Friday, August 26, 2022

Mari Memaafkan Sambo

Inilah pandangan saya:

Apa yang dilakukan oleh “Raja” Sambo memilki kemiripan dengan sebuah kisah di masa lalu. Raja Daud, raja kedua orang Israel, yang oleh umat muslim dipanggil Nabi Daud melakukan hal yang hampir sama dengan Sambo.

Alkitab dalam 2 Samuel 1:1-26 menceritakan:

Ketika di suatu petang Daud berjalan-jalan di atas sotoh istana, dari atas dia melihat seorang perempuan yang sedang mandi bernama Batsyeba. Perempuan itu sangat elok rupanya sehingga Raja Daud menyuruh orang memanggilnya ke istana, lalu Daud berzinah dengan perempuan itu.

Dosa Raja Daud tidak berhenti disitu saja. Setelah perempuan itu memberitahukan kepada Raja Daud bahwa dia telah mengandung, Raja Daud merancang sebuah skenario jahat. Dia memerintahkan kepada Yoab panglima perang Israel agar menyuruh Uria pulang dari medan perang ke rumahnya.

Setelah Uria pulang dari medan perang, Raja Daud menjamunya di istana dua kali. Raja Daud memberikan hadiah kepada Uria dan menyuruhnya pulang ke rumahnya supaya tidur bersama istrinya Batsyeba. Maksudnya ketika Uria tidur bersama istrinya, Daud mau membuat alibi bahwa jika Batsyeba mengandung, itu berarti berasal dari benihnya Uria.

Tetapi ketika malam itu Uria tidak mau pulang ke rumahnya untuk tidur bersama istrinya dan memilih tidur di luar, Raja Daud kembali memanggil Uria pada hari kedua, menjamunya makan lalu membuat Uria mabuk, lagi-lagi dengan harapan agar Uria mau tidur dengan istrinya.

Tetapi ketika Uria tetap bersikukuh tidak mau tidur dirumahnya dengan alasan:  "Tabut serta orang Israel dan orang Yehuda diam dalam pondok, juga tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sendiri berkemah di padang; masakan aku pulang ke rumahku untuk makan minum dan tidur dengan isteriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku takkan melakukan hal itu!" Akhirnya Daud pun habis akal lalu menulis surat kepada Yoab: "Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati." Dan Yoab pun menjalankan perintah raja, lalu Uria pun terbunuh. Lalu Raja Daud mengambil Batsyeba menjadi istrinya.

Dalam ajaran islam juga menyinggung hal ini, walaupun masih terjadi perdebatan karena beda tafsir. Sebuah ayat mengatakan bahwa:

Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan ia mengalahkan aku dalam perdebatan.” Daud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian lainnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih dan amat sedikitlah mereka ini. Dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya, maka ia meminta ampun kepada Robbnya lalu tersungkur sujud dan bertaubat (QS. Shod: 21-25). Bahwa Daud sudah memiliki isteri 99 tetapi ia masih menginginkan lagi seorang isteri dan perempuan itu adalah isteri dari panglimanya sendiri. Akhirnya ia mengambil perempuan tersebut dan mengirim panglimanya untuk berperang dan memerintahkan dia berada pada barisan terdepan agar ia mati terbunuh, dan akhirnya itu terjadi.

Penggalan cerita di atas jelas memperlihatkan bahwa Daud melakukan kesalahan yang hampir mirip dengan yang dilakukan Sambo yaitu:

1.      Melakukan pembunuhan berencana terhadap anak buahnya

2.      Pembunuhan itu berkaitan dengan perzinahan/perselingkuhan

Dan kita semua setuju bahwa orang yang demikian layak mendapatkan hukuman. Dan ternyata mereka sudah mendapatkannya. Bahwa Daud (dalam Alkitab) begitu banyak mengalami masalah setelah kejadian itu, anaknya sendiripun berniat membunuhnya. Terjadi saling bunuh antara anaknya, terjadi perzinahan antara anaknya,  kerajaanya terpecah, dll. Demikian juga Sambo, ia ditetapkan jadi tersangka bersama isterinya. Dia dinonaktifkan dari jabatannya bahkan dipecat secara tidak hormat dari kepolisian, terancam hukuman semumur hidup bahkan hukuman mati. Tentu anak-anaknya pun mengalami tekanan yang begitu hebat hari ini juga nanti.

