Wednesday, September 2, 2020

Pertumbuhan Gereja

Thema             : Pertumbuhan Gereja

Nats                 : Kis. 2:41-47

Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.       PENDAHULUAN

Dari zaman para rasul sampai hari  ini gereja (orang percaya) mengalami pertumbuhan. Gereja sebagai organisasi terus bertumbuh baik secara kuantitas maupun kualitas. Sebuah website (https://www.wartaekonomi.co.id/read10828/inilah-fakta-pertumbuhan-rumah-ibadah-di-indonesia) merilis pertumbuhan gereja di Indonesia (Gereja Katolik bertambah 153% dari 4.934 menjadi 12.473, Gereja Protestan bertambah 131% dari 18.977 menjadi 43.909, sementara islam sebagai agama terbesar pun mesjid hanya bertambah 64% dari 392.044 menjadi 643.843). Data ini menunjukkan bahwa dalam skala nasional gereja mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi. Jika kita melihat dalam konteks GKRI khususnya GKRI Injili Misi Agape juga mengalami pertumbuhan secara kualitas dan kuantitas. Secara kuantitas kita bisa melihat, di tahun 1997 GKRI IMA berdiri di Medan dan dalam rentang 2 dekade (20-an tahun sudah berdiri 4 gereja lokal dan 3 Pos PI). Memang pertumbuhannya tidak secepat gereja-gereja besar lain tetapi sebagai gereja yang tergolong baru (kepemimpinan generasi 1 ke 2) maka GKRI khususnya IMA sudah memperlihatkan eksistensinya sebagai organisai yang mengalami progres ke arah yang lebih maju. Bagaimanakah proses pertumbuhan gereja hari lepas hari? Apakah yang harus dilakukan sehingga terus bertumbuh? Mari belajar!!

B.       ISI

1.      Arti pertumbuhan gereja

Peter wongso mengataan: ”Pertumbuhan gereja adalah “perkembangan dan perluasan tubuh Kristus baik dalam kuantitas maupun kualitas, dalam bentuk yang nampak maupun isinya yang tidak tampak.” Gereja sebagai organisme yaitu kumpulan dari orang-orang percaya, diibaratkan seperti tanaman yang membutuhkan pertumbuhan melalui sari-sari makanan yang diperoleh dari air dan mineral dari dalam tanah yang cukup. 

2.      Pertumbuhan gereja secara kuantitas

a.        Artinya, bahwa gereja baik sebagai tubuh Kristus maupun sebagai organisasi dari waktu ke waktu mengalami peningkatan jumlah jiwa (ay. 41 dan 47). GKRI IMA di mulai dari 1-2 keluarga, selanjutnya bertambah menjadi belasan orang dan hari ini sudah mencapai ±70 jiwa (Padang Bulan Medan), jika dihitung total dengan yang di daerah maka sudah mencapai 500-an jiwa. Jika digabung GKRI seluruh Sumatera bahkan Indonesia maka jumlahnya akan mencapai puluhan bahkan ratusan ribu.

b.      Bagaimana agar bertumbuh secara kuantitas? Sebagaimana seorang marketing memperoleh konsumen demikianlah juga orang percaya harus mencari jiwa. Caranya:

·         Pergi memberitakan Injil (Mat. 28:19)

·         Memuridkan orang yang diinjili (Mat. 28:19)

·         Mengajar para murid (Mat. 28:19)

·         Menjadi berkat bagi orang lain/disukai orang lain (Kis. 2: 47b)

3.      Pertumbuhan gereja secara kualitas.

a.       Artinya, bahwa gereja sebagi tubuh Kristus (orang percaya) dari waktu ke waktu harus mengalami peningkatan kerohanian. Rasul Paulus berkata: ”Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari (2 Kor. 4:16). Dari tahun 1997 sampai hari ini saya tidak pernah dapati asbak rokok di keluarga hamba Tuhan GKRI IMA, ini artinya bahwa sungguh ingin memberi teladan kepada jemaat agar menyadari tubuh ini sebagai bait Allah yang harus dijaga kekudusannya. Beberapa jemaat yg awalnya perokok pun bisa berubah, ini bukti praktis pertumbuhan gereja secara kualitas.

