suatu keanehan. Tapi Ia kan Allah/Tuhan? Benar Ia adalah Tuhan/Allah tetapi yang mati adalah kemanusiaanNya (1 Pet. 3:18 “...Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, ...”). Jadi Tuhan tidak bisa mati, yang mati adalah kemanusiaan Yesus tetapi keilahianNya tetap kekal bersama Allah.
2.      Misteri Kematian Yesus
Walaupun kematian Yesus sama dengan kematian manusia secara umum (karena disiksa, kehabisan darah, dll), namun sangat tidak seimbang bila dibandingkan dengan manusia termasuk dengan tokoh agama manapun juga dengan para nabi dan rasul. Mengapa??
a.       KematianNya sudah diberitakan baik dalam PL dan PB sebelum kematianNya.
·      Yunus berada 3 hari 3 malam di dalam perut ikan (Yun. 1:17) dan itu memberitakan tentang Yesus yang berada 3 hari 3 malam di dalam kubur sebelum bangkit (Mat. 12:40).
·      Yesus sendiri memberitahukan tentang kematianNya kepada murid-murid (Mat. 17:22-23).
·      Yesus juga memberitahukan kematianNya kepada imam-imam kepala (Mrk. 14:58)
b.      KematianNya menjadi keselamatan bagi manusia. Semua orang yang mati tidak berkaitan dengan kehidupan orang lain, tetapi Yesus mati untuk kehidupan manusia.
·      TubuhNya yg terpecah dan darahNya yang tertumpah utk keampunan manusia (Mat. 26:26-28).
·      Kristus telah mati utuk segala dosa manusia (Rm. 5:6-8)
·      Salib memperdamaikan kita dengan Bapa di sorga (Kol. 1:20)
c.       KematianNya hanya Sesaat. Semua yang telah mencapai ajalnya maka selesailah sudah kehidupannya di dunia ini. Tetapi Yesus bangkit dan hidup kembali sebelum Ia kembali ke sorga. Alkitab mencatat bahwa Yesus bangkit pada hari minggu (Mat. 28:6). Dan kebangkitan ini menjadi momen yang sangat luar biasa bagi para rasul sehingga mereka yang sebelumnya tercerai berai kembali bersatu padu untuk memberitakan kebenaran (Injil Kristus) hingga saat ini kita juga menjadi pengikutNya.
C.       KESIMPULAN
Bagi orang percaya seharusnya tidak lagi bertanya “Tuhan Kok Mati?”, tetapi jauh lebih penting bertanya dalam hati “Kok Tuhan mau mati bagiku yang hina ini?”, sehingga dengan memaknai pertanyaan ini membuat kita sadar bahwa Kristus telah mati bagi kita sehingga kita harus hidup bagi Dia. Amin.

Paskah Adalah Janji


Thema            : Paskah Adalah Janji
Nats                : 2 Petrus 3:9
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.


A.        PENDAHULUAN
Sebuah ungkapan berkata: “Janji adalah utang”. Ungkapan ini berarti bahwa setiap orang yang mengucapkan sebuah janji sama dengan orang yang memiliki utang kepada orang lain yang suatu ketika harus di lunasi. Saat seseorang tidak menepati janjinya maka ia dianggap sebagai pendusta. Manusia terbatas menepati apa yang ia katakan (janjikan), sebab manusia telah jatuh ke dalam dosa. Tetapi Tuhan adalah pribadi yang selalu menepati janjiNya. Paskah adalah satu dari sekian banyak janji Tuhan kepada manusia. Bahkan Paskah dapat dikatakan sebagai janji yang sangat vital (penting) dalam perjalanan kekristenan. Sebab jika Paskah (Kebangkitan) tidak pernah ada, maka semua janji yang sudah digenapi (kelahiran dan kematian Kristus) akan sia-sia dan janji kedatanganNya kedua kali menjemput orang percaya tidak akan pernah ada. Paskah adalah janji cinta Tuhan kepada umatNya.

