Friday, November 30, 2018

Orang Muda dan Perkembangan Zaman


Thema                        : Kaum Muda dan Perkembangan Zaman
Nats                : Pkh. 1:9
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.        PENDAHULUAN
Apakah dengan menjadi orang percaya membuat seseorang ketinggalan zaman? Sepertinya pemikiran seperti ini berkembang di kalangan kaum muda saat ini. Orang percaya tidak boleh melakukan hal-hal yang dianggap tren di kalangan muda saat ini, misalnya: Merokok, bergaul sembarangan, memiliki komunitas (kelompok/geng). Sehingga, menjadi seorang muda yang percaya akan membuat seseorang terbatas dalam melakukan segala sesuatu yang dianggap mendatangkan “kebahgiaan”. Salomo dengan tegas berkata :” Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!”. Dengan kata lain Salomo ingin berpesan kepada anak muda: Hai pemuda, engkau bebas melakukan apa saja (baik atau buruk) dalam menikmati masa mudamu, tapi ingat bahwa semua ada ganjarannya. Jika demikian, bagaimanakah seharusnya sika seorang pemuda dalam menjalani masa mudanya?

B.        ISI
1.      Salahkah mengikuti perkembangan zaman?
Zaman boleh berubah tetapi firman Tuhan tidak pernah berubah, artinya Fiman Tuhan tidak perlu bergeser untuk mengikuti segala perubahan yang super cepat. Firman Tuhan tidak pernah usang (ketinggalan zaman), Firman Tuhan sesuai untuk segala situasi. Bahan dan penyajiannya boleh berubah (dari kertas pavirus sampai i-ped) tetapi isinya tiada berubah. Ini berarti bahwa orang percaya boleh mengikuti perkembangan zaman tetapi zaman tidak boleh merubah pola hidup orang percaya tersebut. Tetapi faktanya, sedikit sekali kaum muda yang konsisten dalam mengikuti perkembangan zaman. Secara umum, walau masih dalam batasan wajar, hampir semua kaum muda di sebuah gereja sudah mulai mengikuti pola hidup orang-orang di luar gereja (bukan orang percaya). Dan jika hal ini terus dibiarkan maka tidak tertutup kemungkinan, 10 atau 20 tahun kedepan maka kaum muda akan semakin berkurang di lingkungan gereja. Jadi, tidak ada yang salah jika orang muda mengikuti perkembangan zaman tetapi yang salah adalah cara mereka mengikuti perkembangan tersebut.
2.      Sikap yang benar mengikuti perkembangan zaman.
Cara terbaik mengikuti perkembangan zaman: ikuti zaman tanpa melupakan Tuhan (Pkh. 12:1). Ketika kita ingat akan Tuhan, maka kita tidak akan sembarangan dalam mengambil suatu tindakan karena:
a.       Ada pengadilan Tuhan (Pkh. 1:9). Kebaikan diganjar dengan hadiah/pujian sebaliknya kejahatan diganjar dengan hukuman. Hukuman adalah hadiah dan hadiah adalah hukuman sebab keduanya bertujuan untuk membuat seseorang lebih baik. Sadarlah ketika hukuman itu kita terima di dunia ini sebab hukuman kekal takkan pernah berujung. 
b.      Masa depan di tangan Tuhan (Yer. 29:11). Jika masa depan kita ada di tangan Tuhan maka seharusnyalah kita menjalani hari-hari sesuai dengan aturanNya. Sebab Tuhan tidak memberi masa depan yang baik bagi orang jahat/fasik (Ams. 24:20).
c.       Ada hukum tabur tuai (Gal. 6:8-9). Seorang Novelis Soegiarso Soeroyo menulis buku dengan judul :”Menabur Angin Menuai Badai”. Pesan moral dalam buku ini adalah:
·      Siapa berbuat dia yang bertanggung jawab.
·      Menanam kebaikan berbuah kebaikan dan sebaliknya.

