Saturday, October 31, 2020

Hidup Yang Optimis

 

Thema            : Hidup Yang Optimis

Nats                : Nehemia 4:19-20

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.        PENDAHULUAN

Jika semua orang memberikan dukungan serta respon yang positif kepada kita dalam menjalani hidup yang terkadang tidak mudah untuk di jalani maka kemungkinan besar kita akan menjalaninya dengan semangat. Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Sebab dalam pengalaman hidup banyak orang dalam situasi sulit sepertinya orang lain enggan hadir bahkan seandainya ia hadir pun tidak banyak hal yang bisa diharapkan sebab ia sendiri pun datang dengan membawa segudang masalah juga. Yang lebih mirisnya ada orang yang sepertinya berempati (peduli) dengan dengan kondisi kita tetapi jauh didalam hatinya ia malah tersenyum melihat situasi kita bahkan ada yang dengan sengaja mempersulit situasi kita. Memang jika kita berharap pada manusia maka berakhirlah sudah tetapi saat kita menggantungkan harapan kita pada Tuhan maka kita akan temukan jalan. Mari hidup dengan optimis bukan karena kita memiliki teman atau keluarga yang bisa diandalkan. Memang mereka adalah bagian yang tak terpisahkan juga dari hidup kita. Tetapi optimislah karena kita memiliki Tuhan Sang pengatur kehidupan.

B.        ISI

1.      Arti Optimis

a.       Secara praktis

Dalam KBBI optimis adalah: orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal.

b.      Secara Teologis

Ungkapan “Allah kita akan berperang bagi kita” (Neh. 4:20) sedang menyatakan bahwa Nehemia memiliki keyakinan bahwa Tuhan yang akan menolong mereka dalam menghadapi situasi yang sulit. Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Roma :”Jika Allah dipihak kita siapakah lawan kita?” (Rm. 8:31). Uangkapan Nehemia dan Paulus adalah suatu ungkapan yang membakar semangat agar tetap optimis menjalani hidup dalam situasi yang sulit.

2.      Tantangan yang mungkin membuat rasa optimis hilang

a.       Tantangan dari luar (Eksternal).  Ada pihak lain yang menghalangi jalan hidup kita melalui:

·      Kemarahan (4:1). Sanbalat dan saudara-saudaranya marah kepada Nehemia dan orang Yahudi yang ingin membangun kembali tembok Yerusalem.

·      Olok-olokan/ejekan/hinaan (4:1b, 3-4a). Sanbalat dan Tobia mengolok-olok dan menghina Nehemia dan bangsa Yahudi yang akan membangun tembok Yerusalem.

·      Perang dan kekacauan (4:8-9). Sanbalat, Tobia, orang Arab, orang Amon dan orang Asdod ingin memerangi dan mengacaukan pekerjaan pembangunan tembok Yerusalem.

·      Ancaman (6:2 dan 11). Nehemia ditakut-takuti dengan ancaman akan dicelakakan bahkan dibunuh jika terus melanjutkan pembangunan tembok Yerusalem.

·      Fitnah (6:6-7). Nehemia difitnah bahwa pembangunan yang ia lakukan sebagai jalan ingin memberontak dan menjadi Raja atas orang Yahudi.    

b.      Tantangan dari dalam (Internal).

·      Ekonomi yang sulit (5:2-4). Sebagian orang Yahudi ekonominya lemah sehinga harus menggadaikan kebunnya dan meminjam uang demi makan anak dan isterinya.

·      Sesama keluarga tidak saling peduli (5:5). Keluarga yang seharusnya menolong malah menodong. Sesama Yahudi saling gadai (5:3) dan membungakan uang (5:7 dan 11). Kita juga ingat bagaimana Ayub diperlakukan isterinya  sendiri (Ayub 2:9).

3.      Cara hidup pribadi yang optimis.

Seorang yang optimis dalam arti teologis memiliki sikap hidup sebagai berikut:

a.       Tekun dalam doa (1:4, 4:9a). Ketika memulai dan saat mengerjakan pembangunan tembok Yerusalem Nehemia secara pribadi dan bersama-sama orang Yahudi senantiasa berdoa.

b.      Waspada (4:9b). Nehemia dan orang Yahudi selalu berjaga-jaga di sekitar tembok terhadap Sanbalat dan orang-orangnya yang ingin datang mengacaukan.

c.       Tekun bekerja (4:6, 16-18). Nehemia dan orang Yahudi terus mengerjakan pembangunan walau situasinya tidak aman. Ingat pesan rasul Paulus (2 Tes. 3:10).

d.      Takut akan Allah (5:15d). Nehemia yang menjabat bupati pada saat pembangunan tembok Yerusalem tidak mencari keuntungan pribadi karena ia takut akan Tuhan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

4.      Hasil bagi pribadi yang optimis.

Sebuah ungkapan berkata:”Usaha takkan pernah menghianati hasil”. Akan lebih sempurna jika dikatakan:” Doa dan usaha takkan pernah menghianati hasil”. Doa dan kerja keras Nehemia dan bangsa Yahudi sebagai bukti optmisme mereka di hadapan Tuhan membuahkan hasil.

a.       Tembok Yerusalem selesai dibagun (6:15)

b.      Musuh mereka takut dan kehilangan muka/malu (6:16).

c.       Tembok Yerusalem ditahbis/disahkan (12:27).