B.        ISI
1.      Makna Paskah sebagai janji Tuhan.  
a.       Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa darahNya adalah darah perjanjian yang tertumpah untuk pengampunan dosa (Mat. 26:28). Bahwa dengan menumpahkan darahNya di atas salib maka tergenapilah janji Allah kepada Abraham (Kej. 12:3c, bandingkan dgn Mat. 1:1)
b.      Tuhan mengungkapkan Ia akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga (Mat. 17:23). Tuhan Yesus tahu bahwa ini adalah situasi yang sulit bagi para murid sehingga ia memberi suatu harapan bahwa ia akan bangkit.   
2.      Respon Para Murid terhadap janji Paskah.
a.       Murid-murid sedih (Mat. 17:23b). Sebab fokus murid bukan kepada Paskah (kebangkitan) tetapi kepada kematian Kristus, mereka tidak siap berpisah dengan Kristus.
b.      Murid-murid bingung (Luk. 9:45). Mungkin mereka berpikir bagaimana mungkin Yesus bisa diserahkan dan ditangkap sementara Ia adalah Tuhan yang berkuasa.
c.       Tidak meyakini janji Paskah. Minggu pagi Maria pergi ke kubur Tuhan Yesus (Mat. 28:1) untuk merempahi mayat Tuhan Yesus, padahal Yesus telah berkata bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga.
3.      Respon kita terhadap janji Paskah dalam konteks masa kini.
a.       Semakin berpegang pada janji Tuhan. Kitab suci mencatat bahwa Yesus telah bangkit (1 Kor. 15:20). Artinya bahwa apapun situasi kita hari ini mari pegang janji Tuhan bahwa Ia akan selalu menyertai hidup kita.
b.      Meyakini bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali menjemput kita. Inilah janji terakhir bagi kita bahwa ia akan datang kembali membawa kita ke kerajaan Surga sebab di sanalah kewarganegaraan kita yang sesungguhnya (Fil. 3:20). Bahwa hari ini kita adalah WNI adalah benar tetapi saatnya akan berakhir dan kita akan kembali dan tempatnya hanya 2 pastikanlah di mana kita berada.
c.       Memegang dan melaksanakan janji yang sudah kita ucapkan baik dihadapan manusia terlebih dihadapanNya. Siswa berpegang pada janjinya, suami-isteri berpegang pada janji suci pernikahan, guru berpegang pada ikrarnya, kita semua sebagai orang percaya memegang janji yang kita ungkapkan kepada Tuhan. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang setia dengan janjiNya maka sebagai anak-anaknya kita juga harus setia kepada janji yang telah kita ucapkan.

C.        KESIMPULAN
Paskah adalah janji cinta Tuhan kepada kita, bahwa karena besarnya cinta Tuhan maka Ia rela menjalaniNya sampai ke tiang salib dan mengalahkan maut ketika Ia bangkit. Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, biarlah kita sebagai orang percaya juga berpegang teguh kepada janji yang kita ungkapkan dihadapan Tuhan. Amin.