C.        KESIMPULAN
Zaman hanyalah suatu situasi, jagan pernah dikendalikan situasi tetapi kendalikanlah situasi. Kuda liarpun jika tali kekangnya di pegang maka ia akan tunduk. Seliar apapun zaman saat ini, jika Firman Tuhan menjadi standar hidup kita maka semua akan terkendali dengan baik. TYM. Amin.

Jenderal Vs Satpam


Thema             : Jenderal Vs Satpam
Nats                 : Ester 3:1–6
Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, S, Pd., M. Th.
A.     PENDAHULUAN
Jika diadakan pertandingan sepak bola antara Barcelona FC vs PSMS Medan maka dapat dipastikan semua orang akan memprediksi Bacelona FC akan keluar sebagai pemenang. Prediksi ini adalah sesuatu yang normatif, artinya tidak ada alasan untuk menyangkalnya. Sebab, dari semua lini PSMS Medan bukanlah kelasnya Barcelona FC. Barcelona FC berkali-kali menjuarai Liga Sanyol, Liga Champions, Piala Raja, Piala Dunia Antarklub, dll. Sementara bagi PSMS Medan, untuk tingkat nasional saja adalah sesuatu yang sangat sulit untuk memperoleh sebuah trofi. Namun demikian ada satu istilah dalam dunia sepak bola yaitu “Dewi Fortuna”. Artinya, pemain sekelas Lionel Messi atau C. Ronaldo pun bisa gagal melakukan tugasnya mengekskusi pinalti sehingga timnya bisa kalah saat melawan tim yang di atas kertas begitu mudah ditundukkan. Jika memandang dari kacamata dunia maka takkan ada kemungkinan Daud menang saat menghadapi Goliat tapi saat “Dewi Fortuna” memihak dia maka Daud menang. Hal yang tidak jauh berbeda juga yang terjadi saat seorang Jenderal dan Satpam berselisih di Istana Raja Ahasyweros.
B.     ISI
1.      Siapakah sang “Satpam” tersebut?
a.       Namanya Mordekhai bin Yair bin Simei bin Kish, seorang Yahudi dari suku benyamin (Est. 2:5).
b.      Seorang buangan (budak) yang diangkut dari Yerusalem pada masa pemerintahan raja Nebukadnezar (Est. 2:6)
c.       Saudara dari Ester (Est. 2:7). Ayah Mordekhai dan ayah Ester (Abihail, ay. 15) bersaudara, tetapi ayah dan ibu Ester telah meninggal sehingga Mordekhai yang menjadi pengasuh (ayah angkat) Ester.
2.      Mengapa Mordekhai bisa menjadi satpam istana raja Ahasyweros?
Setelah ratu Wasti dibuang oleh raja Ahasyweros (Est. 1), maka raja Ahasyweros ingin mencari penggantinya (Est. 2:4). Setelah melalui seleksi yang panjang akhirnya Ester terpilih sebagai ratu pengganti Wasti (Est. 2:17). Selama Ester berada di istana mengikuti seleksi, Mordekhai selalu hadir di pintu gerbang istana (Est. 2:19). Ketika itu ia mendengar niat buruk dua penjaga istana untuk membunuh raja dan hal itu disampaikan kepada Ester dan selanjutnya Ester menyampaikannya kepada raja atas nama Mordekhai (Est. 2:21–22). Semenjak itulah Mordekhai diangkat menjadi penjaga pintu (satpam) di gerbang istana.
3.      Siapakah sang “Jenderal” tersebut?
a.       Namanya Haman bin Hamedata orang Agag (Est. 3:1)
b.      Siapakah Agag? Raja orang Amalek (1 Sam. 15:32). Artinya bahwa Haman adalah keturunan seorang Raja.
c.       Seorang yang sangat dekat dengan raja Ahasyweros(Est. 3:15b).
4.      Pertikaian Sang Jenderal dengan Satpam.
