Wednesday, March 15, 2023

Keselamatan adalah Anugerah Allah

 

Thema            : Keselamatan adalah Anugerah Allah

Nats                : Ef. 2:8-9; Yoh. 3:16

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.        PENDAHULUAN

Sebuah doktrin atau ajaran yang dipelopori oleh Arminius mengatakan bahwa manusia yang sudah beroleh keselamatan bisa hilang saat ia tidak menjaga keselamatan itu. Artinya manusia akan hilang keselamatannya saat ia jatuh ke dalam dosa. Arminius mau mengatakan bahwa ada usaha manusia atau kerja keras manusia untuk mendapatkan keselamatan. Bahwa manusia yang sudah diselamatkan akan senantiasa berjuang hidup benar adalah suatu keharusan. Tetapi tatkala manusia itu terjatuh akankah keselamatan itu batal? Mari kita belajar apa kata Alkitab tentang keselamatan dari Allah.

B.        ISI

1.      Arti Keselamatan adalah Anugerah Allah.

a.       Keselamatan itu karunia dari Allah.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan….”(Ef. 2:8a). “sehingga ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal”(Yoh. 3:16b). Apakah karunia? Karunia adalah pemberian (Ef. 2:8c). Jika hari ini saya beroleh keselamatan itu hanya karena diberikan oleh Allah dan pemberian itu saya terima.

b.      Keselamatan itu bukan karena perbuatan kita.

itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”( Ef. 2:8c). “itu bukan hasil pekerjaanmu” (Ef. 2:9). Bahwa segala usaha manusia akan sia-sia jika bukan Allah sendiri yang datang mencari manusia yang sudah tergadai oleh dosa.

2.      Apakah semua manusia beroleh anugerah keselamatan tersebut?

karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”.(2 Pet. 3:9). Seorang bapa pasti ingin semua anak-anaknya berhasil dan memiliki masa depan, sehingga segala daya dan upaya diakukan demi anak-anaknya. Tetapi manusia itu sendiri memiliki kehendak untuk menentukan pilihan. Maka yang beroleh anugerah keselamatan itu ialah:

a.       Mereka yang beriman atau percaya.

kamu diselamatkan oleh iman” (Ef. 2:8a). ”supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16c-d). Iman yang dimaksudkan dalam hal ini adalah iman kepada Kristus. Sebab orang-orang Yahudi pun beriman dan selalu memanggil Allah Abraham, Isak, Yakub tetapi menolak Yesus sebagai Juruselamat.

b.      Mereka yang menerima Kritus sebagai Tuhan.

Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”(Yoh. 1:12). Jadi jika ada yang menolakNya maka jelas ia takkan beroleh keselamatan yang dianugerahkan Allah bagi dunia ini.

3.      Hilangkah keselamatan yang dianugerahkan Allah saat kita berbuat dosa?

Jika seorang bapa bermarga Sitepu marah dan mengusir anaknya Rocky Sitepu karena melakukan perbuatan yang sangat memalukan, apakah statusnya sebagai anak dan bermarga Sitepu bisa hilang? Tentu tidak bukan, sampai kapan pun ia anak bapaknya dan marganya Sitepu. Jika manusia yang berdosa pun bisa konsisten, maka Allah lebih dari itu. Bahwa keselamatan itu tidak akan bisa hilang karena:

a.       Saat kita percaya sudah dimeteraikan dengan Roh Kudus.

di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu” (Ef. 1:13). Artinya materai Roh Kudus tidak akan pernah dibatalkan oleh apapun, termasuk saat kita jatuh ke dalam dosa. Jika benar ia sudah menerima Roh Kudus maka ia akan kembali ke jalan yang benar, jika sampai mati ia tidak kembali, berarti Roh Kudus memang tidak pernah termeterai dihatiNya.

b.      Tidak ada kuasa  yang dapat memisahkan kita dari Allah.

tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus Tuhan kita  (Rm. 8:39). Artinya kasih Allah menjadi pengikat yang sempurna antara orang percaya dengan Allah, bahwa saat manusia jatuh pun ke dalam dosa pengikat itu takkan terlepas dan putus. Dosa memang bisa membuat seseorang jauh dari kasih Allah tetapi jika ia sudah sungguh menerima kasih itu, maka ia akan kembali datang kepada Allah. Jika sampai akhir hidupnya ia tetap di dalam dosa dan tak kembali kepada Allah maka sesungguhnya ia belum pernah menerima kasih Allah itu dalam hidupnya.