b.      Bagaimana agar bertumbuh secara kualitas? Tidak ada pribadi yang berubah 1800 setelah ia menjadi orang percaya semua adalah proses selama hidup. Rasul Paulus berkata: “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku (Fil. 3:13). Caranya:

·         Memberi diri dibaptis (ay. 41), baik baptis air sebagai lambang terlebih baptis Roh Kudus sebagai bukti kita menjadi orang percaya (Yoh. 1:5)

·         Bertekun dalam persekutuan dan pengajaran (ay. 42a). GKRI membuat ibadah komsel sebagai sarana pemuridan dan pengajaran terhadap jemaat.

·         Bertekun dalam doa (ay. 42b). Baik berdoa secara bersama-sama (ibadah doa puasa) ataupun secara pribadi di rumah masing-masing.

·         Selalu hadir di Bait Allah (ay. 46a). Mencari Tuhan tidak harus pergi ke gereja tetapi orang yang sungguh mencari Tuhan akan hadir di gereja pada waktunya.

·         Melakukan perjamuan kasih/berbagi sesama jemaat (ay. 45 dan 46b).

·         Selalu memuji Allah (ay. 47a). Gantilah lagu “Anak Medan” dengan “Anak Raja”.

C.       PENUTUP

Kuantitas dan kualitas adalah dua sisi yang berdampingan dalam pertumbuhan gereja, kuantitas yang baik harus disertai kualitas yang baik pula jika tidak maka semua hanya tinggal seremoni belaka. Kualitas yang baik akan mendorong kuantitas semakin meningkat. Bicara cepat atau lambat adalah sesuatu yang relatif, tetapi yang pasti Tuhan akan bekerja saat kita sungguh-sungguh dihadapanNya. Ingat bahwa yang menambah jumlah orang percaya adalah Tuhan (ay. 47). Bahwa memberitakan Injil adalah tugas kita tetapi yang membuat seseorang percaya adalah pekerjaan Roh Kudus sehingga bagi kita sendiri tidak ada ruang untuk berbangga hati saat orang percaya oleh pemberitaan kita, sebab semua hanya untuk kemuliaanNya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Friday, August 7, 2020

Hidup Kudus

                                                            Thema            : Hidup Kudus

                                                            Nats                : 1 Pet. 1:13-25

                                                            Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.      PENDAHULUAN

Manusia diciptakan dalam kekudusan, sehingga dikatakan semua amat baik. Artinya, manusia itu merupakan gambar Allah ditengah dunia ini (Kej. 1:27). Tetapi nafsu ingin menyamai Allah (Kej. 3:4) membuat hati manusia menjadi jahat dan lebih mendengar suara iblis dari pada perintah Allah. Rusaklah citra Allah dalam diri manusia sehingga semua yang amat baik (kudus) menjadi ternoda oleh dosa manusia. Namun demikian Allah memulihkan manusia yang telah rusak itu dengan jalan menjadi kutuk di atas salib sehingga manusia kembali kepada posisi yang benar. Sebagai manusia yg telah dikembalikan pada jalur yang benar maka menjaga kekudusan hidup selama di dunia adalah suatu kewajiban. Untuk melaksanakan kewajiban itu dibutuhkan suatu perjuangan yang sungguh-sungguh. Mari terus berjuang menjaga hidup kudus sebagai pribadi yag telah ditebus oleh Tuhan Yesus.

B.      ISI

1.      Arti Hidup Kudus

a.       Kudus

Dalam bahasa Ibrani kudus disebut Qadosh yang artinya “terpisah” atau “tidak bercampur dengan yang lain”.

b.      Hidup kudus berarti:

·         Hidup sebagai umat (bangsa) yang di pisahkan dari bangsa lain (Im. 10:26). Tuhan menetapkan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan.