Haman mendapat karunia dari raja dan memberi pangkat tinggi kepadanya ((Est. 3:1) sehingga setiap penjaga gerbang istana (satpam) harus berlutut kepadanya (Est. 3:2a,b). Di sinilah pertikaian dimulai, Mordekhai tidak mau berlutut kepada Haman(Est. 3:2c) sehingga panaslah hati Haman (Est. 3:5) dan berencana untuk membunuhnya bahkan semua bangsa Yahudi yang tinggal dikerajaan Ahasyweros (Est. 3:6). Selanjutnya Haman menghadap raja untuk memberitahukan niatnya dan ternyata raja menyetujuinya (Est. 3:10–11).
5.      Bagaimana jalannya pertandingan Jendral vs Satpam?
a.       Mordekhai berusaha menyelamatkan bangsanya dengan menyampaikan masalah tersebut kepada ratu Ester (melalui Hatah, sida-sida/pegawai istana) dan memintanya untuk menghadap raja Ahasyweros (Est. 4:8-9). Tetapi Ester yang tahu aturan istana bahwa orang yang menghadap raja tanpa dipanggil akan dihukum mati enggan untuk menuruti perintah Mordekhai (Est. 4:10-11)
b.      Mengingatkan Ester bahwa tanpa pertolongannya pun maka akan ada pertolongan (kelepasan) dari “pihak lain”. Bahkan Mordekhai mengingatkan bahwa keterpilihannya sebagai ratu istana adalah untuk maksud itu (menolong bangsa Yahudi) dan itu adalah rancangan “pihak lain” itu. Siapakah “pihak lain” itu? Pihak lain itu adalah “Dewi Fortuna”. Dalam kitab Ester tidak sekalipun menyebut kata Allah tetapi bukan berarti Allah tidak hadir. “Dewi Fortuna” itu adalah Allah sendiri yang menjadikan Ester menjadi ratu untuk keselamatan bangsa Yahudi. Akhirnya Ester menghadap raja dengan terlebih dahulu berpuasa (Est. 4:16) dan hasilnya raja berkenan kepadanya dan berjanji memenuhi keinginan Ester (Est. 5:6).
6.      Skor akhir Jendral Vs Satpam
a.       “1 – 0” untuk Sang Satpam. Mordekhai mendapat kehormatan dari Raja (Est. 6:6, 11). Kehormatan yang seharusnya diterima Haman menjadi milik Mordekhai.
b.      “2–0” untuk Sang Satpam. Dalam perjamuan bersama raja dan Haman, Ester menyampaikan permintaannya (Est. 7:5–6) sehingga raja memerintahkan agar Haman disulakan (digantung) pada tiang yang awalnya didirikan untuk menyulakan Mordekhai (Est. 7:9–10).
7.      Pesan dari “Jendral vs Satpam”.
a.       Tuhan punya cara untuk menolong orang-orang pilihanNya (anak-anakNya). Bila Tuhan di pihak kita siapakah lawan kita (Rm. 8:31)
b.      Jangan memandang rendah orang lain walaupu secara ukuran dunia memang benar ia lebih rendah dari kita. Sebab sesungguhnya semua kita sama dihadapan Tuhan, semua manusia berasal dari tanah (Kej. 2:7)
c.       Jangan merencanakan sesuatu yang tidak baik kepada orang lain, sebab orang lai memiliki “Dewi Fortuna” yang selalu siap menolongnya dan mendatangkan malapetaka bagi yang merencanakan kejahatan itu.
C.     KESIMPULAN
Marilah hidup dalam kerendahan hati, sebab setiap orang yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhan maka Tuhan akan meninggikannya pada waktunya. Saat kita berserah di hadapan Tuhan maka Dia yang akan mengambil alih setiap beban hidup kita sehingga kita akan melihat kemenangan yang tidak pernah kita pikirkan. Tuhan Yesus memberkati.AMIN. 

Hidup Di Penuhi Roh Kudus


Thema             : Hidup Dipenuhi Roh Kudus
Nats                 : Kis. 4:31
Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd. M. Th.