C.        PENUTUP

Memiliki semangat atau optimisme untuk terus berjuang dalam hidup adalah suatu keharusan, tetapi membangun rasa optimis tanpa menyertakan Tuhan sesunggunya kita sudah merancang kegagalan di masa depan. Ingat, bahwa orang yang merasa mampu tanpa Tuhan adalah orang sombong dan orang yang hanya sekedar bebicara Tuhan tanpa berkarya adalah orang malas. Tuhan Yesus membekati. AMIN.  

Saturday, September 5, 2020

Tak Perlu ke Gereja

 

                                                Thema            : “Tak Perlu ke Gereja”

                                                Nats                : Amos 5:4-6

                                                Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.        PENDAHULUAN

Setujukah anda dengan pernyataan: “Mencari Tuhan tidak harus ke gereja, sebab Tuhan tidak dibatasi oleh gedung gereja, sebab Tuhan ada dimana-mana”. Tuhan tidak dibatasi oleh gedung gereja, ya. Tuhan ada dimana-mana, juga ya. Sebab Tuhan memang lintas ruang dan waktu. Tapi, akankah kita setuju bahwa dengan demikian kita tidak lagi perlu ke gereja untuk bertemu Tuhan? Terlebih dalam situasi pandemi yang tak kunjung normal? Ditambah lagi dengan pesan tegas Amos sang nabi yang tak mau disebut nabi yang melarang umat Tuhan untuk pergi ke “gereja”. Makin komplitlah alasan kita untuk tidak hadir di gereja, bahkan mulut kita bisa jadi berkata: Walaupun saya tak malas ke gereja, saya masih lebih baik dari mereka-mereka yang setiap hari minggu beribadah. Apakah maksud Nabi Amoz melarang umat Tuhan pergi ke “gereja”? Mari kita belajar.

B.        ISI

a.       Adakah Amos melarang umat Tuhan ke gereja?

Secara tersurat tidak ada larangan “jangan ke gereja” dari nabi Amos, tetapi secara tersirat nabi Amos menekankan larangan itu.

·      Janganlah kamu pergi ke Betel (ay. 5a). “Bet” artinya Bait dan “El” artinya Allah, sehingga Betel berarti Bait Allah (gereja pada masa kini). Betel pertama di sebut dalam Kej. 12:8 dimana Abraham mendirikan kemahnya dan memanggil nama TUHAN. Bahkan di Betel Yakub bermimpi melihat malaikat dan Tuhan (Kej. 28:12). Artinya bahwa Betel adalah tempat yang bersejarah.

·      Janganlah pergi ke Gilgal (ay. 5b). Gilgal artinya “Lingkaran Batu”. Gilgal banyak dibahas pada zaman Yosua. Setelah bangsa Israel menyeberang Yordan mereka tiba di Gilgal dan mendirikan kemah di sana dengan menegakkan 12 batu yang diambil dari Yordan sebagai peringatan kepada anak cucu mereka bahwa Tuhan melakukan keajaiban besar dengan mengeringkan sungai Yordan saat mereka menyeberang (Yos. 4:19-23). Artinya bahwa Gilgal adalah tempat Tuhan menyatakan keajaibanNya.

·      Jangan menyeberang ke Bersyeba (ay. 5c). Bersyeba artinya “Sumber air kelimpahan”. Bersyeba pertama di bahas dalam Kej. 21:14, Hagar dan Ismael yang diusir Abraham atas permintaan Sara, mereka kehausan dan hampir mati di padang gurun Bersyeba tetapi Tuhan menunjukkan kuasanNya dengan memperlihatkan sebuah sumur (Kej. 21:19). Artinya bahwa Bersyeba adalah sumber air sebagaimana gereja yang adalah tempat Firman diberitakan.

b.      Apa maksud larangan Nabi Amos tersebut?

·      Tiada guna ke gereja jika perbuatan tetap jahat (Amos 4:4a). Bahwa seharusnya orang yang senantiasa beribadah hidupnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.