C.        PENUTUP

Keselamatan adalah anugerah terindah yang pernah Allah berikan kepada manusia melalui firmanNya yang menjadi manusia di dalam pribadi Yesus Kristus. Jika hari ini kita telah menerima anugerah tersebut biarlah keselamatan itu kita kerjakan terus dengan roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Jika belum biarlah saat ini juga kita menerima naugerah tersebut. Sebab kehidupan kekal kita terima saat hidup di dunia bukan setelah kita meninggalkan dunia ini. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Sunday, March 12, 2023

Jalan Hidup

 

Thema            : Jalan Hidup

Nats                : Matius 2:12

 

“Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain”.

 

1.      Apakah arti jalan?

a.       Secara praktis jalan adalah suatu jalur yang menghubungkan suatu tempat dengan tempat yang lain.

b.      Secara teologis jalan adalah seorang Pribadi yang membawa seseorang kepada kehidupan kekal (Yoh. 14:6)

 

2.      Apakah banyak jalan dalam kehidupan?

a.       Secara praktis dikatakan “tidak satu jalan ke Roma”. Artinya banyak pilihan jalan dalam menuju kesuksesan secara duniawi. Orang Jepang secara umum tidak mengenal Tuhan tetapi mereka menjadi sukses dengan jalan: menghargai waktu, kerja keras, disiplin, pantang menyerah, dll.

b.      Secara teologis dikatakan “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Ams. 16:25). Artinya dunia menawarkan banyak jalan keselamatan. Teologi pluralisme mengajarkan bahwa ada keselamatan di luar Yesus. Padahal Alkitab jelas mencatat: “….., sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain, ….(Kis. 4:12).

 

3.      Siapakah pemilik jalan kehidupan?

a.       Secara praktis yang beroleh jalan kehidupan adalah mereka yang:

1.      Mau bekerja (2 Tes. 3:10)

2.      Mau memanajemen hidup (Kej. 41:9, Luk. 15:13, Ibr. 13:5)

b.      Secara teologis yang beroleh jalan kehidupan adalah mereka yang percaya dan menerima Yesus (Yoh. 1:12)

 

4.      Bagaimanakah cara hidup orang yang mau beroleh jalan kehidupan?

a.       Secara praktis orang majus bisa memiliki emas, kemenyan dan mur karena mereka orang yang adalah pekerja keras. Mereka pribadi yang terus mau belajar.

b.      Secara teologis mereka mau mengikuti perintah Tuhan. Ketika Yesus datang kepada mereka melalui bintang maka mereka mau dituntun. Ketika Malaikat memperingatkan mereka agar mengikuti jalan Tuhan mereka taat.

Sunday, March 5, 2023

Kerelaan Dalam Penderitaan

Thema            : Kerelaan Dalam Penderitaan (Ngasup Ngaloken Kiniseran)

Nats                : Markus 10:35-45

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.        PENDAHULUAN

Banyak orang ingin menerima berkat atau kebaikan dari Tuhan, tetapi enggan dengan masalah dan penderitaan yang datang menghampiri. Bahkan tidak jarang saat masalah dan pencobaan hidup datang Tuhan yang disalahkan. Ketika Iblis menawarkan kepada Adam dan Hawa bahwa saat memakan buah pohon pengetahuan maka mereka akan menjadi seperti Allah. Namun saat kenyataan berkata lain, maka Adam menyalahkan Tuhan dengan berkata: “Perempuan yang kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan (Kej. 3:12).  Artinya Adam ingin menjadi orang besar, tetapi saat masalah datang ia tidak rela disalahkan dan menerima hukuman (penderitaan) dari masalah tersebut. Apakah karena kesalahan kita atau ujian dari Tuhan atau bahkan mungkin pencobaan dari iblis yang menyebakan ada penderitaan, maka kita harus memiliki kerelaan dalam menjalaninya. Sebab semua yang terjadi adalah seizin Tuhan dan pasti mendatangkan mendatangkan kebaikan.