A.     PENDAHULUAN
Ketika orang percaya hendak melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan maka sadar atau tidak, pasti ada satu “seruan” ke dalam hati dan pikirannya: JANGAN LAKUKAN ITU ! Siapakah yang berseru itu? Tentu bukan manusia sebab saat manusia berseru maka yang mendengar adalah telinga. Ketika hati dan pikiran kita tidak tenang saat hendak melakukan bahkan setelah melakukan dosa (kesalahan) maka sesungguhnya Roh Kudus sedang berseru mengingatkan kita agar tidak melakukan atau segera mohon ampun setelah berbuat kesalahan di hadapan Tuhan. Demikian juga saat orang percaya ingin melakukan perkara-perkara rohani, ada kalanya semangatnya menyala-nyala tetapi tidak jarang juga semangatnya hampir padam. Semua itu berhubungan dengan Roh Kudus yang mendiami hatinya. Ketika dua orang percaya melakukan pelayanan yang sama tetapi dengan semangat yang berbeda bukan berarti Roh Kudusnya berbeda tetapi yang berbeda adalah respon atau keintiman orang percaya tersebut dengan Roh Kudus.
B.     ISI
1.   Beberapa pertanyaan dan pernyataan seputar Roh Kudus.
a.    Dari kalangan Muslim: Siapakah yang dijanjikan Nabi Isa (Yesus) ketika Ia akan terangkat ke sorga?
Menurut mereka bahwa yang dijanjikan oleh Yesus adalah seorang nabi. Kata “Penolong” (Yoh. 14:16) yang dalam bahasa Yunani disebut “Parakletos” yang artinya “Penghibur/Penolong” oleh mereka huruf vokalnya : a, a, e, o diganti dengan e, i, i, o sehingga menjadi “Periklitos” yang artinya “terpuji/yang termasyur” dan kata terpuji dalam bahasa Arab disebut “Ahmad/Mahmud/Muhammad” sehingga dengan yakin mereka mengatakan bahwa yang dijanjikan Yesus itu adalah seorang nabi dan dialah nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad.
Jawaban: Bahasa Ibrani dan Arab adalah bahasa serumpun, dibaca dari kanan ke kiri dan huruf vocal tidak terselip dalam sebuah kata sehingga bunyinya dapat berubah-ubah sesuai konteks. Kalau diambil dalam Bahasa Indonesia misalnya: CWK (bisa di baca “cowok, cewek, cuwek”). Sementara kata dalam Bahasa Yunani (bahasa PB) semua vocal harus ditulis dan membacanya dari kiri ke kanan sehingga kata “Paraketos” tidak dapat ditulis “Periklitos”, dan setelah diteliti sekalipun tidak ditemui kata “Periklitos” di kitab Injil, semuanya menggunakan kata “Parakletos”. Sehingga apa yang dikatakan kaum Muslim menjadi keliru.
b.   Dari kalangan Saksi Yehua: Roh Kudus bukan pribadi, ia hanya tenaga penggerak dan bukan Allah.
Jawaban: Di dalam Allah yang Tunggal/Esa (Ul. 6:4) ada Bapa, Firman dan Roh. Dalam Kej. 1:28 : “Baiklah Kita menjadikan manusia…..”. Kata Kita menunjuk pada Kej. 1:1–3 : Pada mulanya Allah, …..Roh Allah,….. ber-Firman-lah Allah…. Jadi Roh Kudus adalah Roh Allah yang memberi hidup (nafas) kepada setiap makhluk yang diciptakan Allah melalui firmanNya. Kata “Allah” menunjuk pada pribadi Bapa shingga kita panggil Allah Bapa, Kata “Roh” menunjuk kepada Roh Kudus (Roh Allah) dan kata “Firman” menunjuk kepada Firman Allah yang menjadi manusia dalam pribadi Yesus Kristus (Yoh. 1:14). Jadi jika “Roh Allah/Roh Kudus” bukan Allah maka Allah tidak memiliki Roh, demikian juga jika menurut saksi Yehua Yesus (Firman) bukan Allah, Dia hanya ciptaan Allah maka Firman yang mana lagi yang menciptakan Yesus yang adalah Firman itu sendiri. Jadi Roh Kudus adalah Roh Allah yang tak lain Allah itu sendiri.