Namun, yang menjadi perbedaannya bahwa Daud dipuji dan disanjung oleh umat (baik Islam juga Kristen) dari dulu sampai hari ini. Artinya, kesalahan yang dilakukan oleh Daud telah dilupakan dan kebaikannyalah yang diingat. Bahwa dia adalah Nabi Allah (Islam), bahwa dia adalah Raja pilihan Allah (Kristen).

Mari sebagai umat Allah adillah dalam berpikir. Sudah cukuplah kebencian dan penghakiman kita terhadap Sambo. Toh menghakimi adalah hak Allah, dan IA telah menetapkan Negara (peradilan) sebagai wakil untuk menghakimi di dunia. Jika kita menyanjung (memuji) Daud, tetapi pada saat yang sama kita mengutuki Sambo, maka kita tidaklah proporsional dalam menilai. Jangan karena kesalahan yang diperbuat oleh orang lain membuat kita menjadi pribadi yang brutal dihadapan Allah. Kita tidak setuju dan cenderung marah dengan yang dilakukan Sambo, tetapi belajarlah memaafkan. Terlebih kita sebagai umat yang meneladani Isa Almasih ibnu Mariam yang berkata : Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Kita tidak tahu, apakah keluarga Brigadir J sudah memafkan Sambo atau belum. Dan kita juga tidak bisa memaksa mereka untuk memaafkannya, sebab ini juga tidak mudah bagi mereka. Kalau bukan karena hikmat Tuhan mereka juga takkan mampu untuk memaafkan. Tetapi jangan sempat nanti kita masih membenci dan mengutuki Sambo sementara keluarga korban sendiri telah memaafkannya. Tuhan Yang Maha Kuasa memberi kedamaian bagi kita semua.

Wednesday, August 17, 2022

Doa Orang Benar

 

Thema            : Doa Orang Benar

Nats                : Yak. 5:16

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.   PENDAHULUAN

Rasul Yakobus berkata : “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak. 5:16b). Pernyataan ini menegaskan bahwa ada doa orang tak benar, ada doa yang dipenuhi keraguan dan ada doa yang tidak berkuasa. Banyak orang bisa merangkai kata yang indah saat berdoa tetapi ada orang yang berdoa dengan kata-kata yang sangat sederhana. Apakah yang menjadi standar doa yang benar? Indahnya kata-kata, panjangnya lantunan doa, pendoanya rajin kegereja atau karena yang berdoa memiliki gelar gereja (Pendeta, Penginjil, Penatua, dll). Mari belajar agar doa kita benar dihadapan Tuhan.

B.   ISI

1.      Siapakah  dan bagaimanakah hidup orang benar?

Siapakah orang benar?

Paulus berkata: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Rm. 3:10).  Bahkan lebih lanjut Paulus berkata “Tidak ada seorang pun berakal budi” (Rm. 3:11). Dari ayat ini jelaslah bahwa tidak ada manusia yang benar termasuk bayi yang baru lahir pun adalah manusia berdosa. Jadi siapakah yang benar? Yoh 14: 6 “Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Bahwa hanya satu pribadi yang benar itulah Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus kita dapat berubah menjadi pribadi yang dibenarkan. Bagaimana kita dibenarkan?

·      Kita dibenarkan oleh kasih karunia (Rm. 3:24, Ef. 2:8)

·      Kita dibenarkan dengan cuma-cuma (Rm. 3:24, Ef. 2:9)

·      Kita dibenarkan karena iman (Rm. 5:1)

Bagaimanakah hidup orang benar?

Tidak benar seseorang disebut orang benar jika dia hidup tidak benar dan dia tidak benar-benar hidup. Apakah indikator hidup orang benar?