Saturday, March 23, 2019

Keilahian Yesus


Thema             : Keilahian Yesus
Nats                 : Yoh. 1 : 1 – 3
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.      PENDAHULUAN
Seorang penulis buku benama Sanihu Munir dalam bukunya yang berjudul “Islam Meluruskan Kristen mengatakan bahwa “Yesus diangkat (disahkan) menjadi Tuhan pada tahun 325 M di Konsili Nicea”. Dengan kata lain, bahwa menurut dia hasil konsili itulah yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan. Ini artinya bahwa Yesus bukan Tuhan. Ternyata jauh sebelum Konsili Nicea telah banyak tokoh dari berbagai aliran yang memperdebatkan tentang keilahian dan kemanusiaan Yesus. Walaupun akhirnya aliran-aliran tersebut dinyatakan sebagai bidat (ajaran sesat) namun sampai saat ini masih menyisakan segelintir ajaran yang menyimpang, misalnya saksi-saksi Yehua yang juga tidak mengakui keilahian Yesus. Di kalangan Kristen sendiri pun sebenarnya banyak yang gagal dalam memahami tentang keilahian Yesus, sehingga ada yang berkata bahwa Yesus ada setelah ia dilahirkan di Perjanjian Baru.  Bagaimana kita sebagai orang percaya di lingkungan GKRI memahami ini?
B.       ISI
1.      Beberapa bidat (ajaran sesat) berkaitan dengan keilahian dan kemanusiaan Yesus.
a.       Ebionisme: Mereka beranggapan bahwa Yesus dikandung baik secara biasa maupun luar biasa, Ia tetap manusia biasa. Mereka mengakui bahwa Yesus setelah dibaptis mempunyai kuasa ilahi di dalamNya, karena Roh Kudus memenuhiNya secara berkelimpahan. Mereka juga mengaku perbedaan Yesus dengan manusia biasa. Tetapi perbedaan itu bukan disebabkan Yesus itu Allah, tetapi karena hidupNya yang suci, karunia sorgawi yang dimilikiNya dan kepenuhan Roh Kudus
b.      Nazarenisme: Mereka mengaku Yesus sebagai Anak Allah, dilahirkan oleh anak dara Maria, mati dan dikuburkan, pada hari yang ketiga bangkit dari kematian; menerima pula Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah, tetapi menolak sifat ilahi Yesus Kristus.
c.       Arianisme: Menolak Keallahan Kristus, dengan mengajuklan anggapan bahwa hanya ada satu Allah, sang Bapa. Kristus, ia mengklaim, tidak ilahi tidak juga manusiawi melainkan adalah makhluk ciptaan super. Arius menerima, seperti Perjanjian Baru bahwa alam semesta diciptakan melalui Kristus, tetapi ia percaya bahwa sebelumnya Allah telah menciptakan Kristus sendiri, dari tidak ada. Jadi untuk Arius Kristus bukan sekedar manusia—Ia ditinggikan diatas semua ciptaan lainnya, adalah ciptaan tertinggi Allah, semacam malaikat super. Namun tetap kristus adalah makhluk yang diciptakan Allah dari ketiadaan, bukan Allah sendiri.
d.      Gnostisisme: Mereka mengakui Yesus sebagai pernyataan dari wahyu Allah yang Mahatinggi, tetapi menolak Yesus sebagai KALAM ALLAH MENJADI MANUSIA. Karena pada anggapan mereka bahwa dunia materi ini jahat, sebab itu kehadiran Yesus dalam dunia hanya merupakan khayalan saja, bukan benar-benar menjadi manusia sejati.
e.       Docetisme: mengajarkan bahwa Yesus Kristus tampaknya atau kelihatannya saja sebagai manusia. Atau dengan kata lain, putra Allah hanyalah seolah-olah saja seperti manusia. Para Doketis berkeyakinan bahwa seorang penebus ilahi (yang berasal dari Allah) tidak dapat menderita.
f.       Apolinarianisme: dalam pengajarannya sangat menitik beratkan keilahian Yesus Kristus, sehingga mengabaikan sifat Kemanusiaan Yesus.