B.        ISI

1.      Arti Kerelaan Dalam Penderitaan.

a.       Rela menerima penderitaan seperti yang dialami oleh Yesus (ay. 39)

kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima”. Bahwa sebagai murid-murid Yesus kita harus siap menderita seperti Kristus. Paulus berkata : “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Fil. 1:29).

b.      Rela mempertaruhkan hidup seperti yang dialami oleh Yesus (ay. 45).

dan untuk memberikan nyawaNya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang”. Bahwa kita sebagai murid-murid Kristus setia sampai mati dan selama hidup menjadi berkat bagi orang lain, sehingga banyak orang yang mengenal Kristus. Lyman dan Munson menyerahkan nyawanya sehingga orang Batak akhirnya pencaya kepada Yesus. Jika akhirnya Petrus disalibkan dengan kepala ke bawah, maka itu sebagai bukti bahwa sebagai murid ia meneladani penderitaan  Kristus. Penderitaan yang mungkin kita alami hari ini sangat kecil dibanding dengan mereka.

2.      Sikap Hidup Orang Yang Rela Dalam Penderitaan.

a.       Datang kepada Tuhan dengan motivasi yang benar (ay. 35-37).

Yakobus dan Yohanes mendekati Yesus untuk meminta kedudukan. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka minta adalah sesuatu yang menjadi rahasia Bapa di surga (ay. 40). Ketika Yesus ditangkap mereka semua bubar untuk menghindar. Artinya permintaan besar tapi masalah ingin kecil. Pastikan bahwa saat kita datang kepada Tuhan adalah untuk mendengar Firman bukan untuk yang lain. Ingat, kerja kita mencari Kerajaan Allah, dan kerja Tuhan memberkati kita (Mat. 6:33). Jika melalui penderitaan Tuhan memberkati kita maka berbahagialah.

b.      Sadar bahwa kita kecil dihadapan Tuhan (ay. 43).

Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”. Banyak orang ingin dianggap, dihargai dan ditempatkan pada posisi yang tinggi.  Jangan pernah merasa besar dihadapan Tuhan. . Kalaupun akhirnya kita menjadi besar biarlah itu oleh karena Tuhan. Ingat, saat Musa mati pekerjaan Tuhan tetap jalan, saat Yosua mati pekerjaan Tuhan tetap jalan, saat Daud mati pekerjaan Tuhan tetap jalan. Jangan pernah merasa berjasa dihadapan Tuhan.

c.        Merendahkan diri dihadapan Tuhan (ay. 44)

Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya”. Dalam bahasa Yunani hamba disebut “doulos” yang artinya budak. Jadi, jika ada orang percaya terlebih hamba Tuhan minta dihargai bahkan diposisikan tinggi, maka ia tidak sadar diri bahwa ia adalah seorang hamba (budak).  Yesus berkata: “Sebab barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikani” (Luk. 14:11). Ingat pesan Yesus di dalam Lukas 10:14.

d.      Melayani bukan untuk dilayani seperti Yesus (ay. 45).

Banyak hamba Tuhan yang ingin diperlakukan sebagai “raja”. Saat ia datang di hadapan jemaat, ia ingin diperlakukan istimewa. Ketika melayani keluar kota ingin difasilitasi (hotel, mobil, dll). Artinya, jika Tuhan menyedikan itu bagi kita maka nikmatilah dengan caraNya. Tetapi jangan sempat fasilitas itu mengurangi sukacita kita dalam melayani Tuhan.

3.      Upah bagi orang yang rela dalam penderitaan.

Akan mendapat tempat yang terhormat bersama Bapa saat pulang ke surga (ay. 40). Dan yang pasti orang yang sungguh-sungguh mengikut Yesus akan mendapatkan berkat saat hidup di dunia (Mrk. 10:29-30). Tapi perlu diingat berkat bukan akibat tetapi berkat adalah penyebab.