2.   Perbedaan didiami Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus.
a.       Didiami Roh Kudus artinya adalah suatu momen saat seseorang percaya maka Roh Kudus menjadi materai (mendiami) hatinya (Ef. 1:13, Yoh. 14:17).
b.      Dipenuhi Roh Kudus artinya suatu momen saat seseorang merasakan kuasa Tuhan penuh dalam hidupnya sehingga mampu berkarya untuk Tuhan (Kis. 2:4).
c.       Orang yang didiami Roh Kudus tidak selalu dipenuhi Roh Kudus. Ada kalanya Kuasa Roh itu begitu luar biasa (dahsyat) dalam diri seseorang, misalnya ketika Daud dipilih Samuel maka Roh Kudus berkuasa (mendiami) dalam dirinya (1 Sam. 16:13). Ketika ia dipenuhi Roh Allah ia mampu mengalahkan Goliat, mengalahkan musuh berlaksa-laksa, menari-nari dihadapan Tuhan. Pertanyaannya? Apakah ia penuh Roh Allah ketika mendekati dan mengambil Batsyeba (2 Sam. 11:3 – 4)? Tentu tidak. Apakah saat itu Roh Allah tidak diam (tinggal) dalam dirinya? Roh Allah tetap ada dalam diri Daud tetapi ia lebih menuruti keinginan dagingnya.
3.   Bagimana agar kita dipenuhi Roh Kudus?
a.       Jangan mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30). Ketika kita menanggalkan manusia lama (4:22), dibaharui di dalam roh (4:23), mengenakan manusia baru (4:24) dan membuang segala kejahatan (4:31) serta hidup di dalam kasih (4:32) maka kuasa Roh Kudus akan memenuhi hidup kita.
b.      Jangan padamkan Roh Kudus (1 Tes. 5:19). Ketika kita bersukacita (5:16), tetap berdoa (5:17), mengucap syukur (5:18), menjauhi segala yang jahat (5:22) dan menjaga kekudusan (5:23) serta senantiasa membaca firman (5:27) maka kuasa Roh Kudus akan menyala-nyala dalam hidup kita.
4.    Hasil dipenuhi Roh Kudus. Ketika seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus maka ia akan:
a.       Memiliki karunia (talenta) untuk melayani Tuhan. Misalnya:
Ø  Bezaleel memiliki karunia (keahlian) dalam segala pekerjaan untuk membangun kemah/bait Allah (Kel. 31:2 – 3).
Ø  Yosua diberi kemampuan memimpin bangsa Israel menggantikan Musa (Bil. 27:18), Daud diberi kemampuan untuk menjadi Raja atas Israel mengantikan Saul (1 Sam. 16:13).
Ø  Rasul-rasul dan Paulus memiliki karunia berbahasa Roh (Kis. 2:4,6, 1 Kor. 14:18). Tetapi tidak semua orang percaya dapat berbahasa Roh dan kalaupun ada harus disertai dengan penafsirnya (1 Kor. 14:27), bahkan Paulus sendiri yang bisa berbahasa Roh tidak mengidolakannya (14:19).
b.       Memiliki keberanian memberitakan Firman/kebenaran (Kis. 4:31)
c.       Hidup menghasilkan buah Roh (Gal. 5:16, 22 – 23).
C.     KESIMPULAN
Marilah kita hidup dipenuhi oleh Roh Kudus sehingga hidup kita tidak hanya sekedar menjadi orang percaya yang datang ke gereja, duduk kemudian pulang dan terus berulang samapi kita kembali kepada kekekalan. Tetapi seperti perkataan Rasul Paulus : Tetapi bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja member buah (Fil. 1:21-22). Ingat, Tuhan Yesus pernah marah dan mengutuk pohon ara yang hanya tumbuh tetapi tidak berbuah. Sebab sesungguhnya ketika kita bertumbuh dengan baik maka pasti menghasilkan buah. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