g.      Nestorianisme: Mengemukakan pendapat bahwa apabila Kristus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia pula, maka itu suatu keduaan bukan suatu keesaan. Sebagaimana Kalam mendiami hati segala orang saleh, demikian juga Kalam mendiami Yesus, tapi lebih sempurna. Kita menyembah Yesus Kristus, bukan karena Ia Allah, tetapi karena di dalam Dia, Allah berada.
h.      Eutikianisme: mengemukakan pendapat bahwa dua tabiat Yesus Kristus itu bercampur menjadi satu, sehingga menjadi tabiat yang ketiga (third nature). Di dalam tabiat yang bercampur ini, tabiat ilahi melampaui tabiat kemanusiaan.
i.        Adopsionisme: Menurut  pandangan ini, Yesus adalah manusia seperti kita yang di adopsi oleh Allah Bapa sebagai Anak-Nya, entah pada kelahiran, baptisan atau kebangkitanNya. Bentuk lebih halus dari Adopsionisme menganggap manusia Yesus dan sang Firman ilahi sebagai dua keberadaan terpisah, meski dari luar mereka tampak satu. Yesus adalah manusia yang dari awalnya didiami oleh sang Firman ilahi.
2.      Apakah Yesus pernah mengaku sebagai Tuhan?
Seorang penceramah Islam asal India bernama Zakir Naik berkata: “Jika ada Yesus mengaku sebagai Tuhan maka saya akan meninggalkan agama saya dan menjadi pengikut Kristus”. Adakah ayat Alkitab di mana Yesus mengaku sebagai Tuhan?
a.       Yoh. 13:13-14 : Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;
b.      Yoh. 14:8-9: Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
Jadi jelas, bahwa Yesus sendiri mengaku bahwa Dia adalah Tuhan. Apakah Zakir naik menjadi percaya dengan adanya ayat ini?? Ternyata dia tetap punya alasan untuk tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, sebab memang hatinya tertutup untuk kebenaran. Dan Yesus sendiri berkata: Biarkanlah lalang itu tumbuh bersama-sama dengan gandum sampai musim penuaian tiba.
3.      Bukti Keilahian Kristus
Alkitab mencatat banyak hal tentang keilahian dan kemanusiaan Yesus sehingga tiada keraguan bagi kita bahwa Yesus adalah Allah-Manusia yang sejati. Bukti keilahian Yesus antara lain:
a.       Yesus adalah Firman Allah yang tak lain adalah Allah sendiri (Yoh. 1:1).  Alqur’an juga mencatat: ”Ingatlah, ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)” (Qs 3:45). Hadits Anas Bin Malik hal. 72, “Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan Kalam Allah ”
b.      Yesus ada sebelum segala sesuatu dijadikan dan segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Yoh. 1:2, Kej. 1:3, Maz. 33:6). Bahkan Yesus sendiri berkata : Aku ada sebelum Abraham (Yoh. 8:58), Aku adalah Alfa dan Omega (Why. 22:13).
c.       Yesus berkuasa mengampuni dosa (Luk. 5:20, 24). Siapakah yang berkuasa mengampuni dosa selain Allah? Maka Yesus adalah Allah.
d.      Yesus tidak berdosa (2 Kor. 5:21, 1 Yoh. 3:5). Semua manusia tanpa terkecuali telah berdosa (Rm. 3:23), jadi jika ada pribadi yang tidak berdosa maka pribadi itu hanya Allah.
e.       Yesus lahir dari Bapa (Yoh. 8:42). Secara manusia Yesus keluar/lahir dari Maria (Natal) tetapi secara Ilahi Ia lahir dari Bapa, sehingga lewat Yesus kita mengenal Bapa (Yoh. 1:18).
f.       Yesus berkuasa di dunia dan di sorga (Mat. 28:18). Yang berkuasa atas langit (sorga) dan bumi hanya Allah. Jadi jelas Yesus adalah Allah. 
C.       KESIMPULAN
Yesus Tuhan dan Allah kami Engkau layak menerima pujian, hormat dan kuasa s’bab t'lah Kau ciptakan segalanya. Oleh kar’na kuasaMu semuanya itu telah ada. Dan diciptakan untuk kemuliaanMu, terpujilah Tuhan. Hooosana terpujilah Tuhan, terpujilah Tuhan Yesus, Hooosana terpujilah Tuhan, terpujilah Tuhan Yesus. Amin.