·         Hidup sebagai pribadi yang telah dipanggil oleh Yesus keluar dari kegelapan kepada terang (ay. 15).

·         Hidup sebagai pribadi yang telah dilahirkan kembali oleh firman Allah yang hidup dan kekal (ay. 24).

2.      Bagaimana proses menjadi pribadi yang kudus?

a.       Kudus dalam arti telah dipisahkan dari maut

·         Allah menetapkan Yesus sebagai jalan keselamatan bagi dunia (Kej. 3:15, 1 Pet. 1:20). Ketika manusia rusak maka Allah merancang keselamatan bagi dunia ini.

·         Allah menebus manusia melalui darah Kristus yang tercurah di Golgota (ay. 18-19).

·         Manusia yang percaya (beriman) akan beroleh keselamatan (ay. 21)

Melalui proses ini manusia terpisah (qadosh) dari kematian kekal (maut).

b.      Kudus dalam arti  sebagai suatu perjuangan hidup benar di hadapan Allah.

Walaupun kit atelah menjadi pribadi yang telepas dari maut oleh darah Kristus, namun dalam menjalani hidup kita masih cenderung melakukan hal yang tidak pantas sebagai orang percaya. Bagaimana agar kita bisa hidup kudus?

·         Waspada (ay. 15). Sebagai manusia yang mewarisi karakter dosa kita masih mungkin jatuh ke dalam dosa sehingga kita harus senantiasa sadar dan berjaga-jaga (1 Pet. 5:8).

·         Taat (ay. 14). Kapan seseorang menjadi pribadi yang taat? Saat kita selalu rindu dengan Firman Allah sebagai makanan rohani kita (1 Pet.2:2, Maz. 119:9).

·         Tidak menuruti hawa nafsu (ay. 14). Bagaimana caranya? Mau dipimpin oleh Roh (Gal. 5:16-17).

·         Takut akan Tuhan (ay. 17). Seorang anak yang takut (menghargai) bapanya akan berusaha melakukan kesalahan sekecil mungkin, demikianlah kita dihadapan Tuhan.

·         Menghargai pengorbanan Yesus (ay. 18-19). Yesus memberikan keselamatan dengan sangat murah bahkan gratis tapi bukan murahan, taruhanya darah yang tertumpah. Ia mengratiskan karena tahu bahwa kita takkan mampu membayarnya. Jadi hargailah kesempatan yang diberikanNya, jika akhirnya pun kita jatuh pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.   

3.      Hasil Hidup Kudus.

Ketika seseorang memilih hidup kudus maka ia akan beroleh keselamatan (2: 2) dan menjadi milik/kepunyaan Allah (2:9-10). Selain itu Tuhan akan mendengar setiap doa dan seruan kita selama hidup di dunia (3:12).

C.      PENUTUP

Hidup kudus bukan ungkapan semata tetapi nyata di dalam perbuatan kita dalam menjalani hari-hari hidup. Karakter dosa akan selalu mengintip dan merongrong saat kita berusaha hidup kudus, jika ingin roh menang atas daging maka peliharalah roh melebihi daging maka kita akan menang. AMIN.


Tuesday, August 4, 2020

Bersandar Pada Tuhan

Thema                 : Bersandar Pada Tuhan

Nats                     : Fil. 4:13

Oleh                     : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Mengapakah setiap tempat duduk pada alat trasportasi memiliki tempat bersandar? Bahkan untuk transpotasi jarak jauh disetting tempat duduk dengan sandaran yang senyaman mungkin, bisa di setel posisinya. Semua itu dilakukan agar dalam menempuh sebuah perjalanan penumpang merasakan suatu kenyamanan. Walaupun perjalanan cukup melelahkan dengan adanya sandaran maka perjalanan masih bisa dinikmati. Demikianlah sesungguhnya hidup di dunia ini. Jika untuk perjalanan dalam hitungan jam pun kita butuh tempat bersandar, tidakkah seharusnya untuk perjalanan hidup yang bisa mencapai tiga per empat abad ini kita seharusnya memiliki tempat bersandar yangkokoh? Banyak orang bersandar kepada kekuatannya, hartanya dan pengertiannya sendiri. Jika itu terjadi pada orang yang tidak percaya maka sesuatu yang wajar, toh memang dia tidak butuh Tuhan. Tetapi jika itu terjadi pada diri orang percaya, tidakkah ia sadar bahwa itu akan membuat hidupnya semakin tak menentu. Bagi orang percaya bersandar pada Tuhan bukan pilihan terakhir dikala tak sanggup lagi tetapi pilihan utama baik dikala situasi aman maupun kelam. Segala sesutu indah pada waktunya, ini bukan bahasa putus asa tetapi bahasa pengharapan akan masa depan bersama Tuhan. Bersama Tuhan kita bisa.