Berjalan Dengan Iman


Thema            : Berjalan Dengan Iman
Nats                : Kej. 12:1-9
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A. PENDAHULUAN
Ketika semua situasi dalam keadaan normal (tidak ada masalah) maka mudah bagi seseorang untuk menyatakan iman percayanya kepada Tuhan. Tetapi ketika situasi tidak menentu atau bahkan cenderung ke arah yang sulit (krisis) maka rasa khawatir, cemas dan takut sering sekali melampaui mengalahkan keimanan seseorang. Apakah orang yang merasa khawatir, cemas dan takut tersebut bukan orang beriman/percaya? Ada kemungkinan memang ia sebenarnya belum mengakui (menerima) kedaulatan Allah dalam hidupnya. Dengan kata lain memang ia belum menerima keselamatan itu sendiri. Tetapi pada banyak kejadian sesungguhnya bukan karena ia belum percaya tetapi kurang di dalam penyerahan hidup kepada Tuhan. Dengan kata lain ia sudah percaya namun sering sekali lebih mengandalkan pikiran dan kekuatannya dalam menghadapi segala sesuatu. Berjalan dengan iman bukan suatu pilihan tetapi keharusan bagi seorang yang percaya kepada Allah. 
B.  ISI
1.      Arti berjalan dengan iman.
a.       Berjalan dengan iman adalah suatu sikap hidup yang mampu memandang jauh ke depan serta dapat melihat sesuatu yang belum terlihat (ay. 4). Abraham sudah melihat tanah perajanjian di matanya. Abraham dipanggil 75 tahun (Kej 12:1-4). 25 tahun setelah janji, Ishak lahir dan umur Abrahan 100 tahun (Kej 21:5). 85 tahun setelah janji, Yakub lahir (Ishak 60 tahun, Kej 25:26). 215 tahun setelah janji, keturunan Abraham mulai jadi orang asing di tanah Mesir-Yakub berumur 130 tahun (Kej 47:9). Saat itu bangsa Israel belum ada karena hanya 70 jiwa yang bersama Yakub (Kej 46:27). 645 tahun setelah janji baru Musa mulai memimpin laskar Israel yang berjumlah 603.550 orang (hanya yang laki-laki berumur 20 tahun ke atas dan mampu berperang) keluar dari Mesir (Kel 12:40-41; Bil 1:46). 685 tahun setelah janji barulah Yosua mulai memimpin laskar Israel memasuki Kanaan-negeri yang dijanjikan kepada Abraham.
b.      Berjalan dengan iman adalah suatu sikap hidup yang mampu mempercayai sesuatu yang mustahil terjadi (15:5-6). Abraham tahu untuk memiliki anak diusia tuanya (isterinya Sarai sudah mati haid) adalah sesuatu yang mustahil namun ia tetap memilih percaya (beriman).
c.       Berjalan dengan iman adalah suatu sikap hidup yang sungguh-sungguh mengakui bahwa Tuhanlah pemilik hidupnya sehingga ia tak berhak atas dirinya dan semua yang ia miliki (22:3, 9, Ayub 1:21). Kalau bukan karena iman Abraham takkan pernah melakukan perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya Ishak.
2.      Cara hidup orang yang berjalan dengan iman.
Setiap orang memiliki cara untuk menjalani hidupnya. Seseorang berkata: “Aku sudah mengikut Tuhan dengan baik tapi hidupku seperti ini saja sementara banyak orang yang tidak mengikut Tuhan tetapi ia bisa sukses”. Pertanyaannya: Apakah anda telah maksimal dalam melakukan sesuatu? Jangan-jangan orang yang anda bilang tidak mengikut Tuhan itu lebih disiplin, rajin, dan pekerja keras dari anda. Dia punya cara dalam hidupnya, jika dia tanpa Tuhan bisa sukses maka seharusnya  anda lebih dari itu.
a.       Taat dengan pimpinaan Tuhan (ay. 4). Orang taat tidak banyak komentar tetapi banyak bertindak. Tuhan berfirman kepada Abraham dan juga kepada Yunus, Abraham taat tapi Yunus lari dari perintah (Yun. 1:1-3)
b.      Percaya saja (15:6).  Seseorang berkata: Tuhan aku percaya janjiMu tapi…….... Aku yakin pertolonganMu Tuhan tapi……… seharusnya seorang percaya berkata: Tuhan aku percaya janjiMu walaupun secara manusia itu mustahil terjadi.
c.       Tenang (22:3). Abraham tahu bahwa Ishak adalah milik Tuhan, jadi baik hidup dan matinya juga adalah milik Tuhan sehingga ia tenang (bisa tidur) walaupun keesokan harinya Isak akan jadi korban bakaran untuk Tuhan.
d.      Menjaga kedamaian (13:8).  Abraham tidak ingin ada masalah antara dirinya dengan Lot sehingga ia memberi pilihan kepada Lot untuk memilih tanah yang ingin ia tempati.
3.      Hasil Perjalanan Iman
a.       Menerima berkat Tuhan (12:2a,b). Abraham menerima berkat Tuhan ketika ia beriman yaitu: menjadi bangsa yang besar (memilki banyak keturunan) dan nama Abraham mashyur sampai hari ini bahkan selamanya (Yahudi, Kristen dan Islam sangat menghormati walaupun dengan cara pandang berbeda).
b.      Menjadi berkat atas dunia (12:2c, 22:18). Secara jasmani bangsa Israel diberkati (diberikan negeri yang kaya madu dan susu (Yos. 5:6) oleh karena iman Abraham walaupun ia sendiri tidak menikmatinya. Bahkan lebih dari pada itu, Iman Abraham menjadi berkat secara rohani bagi seluruh dunia lewat kelahiran Kristus (Mat. 1:1).
C. KESIMPULAN
Berjalan dengan iman bukanlah ungkapan semata tetapi suatu proses perjalanan yang panjang dan berliku. Dibutuhkan suatu sikap yang sungguh-sungguh di dalam menjalaninya, sebab selain berkat Tuhan juga mengizinkan tantangan dan masalah yang selalu dating silih berganti. Bahkan untuk mendapat suatu berkat sering sekali penderitaan dan masalah datang terlebih dahulu. Untuk merasakan manisnya sebuah durian tidak jarang tangan kita terluka, untuk mendapatkan mata air pemuas dahaga di sebuah sumur maka harus di dahului dengan sekop dan cangkul penderitaan. Mari jalani hidup dengan iman sampai kita kembali pada kekekalan. AMIN.   

