Thursday, September 20, 2018

Pekerjaan Roh Kudus


Thema       : Pekerjaan Roh Kudus
Nats           : Yoh. 14:15–20
Oleh           : Ev. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th©.

A.      PENDAHULUAN
Doktrin Roh Kudus merupakan salah satu doktrin yang paling penting dalam Firman Allah dan salah satu kebenaran tentang penebusan yang paling utama.  Karena itu orang percaya perlu berupaya untuk mengetahui semua yang bisa diketahuinya mengenai pribadi, pelayanan dan karya Roh Kudus sebagaimana dalam Alkitab. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa Roh Kudus berkarya setelah Kristus naik ke surga dan Roh Kudus turun ketika hari raya Pentakosta. Sehingga ada aliran gereja tertentu menjadikan peristiwa itu sebagai momen untuk dijadikan dasar dan mengklaim bahwa setiap orang percaya harus “berbahasa roh” dalam ibadah-ibadah yang dilakukan. Tetapi jika kita belajar lebih jauh, sejak penciptaan sampai hari ini Roh Kudus berkarya. Karya Allah Roh Kudus, Tuhan Yesus dan Allah Bapa tidak terpisah satu dengan yang lain, sebab ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seperti pernyataan Yesus bahwa Ia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30, 14:10).

B.      ISI
1.      Siapakah Roh Kudus dan bagaimanakah hubunganNya dengan Allah Tritunggal?
Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Dalam Kej. 1:28 : “Baiklah Kita menjadikan manusia…..”. Kata Kita menunjuk pada Kej. 1:1–3 : Pada mulanya Allah, …..Roh Allah,….. ber-Firman-lah Allah…. Jadi Roh Kudus adalah Roh Allah yang memberi hidup (nafas) kepada setiap makhluk yang diciptakan Allah melalui firmanNya. Dalam Yoh. 1: 14 dikatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia. Saat Firman menjadi manusia maka Ia melakukan pekerjaanNya di dunia bukan berarti Bapa dan Roh Kudus tidak berkarya, tetapi Bapa bukan manusia, Roh Kudus bukan manusia sehingga seolah-olah Yesus lebih dominan di dalam PB. Dalam kemanusiaanNya benar bahwa Karya Yesus lebih dominan dalam PB namun dalam keilahianNya sebagai Firman Allah ia setara dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus dan ketiganya adalah satu.
2.      Apakah pekerjaan Roh Kudus?
·         Dalam Perjanjian Lama
Ø  Ikut dalam penciptaan langit, bumi dan segala isinya (Kej. 1:1 – 3). Allah menciptakan segala sesuatu dengan FirmanNya, manusia diciptakan dari debu tanah dan Roh Allah (nafas Allah) memberi kehidupan kepada manusia itu (Kej. 2:7). 
Ø  Memenuhi hidup orang percaya sehingga bisa melakukan pekerjaan Tuhan.
a.       Yosua menggantikan Musa memimpin bangsa Israel karena ia penuh dengan Roh Allah (Bil. 27:18).
b.      Saul dipenuhi Roh Allah dan menjadi Raja Israel yang pertama (1 Sam. 10: 1, 10).
c.       Daud dipilih dan diurapi Samuel diantara saudara-saudaraNya menjadi Raja Israel dan ia dipenuhi Roh TUHAN (1 Sam. 16:13).
d.      Bezaleel bin Uri bin Hur dipenuhi Roh Allah sehingga memiliki karunia (keahlian) dalam segala macam pekerjaan untuk membangun kemah (bait) Allah (Kel. 31: 2 – 3).
·         Dalam Perjanjian Baru.
Ø  Bagi orang yang belum percaya
a.       Menginsyafkan (Yoh. 16:8). Contoh: Rasul paulus bertobat (insyaf) dan ia dipenuhi Roh Kudus bahkan mampu berbahasa roh tetapi  tidak serta merta mengekspresikannya dalam ibadah (1 Kor. 14: 18 – 19).
b.      Melahirkan kembali (Tit. 3:5). Contoh: Nikodemus (pemimpin agama Yahudi) dituntun Yesus untuk memperoleh kelahiran baru melaui Roh (Yoh. 3:5 – 7).
c.       Mensyahkan (mematraikan) orang setelah percaya (Ef. 1:13). Orang yang sudah menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus akan dimateraikan dengan Roh Kudus dan menjadi milik Allah untuk selama-lamanya.
Ø  Bagi orang percaya
a.       Menyertai orang percaya (Yoh. 14:16)
b.      Mengajarkan dan mengingatkan segala perintah Allah (Yoh. 14:26)
c.       Memimpin orang percaya (Yoh. 16:13, Rm. 8:14)
d.      Menguatkan/membantu orang percaya dalam kelemahan (Rm. 8:26)
e.       Menjadikan orang percaya sebagai saksi (Kis. 1:8)