·      Tiada guna memberi persembahan jika hati tetap jahat (4:4b-5). Tuhan Yesus juga berpesan, Tinggalkanlah persembahanmu itu dan berdamailah dengan saudaramu (Mat. 5:24).

·      Bahwa di gereja sering nama manusia lebih tinggi dari nama Tuhan ( Amos 7:13). Raja Amazia menganggap dirinyalah Tuhan yang kudus, dialah penguasa di Betel yang harus dihormati.

·      Bahwa gereja sering dijadikan ladang cari makan (Amos 7:12). Baik sebagai hamba Tuhan mungkin juga jemaat, sering sekali menjadikan gereja/pelayanan sebagai tempat untuk mengisi pundi-pundi.  

c.       Sungguhkan Nabi Amos melarang umat Tuhan ke gereja? No, Nabi Amos hanya ingin agar umat Tuhan tahu untuk apa ia mencari Tuhan.

·      Mencari Tuhan untuk hidup (Amos 5:4b dan 5a). Memakai helm bukan menghindari razia tetapi untuk keselamatan. Ke gereja bukan sekedar kewajiban orang Kristen tetapi untuk menemukan kehidupan yang sesungguhnya.

·      Mencari Tuhan untuk ketentraman yang sejati (Amos 6:1). Bergereja bukan sekedar status agar kelihatan orang yang religius(beragama) tetapi untuk beroleh ketentraman(kedamaian) yang sejati. Bahwa banyak orang beragama tetapi sedikit orang yang berTuhan terlebih yang beriman.

C.        PENUTUP

“Mencari Tuhan tidak harus ke gereja, sebab Tuhan tidak dibatasi oleh gedung gereja, sebab Tuhan ada dimana-mana, tetapi orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, ia akan hadir di gereja pada waktunya, sebab ia tahu kapan waktu bertemu Tuhan dirumahNya”. Tuhan Yesus memberkati.Amin.

 

Wednesday, September 2, 2020

Pertumbuhan Gereja

Thema             : Pertumbuhan Gereja

Nats                 : Kis. 2:41-47

Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.       PENDAHULUAN

Dari zaman para rasul sampai hari  ini gereja (orang percaya) mengalami pertumbuhan. Gereja sebagai organisasi terus bertumbuh baik secara kuantitas maupun kualitas. Sebuah website (https://www.wartaekonomi.co.id/read10828/inilah-fakta-pertumbuhan-rumah-ibadah-di-indonesia) merilis pertumbuhan gereja di Indonesia (Gereja Katolik bertambah 153% dari 4.934 menjadi 12.473, Gereja Protestan bertambah 131% dari 18.977 menjadi 43.909, sementara islam sebagai agama terbesar pun mesjid hanya bertambah 64% dari 392.044 menjadi 643.843). Data ini menunjukkan bahwa dalam skala nasional gereja mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi. Jika kita melihat dalam konteks GKRI khususnya GKRI Injili Misi Agape juga mengalami pertumbuhan secara kualitas dan kuantitas. Secara kuantitas kita bisa melihat, di tahun 1997 GKRI IMA berdiri di Medan dan dalam rentang 2 dekade (20-an tahun sudah berdiri 4 gereja lokal dan 3 Pos PI). Memang pertumbuhannya tidak secepat gereja-gereja besar lain tetapi sebagai gereja yang tergolong baru (kepemimpinan generasi 1 ke 2) maka GKRI khususnya IMA sudah memperlihatkan eksistensinya sebagai organisai yang mengalami progres ke arah yang lebih maju. Bagaimanakah proses pertumbuhan gereja hari lepas hari? Apakah yang harus dilakukan sehingga terus bertumbuh? Mari belajar!!

B.       ISI

1.      Arti pertumbuhan gereja

Peter wongso mengataan: ”Pertumbuhan gereja adalah “perkembangan dan perluasan tubuh Kristus baik dalam kuantitas maupun kualitas, dalam bentuk yang nampak maupun isinya yang tidak tampak.” Gereja sebagai organisme yaitu kumpulan dari orang-orang percaya, diibaratkan seperti tanaman yang membutuhkan pertumbuhan melalui sari-sari makanan yang diperoleh dari air dan mineral dari dalam tanah yang cukup. 