 

B.      ISI

1.       Arti bersandar pada Tuhan

a.       Berserah diri dalam segala situasi (Fil. 4:11-12).

Ungkapan “segala keadaan dan segala hal” menunjukkan bahwa tiada keadaan yang tidak disyukuri rasul Paulus dalam perjalanan hidupnya. Sehingga hampir disemua surat yang ia tulis selalu ada ungkapan :”Aku bersyukur kepada Allah”. Bersyukur dikala kekurangan/kelaparan terlebih saat kelimpahan, bersyukur saat dipenjara terlebih saat di hadapan jemaat, bersyukur dikala ancaman datang terlebih disaat aman. Banyak orang Kristen mengeluh saat situasi kelam padahal ia lupa bersyukur saat situasi aman.  

b.       Berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan (Fil 4:13).

Ungkapan “segala perkara” menunjukkan bahwa tidak ada hal yang tidak diserahkan oleh rasul Paulus kepada Tuhan dikala ia menjalani hidupnya. Banyak orang percaya yang setengah hati dalam berserah diri kepada Tuhan, artinya memang ia menyebut nama Tuhan tetapi lebih cenderung mengandalkan kekuatannya. Sehingga akibatnya selalu hidup dalam kekuatiran.

 

2.       Sikap hidup orang yang bersandar pada Tuhan.

a.       Senantiasa bersukacita (Fil. 4:10).

Rasul Paulus dipenjara dikota Filipi (Fil. 1:3) tetapi tema utama surat Filipi adalah suka cita (Fil. 4:4). Jadi sukacita bukan karena tetapi walaupun. Walaupu dipenjara Paulus tetap bersukacita.

b.       Senantiasa hidup sederhana (Fi. 4:11).

“Bahagia adalah kombinasi rasa cukup dan ucapan syukur”.

c.       Tidak mencari keuntungan sendiri (Fil. 4:17).

Sebagai hamba Tuhan rasul Paulus layak mendapatkan penghidupan dari pelayanan yang ia kerjakan. Ia layak menerima setiap pemberian jemaat. Tetapi pengharapannya bukanlah jemaat tetapi Tuhan, keuntungannya bukalah berkat jasmani semata tetapi keselamatan yang sudah ia terima dari Tuhan.

d.       Senantiasa memuliakan Allah (Fil. 4:20).

Banyak orang tak bersandar kepada Tuhan sukses  luar biasa secara dunia dan sebaliknya tidak jarang orang yang bersandar pada Tuhan kehidupannya secara ukuran dunia tegolong biasa-biasa saja. Tapi Tuhan selalu memakai orang yang biasa dengan caranya yang luar biasa untuk kemuliaan namaNya.

 

3.       Hasil hidup orang yang bersandar pada Tuhan.

a.       Selalu ada kekutaatan dalam menjalani hidup (Fil. 4:13).

Poin utama bagi orang yang bersandar dan mengandalkan Tuhan bukan terpenuhiNya segala keinginan tetapi ada kesanggupan dalam menghadapi segala beban hidup.

b.       Tuhan memenuhi segala keperluan kita (Fil. 4:19).

Tuhan takkan memberikan apa yang kita inginkan tapi akan mencukupkan apa yang kita perlukan. Dialah yang paling tahu apa yang kita perlukan. Sebab kita sering gagal membedakan keinginan dan kebutuhan.