·      Tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (Maz. 1:1)

·      Tidak berdiri di jalan orang berdosa (Maz. 1:1)

·      Tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (Maz. 1:1)

·      Kesukaannya adalah taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam (Maz. 1:2)

·      Hidupnya menghasilkan buah (Maz. 1:3) Apa buahnya? (Gal. 5:22-23)

2.      Tanda-tanda doa orang benar.

·      Doanya lahir dari iman  atau penuh keyakinan (Yak. 5:15-16)

·      Doanya tidak disertai rasa bimbang tetapi fokus kepada Tuhan (Yak. 1:6-8)

·      Doanya bukan untuk memuaskan keinginan tetapi untuk kemuliaan Tuhan (Yak. 4:3)

·      Doanya disertai dengan ucapan syukur dan sukacita (Fil. 1:3-4)

·      Doanya disertai dengan suatu usaha (Yer. 29:7)

·      Doanya disertai dengan penyerahan hidup (Mat. 26:42)

3.      Kuasa doa orang benar.

Besar kuasanya” tidak selalu berbicara bahwa apa yang didoakan akan dikabulkan oleh Tuhan. Tetapi melalui doa-doanya orang diberkati dan ada satu kekuatan yang Tuhan beri untuk menjalani hidup walaupun banyak pergumulan dan masalah.

·      Elia berdoa menurunkan hujan (Yak. 5:17, 1 Raj. 17:1). Elia berdoa sehingga anak janda Sarfat hidup kembali (1 Raj. 17:22). Tetapi Elia sendiri selalu hidup dalam pelarian karena mendapat ancaman bunuh dari Izebel, isteri raja Ahab (1 Raj. 19:2).

·      Elisa berdoa dan penyakit kusta Naaman panglima Aram sembuh (2 Raj. 5:10). Elisa berdoa dan anak perempuan Sunem hidup kembali (2 Raj. 8:5). Bahkan mayat yang dicampakkan mengenai tulang belulang Elisa hidup kembali (2 Raj. 13:21). Namun faktanya Elisa sendiri mati oleh karena suatu penyakit (2 Raj. 13:14)

·      Paulus berdoa sehingga Eutikus yang sudah mati hidup kembali (Kis. 20:9-10). Paulus berdoa dalam penjara sehingga terjadi gempa bumi yang hebat (Kis. 16:25-26). Tetapi saat Paulus berdoa berulang kali untuk duri dalam dagingnya, ternyata Tuhan tidak menjawabnya tetapi hanya memberi kekuatan kepadanya (2 Kor. 12:8-9)

C.    PENUTUP

Doa bukan berbicara hasil tetapi doa lebih kepada proses hidup kita dihadapannya. Jika hasil yang membuat kita berdoa, mungkin besok kita tidak akan berdoa lagi. Orang benar akan terus berdoa dengan penuh keyakinan bahwa doa yang ia ucapkan bukan untuk mengubah Tuhan tetapi untuk mengubah dirinya semakin berkenan dihadapan Tuhan. Mari berdoa dengan cara yang benar. Amin.

Thursday, June 30, 2022

Kesatuan Gereja

Thema            : Kesatuan Gereja

Nats                : Ef. 4:1-32

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.        PENDAHULUAN

Sebuah semboyan yang sangat populer “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya “Walaupun berbeda-beda tetap satu jua”. Bahwa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote kita dipersatukan dalam wadah NKRI. Secara rohani maka kita sebagai orang percaya juga harus selalu menjaga kesatuan gereja, baik sebagai organisasi maupun sebagai pribadi yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidupnya. Sejarah mencatat bahwa banyak terjadi perpecahan di kalangan gereja. Rasul Paulus pernah menegur jemaat Korintus. Kamu berkata: Aku dari golongan Paulus atau aku dari golongan Apolos atau aku dari golongan Kefas. Adakah Kristus terbagi-bagi? (1 Kor. 1:12). Artinya sejak semula perpecahan sudah sering terjadi dikalangan jemaat Tuhan sehingga Paulus dengan tegas menegur jemaat agar hidup dalam kesatuan. Dalam konteks GKRI maka kita sebagai jemaat hendaklah hidup dalam kesatuan sehingga pekerjaan Tuhan semakin berkembang. Mari bersatu untuk maju.  

