Friday, July 14, 2023
Monday, June 12, 2023
Penderitaan adalah Karunia
Thema : Penderitaan adalah Karunia
Nats : Filipi 1:29
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
A.
PENDAHULUAN
Secara umum manusia selalu mencari zona yang nyaman dalam hidup
dan itu adalah sesuatu yang normal. Pertanyaanya, apakah situasi dalam hidup selalu
konstan (tetap)? Perjalanan hidup manusia sering dianalogikan seperti ban yang
terus berputar. Ada kalanya kita berada pada titik terendah, tengah dan atas. Bagi
dunia, situasi sulit atau penderitaan adalah malapetaka. Tetapi bagi orang
percaya situasi sulit adalah sarana memurnikan iman. Tetapi tidak jarang juga
orang yang mengaku percaya mempertanyakan kuasa Tuhan saat harapan jauh dari
kenyataan. Tuhan berkata bahwa Ia datang agar kita memiliki hidup dan hidup
dalam kelimpahan, tetapi Ia juga berkata bahwa setiap orang yang mau menjadi
murid harus memikul salib. Mari menikmati setiap proses hidup sampai kita
beroleh hidup yang sungguh-sungguh hidup.
B.
ISI
1.
Dari manakah
sumber penderitaan?
· Dari Iblis (Kej. 3:16-17)
Bahwa pelanggaran yang dilakukan Adam dan Hawa karena mereka mendengar bujuk rayu iblis dan itu membuat mereka
bahkan semua manusia harus menanggung penderitaan. Apa penderitaannya?
Penyakit, kesusahan dan kematian.
· Dari diri sendiri (Rut 1:1)
Bahwa sering manusia tidak sadar dengan apa yang ia perbuat dan
akhirnya membawa ia kepada suatu situasi yang sulit. Elimelekh membawa isteri
dan anak-anaknya meninggalkan Betlehem (Kota Roti) dan pergi ke Moab (Negeri penyembah berhala). Di Moab Elimelekh
meninggal, isterinya Naomi menjadi janda. Kedua anaknya Mahlon dan Kilyon
menikah dengan orang Moab dan keduanya mati muda.
· Dari Tuhan (Fil. 1:29). Bahwa kepada kita tidak hanya dikaruniakan untuk percaya terapi juga untuk menderita. Kok Tuhan
mendatangkan penderitaan? Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya dan
menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak (Ibr. 12:6). Artinya Tuhan izinkan
penderitaan sebagai ujian dan teguran kepada orang percaya. Tuhan bisa menggunakan segala sarana untuk menegur dan menguji manusia, termasuk mengizinkan iblis, orang bahkan alam. Yusuf di izinkan
menderita oleh perbuatan saudara-saudaranya. Atas sepenentuan Tuhan Yunus
ditelan ikan. Atas seizin Tuhan Ayub dicobai oleh iblis.
2.
Mengapa
penderitaan itu adalah karunia?
Jika oleh karena dosa dan perilaku kita menyebabkan datang penderitaan,
maka tentu itu bukan suatu karunia dari Tuhan. Artinya Tuhan tak pernah merancang
manusia untuk jatuh ke dalam dosa dan berperilaku menyimpang. Itu adalah
pilihan manusia sendiri. Walaupun dalam kesalahan manusia, Tuhan tetap
menunjukkan kasihNya. Tetapi jika penderitaan itu dari Tuhan (atas seizin Tuhan)
maka itulah yang disebut karunia. Mengapa?
· Karena mendatangkan kebaikan kita
(Rm. 8:28). Bagi Paulus semua penderitaan yang ia alami (penjara, kelaparan,
dll) mendatangkan kebaikan sehingga ia berkata: Segala perkara dapat kutanggung
didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Fil. 4:13).
· Karena membuat kita semakin
mengenal Allah (Ayub 42:5). Penderitaan yang dialami Ayub membuat ia semakin
mengenal Allah yang ia sembah. Sehingga Paulus berkata : Yang kukehendaki ialah
mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya (Fil. 3:10).
· Karena membuat kita semakin tekun
(Rm. 5:3). Bagi Paulus semua kesengsaraan membuat ia semakin tekun. Bahwa
tembok penjara tidak membuat dia berhenti melayani Tuhan. Kelaparan tidak
membuat rohnya padam memberitakan injil tetapi sebaliknya semakin giat
melakukannya.