C.        PENUTUP

Kita mengikut Tuhan bukan untuk menderita, tetapi jika Tuhan mengiijinkan kita menderita saat mengikutNya, maka itu akan menjadi jalan berkat bagi kita. Jadi mari kita dengan rela hati saat penderitaan itu datang. Tuhan Yesus memberkati.                           


Wednesday, February 15, 2023

Kerohanian Kaum Injili

 

Thema            : Kerohanian Kaum Injili

Nats                : Filipi 1:27

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

 

 

A.        PENDAHULUAN

Murid-murid Yesus disebut sebagai Kristen pertama kalinya di Antiokhia (Kis. 11:26). Setelah itu ke-Kristen-an terus berkembang dan menjadi agama terbesar di dunia sampai hari ini. Dari banyaknya penganut Kristen hari ini, terdapat berbagai aliran dan denominasi. Dalam setiap aliran tersebut memiliki pandangan-pandangan yang berbeda, baik dalam perkara praktis maupun teologis. Pandangan secara teologis tentu mempengaruhi kepada hal-hal praktis ditengah-tengah jemaat yang dilayani. Jika perbedaan tersebut bukanlah hal prinsipil, maka tentu ada toleransi satu dengan yang lain. Tetapi saat perbedaan tersebut berkaitan dengan hal prinsipil, maka itu tidak boleh dianggap sebagai hal yang boleh dikompromikan. Aliran Injili merupakan satu dari sekian banyak aliran dalam ke-Kristen-an. Mari kita belajar tentang kerohanian kaum injili.

B.        ISI

1.      Siapakah kaum Injili?

a.       Kaum Injili adalah mereka yang hidup berpadanan dengan Injil Kristus (Fil. 1:27). Artinya bahwa orang yang hidupnya sesuai dengan Injil maka dialah sesungguhnya kaum Injili. Walaupun mungkin ia tidak berada dalam organisasi gereja Injili. Demikian juga sebaliknya.

b.      Kaum Injili adalah mereka yang hidup berpadanan dengan panggilan Tuhan dalam hidupnya (Ef. 4:1). Artinya saat seseorang telah dipanggil keluar dari gelap kepada terang Kristus dan menghidupi panggilan itu dengan senantiasa hidup benar dalam segala situasi, maka dialah kaum injili yang sejati.

2.      Jenis kaum Injili

Kaum injili atau sering disebut evangelical, oleh Pdt. Dr. Stephen Tong dibagi menjadi 5 yaitu:

a.       Tradisional Evangelical: Kelompok ini dibesarkan digereja-gereja beraliran injili, mereka hanya tahu injil itu baik tetapi tidak tahu injil itu apa. Artinya secara label mereka mengaku sebagai kaum injili tetapi praktek hidupnya tidak injili tetapi hanya mengikuti tradisi-tradisi.

b.      Ideological Evangelical: Kelompok ini begitu memahami tentang teori dan ide-ide tentang Injili. Mereka setuju tentang doktrin-doktrin Injil tetapi secara praktek hidup mereka tidak menampilkan gaya hidup sesuai dengan yang ia pahami tersebut. Yesus berkata: hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan memakai jubah panjang …. (Mrk. 12:38).

c.       Empiric Evangelical:  Orang pada tipe ini mengalami kuasa injil melalui suatu peristiwa. Martin Luther mengalaminya, saat ia berjalan dengan temannya ditengah hujan dan tiba-tiba halilintar menyambar temannya dan tewas seketika. Luther akhirnya sadar betapa kecilnya ia dihadapan Tuhan, ia rebah ditanah meminta pengampunan dosa dan bertobat dihadapan Tuhan. Ia sadar bahwa ia hidup hanya karena iman (Rm. 1:17),  bukan dengan sikap asketisisme (membelenggu diri dari kehidupan dunia, menyiksa diri untuk mendapat perkenanan Tuhan)  yang selama ini ia lakukan.