C.      KESIMPULAN
Jadi Roh Kudus adalah pribadi dari Allah Tritunggal yang berkuasa sejak dunia diciptakan sampai hari ini dan sampai selama-lamanya. Ia kekal bersama dengan Allah dan firmanNya dari kekekalan masa lampau sampai kekekalan masa yang akan datang. Marilah kita senantiasa hidup dipimpin oleh Roh Kudus sehingga kita hidup kita menjadi hidup yang berarti hingga kita kembali ke Yerusalem yang baru. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

Berjuang Melawan Dosa


Thema             : Berperang Melawan Dosa
Nats                 : 1 Petrus 5:8-9
Oleh                : Ev. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.  PENDAHULUAN
Secara de Yure Indonesia sebagai suatu bangsa sudah merdeka, artinya secara hukum internasional Indonesia telah diakui sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Namun secara de Facto (faktanya), sampai hari ini Indonesia masih jauh dari yang namanya merdeka. Menurut Franklin D. Rooselvelt, ada 4 kemerdekaan (Merdeka untuk beragama, merdeka dari rasa takut, merdeka dari rasa kekurangan/ekonomi, merdeka untuk berbicara). Oleh karena itu dengan terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden RI, besar harapan bangsa ini untuk menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Hal ini jugalah yang menjadi cambuk bagi pemerintah saat ini untuk terus berperang melawan segala hal yang berusaha menghambat tercapainya kemerdekaan yang sangat dinantikan oleh rakyat Indonesia. Hal yang serupa juga terjadi dalam kehidupan orang-orang percaya. Secara de Yure, ketika Yesus mati di atas kayu salib maka semua orang yang menerimanya telah merdeka dari dosa (maut), namun secara de Facto (realitanya) hampir semua orang percaya masih melakukan yang jahat di mata Tuhan (dosa/kesalahan). Oleh karena itu, sebagai orang percaya kita harus terus berperang melawan dosa. Artinya, sebagai orang percaya kita masih mungkin berbuat kesalahan (dosa secara praktis) tetapi kita bukan lagi hamba dosa.
B.  ISI
1.      Arti Dosa (1 Yoh. 3:4)
“Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah”. Dan Rm. 6:23 berkata: “Sebab upah dosa ialah maut” Apakah dosa dapat disamakan dengan kesalahan? Tuhan Yesus mengajarkan sebuah doa kepada murid-muridNya. Karena itu berdoalah demikian: “Bapa kami yang di sorga, ….dan ampunilah kami akan kesalahan kami ….”. Dalam 1 Yoh. 3:9 berkata: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah”. Dalam hal ini dapat di pahami dosa dalam 3 aspek yaitu:
a.       Dosa sebagai keinginan manusia menjadi sama dengan Allah (Kej. 3). Hawa mengambil buah pengetahuan karena ingin menjadi sama dengan Allah (Kej. 3:5). Ketika manusia ingin menjadi seperti Allah berarti bahwa manusia tidak mengakui kedaulatan Allah atas hidupnya.
b.      Dosa sebagai sikap menolak Ketuhanan Yesus. Orang-orang Yahudi (Yudaisme) selalu berdoa dengan memanggil Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Artinya mereka mengakui kedaulatan Allah, tetapi ketika Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus mereka menolaknya bahkan menyalibkannya.