Monday, January 7, 2019

Maria Di Hari Natal


Thema             : Maria di Hari Natal
Nats                 : Lukas 1:26-38
Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.       PENDAHULUAN
Ketika akan memasuki bulan Desember maka hampir di segala penjuru dunia akan di hiasi oleh pernak-pernik Natal dan begitu tiba di bulan Desember maka suasananya semakin meriah. Lagu-lagu Natal terdengar di mana-mana, hiasan-hiasan Natal terpasang di mana-mana. Ini semua menandakan bahwa Natal adalah suatu sukacita besar bagi dunia. Tetapi, bagi sebagian orang Natal tidak selalu ditandai dengan suatu kebahagiaan, sebab tidak jarang ada orang yang mengalami situasi-situasi sulit saat menjelang bahkan saat Natal tiba. Mungkin ada juga di antara kita hari ini yang merasakan situasi sulit itu, tetapi biarlah kita tetap memiliki sikap yang benar walaupun situasinya sulit. Bahkan ketika ada sekelompok kaum yang meyakini bahwa tidak perlu merayakan Natal dan yang lain berkata: Tidak mungkin Natal terjadi di bulan Desember. Kita tetap memiliki sikap yang benar. Mari belajar dari seorang Maria saat Natal pertama tiba.

B.       ISI
1.      Situasi Maria menjelang Natal tiba.
a.       Suasana bahagia.
Mengapa Maria berbahagia? Ia sedang bertunangan (menjelang pernikahan) dengan Yususf (ay. 27). Menjadi pengantin adalah suatu momen yang sangat indah bagi setiap pasangan.
b.      Suasana menakutkan.
Mengapa Maria takut? Ia didatangi Malaikat (ay.3) Ketika seseorang bertemu Malaikat maka ada suatu situasi yang menakutkan seperti juga dialami Zhakaria (Luk. 1:11-12), para Gembala (Luk. 2:9). Demikian juga Maria (ay. 29), sehingga Malaikat berkata: Jangan takut (ay. 30).
c.       Suasana membingungkan.
Mengapa Maria bingung? Ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (ay. 31). Sementara ia belum memiliki suami (ay. 34). Dan akibat dari peristiwa ini sangat fatal, Yusuf akan membatalkan pernikahan dan hukum rajam (lempar batu) sedang menanti.

2.      Sikap Maria dengan situasi (suasana) menjelang Natal.
Bahagia, membingungkan dan menakutkan bercampur menjadi satu dalam hati Maria. Secara umum manusia lebih fokus kepada situasi sulit walaupun ada sesuatu yang membahagiakan. Apalagi jika semuanya mengarah kepada situasi yang tidak menentu maka untuk tersenyum saja pun akan terasa berat. Bagaimana Maria menyikapi situasi ini? Sederhana saja:
a.       Percaya dengan pesan Malaikat : Bagi Allah tidak ada yang mustahil (ay. 37).
b.      Menyadari posisinya di hadapan Tuhan (ay. 38a)
c.       Berserah penuh pada kehendak Tuhan (ay. 38b)
Menjadi percaya, menyadari posisi dan berserah penuh memang tidak sesederhana mengatakannya. Tentu Maria pun sangat bergumul dengan situasi-situasi tersebut. Keteguhan hatinya akhirnya terjawab saat Malaikat mendatangi Yusuf dalam mimpi dan meyakinkannya untuk mengambil Maria sebagai isterinya (Mat. 1:20). 