 

C.      PENUTUP

Bersandar kepada Tuhan bukan salah satu pilihan tetapi satu-satunya pilihan untuk mengarungi lautan kehidupan yang senantiasa bergelombang. Bersandar pada Tuhan bukan bermuara pada terpenuhinya semua keinginan tetapi ketika muncul sebuah kekuatan untuk terus bertahan dalam masa-masa kelam kehidupan. Mari pastikan sandaran anda agar sampai pada tujuan akhir kehidupan dengan aman. AMIN.


Thursday, July 30, 2020

Pemutusan Ikatan-Ikatan Dosa

Thema                 : Pemutusan Ikatan-Ikatan Dosa

Nats                       : Roma 3:23

Oleh                      : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.    PENDAHULUAN

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka citra/gambar Allah yang ada di dalam manusia itu menjadi rusak. Sehingga Rasul Paulus berkata bahwa semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Bagaimana agar manusia kembali menjadi pribadi yang segambar dengan Allah? Tidak ada pilihan lain terkecuali Ikatan/Kuasa dosa itu harus diputuskan di dalam nama Tuhan Yesus. Apakah orang yang telah memutuskan kuasa dosa serta merta menjadi pribadi yang sempurna dalam hidupnya dan tidak lagi berbuat dosa? Paulus berkata: “Yang baik yang aku kehendaki, tetapi yang jahat yang jahat yang aku perbuat” (Roma 7:19). Ini menunjukkan bahwa kuasa dosa begitu melekat dalam diri manusia sehingga butuh suatu perjuangan selama hidup untuk melawan kuasa dosa.

B.    ISI

1.       Arti Dosa

a.       Dalam PL dosa dalam bahasa Ibrani disebut “Khata” artinya tidak mengenai sasaran. Sejajar dengan itu dalam PB dosa dalam bahasa Yunani disebut “Hamartia” yang artinya tidak tepat sasaran. Bahwa apa yang dirancang oleh Allah dari semula begitu amat baik, tetapi manusia melenceng dari ketetapan Allah sehingga semua menjadi rusak. Hubungan manusia dengan Allah terputus.

b.       Dalam PL dosa dalam bahasa Ibrani disebut “Shagag” artinya kesalahan atau melakukan penyimpangan. Sejajar dengan itu dalam PB dosa dalam bahasa Yunani disebut “Plano” artinya melakukan perbuatan yang menyimpang dengan perbuatan tercela. Bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka manusia berperilaku menyimpang dalam perbuatan dan cenderung berbuat yang salah.

2.       Makna dan akibat Dosa

a.       Dosa sebagai sesuatu yang tidak tepat sasaran.

Ketika manusia ingin menjadi sama dengan Allah (Kej. 3:4) maka manusia telah keluar dari jalur yang ditetapkan Allah (tidak menuju sasaran Allah). Dan itulah dosa yang sesungguhnya, yaitu tidak mengakui kedaulatan Allah sebagai satu-satunya penguasa khalik langit dan bumi. Hal yang sama dilakukan oleh orang-orang Yahudi ketika menolak Yesus sebagai Tuhan dan menyalibkanNya. Dan hari ini banyak yang menolak Yesus sebagai Tuhan, bahkan oleh mereka yang mengaku sebagai seoran Kristen. Oleh Yohanes dosa ini disebut “dosa yang mendatangkan maut” (1 Yoh. 1:16). Bahwa akibat dari orang yang menolak Allah adalah maut (kematian kekal di neraka).

b.       Dosa sebagai perbuatan yang menyimpang.