c.       Dosa sebagai kesalahan praktis karena kekurangtaatan manusia dan kekurangsadarannya sebagai pribadi yang telah di bayar lunas yang seharusnya memuliakan Allah (1 Kor. 6:19-20).
Dosa Adam dan Hawa ingin menyerupai Allah menjadikan semua manusia dilahirkan di dalam dosa dan membawa maut (kematian). Demikian juga penolakan akan ke-Tuhan-an Yesus akan membawa orang pada maut. Orang percaya tidak mungkin lagi berbuat dosa (ingin menyamai Allah atau menolak Tuhan Yesus) sebab jika demikian maka ia bukan orang percaya. Namun, secara praktis orang percaya masih mungkin berbuat dosa (kesalahan) dan itu tidak berbuah maut.  Tetapi jika orang percaya bermain-main dengan dosa maka akan mendatangkan malapetaka (Tuhan akan mendisiplin dengan caranya). Misalnya: Daud (berzinah dan membunuh) walaupun Tuhan mengampuni dosanya (Maz. 51:3-4) tetapi Tuhan tetap mendatangkan masalah yang bertubi-tubi (anaknya dgn Betsyeba meninggal, Absalom/anaknya memberontak dan mau membunuhnya, kerajaannya terpecah dll). Dan satu hal lagi jika ada orang yang mengaku sebagai orang percaya tetapi terus berbuat dosa (kesalahan) dan tidak mengalami perubahan maka tidak benar ia orang percaya. Jadi, orang percaya akan selalu berjuang melawan dosa (menjauhi perbuatan yang salah).
2.      Cara Berperang melawan dosa.
Seorang yang berangkat ke Medan perang harus membawa perlengkapan yang cukup. Demikian juga orang percaya harus memperlengkapi diri dengan perlengkapan rohani. “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu”. (Ef. 6:13). Apa saja perlengkapan tersebut:
a.       Berikatpinggangkan kebenaran. Kebenaran adalah standar hidup orang percaya. Siapakah kebenaran?(Yoh. 14:6).
b.      Berbajuzirahkan keadlian. Orang yang tidak adil/memandang bulu dekat dengan perbuatan dosa, maka orang percaya harus selalu berlaku adil.
c.       Berkasutkan kerelaan memberitakan Injil. Injil adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16) maka dengan memberitakannya maka kita akan menang atas dosa.
d.      Mempergunakan perisai iman. Iblis tidak takut kepada manusia tetapi ia takut kepada iman manusia kepada Tuhan. Maka untuk menang atas godaan, lawanlah iblis dengan iman (1 Pet. 5:9).
e.       Ketopong keselamatan dan pedang roh yaitu Firman Allah. Firman Allah tajam seperti pedang bermata dua (Ibr. 4:12), ketika kita menyuarakannya maka akan berdampak bagi yang mendengar dan meyampaikannya.
f.       Berdoa dengan tidak putus-putusnya. Berdoalah agar kamu tidak jatuh dalam pencobaan (Mat. 26:41). Situasi yang sulit bisa mengarahkan kita pada perbuatan dosa tetapi doa akan mengembalikan kita pada jalur yang benar. Sebab doa orang benar jiak dengan yakin didoakan besar kuasanya (Yak. 5:16).

C.  KESIMPULAN
Orang percaya telah merdeka dari penjajahan dosa (maut) ketika menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, tetapi dalam perjalanan sebagai pengikut Kristus orang percaya masih ada kemungkinan melenceng (bukan imannya) tetapi perbuatannya. Sejauh mana ia melenceng sangat ditentukan oleh seberapa efektif ia menggunakan perlengkapan senjata yang disediakan oleh Tuhan. Mari terus berjuang melawan kedagingan kita sampai akhirnya kita kembali kepada kekekalan. TYM. Amin.