· Karena membuat kita semakin tahan
uji (Rm. 5:4). Melalui api maka akan teruji apakah emas atau mitasi. Sadrakh,
Mesakh dan Abednego masuk perapian dan Daniel masuk goa singa. Itu membuat
mereka semakin teruji dan akhirnya Raja Nebukadnezar dan Darius mengakui
kehebatan Allah mereka (Dan. 3:28, 6:27)
· Karena membuat kita memiliki
pengharapan (Rm. 5:4). Bagi Paulus penderitaan yang ia alami membuat ia
merindukan Tuhan sehingga berkata : Hidup adalah Kristus dan mati adalah
keuntungan. Tetapi hidup di dunia memberi buah lebih perlu walaupun pergi dan
diam bersama Kristus jauh lebih baik (Fil 1:21-24). Jika terlalu bahagia di
dunia maka sorga bukanlah tempat yang dirindukan.
C.
PENUTUP
Mari terus belajar memahami bahwa Tuhan tidak
pernah salah mengijinkan suatu penderitaan mendampingi perjalanan hidup kita.
Penderitaan takkan pernah tinggal menetap dalam hidup kita, ia akan pergi
setelah selesai menguji kita. Hanya Tuhanlah yang tetap menyertai kita melewati
setiap badai hidup yang terjadi. Amin.
Monday, June 5, 2023
Mendengar dan melakukan firman Allah
Thema : Mendengar dan melakukan firman Allah
Nats : Lukas 5:5b-c
“tetapi karena Engkau
menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”.
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
A.
PENDAHULUAN
Menjadi suatu hal yang penting suara siapa yang kita dengar dan
lakukan dalam hidup ini. Sebab itu sangat menentukan keberhasilan kita dalam
menjalani kehidupan. Banyak suara datang di dalam kehidupan kita. Dari
keluarga, teman, tetangga bahkan suara hati kita sendiri. Jika itu seturut
dengan kehendak Tuhan maka itu harus menjadi suatu pertimbangan bagi kita.
Sebab, keledaipun Tuhan pakai untuk menyelamatkan nyawa Bileam. Tetapi jika
suara-suara itu menjauhkan kita dari Tuhan maka itu haruslah kita abaikan.
B.
ISI
1.
Apakah
firman Allah?
a.
Yesus adalah firman Allah (ay. 1a).
Bahwa firman Allah yang kekal bersama dengan Allah turun menjadi manusia di
dalam diri Yesus Kristus (Yoh. 1:14).
b.
Perkataan Yesus (ay. 1b),
bahkan perkataan para nabi dan rasul yang telah menjadi tulisan (2 Tim. 3:16).
Dan semua perkataan itu di tuliskan dalam sebuah buku yang bernama Alkitab.
2.
Mengapa
firman Allah perlu di dengar dan dilakukan?
a.
Karena berisi tentang pengajaran.
“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu” (ay.
3). Paulus berkata kepada Timotius bahwa firman Allah bermanfaat untuk mengajar,
menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran (2
Tim. 3:16).
b.
Karena firman harta yang sangat berharga (Maz. 119:127).
Sehingga Yesus berkata kepada Marta: Maria telah memilih bagian
yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk. 10:42). Apakah yang
terbaik itu? Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya
(Luk. 10:39).
3.
Hasil mendengar
firman Allah
a.
Mendapat berkat secara jasmani (ay. 6)
Simon mendapatkan banyak sekali ikan setelah menebar jalanya,
padahal sepanjang malam mereka menjala ikan tanpa hasil. Maka benarlah yang
dikatakan Salomo dalam Amsal 10:22.
b.
Mendapat berkat secara rohani.
· Beroleh pengampunan dosa (ay. 8)
· Tidak takut dalam menjalani hidup
(ay. 10, Luk. 10:41)
· Dipakai Tuhan untuk melayani (ay.
10-11)
C.
PENUTUP
Mari kita selalu mendengar dan melalukan firman Allah, sebab
itulah yang akan memampukan kita menjalani kehidupan ditengah dunia ini. Ada
berbagai suara yang ditawarkan dunia tetapi fokuslah kepada suara Tuhan sehingga
kita tidak tersesat dan sampai pada tujuan. Tuhan Yesus memberkati.