B.        ISI

1.      Arti Gereja dan Kesatuan Gereja

a.       Gereja dalam bahasa Yunani disebut Ekklesia. Ek artinya keluar dari dan Kaleo artinya memanggil. Jadi Ekklesia (gereja) artinya : Orang-orang yang telah dipanggil keluar dari gelap kepada terang sehingga memiliki pengharapan (Ef. 4:4). Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, …… yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Pet. 2:9).

b.      Kesatuan Gereja adalah suatu usaha yang dilakukan orang-orang yang telah dipanggil keluar dari gelap kepada terang untuk membangun dan memelihara kebersamaan dalam Tuhan (Ef. 4:1-3).

2.      Dalam hal apakah kesatuan gereja harus dijaga?

a.       Satu Tuhan (Bapa, Anak dan Roh Kudus) ayat 4, 5 dan 6.

Bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang esa (ul. 6:4). Walaupun banyak orang yang menyerang doktrin Trinitas (Esa-Tri) yang kita yakini tetapi bagi kita orang Kristen ini adalah suatu ajaran yang fundamental. Kitab Kejadian diawali dengan ajaran Tritunggal. Kej. 1:1-3: Pada mulanya Allah (Bapa)…., Roh Allah (Roh Kudus) melayang-layang…. Ber-Firman-lah Allah…(Yesus adalah Firman Allah yg menjadi manusia, Yoh. 1:14).

b.      Satu iman (ay. 5).

Yaitu iman yang menyelamatkan. Bagaimanakah iman yang menyelamatkan? Sepuluh orang berpenyakit kusta datang kepada Yesus dengan iman (keyakinan) bahwa mereka akan sembuh. Secara jasmani kesepuluh orang itu sembuh tetapi secara rohani hanya satu orang yang beroleh keselamatan (Luk. 17:17-19).

c.       Satu baptisan (ay. 5)

Yesus berkata: “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Baptisan adalah perintah Tuhan Yesus, tetapi tidak ada cara khusus yang diperintahkan, apakah selam, percik, dll. Sebab esensi dari baptisan bukanlah cara atau media yang digunakan tetapi tentang hadirnya Roh Kudus di hati seseorang (Kis. 1:5).

d.      Satu pengharapan (ay. 4)

Yaitu pengharapan akan menerima kemuliaan Allah oleh karena Roh Kudus telah dikaruniakan kepada kita (Rm. 5:2 dan 5). Jika kita melihat hidup hari ini mungkin kita banyak yang kecewa dengan situasi, tetapi jika kita memandang kemuliaan yang akan diberikan kepada kita kelak maka kita akan bermegah dalam penderitaan yang sedang terjadi hari ini.

3.      Bagaimanakah cara menjaga kesatuan gereja?

a.       Memiliki sikap rendah hati (ay. 2). Jangan pernah ada diantara sesama orang percaya merasa dirinya yang paling benar.

b.      Memiliki perkataan yang lemah lembut, sabar dan membangun (ay. 2 dan 29).

c.       Memiliki sikap saling mengasihi dan membantu (ay. 2)

d.      Memiliki sikap yang ramah (ay. 32) dan tidak suka marah (ay. 26).

e.       Memiliki sikap saling mengampuni (ay. 32)

f.        Memiliki sikap yang jujur “Jangan ada dusta diantara kita” (ay. 25).

C.        PENUTUP

Mari kita selalu hidup dalam kesatuan, dalam kesatuan ada kekuatan. Salomo berkata : Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan (Pkh. 4:12). Dengan kesatuan maka berkat Tuhan akan berkelimpahan dalam kehidupan kita (Maz. 133:1-3). Dengan kesatuan maka pekerjaan Tuhan akan semakin berkembang. Mari tetap jaga kesatuan bermsama GKRI rumah kita bersama. Tuhan Yesus memberkati. 

Saturday, June 4, 2022

Metode PI Yesus Saat Ditolak Orang Yahudi

 

Thema            : Metode PI Yesus Saat Ditolak Orang Yahudi

Nats                : Yohanes 10 : 22–39

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.   PENDAHULUAN

Tidak semua orang memiliki respon yang baik dengan apa yang kita katakan kepada orang lain. Ade Armando menjadi korban pemukulan saat ia gencar memberitakan tentang cara beragama yang menggunakan logika dalam konteks Bhineka Tunggal Ika. Dalam konteks pemberitaan Injil pun demikian, bahwa saat injil kita beritakan akan beragam respon orang yang mendengarnya. Mungkin ada yang pura-pura tidak dengar, ada yang langsung meninggalkan, bahkan ada yang menolaknya baik secara halus maupun terang-terangan. Apakah itu menjadi alasan kita untuk berhenti memberitakannya? Tentu tidak. Yesus sendiri tidak jarang ditolak saat memberitakan Injil, tetapi Dia tetap memberitakannya. Mari belajar dari Yesus bagaimana menyikapi penolakan orang lain atas Injil yang kita beritakan.