Menjadi Hamba dan Jemaat Tuhan Yang Care


                                                Thema             : Menjadi Hamba dan Jemaat Tuhan Yang Care
                                                Nats                 : Maz. 133:1
Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.       PENDAHULUAN
Ada sebuah ungkapan berkata “Rumahku (keluargaku) Istanaku”. Apakah makna ungkapan tersebut? Ungkapan itu mengandung arti bahwa tempat yang paling nyaman di dunia ini adalah di rumah (keluarga) kita masing-masing. Tetapi pada kenyataannya banyak orang yang merasa tidak nyaman lagi berada di rumahnya. Mengapa demikian? Mungkin banyak sekali faktor, tetapi satu diantaranya adalah kurangnya rasa memiliki di dalam keluarga tersebut. Jika masing-masing anggota keluarga sadar bahwa mereka semua saling memiliki dan semua yang ada di dalam keluarga adalah milik bersama maka bisa dipastikan bahwa “Rumahku (keluargaku) Istanaku” bukanlah hanya sekedar ungkapan tetapi benar-benar menjadi kenyataan. Demikian juga halnya jika hal ini dibawa ke dalam konteks gereja maka kita semua akan berkata “GKRI Rumah Kita Bersama”, sehingga “GKRI Istanaku”. Ketika GKRI menjadi ‘istana’ kita, maka baik sebagai Hamba maupun Jemaat Tuhan, semuanya kita akan semakin cinta dengan GKRI. Tetapi cinta bukanlah hanya sebatas kata-kata tetapi harus dibuktikan dengan menunjukkan kepedulian kita terhadap GKRI sebagai rumah kita bersama. Mari kita menjadi hamba dan jemaat Tuhan yang care. 
B.       ISI
1.      Siapakah Hamba dan Jemaat Tuhan?
Ketika seseorang tahu dan sadar posisinya dalam sebuah keluarga maka ia juga akan tahu apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Sebagai warga GKRI kita juga harus tahu sebagai apa kita di dalamnya sehingga kita juga tahu tugas dan tanggung jawab kita.
a.       Siapakah Hamba Tuhan?
·      Orang yang di panggil Tuhan untuk memimpin suatu komunitas. Musa disebut Abdi/Hamba Allah (Yos. 14:6) karena ia mendapat panggilan khusus dari Allah untuk memimpin bangsa Israel. Dalam hal ini Hamba Tuhan adalah gembala sidang.
·      Orang yang memiliki jabatan dari Tuhan (Ef. 4:11). Dalam konteks saat ini jabatan itu diberikan oleh Tuhan melalui gereja (Pendeta, penginjil/Evangelis, penatua,dll).
·      Orang yang siap menerima kehendak Tuhan dalam hidupnya. Maria berkata: Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu itu (Luk. 1:38). Dalam hal ini, semua kita yang siap dengan kehendak Tuhan adalah Hamba Tuhan.
b.      Siapakah Jemaat Tuhan?
·      Semua orang percaya yang ada di dunia ini (Mat. 16:18). Dalam hal ini semua orang baik meiliki gelar atau tidak adalah jemaat Tuhan. Jadi jangan pernah seseorang yang memiliki gelar dari gereja ditambah gelar pendidikan yang tinggi menganggap dirinya bukan jemaat tetapi Hamba Tuhan.