Friday, June 2, 2023
Memuliakan TUHAN melalui Perayaan (Pehaga Dibata alu kerja rani)
Thema : Memuliakan TUHAN
melalui Perayaan (Pehaga Dibata alu kerja rani)
Nats : Ul. 16:9-12
Memuliakan TUHAN adalah bagian hidup orang
percaya. Melalui banyak hal kita dapat memuliakan TUHAN. Musa mengajak orang
Israel untuk memuliakan TUHAN melalui perayaan. Salah satu perayaan itu adalah
saat memanen gandum dari ladang. Saat umat TUHAN menuai hasil panen gandum,
maka itu dirayakan di hadapan TUHAN. Dalam konteks hari ini, sebagai orang
percaya maka kita juga harus bersyukur dan memuliakan TUHAN saat kita beroleh
berkat yang datang dari TUHAN.
1.
Bagaimana cara kita memuliakan TUHAN?
a. Dengan
menghitung hari-hari yang kita jalani (ayat 9).
Bahwa setiap orang memiliki suatu
hari dimana ia akan beroleh berkat (gaji, hasil panen, ternak, dll), maka
sebelum hari itu tiba kita harus sudah berpikir untuk memuliakan TUHAN lewat
penghasilan kita (Amsal 3:9)
b. Dengan memberi
persembahan secara sukarela (ayat 10)
Bahwa berkat yang kita terima
datang dari TUHAN, maka wajarlah jika kita kembalikan sebagian ke rumah TUHAN
dan digunakan untuk pelayanan. Tetapi haruslah kita berikan dengan kerelaan (2
Korintus 9:7)
c. Dengan
senantiasa bersukaria (ayat 11)
Bahwa orang yang selalu
bersukacita akan memancarkan kemuliaan TUHAN. Bersukacita bukan hanya karena
yang terjadi sesuai dengan harapan. Nabi Habakuk berkata: “Sekalipun
ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan namun aku akan bersorak-sorak di
dalam TUHAN” (Hab. 3:17-18).
d. Dengan
senantiasa mengingat hari TUHAN (ayat 12).
Bahwa ada satu hari dimana TUHAN
membebaskan umatNya dari perbudakan Firaun di Mesir. Maka hari itu harus selalu
diingat dan dirayakan dengan memuliakan TUHAN. Bahwa Yesus telah membebaskan
kita dari perbudakan dosa. Ia telah bangkit dan menang atas maut maka kita
harus senantiasa menguduskan hari TUHAN (Keluaran 20:8)
2.
Hasil bagi orang yang memuliakan TUHAN.
a. Akan beroleh
berkat dari TUHAN.
“sesuai
dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN” (ayat 10).
Artinya, jika kita senantiasa memuliakan TUHAN maka semuanya akan TUHAN berikan
kepada kita (Matius 6:33)
b. TUHAN akan
tinggal/diam di rumah kita.
“Untuk
membuat namaNya diam disana” (ayat 11). Artinya, jika kita
senantiasa memuliakan TUHAN maka rumah tangga kita akan TUHAN sertai
senantiasa.
c. Tuhan
membebaskan kita dari perbudakan.
“Bahwa
engkaupun dahulu budak di Mesir” (ayat 12). Artinya, jika kita
terus berusaha memuliakan TUHAN maka segala ikatan dosa akan disingkirkan oleh
TUHAN dari kehidupan kita. Dengan demikian kita bukan lagi hamba dosa tetapi hamba
kebenaran (Roma 6:18).
Mari kita senantiasa memuliakan TUHAN dalam
setiap aspek kehidupan kita. Sebab jika kita tidak mau maka TUHAN akan meminta
batu-batu untuk memuliakan namaNya. Tuhan Yesus memberkati.
Sunday, April 16, 2023
Memahami Orang Lain
Thema : Memahami Orang Lain
Nats : Roma 15:7
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
A.
PENDAHULUAN
Ada satu kelemahan yang sering terjadi disekitar orang percaya.
Tidak mampu menerima orang apa adanya. Artinya, sering sekali orang percaya
menjadi terganggu hatinya ketika orang disekitarnya tidak seperti yang ia
harapkan. Hal ini kerap terjadi di lingkungan keluarga, dalam bertetangga di masyarakat,
di sekitar pekerjaan, bahkan sampai di lingkungan gereja. Sebagai orang percaya
seharusnya kita memiliki sikap yang benar dalam memahami orang lain. Tak
mungkin kita mengubah hati orang lain agar sesuai dengan harapan kita, tetapi
hati kita adalah milik kita dan kita dapat mengelolanya agar tidak menjadi
terganggu. Terlebih hati kita adalah hati orang percaya, pasti ada Roh Kudus
yang menuntun sehingga kita bisa memahami orang lain. Jika orang yang diluar
Tuhan pun bisa sabar menghadapi orang disekitarnya, maka menjadi miris kita
melihat orang percaya tak sabar memahami orang lain. Mari belajar memahami
orang lain dalam segala situasi.