Ketika manusia sudah mengakui kedaulatan Allah dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan maka ia sudah memutuskan dosa dalam arti sudah kembali ke jalur yang benar (kembali kepada rancangan Allah). Namun dalam menjalani hari-hari hidup masih ada kemungkinan melakukan dosa dalam arti perbuatan yang menyimpang. Oleh Yohanes itu disebut “dosa yang tidak mendatangkan maut” (1 Yoh. 1:16). Dosa yang demikian membuat hidup jauh dari damai sejahtera, dan mendapat disiplin dari Allah. Misalnya Daud, saat ia jatuh dalam dosa perzinahan maka Allah menghukumnya: Anaknya dengat Betsyeba meninggal, Anaknya Absalom ingin membunuhhnya, Absalom ingin membunuh saudaranya Amnon karena memperkosa Tamar saudara perempuannya. Artinya, bahwa Daud yang diurapi Tuhan mendapatkan disiplin dari Allah saat berbuat dosa.

3.       Cara memutuskan ikatan dosa.

a.       Dosa yang mendatangkan maut.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka Allah menjanjikan suatu masa depan manusia dengan jalan mengutus anakNya yang tunggal ketengah dunia (Kej. 3:15) dan mengorbankan domba untuk menutupi ketelanjangn manusia (Kej. 3:21). Dan semua tergenapi saat firman menjadi manusia (Yoh. 1:14) dan Dialah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Dan semua orang yang menerimanya beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Maka putuslah kutuk dosa melalui kematianNya di atas salib.

b.       Dosa yang tidak mendatangkan maut.

Dosa sebagai suatu kesalahan akan terus menjadi bagian orang percaya sampai kembali kepada kekekalan. Orang sekelas Ayub pun mengutuki hari kelahirannya, Petrus pun masih kerap berseberangan dengan Yesus. Artinya ini adalah suatu perjuangan seumur hidup. Bagaimana agar kita sebagai orang percaya dapat memutus ikatan-ikatan dosa tersebut?

Ø  Tidak bergaul sembarangan (1 Kor. 5:33). Hawa Jatuh karena sembarangan bergaul.

Ø  Mematikan keinginan daging (Rm. 8:13). Dengan jalan mau dipimpin oleh Roh (Gal. 5:18 dan 25) dan menjadikan firman Tuhan sebagai standar hidup (Maz. 119:9).

Ø  Mengingat dan menghargai kesempatan yang diberikan Tuhan (Yoh. 8:11).

Ø  Waspada dengan godaan iblis ( 1 Pet. 5:8)

C.    PENUTUP

Sadarlah bahwa kita manusia yang telah mewarisi karakter dosa yang setiap saat siap menerkam kita. Kita tidak akan pernah langsung berubah total saat menjadi orang percaya. Tetapi kita harus terus mengalami perubahan secara progres menuju kesempurnaan. Mari terus berjuang mengalahkan kebiasaan-kebiasaan buruk di dalam diri kita. Tuhan akan bekerja saat seseorang membuka hati dan memberi ruang untuk tempat Roh Kudus bekerja. Artinya tanpa Tuhan kita tidak mampu dan tanpa kita Tuhan tidak akan berkarya dalam hidup kita.  Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Tuesday, July 21, 2020