·      Orang yang bersekutu dan berkumpul di bawah pimpinan para hamba Tuhan (Kis. 2:42). Dalam hal ini ada pembatasan bahwa jemaat adalah mereka yang diajar firman Tuhan oleh Hamba Tuhan (Rasul-rasul).
Mari kita bersama menempatkan diri kita baik sebagai hamba maupun jemaat Tuhan. Sebab sesungguhnya semua kita adalah hamba Tuhan dan semua kita juga adalah jemaat Tuhan.
2.      Sikap hamba dan Jemaat Tuhan yang care.
a.       Menggunakan waktu dengan baik (Ef. 5:16, Pkh. 3:1)
Adalah suatu kesalahan ketika kita berkata peduli dengan seseora2ng atau sesuatu jika kita tidak memiliki waktu untuknya. Berbicara kesibukan, tidak ada manusia yang tidak sibuk di dunia ini terkecuali kalau ia sudah berhenti bernafas. Jadi bukan bagaimana kesibukannya tetapi bagaimana mengatur waktunya. Dalam hal apakah kita mengatur waktu dalam konteks GKRI Rumah Kita:
·      Memberi waktu untuk ibadah.
·      Memberi waktu untuk melayani.
·      Memberi waktu untuk saling mengunjungi sesama jemaat.
b.      Saling membantu (Ef. 4:2b, Gal. 6:2, 10).
Membantu tidak selalu berbicara materi, ketika kita memberi waktu, pikiran, tenaga, dll., maka kita telah membantu orang lain dalam meringankan beban yang ia pikul. Jemaat mula-mula selalu saling berbagi (Kis. 2:46).
c.       Saling menasihati (Roma 15:14).
Semua orang pernah dan selalu ada kemungkinan berbuat kesalahan, jika kita peduli satu dengan yang lain maka kita wajib saling mengingatkan dan menasehati. Menasehati bukanlah menghakimi, sehingga kita harus menggunakan akal budi (pengertian) dalam menyampaikannya. Dan Jika seseorang berbuat salah kepada yang lain marilah saling mengampuni (Ef. 4:32).
d.      Tidak membedakan satu dengan yang lain/memandang muka (Gal. 2:6). Saling mengunjungi, membantu, menasehati harus di dasari satu sikap tidak memandang muka (tidak memandang bulu).  
3.      Hasil dari sikap care dalam suatu jemaat.
a.       Hidup jemaat lebih indah dan harmonis (Maz. 133:1)
b.      Jemaat akan semakin kuat (Pkh. 4:9-12)
c.       Berkat Tuhan akan melimpah (Maz. 133:3)
C.       KESIMPULAN
Marilah kita tingkatkan kepedulian kita sebagai warga gereja (GKRI). Memang kepedulian adalah sesuatu yang relatif, tetapi kita bisa menilai diri kita sendiri, selama bersama Tuhan di GKRI, apakah saya sudah menjadi jemaat/hamba Tuhan yang peduli? Jika dibuat rentang nilai 1 – 100, berapakah nilai yang saya miliki? Jika KKM-nya 75, apakah saya sudah tercapai? Jika belum, mari kita sama-sama berusaha lebih giat lagi, jika sudah mari terus bersama kita tingkatkan. Tuhan Yesus memberkati.AMIN.