d.      Pragmatical Evangelical: Orang Injili pragmatis adalah mereka yang sudah bertobat dan semangat dalam pemberitaan Injil. Seperti yang dikatakan Paulus : “Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil “(1 Kor. 9:16). Tetapi pada tipe ini perlu diperhatikan antara pemahaman Injil dengan pemberitaan Injil. Sebab jika ini tidak seimbang maka akan bermasalah. Bisa jadi penginjilannya berhasil tapi kerohaniannya kurang bertumbuh. Seorang yang berkobar-kobar memberitakan injil akan sering diundang kemana-mana dan bisa menjadi sombong dan congkak. Padahal kotbahnya hanya itu-itu saja tanpa penggalian Injil yang dalam. Sebaliknya jika peginjilannya gagal, maka pengertiannya akan injil akan semakin runtuh karena merasa tidak dipimpin Tuhan.

e.       Integrated Evangelical: Orang yang mengintegrasikan (menyatukan) teologi, visi, pengalaman dan kepekaan pimpinan Tuhan di dalam aktivitas penginjilan. Inilah kaum Injili yang sejati, yaitu mereka yang betul-betul mengerti rencana Allah di dalam kekekalan berdasarkan teologi yang benar. Dan tolak ukur dalam hidupnya adalah: Back to Bible. Jika penginjilan berhasil untuk kemuliaan Tuhan, jika belum berhasil berarti ada rencana Tuhan yang lain dan semua mendatangkan kebaikan.

 

3.      Kerohanian Kaum Injili Sejati

a.       Mengakui bahwa Yesuslah Tuhan dan satu-satunya Juruselamat dunia (Kis. 4:12). Sehingga kaum injili tidak sepaham dengan Teologi Pluralisme yang mensejajarkan Yesus dengan pemimpin-pemimpin agama lain. Juga tidak sepaham dengan Katolik yang menempatkan Maria sejajar bahkan lebih tinggi dari Yesus.

b.      Mengakui Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam hal doktrin/ajaran, spiritual dan etika (2 Tim. 3:16). Artinya menurut kaum Injili ajaran Alkitab sesuai untuk segala zaman dan tidak tunduk pada zaman. Jika  PGI menerbitkan pastoral bagi LGBT, maka kaum injili menolak hal tersebut. Sebab Tuhan tidak setuju dengan praktek LGBT sehingga menghancurkan kota Sodom dan Gomora.

c.       Menjadikan pertobatan (kelahiran kembali) sebagai pengalaman hidup yang mengubahkan. Tanpa mengalami kelahiran kembali maka pengetahuan tentang agama, kegiatan-kegiatan keagamaan akan menjadi sia-sia seperti yang dialami oleh Nikodemus (Yoh. 3:1 dan 3).

d.      Menjadikan penginjilan sebagai gaya hidup. Bahwa kaum injili menjadikan pemberitaan Injil sebagai utang yang harus dibayar (Rm. 1:14-15). Kristus telah membayar lunas hutang dosa kita maka seumur hidup kita harus mencicilnya lewat pemberitaan injil.

C.        KESIMPULAN

Mari kenali diri kita, apakah kita sudah menjadi kaum injili sejati atau hanya sekedar menjadi jemaat dari gereja yang beraliran injili. Sebab banyak orang yang tidak tahu tentang dirinya sehingga ia menjadi pribadi yang tidak tahu diri. Jika kita kaum injili maka perlihatkanlah itu melalui hidup kita hari lepas hari. Tuhan Yesus memberkati.

Thursday, February 9, 2023

Menjadi Bapak Yang Bertanggungjawab

 

 

                                                Thema            : Menjadi Bapak Yang Bertanggungjawab

                                                Nats                : Kis. 16:23-34

                                                Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.      PENDAHULUAN

Sejak dunia diciptakan laki-laki diposisikan sebagai pemimpin yang harus bertanggungjawab baik dalam hal praktis maupun teologis. Terlebih saat seorang laki-laki memilih untuk membentuk sebuah keluarga, maka tanggungjawab itu semakin besar. Sebab ada isteri dan anak-anak yang harus menjadi tanggungannya. Banyak kaum bapak mengabaikan tanggungjawab baik secara praktis juga teologis. Sebagian besar bapak hanya bertanggungjawab secara praktis dan mengabaikan hal teologis. Hanya segelintir kaum bapak yang bertanggungjawab penuh, baik dalam hal praktis maupun teologis. Mari menjadi Yosua agar keluarga kita sampai di Tanah Perjanjian yang kaya dan penuh bahagia.