Thursday, September 20, 2018

Kenaikan Tuhan Yesus


Thema                         : Kenaikan Kristus
Nats                             : Kis. 1:6 – 11
Oleh                            : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.    Pendahuluan
Peristiwa kebangkitan hingga kenaikan Yesus Kristus merupakan satu rangkaian peristiwa yang menjadi dasar iman bagi orang Kristen untuk tetap memiliki satu pengharapan akan hidup yang kekal ketika Ia akan datang kembali sesuai janjiNya. Oleh karena itu, ada pihak yang berusaha untuk mengkaburkan tentang kebangkitan itu sendiri sesuai dengan dusta mahkamah agama yang meminta agar memberi kesaksian bahwa tidak pernah ada kebangkitan, tetapi murid-muridNya yang telah mencuri mayat Yesus agar seolah-olah Ia bangkit seperti yang Ia katakan sebelum kematianNya (Mat. 28:13). Tetapi, faktanya memang Yesus benar-benar bangkit, dan sebelum Ia terangkat ke sorga Ia menampakkan diriNya kepada banyak orang selama 40 hari. Jadi peristiwa kenaikan Yesus ke sorga bukanlah suatu opini atau fiksi seperti yang dikatakan Rocky Gerung tetapi suatu fakta karena ada banyak bukti dan saksinya.