Monday, June 4, 2018

Hawa Nafsu


                                           Thema             : Hawa Nafsu
                                           Nats                 : Yak. 1:14 – 15
                                           Oleh                : Ev. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th©
A.    PENDAHULUAN
Setiap manusia memiliki keinginan di dalam hidupnya. Tentu itu merupakan hal yang positif, sebab jika seseorang hidup tanpa keinginan maka ia sama dengan benda mati. Namun tidak jarang keinginan seseorang menyebabkan suatu masalah sebab untuk mencapai keinginan itu ia melakukan segala cara atau apa yang ia inginkan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran. Sejak dicptakan manusia sudah memiliki keinginan tetapi akhirnya keinginan yang tidak terkendali (hawa nafsu) itulah yang mengantarkan manusia ke dalam kejatuhan. Setelah kejatuhan tersebut maka keinginan manusia selalu ditunggangi oleh iblis sehingga keinginan yang awalnya baik menjadi melenceng atau keingginan yang baik dicapai dengan cara yang tidak baik. Bagaimana kita menyikapinya?
B.     ISI
1.      Arti nafsu dan hawa nafsu menurut KBBI:
·         Nafsu adalah keinginan hati yang kuat. Dari pengertian ini tidak ada sesuatu yang salah dengan nafsu pada manusia. Misalnya keinginan hati yang kuat untuk: menggapai pendidikan yang tinggi, mendidik anak-anak agar memiliki disiplin, belajar semakin mengenal Tuhan, dll.
·         Hawa nafsu adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Dari pengertian ini mulai terlihat hal negatif yaitu isi dari nafsu itu sendiri. Apakah ada hubungan HAWA NAFSU dengan NAFSU HAWA ingin menjadi sama dengan Tuhan???
2.      Pandangan Alkitab tentang hawa nafsu.
·         Hawa nafsu adalah keinginan daging (Gal. 5:19). Keinginan daging adalah maut (Rm. 8:6).
·         Hawa nafsu mendatangkan murka Allah (Kol. 3:5). Artinya bahwa orang-orang yang dipenuhi hawa nafsu tidak berkenan dihadapan Allah dan disebut sebagai orang-orang durhaka.
·         Hawa nafsu berasal dari setan atau iblis (Yak. 3:15). Iblis adalah malaikat Tuhan yang sangat berambisi (bernafsu) untuk menyamai Allah sehingga ia dilemparkan dari surga (Yes. 14:12-15). Selanjutnya ia memanfaatkan keluguan Hawa untuk melanjutkan misinya di dunia (Kej. 3).
·         Hawa nafsu adalah kebodohan (1 Ptr. 1:4). Kebodohan yang dimaksudkan bukanlah sebatas itelektual (IQ) yang dimiliki seseorang. Sebab banyak sekali orang-orang pintar yang hancur karena tidak mampu mengendalikan nafsunya. Tetapi lebih dari intelektual yaitu spiritual (SQ) dan emosional (EQ).
3.      Siapakah tokoh yang terjerat hawa nafsu dan bagaimanakah akibatnya?
·         Daud mengambil Betsyeba isteri Uria (2 Sam. 11: 2-4) dan melakukan pembunuhan berencana terhadap Uria (11:15). Daud mohon ampun kepada Tuhan (Maz. 51:3-4). Akibatnya, anak yang dikandung Betsyeba mati (2 Sam. 12:14) dan Keturunan Daud saling bunuh (12:10): Amnon menodai Tamar, Absalom membunuh Amnon, Absalom memberontak dan ingin membunuh Daud sendiri.
·         Isteri Lot menjadi tiang garam (Kej. 19: 17-26). Mengapa isteri Lot menoleh ke belakang? Tidak ada ayat yang menjelaskan hal tersebut. Tetapi jika dilihat dari latar belakang Lot memilih Daerah Sodom adalah karena melihat daerah tersebut memiliki asset yang sangat baik (Kej. 13:10) maka dapat simpulkan bahwa ia melihat ke belakang karena teringat dengan semua (harta) yang ia tinggalkan. Paulus juga mengatakan :aku melupakan apa  yang telah di belakangku (harta, jabatan, ketenaran) dan mengarahkan ….(Fil. 3:13)
·         Simson menikahi wanita-wanita yang tidak mengenal Tuhan (Hak. 14:1,3, 16:1, 4). Akibatnya, Simson mati dengan cara yang sangat tragis (16:21).
·         Yudas Iskariot (Luk. 22:3). Hanya karena uang 30 keping perak (Mat. 27:3) ia menjual imannya. Hal seperti itu banyak terjadi saat ini, untuk memperoleh kekayaan banyak orang mempertaruhkan dan mengingkari imannya. Akibatnya: Yudas mengakhiri hidupnya dengan tragis (gantung diri, Mat. 27:5).
·         Ananias dan Safira (Kis. 5:3). Menahan sebagian uang hasil penjualan tanah yang telah dijanjikan untuk persembahan kepada Tuhan. Akibatnya: Ananias dan Safira mati tiba-tiba (ay. 5 dan10).
4.      Sikap kita sebagai orang percaya.
·         Sadar dan berjaga-jaga (1 Pet. 5:8). Jangan beri kesempatan bagi iblis untuk mengambil ruang dalam hati kita, Hawa telah gagal saat ia memberi kesempatan kepada Iblis.
·         Lawan dengan iman (1 Pet. 5:9). Jangan lawan iblis dengan argumentasi (pikiran) kita, Hawa telah gagal saat beradu argumentasi dengan Iblis. Cukup katakan: Ada tertulis….
C.     KESIMPULAN
Jangan biarkan keinginan-keinginan kita ditunggangi oleh iblis, sebab ia tahu kelemahan kita. Marilah sadar dan berjaga-jaga senantiasa agar ia tidak mengambil kesempatan dalam hidup kita. Mari kita lawan dia dengan iman yang teguh sehingga kita senantiasa menang bersama Tuhan.