B.
ISI
1.
Arti
memahami orang lain.
· Memahami orang lain berarti bisa
menerima setiap orang dengan segala keberadaannya (Rm. 15:7). Filemon menerima
kembali Onesimus yang telah merugikannya (Fil. 1:17-18).
· Memahami orang lain berarti
memiliki kesadaran bahwa setiap orang memiliki kelemahan (Rm. 15:1). Bahwa saat
kita tidak bisa menerima orang lain dengan segala keunikannya, maka tanpa disadari
kita sedang menunjukkan kelemahan sendiri.
2.
Contoh kasus
memahami orang lain.
· Di lingkungan keluarga. Yusuf
mampu memahami saudara-saudaranya yang telah melakukan kejahatan terhadapnya
(Kej. 50:20). Seorang bapa menerima kembali anaknya yang telah berbuat dosa
terhadap Tuhan dan dirinya (Luk. 15:20). Ayub menerima isterinya walaupun telah
mengutukinya dan menyuruhnya mengutuki Allah (Ayub 2:9, 42:13-14).
· Di lingkungan masyarakat. Salomo
berkata “lebih baik tetangga dekat dari pada saudara yang jauh”. (Amsal 27:10).
Bagaimana seorang ibu yang mau mengalah kepada tetangganya yang menculik
anaknya (1 Raj. 3:26).
· Di lingkungan pekerjaan. Sadrak,
Mesakh dan Abednego menerima perlakuan para pegawai bahkan Raja Nebukadnezar
yang memperlakukan mereka semena-mena (Daniel 3:16-17). Filemon menerima
kembali Onesimus yang telah mencuri sesuatu saat bekerja di rumahnya (Fil.
1:15-18).
· Di lingkungan Gereja.Euodia dan
Sinthike menjadi saling menerima (sehati sepikir) dalam melayani Tuhan
(memberitakan Injil) setelah dinasihati oleh Paulus dan ditolong oleh Sunsugos
(Fil. 4:2-3).
3.
Bagaimanakah
cara agar bisa memahami orang lain?
· Menyadari bahwa kita pun memiliki
kelemahan (Rm. 15:1). Yesus berkata: Mengapa engkau melihat selumbar di mata
saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui (Mat. 7:3).
· Memokuskan hati kepada Tuhan (Rm.
15:6). Bahwa fokus hidup kita bukanlah manusia yang ada di sekitar kita tetapi
Tuhan. Jangan karena sibuk memikirkan orang lain maka fokus kita kepada Tuhan
menjadi bergeser.
· Meneladani Kristus yang telah
menerima kita apa adanya (Rm. 15:7). Jika Yesus yang sempurna bisa menerima
kita, mengapa kita yang tidak sempurna tak mampu menerima orang lain?
· Mendengar dan mengikuti nasihat
hamba Tuhan (Fil. 4:2, Fil. 1:17). Euodia dan Sintikhe mendengar nasihat Rasul
Paulus dan Sunsugos sehingga mereka bisa saling memahami. Filemon mendengar
nasihat Rasul Paulus sehingga menerima kembali Onesimus bukan sebagai budak
(pekerja) tetapi sebagai saudara. Anak sulung menerima kembali adiknya setelah
mendengar nasihat dari bapanya (Luk. 15:31-32).
C.
PENUTUP
Mari terus belajar memahami orang yang ada di sekitar kita. Kita
tidak kompromi dengan kesalahan orang lain, tetapi jangan sempat kesalahan yang
dilakukan orang lain membuat kita menjadi hakim atas mereka. Jangan sempat
kesalahan orang lain membuat tujuan utama hidup kita menjadi terganggu. Bahwa
melalui keluarga, pekerjaan dan pelayanan kita ingin memuliakan Tuhan. Tuhan
Yesus memberkati. AMIN.
Wednesday, April 12, 2023
Karunia-Karunia Rohani
Thema : Karunia-Karunia Rohani
Nats : Roma 12:6
Oleh : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.
A.
PENDAHULUAN
Setiap orang dilahirkan ke dunia ini dengan kemampuan yang
berbeda-beda. Perbedaan tersebut membuat satu dengan yang lain saling
membutuhkan dalam kehidupan. Dalam kehidupan rohani pun tentunya setiap orang memiliki
kemampuan yang berbeda satu dengan yang lain dalam hal mengerjakan pelayanan.