3.      Meneladani Maria dalam konteks Natal masa kini.
a.       Bagi Allah tidak ada yang Mustahil
Ada kelompok yang mengatakan tidak mungkin Natal terjadi di bulan Desember (Tebet) sebab pada bulan ini suhu udara sangat dingin (dibawah 0oC) sehingga tidak mungkin ada gembala-gembala di padang (Luk. 2:8) dan Yesus pun tidak ada memerintahkan merayakan Natal di Alkitab terkecuali merayakan kematianNya (Paskah). Jadi tidak perlu lagi merayakan Natal. Sikap kita seperti Maria, sederhana:  percaya saja. Allah bisa menjadikan manusia dari debu tanah (Kej. 2:7), jadi apa susahnya bagi Allah hanya sekedar membuat cuaca yang baik/nyaman saat firmanNya turun menjadi manusia (Yoh. 1:14). Bagi Allah tiada yang mustahil, dan tiada yang mustahil bagi orang percaya (Mrk. 9:23). 
b.      Aku adalah Hamba Tuhan. Hamba Tuhan fokus hidupnya adalah Tuhan. Tetapi pada kenyataannya:
·      Fokus Natal bukan lagi Kristus (Ibr. 12:2) Saat menjelang perayaan Natal, hal yang sering dibahas adalah sekitar pakaian, makanan, kado, dll. Salahkah? Tidak ada yang salah dengan hal ini, tetapi jika hal ini menjadi fokus dan mempengaruhi sukacita Natal maka ada yang keliru dengan cara pikir kita. Mengapa Yesus lahir di kandang domba? Karena ia ingin memberi suatu teladan bagi kita agar kita memiliki sikap yang rendah hati (sederhana).
·       Natal sebagai ajang menampilkan kebolehan. Saat perayaan Natal tiba, secara umum hal yang paling ditunggu bukanlah berita Natal (Firman Tuhan) tetapi lebih kepada tampilan acara-acara (melihat anaknya tampil, menunggu giliran tampil di depan, menanti Judika tampil, dll). Tidak ada yang salah dengan acara-acara tersebut tetapi semua itu hanyalah “bungkusnya”, isinya adalah Berita Natal dan itulah yang seharusnya yang paling ditunggu.
·      Natal hanya sebagai acara wajib. Di kalangan gereja, instansi, organisasi, dll. kegiatan Natal adalah kegiatan tahunan yang wajib dilaksanakan, tetapi tidak jarang semua hanya sekedar melaksanakan kewajiban tanpa makna.Sehingga seselum dan sesudah Natal tidak ada suatu perubahan cara hidup. Bukankah terlalu besar harga (biaya) yang kita habiskan tahun demi tahun hanya untuk kegiatan wajib tanpa makna, alangkah sukacitanya kita juga Tuhan, jika kegitan wajib itu kita rayakan dengan penuh makna, bahwa oleh karena kita sudah ditebus (dibayar lunas) maka kita juga mau membayar harga itu untuk keselamatan yang telah kita nikmati.
c.       Jadilah Padaku Menurut Perkataanmu itu
Natal adalah tentang Kristus yang rela meninggalkan kemuliaaNya menjadi manusia agar genaplah janji Allah (Mat. 1:22). Artinya dalam kemanusiaaNya Ia tunduk kepada perintah Bapa sampai akhir. Dan ditaman Getsemani ia berkata janganlah kehendakku, tapi kehendakMu jadilah (Mrk. 14:36). Sebagai orang percaya kita tidak boleh memaksakan kehendak (memiliki ini dan itu) saat Natal tiba tetapi terimalah apa yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan tidak memberi semua yang kita inginkan tetapi Ia pasti memberikan apa yang kita butuhkan.

C.       PENUTUP
Mari kita meneladani Maria saat menyambut Natal. Sambut kelahiran Kristus dengan sikap yang benar bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk tidak merayakannya. Bahwa tiada yang mustahil bagi Allah untuk menyatakan kehendaknya bagi kita. Bahwa Natal adalah hariNya buka hari kita, sehingga fokusnya adalah Dia bukan kita. Jangan habiskan tenaga kita merayakan Natal tanpa makna. Tuhan Yesus memberkati.


Persiapan Menjalani Tahun Baru


Thema            : Persiapan Menjalani Tahun Baru
Nats    : Mat. 8: 23-27
Oleh    : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.