Friday, June 1, 2018

Adat Istiadat


Thema            : Adat Istiadat
Nats                : Matius 15 :1-6
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.      PENDAHULUAN
Sampai detik ini permasalahan adat-istiadat dikalangan orang Kristen tidak ada kata sepakat. Secara umum Gereja Lutheran dan Calvinis tidak mempermasalahkan adat istiadat. Bahkan dalam prakteknya terkadang sering sekali adat menempati posisi teratas. Sehingga tidak jarang mereka lebih tersinggung di katakana “tidak beradat dari pada tidak berTuhan”. Sebaliknya secara umum Gereja-gereja Pentakosta dan Kharismatik sering mempermasalahkan adat istiadat dalam suatu masyarakat. Timbul suatu pertanyaan, manakah diantara kedua sikap ini yang benar? Belakangan muncullah Gereja Injilli yang mengambil sikap netral tentang adat istiadat, di mana segala sesuatu harus dikembalikan kepada Injil. Dengan kata lain semuanya harus disesuaikan dengan apa kata Alkitab sebagai pedoman hidup orang Kristen.

B.      ISI
1.      Apakah arti adat istiadat?
a.       aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim dituruti atau dilakukan sejak dahulu kala
b.      cara (kelakuan dan sebagainya) yang sudah menjadi kebiasaan
c.       wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem
2.      Adakah Alkitab mengajarkan Adat Istiadat? Ada.
a.       Dalam Perjanjian Lama
Kata adat dalam PL berasal dari kata Ibrani ”choq, chuqqah dan mishpat” yang mempunyai arti: undang-undang, hukum, tata-tertib, kebiasaan, adat-istiadat, keputusan atau ketetapan. Misalnya:
Ø  Aturan tentang sunat (Kej. 17:10)
Ø  Aturan tentang kematian (Kej. 50:25-26)
Ø  Peringatan hari raya (Kel. 13:3)
Ø  Aturan tentang bertani (Yes. 28:24, 26)
b.      Dalam Perjanjian Baru
Kata “adat” dalam Perjanjian Baru adalah terjemahan dari kata paradosis yang mempunyai arti “adat-istiadat”. Misalnya:
Ø  Silsilah keluarga(Mat. 1:1)
Ø  Pertunangan (Mat.1:18)
Ø  Sunat dan pemberian nama (Luk. 2:21)
Ø  Aturan kematian dan penguburan (Mat.26:12, Mat. 27:59-60)
Ø  Melakukan ziarah(Mrk. 16:1)
Ø  Menghadiri pesta perkawinan (Yoh. 2:1-2)
3.      Pandangan Alkitab terhadap Adat
Ø  Jangan mengikuti kebiasaan yang salah tentang perkawinan (Im. 18 : 3, 30)
Ø  Jangan mengikuti kebiasaan penyembahan berhala(Yer. 10:2)
Bandingkan dengan 2 Raj. 17:33
Ø  Tuhan mengatasi adat istiadat (Mat. 12:8)
Ø  Jangan memanfaatkan adat untuk pembenaran diri (Mat. 15:3)

C.      KESIMPULAN
Jadi tidak ada yang salah dengan adat istiadat selama itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Tetapi sebagai orang percaya yang tahu kebenaran maka kita harus menjadikan Firman Tuhan sebagai standar dalam mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang telah kita terima dari pendahulu-pendahulu kita. Sederhananya bisa kita katakana bahwa Firman Tuhan harus hadir sebagai terang atas adat istiadat yang ada dalam kehidupan kita.