 

B.   ISI

1.      Cara Yesus menginjili orang Yahudi yang menolak berita injil.

a.       Berjalan mendekati orang Yahudi (ay. 23). Yesus tahu bahwa orang Yahudi hidup dalam kebimbangan menunggu kedatangan Mesias. Banyak orang hidup dalam kebimbangan maka mari kita berjalan menyampaikan berita keselamatan.

b.      Membangun komunikasi dengan orang Yahudi (ay. 24-25). Walaupun berulang kali ditolak tetapi  Yesus tetap membangun komunikasi dengan orang Yahudi.

c.       Menghidari orang Yahudi setelah injil disampaikan (ay. 39-40). Setelah injil diberitakan dan Yesus ingin dilempari (ay. 31 dan 39) maka Ia menghindar. Bahwa ada kalanya kita juga tidak memaksakan secara terus menerus agar orang lain menerima pemberitaan kita. Yesus pun menyuruh para rasul keluar dan mengebaskan debu kaki ditempat dimana injil ditolak (Mrk 6:11). 

2.       Sikap Yesus atas penolakan orang Yahudi terhadap berita Injil.

a.       Tidak memaksakan kehendak (ay. 25-26). Yesus tidak memaksa orang Yahudi untuk percaya dengan berita Injil. Bagi Yesus penolakan orang Yahudi terhadap berita Injil semakin memperjelas bahwa mereka bukan domba. Yesus pernah berkata : Biarkan keduanya (lalang dan gandum) tumbuh bersama sampai waktu menuai (Mat. 13:30).

b.      Tetap tenang (ay. 32). Yesus meminta alasan kepada orang Yahudi mengapa mereka ingin melempariNya dengan batu. Bahwa saat orang menolak berita Injil yang kita sampaikan jangan membuat kita menjadi galau. Bila perlu tanyakan mengapa mereka tidak mau menerima.

3.      Hasil Pemberitaan Injil bagi orang Yahudi

Secara umum orang Yahudi menolak berita Injil. Tetapi lewat pemberitaan yang dimulai oleh Yesus akhirnya ada orang Yahudi yang menjadi percaya. Siapa mereka?

a.        Nikodemus (Yoh. 3:1). Dia awalnya tidak mengerti tentang keselamatan yang disampaikan Yesus (Yoh. 3:4) tetapi setelah Yesus menjelaskan maka ia menjadi percaya. Bahkan ikut menguburkan mayat Yesus (Yoh. 19:39-40).

b.      Kornelius (Kis. 10:22). Seorang perwira Yahudi yang takut akan Alah,tulus hati dan sangat baik.

c.       Akwila (Kis. 18:2). Seorang Yahudi yang menjadi rekan Paulus melayani jemaat di Korintus (Rm. 16:3).

Ini membuktikan bahwa pemberitaan yang kita lakukan takkan pernah kembali dengan sia-sia.

 

C.   PENUTUP

Jangan kecewa jika ada yang tidak mengiraukan bahkan menolak berita injil yang kita sampaikan. Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk mengubah hati orang menjadi percaya sebab itu adalah pekerjaanNya. Tuhan hanya menyuruh kita memberitakannya. Dan saat kita memberitakan injil maka itu sebagai bukti bahwa kita orang percaya yang bertumbuh. Mari mulai dari orang-orang terdekat kita.