B.     Isi
1.      Beberapa pertanyaan dan peryataan seputar kenaikan Yesus ke Sorga.
Dalam suatu diskusi tentang kenaikan Yesus ada seorang peserta bertanya dan memberi pernyataan (pendapat):
a.       Ketika Tuhan Yesus sampai di sorga maka Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa, berarti di sorga ada berapa tahta (kursi)?
b.      Ketika Yesus akan terangkat ke sorga, siapakah yang berada di sorga?
c.       Ketika Yesus sampai di sorga maka ia mengutus Roh Kudus berarti di sorga tinggal Tuhan Yesus dan Allah Bapa.
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga mungkin sering muncul di benak kita tetapi tidak pernah kita pertanyakan.  
2.      Fakta-Fakta Kenaikan Yesus
a.       Yesus memberitahu kenaikanNya (Yoh. 14:2 – 3)
Yesus selalu memberitahu (menubuatkan) segala sesuatu yang akan terjadi dengan diriNya termasuk kenaikanNya ke sorga.
b.       Ada banyak saksi mata.
Berdasarkan Alkitab kesaksian menjadi sah jika ada 2 atau tiga orang saksi (Ul. 19:15, 1 Tim. 5:19, 2 Kor. 13:1). Ketika Tuhan Yesus terangkat ke Sorga ada 11 murid yang menyaksikannya (Kis. 1:9). Maka saksi tentang kenaikan Kristus lebih dari syarat sahnya suatu kesaksian.
c.       Terjadi pada siang hari (Kis. 1:9)
Tidak ada kata siang yang dicatat, tetapi katika dikatakan awan menutupNya dari pandangan mereka maka jelas kejadian tersebut terjadi di siang hari. Sesuatu yang terjadi di siang hari tentu lebih jelas dan nyata terlihat dari pada di malam hari.
d.      Terjadi di tempat terbuka (Luk. 24:50)
Yesus terangkat ke sorga di bukit Zaitun, daerah Betania sekitar 1,5 km dari kota Yerusalem. Artinya, bahwa kenaikan Yesus Kristus jelas terlihat di alam terbuka sehingga memungkinkan tidak hanya disaksikan oleh rasul-rasulNya tetapi juga oleh orang lain yang berada di sekitarnya.
e.       Roh Kudus mengkonfirmasi (Kis. 2:1 – 4)
Sebelum Yesus naik ke sorga Ia mengatakan bahwa setelah Ia naik ke sorga maka Roh Kudus akan diutus Bapa menyertai setiap orang percaya (Yoh. 14:16)
f.       Disaksikan oleh dua Malaikat Tuhan (Kis. 1:10 – 11)
3.      Tujuan Kenaikan Yesus
a.       Menyediakan tempat bagi orang percaya (Yoh. 14:2)
b.      Untuk datang kembali membawa orang percaya ke sorga (Yoh. 14:3)

C.     Kesimpulan
Jadi, peristiwa kenaikan Tuhan Yesus bukanlah cerita fiktif tanpa bukti tetapi merupakan fakta yang disertai bukti-bukti nyata sehingga tidak dapat disangkal kebenarannya. Andaikata itu hanya sekedar bualan semata maka komunitas Kristen pada zaman itu akan berakhir, tetapi kenyataanya jumlahnya semakin besar dan menjadi pemeluk agama terbesar di dunia sampai hari ini. Biarlah kita sebagai orang Kristen semakin menaruh pengharapan kita kepada Kristus, sehingga kehidupan yang kadang terasa berat tidak membuat kita menjadi lemah, sebab ada satu harapan yang jauh lebih besar dari semua kesusahan yang kita alami saat ini, itulah hidup yang kekal bersama Tuhan Yesus di sorga. AMIN.