A.   PENDAHULUAN
Ada tiga masa dalam kehidupan: Masa lalu, suatu kenangan dan tidak akan pernah kembali serta menjadi suatu pengalaman hidup. Masa kini, kenyataan yang harus dijalani dan menjadi suatu pengalaman baru. Masa depan, suatu impian dan harapan yang harus direncanakan dan didoakan dan menjadi suatu tantangan hidup.
Menjalani hidup ditahun 2019 ini sama dengan sebuah kapal mengarungi lautan yang luas. Tidak ada suatu kepastian apa yang akan terjadi ditengah samudera yang luas. Demikian juga kita dalam menjalani “samudera” kehidupan ditahun yang baru ini. Segala kemungkinan bisa terjadi. Tidak ada sesuatu yang dapat kita pastikan. Tetapi bagi orang percaya ada sesuatu yang pasti yaitu Allah pasti menyertai kita, sebab dia adalah “IMMANUEL”. Dalam segala situasi (teduh, badai, hampir tenggelam) ia akan selalu hadir. Sebab Dia tidak pernah tidur. Namun orang percaya sering gagal dalam memahami cara kerjaNya.

B.   ISI
Bagaimanakah persiapan kita untuk menjalani tahun ini agar kita dapat sampai di tahun mendatang dengan sukacita? Bekerja lebih giat adalah sesuatu yang baik, merencanakan segala sesuatu dengan penuh perhitungan adalah juga sangat baik. Tetapi ada hal terutama dan tidak boleh kita nomor duakan atau nomor tigakan yaitu:
1.      Pastikan Yesus hadir dalam “perahu” hidup anda (ay. 23).
“Lalu Yesus naik ke dalam perahu....”. Artinya, jangan pernah memulai perjalanan hidup jika Yesus belum hadir di dalamnya. Kitab Yakobus mengatakan “Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan” (Yak. 4:13-17).

2.      Pastikan Yesus sebagai pemimpin/nakhoda dalam “perahu” hidup anda (ay. 23).
“..... dan murid-muridNya pun mengikutinya”.  Mengikuti berarti dari belakang, orang yang mengikuti berarti “pengikut”. Artinya, jangan menjadikan Yesus sebagai alternatif saat kita sudah tidak mampu lagi mengendalikan kehidupan ini (ay. 25). Saat teduh, saat badai dan saat hampir tenggelam Yesus tetap jadi pilihan utama. Ilustrasi: Supir cadangan.

3.      Pastikan anda mengenal Yesus sebagai nakhoda “perahu” hidup anda (ay. 27)
Seorang anak tidak akan pernah ragu kemanapun ayah/ibunya membawanya sebab ia mengenalnya dengan baik. Ketika kita mengenal Yesus dengan baik maka kita:
a.       Tidak akan merasa takut (ay. 26), Pak Bondan (pemain sirkus).
b.      Percaya dengan segenap hati (ay. 26) Ilustrasi: Seorang jemaat.

Ketika ketiga hal di atas sudah kita pastikan maka kita akan melihat keajaiban Tuhan dalam menolong perjalanan hidup kita, gelombang (masalah hidup) akan IA hardik sehingga situasi menjadi aman terkendali (ay. 26).

C.    KESIMPULAN
Menjadikan Yesus sebagai nakhoda dalam “perahu” kehidupan di tahun yang baru ini bukan salah satu pilihan tetapi satu-satunya pilihan jika kita ingin sampai di akhir tahun ini dengan aman terkendali. Tetapi perlu diingat, untuk merasakan manisnya durian terkadang tangan kita harus terkena duri bahkan berdarah, sebab sukacita seringkali di dahului oleh suatu penderitaan sebagaimana pelangi indah muncul setelah hujan badai. Tetapi saat Yesus hadir di dalam perahu kita maka ia yang akan mengambil alih semua masalah yang sedang terjadi sampai akhirnya masalah itu pergi dari hidup kita. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.