B.      ISI

1.      Apakah tanggung jawab seorang bapak secara praktis?

a.  Bekerja dengan sungguh-sungguh (ay. 23).

“Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Bahwa sebagai seorang bapak harus serius dalam bekerja agar terpenuhi kebutuhan jasmani keluarga.

b.  Bertanggung jawab dengan pekerjaan (ay. 24)

Sesuai dengan perintah, kepala penjara memasukkan mereka ….”. Artinya seorang bapak sebagai pekerja harus bekerja sesuai aturan yang ditetapkan agar dapat bertahan dalam pekerjaan demi penghidupan keluarga.

c.   Berani mengambil risiko (ay. 27)

ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, ……”. Artinya seorang bapak harus selalu siap dengan segala risiko yang terjadi ditengah pekerjaan sebagai konskuensi dari tanggungjawabnya sebagai pekerja. Jika harus kehilangan pekerjaan karena memegang prinsip yang benar maka harus siap, tetapi sebisa mungkin bijaklah dalam segala situasi.

 

2.      Apakah tanggung jawab seorang bapak secara teologis?

a.  Menjadikan keselamatan sebagai hal yang terutama (ay. 30).

Tuan-tuan, apakah yang kuperbuat supaya aku selamat?” . Setelah melihat kejadian dipenjara tersebut maka kepala penjara itu menyadari bahwa ia sangat butuh dengan keselamatan. Ia sadar bahwa dialah imam di tengah keluarga yang bertanggungjawab dengan kerohanian keluarga. Ayub selalu peduli dengan kerohanian anak-anaknya (Ayub 1:5)

b.  Mengarahkan keluarga untuk belajar firman Tuhan (ay. 31)

“Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya”. Kepala penjara mengajak semua anggota keluarganya belajar firman Tuhan. Dengan tegas Yosua berkata: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (Yos. 24:15)

c.   Memimpin keluarga untuk menerima baptisan (ay. 32)

“Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis”. Tentu baptisan yang dimaksud bukan hanya berbicara sakramen tapi lebih kepada hadirnya Roh Kudus di dalam hati semua anggota keluarga. “Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah”(ay.34). Telah menjadi percaya artinya telah menerima Roh Kudus di dalam hati (Kis. 1:5). Seorang Zakheus juga berusaha, berlari-lari bahkan memanjat pohon ara untuk berjumpa Yesus. Dan akhirnya menerima Yesus dirumahnya sehingga ia dan keluarganya beroleh keselamatan. Telah terjadi keselamatan di rumah ini, sebab orang ini juga keturunan Abraham (Luk. 19:9).

d.  Memimpin keluarga untuk menghargai hamba Tuhan.

Apakah sikap kepala penjara itu terhadap Paulus dan Silas? Tersungkur dihadapan Paulus dan Silas (ay. 29), membasuh bilur mereka (ay. 33), menghidangkan makanan (melayani) mereka (ay. 34) dan meminta maaf kepada mereka (ay. 39). Ketika janda Sarfat menghargai Elia dan membuatkan sepotong roti baginya maka dia diberkati. Tepung dan minyaknya tidak habis-habis (1 Raj. 17:16), anaknya yang sakit keras dan akhirnya mati hidup kembali karena doa Elia (1 Raj. 17:22).

C.      PENUTUP

Berkat memang datang dari Tuhan, tetapi sebagai seorang bapak kita harus membuka jalan berkat itu dengan menjadi pemimpin yang bertanggungjawab dalam hal praktis lewat kerja keras. Keselamatan memang anugerah Tuhan, tetapi sebagai bapak maka kita harus menjadi pemimpin yang bertanggungjawab secara teologis dengan menjadi imam yang membawa keluarga kepada Tuhan.