Perbedaan tersebut membuat kita membutuhkan sebuah tim dalam mengerjakan
pekerjaan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang super dalam mengerjakan pelayanan.
Semua harus saling bergandengan tangan sesuai dengan karunia yang Tuhan
berikan. Bahwa karunia itu datang dari Tuhan dan dikembalikan untuk kemuliaan
Tuhan. Mari pergunakan karunia yang kita miliki untuk saling membangun dalam
memperluas kerajaan Tuhan di dunia.
B.
ISI
1.
Arti karunia
rohani.
· Kemampuan yang dianugerahkan oleh
Tuhan kepada seseorang (ay. 3 dan 6). Artinya itu bukan semata karena usaha
seseorang untuk menemukannya.
· Kemampuan yang dimiliki seseorang
oleh karena pekerjaan Roh Kudus (1 Kor. 2:13). Artinya Roh Kudus yang mengajari
dan memberi hikmat sehingga seseorang mampu mengejakannya.
2.
Apa sajakah
karunia rohani dari Tuhan?
Ada berbagai karunia yang dijelaskan dalam Alkitab yaitu:
Bernubuat, melayani, mengajar, menasihati, bermurah hati dan memimpin (Rm. 12).
Kata-kata hikmat, kata-kata pengetahuan, iman, menyembuhkan, mengadakan
mujizat, bernubuat, membedakan roh, berbahasa roh dan menafsir bahasa roh (1
Kor. 12:7).
3.
Tujuan Tuhan
memberikan karunia-karunia rohani.
· Agar orang percaya tahu apa yang
menjadi tugasnya (ay. 4). Bahwa setiap orang memiliki peran yang berbeda-beda
dalam sebuah pelayanan walaupun tujuannya sama untuk kemuliaan Tuhan.
· Agar orang percaya tetap semangat
dalam melayani Tuhan (ay. 11). Bahwa setiap orang yang memiliki karunia
idealnya akan semangat ketika diberikan kesempatan melayani Tuhan.
· Agar orang percaya sehati sepikir
mengerjakan pelayanan (ay. 16). Bahwa antara satu dengan yang lain harus
berkolaborasi dalam melayani sehingga pekerjaan Tuhan akan semakin efektif dan
efisien.
4.
Respon kita
terhadap karunia rohani yang diberikan Tuhan.
· Mempersembahkannya untuk
kemuliaan Tuhan (ay. 1). Artinya karunia yang kita miliki bukan agar kita
dipuji dan disanjung, tetapi agar Tuhan yang dipermuliakan lewat hidup kita.
· Menguasai diri (ay. 3). Artinya
karunia yang Tuhan berikan jangan sempat membuat kita tinggi hati dan merasa
paling dibutuhkan dalam suatu pelayanan. Ingat tanpa kita pun pekerjaan Tuhan tetap
berjalan dengan baik.
· Mengerjakan karunia dengan hati
yang ikhlas (ay. 8). Jangan tanyakan apa yang kuperoleh dalam pelayanan ini,
tetapi katakan pelayanan ini adalah utang yang harus kubayar karena Kristus
telah menebusku (Rm. 1:14-15).
· Mengerjakan karunia dengan rajin
(ay. 8 dan 11). Dalam PL beberapa kali ada dikatakan TUHAN menyesal (Kej. 6:6,
1 Sam. 15:11). Artinya, jangan sempat Tuhan menyesal telah memberi kita karunia
rohani tetapi kita tidak mengerjakannya dengan baik. Mari terus melatih karunia
yang Tuhan berikan dengan semangat (1 Taw. 25:7)
· Mengerjakannya dengan sukacita
(ay. 8 dan 12). Bahwa dalam sebuah pelayanan pun situasi tidak selalu normal
dan akan ada hal-hal yang menjadi penghambat bagi kita. Tetapi tetaplah layani
Tuhan dengan sukacita dan jangan bersungut-sungut.
C.
PENUTUP
Berbahagialah jika Tuhan melibatkan kita dalam proyekNya.
Layanilah Tuhan sesuai karunia yang diberikan dengan semangat dan sukacita.
Tuhan bisa mengunakan siapa dan apapun untuk kemuliaanNya. Jika kita tidak mau,
maka batu-batupun bisa Ia suruh memuliakan namaNya. Jangan pernah merasa
berjasa di hadapan Tuhan oleh karena pelayanan yang kita lakukan. Sebab
sesungguhnya melayani adalah utang kita bersama. Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.