Bileam si Tukang Tenung


Thema            : Bileam si Tukang Tenung
Nats                : Bil. 23:23
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.        PENDAHULUAN
Tidak jarang kita mendengar ada orang yang mengalami suatu gangguan penyakit yang secara medis tidak terdeteksi apa yang menyebabkan ia sakit bahkan cek medis tidak bisa menyimpulkan penyakit yang dialami orang tersebut. Sehingga alternatif lain ditempuh oleh orang tersebut untuk beroleh kesembuhan. Dan akhirnya oleh “orang pintar” ia divonis mengalami gannguan oleh karena di santet (ditenung tau diguna-gunai). Jika hal ini terjadi pada orang yang belum percaya maka tidak ada hal yang diherankan. Tetapi sebaliknya jika hal ini menimpa orang yang mengaku sebagai orang percaya maka ada hal yang perlu diselidiki, mengapa itu bisa terjadi. Kita tahu bahwa dibalik santet/tenung/guna-guna ada satu kuasa yang bekerja yaitu kuasa Ibils yang memakai perantara manusia. Bileam adalah salah seorang pelaku tenung yang dicatat dalam Alkitab.
B.        ISI
1.      Bileam dan pekerjaannya
a.       Bileam adalah anak dari Beor dan tinggal di Petor dipinggir sungai Efrat (22:5). Petor adalah suatu daerah di Aram-Mesopotamia yang merupakan kampung halaman Abraham dan Ayahnya Terah. Ada kemungkinan Abraham dan Bileam memiliki hubungan keluarga. Tetapi yang pasti Bileam bukan orang Israel.
b.      Pekerjaan Bileam adalah tukang tenung (22:7). Dia akan menenung, mengutuk/menyerapah seseorang dengan suatu bayaran (22:16-17). Bileam adalah Nabi palsu (2 Pet. 2:15-16).
2.      Keyakinan Bileam
a.       Berdasarkan asal usulnya, sebagaimana Abraham maka Bileam pastilah bukan orang beragama Yudaisme, Kristen apalagi Islam. Agama Abraham dan keluarganya di Ur-Kasdim daerah Aram-Mesopotamia adalah agama Samawi (agama yang turun dari langit). Maka Bileam kemungkinan memilki keyakinan sama dengan Abraham.
b.      Berdasarkan karakter hidupnya maka Bileam bukanlah orang yang percaya sebagaimana Abraham. Mengapa? Bileam tergiur dengan uang/upah menenung (Bil. 22:16-17, 2 Pet. 2:15-16, Yud. 1:11, Why. 2:14)
c.       Berdasarkan pengakuan Bileam seolah-olah ia adalah orang percaya (Bil. 23:6, 24:13). Apakah pengakuan itu serta merta menunjukkan bahwa Bileam orang percaya? No, Bileam sadar diri bahwa Ia takkan pernah bisa melawan Allah untuk mengutuk/menyerapah bangsa Israel. Ia tahu kalau Allah itu Mahakuasa, sebagaimana iblis mengakui Yesus (Mrk. 5:6-7).  Dan sampai akhir hidupnya Bileam tetap tidak bertobat, ia mati dibunuh orang Israel atas perintah Tuhan kepada Musa (Bil. 31:7-8).
3.      Hasil Tenungan Bileam
Berulang kali Balak Raja Moab meminta Bileam untuk mengutuk/menyerapah/menenung bangsa Israel. Sebenarnya Bileam ingin melakukannya demi uang tetapi ia sadar tak mungkin melakukannya sebab Tuhan ada di pihak Israel. Sehingga terbuktilah firman Tuhan yang berkata:
a.       Jika Allah di pihak kita .... (Rm. 8:31)
b.      Roh yang ada di dalam kamu lebih besar dari .... (1 Yoh. 4:4)
c.       Tuhan Allahmu mengubah kutuk menjadi berkat ... (Ul. 23:5).
Artinya, bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya takkan pernah bisa disantet atau ditenung/diguna-gunai. Jadi bagaimana jika ada orang yang mengaku percaya tetapi kena santet? Ada 2 kemungkinan. Pertama, dia sesungguhnya belum orang percaya. Kedua, dia memang orang percaya tetapi lebih bergantung pada diri sendiri sehingga ada celah untuk kuasa iblis mengambil bagian dan Tuhan mengizinkan itu terjadi sebagai disiplin baginya untuk menyatakan kuasanya.
Ketika Bileam tak mampu menenung bangsa Israel maka ia mencari celah (kelemahan) bangsa Israel yaitu nafsu (berzinah, makanan haram, meyembah allah lain, Bil. 25:1-3). Artinya, bahwa musuh terbesar bukan tukang tenung tetapi diri sendiri.
C.        PENUTUP
Orang percaya takkan mengerjakan apa yang dikerjakan Bileam, orang percaya takkan terkena tenung Bileam. Orang percaya takkan mengikut jalan hidup Bileam. Jika ada orang yang terkena tenung Bileam dan hidup menurut jalan Bileam maka ia bukan orang percaya. Dan ingat tenung yang paling mengerikan bukanlah datang dari Bileam tapi dari nafsu yang ada dalam diri orang percaya.