Thursday, May 5, 2022

Metode PI “Yesus Dengan 5000 Orang”

Thema           : Metode PI “Yesus Dengan 5000 Orang”

Nats                : Matius 14:13-21

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Sebuah nats berbunyi : Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya (2 Tim. 4:2). Ini adalah sebuah perintah, bahwa kapan dan dimanapun kita sebagai orang percaya wajib memberitakan Injil kepada setiap orang. Yesus yang baru mendengar peristiwa kematian Yohanes Pembaptis sesungguhnya ingin mengasingkan diri. Mengapa? Secara manusia tentulah Yesus sedih atas kematian Yohanes sebab ia yang memproklamirkan pelayanan Yesus lewat sebuah peristiwa di Yordan. Setelah Yesus dibaptis  di Yordan maka Ia memulai pelayananNya di Galilea. Namun rasa sedih dan kehilangan itu tidak menjadi penghalang berita Injil. Ketika Yesus melihat orang banyak maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan. Sebagai orang yang telah menerima keselamatan maka memberitakan Injil adalah suatu kewajiban bagi kita. Apapun masalah yang ada dalam hidup tidak boleh menghalangi kita untuk memberitakan Injil Kristus. Penjara, kelaparan, penyakit, dll. tidak pernah menyurutkan semangat Paulus untuk memberitakan Injil. Namun demikian, kita harus tetap berhikmat dalam menyampaikannya agar berita itu menjadi berkat bagi orang yang mendengarkannya. Mari belajar metode penginjilan dari Yesus.    

 

B.      ISI

Metode Pemberitaan Injil oleh Yesus yang harus kita teladani dan terapkan adalah:

1.      Menyadari bahwa Pemberitaan Injil adalah hal yang utama (ay. 13).

“Setelah Yesus mendengar berita itu, maka menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri”. Bahwa situasi Yesus tidak dalam kondisi baik saat itu, namun orang banyak yang ingin mendengar dan mengikut Dia adalah hal yang paling utama bagi Yesus. Sebagaimana Paulus berkata bahwa memberitakan Injil adalah hutang yang harus ia bayar (Roma 1:14-15).   

2.      Memulai Pemberitaan Injil dengan hati (ay. 14).

“Ia melihat orang banyak maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan”. Jika dasarnya bukan cinta maka berita injil akan terasa hambar, baik bagi pemberita maupun penerima berita. Oleh karena belas kasihnya maka Bunda Teresa meninggalkan Skopje, Makedonia dan pergi ke Kalkuta India sampai meninggal pada September 1997. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk menyatakan kasih Kristus kepada suku terabaikan di Negara tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nomensen. Ia meninggalkan Jerman dan pergi ke Tanah Batak. Bagaimana dengan kita?

3.      Menjadi berkat saat pemberitaan Injil (ay. 14 dan 16)

“dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit”. Bahwa saat Yesus memberitakan Injil, Ia menjadi pembawa kesembuhan bagi orang yang dilayani. “kamu harus memberi mereka makan”. Yesus juga menjadi berkat dengan memberi makan orang-orang yang mendengar berita Injil. Artinya, sembari Injil kita beritakan maka kita harus menjadi berkat. Berkat tidak selalu berbicara materi tetapi lewat kehadiran kita orang lain merasakan damai sejahtera dan sukacita.

4.      Mengandalkan kuasa Allah saat memberitakan Injil (ay. 19).

“Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat”. Yesus dalam kemanusiaanNya mengandalkan kuasa Bapa di sorga untuk memberkati orang-orang banyak yang Ia layani. Mari kita beritakan Injil dengan mengandalkan kuasa Allah. Jangan lelah walau mereka yang mendengar berita itu belum kunjung datang, sebab tugas kita adalah menyampaikan. Roh Kudus yang menuntun mereka pada suatu pertobatan.   

 

C.      PENUTUP

Yesus telah memberi teladan memberitakan Injil. Nomensen dan Bunda Teresa pun telah memberi teladan selanjutnya. Jika hari ini kita percaya itu pun karena ada orang yang memberitakannya. Maka tongkat yang sudah ditangan kita, itulah keselamatan harus kita teruskan kepada orang lain. Janganlah tongkat estafet itu berhenti ditangan kita. Banyak jiwa yang sedang menuju kebinasaan. Mari kita teruskan berita keselamatan yang sudah kita miliki kepada orang berikutnya, sehingga mereka akan teruskan lagi dan lagi. Dan akhirnya dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang percaya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.