2.      Pertumbuhan gereja secara kuantitas

a.        Artinya, bahwa gereja baik sebagai tubuh Kristus maupun sebagai organisasi dari waktu ke waktu mengalami peningkatan jumlah jiwa (ay. 41 dan 47). GKRI IMA di mulai dari 1-2 keluarga, selanjutnya bertambah menjadi belasan orang dan hari ini sudah mencapai ±70 jiwa (Padang Bulan Medan), jika dihitung total dengan yang di daerah maka sudah mencapai 500-an jiwa. Jika digabung GKRI seluruh Sumatera bahkan Indonesia maka jumlahnya akan mencapai puluhan bahkan ratusan ribu.

b.      Bagaimana agar bertumbuh secara kuantitas? Sebagaimana seorang marketing memperoleh konsumen demikianlah juga orang percaya harus mencari jiwa. Caranya:

·         Pergi memberitakan Injil (Mat. 28:19)

·         Memuridkan orang yang diinjili (Mat. 28:19)

·         Mengajar para murid (Mat. 28:19)

·         Menjadi berkat bagi orang lain/disukai orang lain (Kis. 2: 47b)

3.      Pertumbuhan gereja secara kualitas.

a.       Artinya, bahwa gereja sebagi tubuh Kristus (orang percaya) dari waktu ke waktu harus mengalami peningkatan kerohanian. Rasul Paulus berkata: ”Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari (2 Kor. 4:16). Dari tahun 1997 sampai hari ini saya tidak pernah dapati asbak rokok di keluarga hamba Tuhan GKRI IMA, ini artinya bahwa sungguh ingin memberi teladan kepada jemaat agar menyadari tubuh ini sebagai bait Allah yang harus dijaga kekudusannya. Beberapa jemaat yg awalnya perokok pun bisa berubah, ini bukti praktis pertumbuhan gereja secara kualitas.

b.      Bagaimana agar bertumbuh secara kualitas? Tidak ada pribadi yang berubah 1800 setelah ia menjadi orang percaya semua adalah proses selama hidup. Rasul Paulus berkata: “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku (Fil. 3:13). Caranya:

·         Memberi diri dibaptis (ay. 41), baik baptis air sebagai lambang terlebih baptis Roh Kudus sebagai bukti kita menjadi orang percaya (Yoh. 1:5)

·         Bertekun dalam persekutuan dan pengajaran (ay. 42a). GKRI membuat ibadah komsel sebagai sarana pemuridan dan pengajaran terhadap jemaat.

·         Bertekun dalam doa (ay. 42b). Baik berdoa secara bersama-sama (ibadah doa puasa) ataupun secara pribadi di rumah masing-masing.

·         Selalu hadir di Bait Allah (ay. 46a). Mencari Tuhan tidak harus pergi ke gereja tetapi orang yang sungguh mencari Tuhan akan hadir di gereja pada waktunya.

·         Melakukan perjamuan kasih/berbagi sesama jemaat (ay. 45 dan 46b).

·         Selalu memuji Allah (ay. 47a). Gantilah lagu “Anak Medan” dengan “Anak Raja”.

C.       PENUTUP

Kuantitas dan kualitas adalah dua sisi yang berdampingan dalam pertumbuhan gereja, kuantitas yang baik harus disertai kualitas yang baik pula jika tidak maka semua hanya tinggal seremoni belaka. Kualitas yang baik akan mendorong kuantitas semakin meningkat. Bicara cepat atau lambat adalah sesuatu yang relatif, tetapi yang pasti Tuhan akan bekerja saat kita sungguh-sungguh dihadapanNya. Ingat bahwa yang menambah jumlah orang percaya adalah Tuhan (ay. 47). Bahwa memberitakan Injil adalah tugas kita tetapi yang membuat seseorang percaya adalah pekerjaan Roh Kudus sehingga bagi kita sendiri tidak ada ruang untuk berbangga hati saat orang percaya oleh pemberitaan kita, sebab semua hanya untuk kemuliaanNya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Friday, August 7, 2020

Hidup Kudus

                                                            Thema            : Hidup Kudus

                                                            Nats                : 1 Pet. 1:13-25

                                                            Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.      PENDAHULUAN

Manusia diciptakan dalam kekudusan, sehingga dikatakan semua amat baik. Artinya, manusia itu merupakan gambar Allah ditengah dunia ini (Kej. 1:27). Tetapi nafsu ingin menyamai Allah (Kej. 3:4) membuat hati manusia menjadi jahat dan lebih mendengar suara iblis dari pada perintah Allah. Rusaklah citra Allah dalam diri manusia sehingga semua yang amat baik (kudus) menjadi ternoda oleh dosa manusia. Namun demikian Allah memulihkan manusia yang telah rusak itu dengan jalan menjadi kutuk di atas salib sehingga manusia kembali kepada posisi yang benar. Sebagai manusia yg telah dikembalikan pada jalur yang benar maka menjaga kekudusan hidup selama di dunia adalah suatu kewajiban. Untuk melaksanakan kewajiban itu dibutuhkan suatu perjuangan yang sungguh-sungguh. Mari terus berjuang menjaga hidup kudus sebagai pribadi yag telah ditebus oleh Tuhan Yesus.

B.      ISI

1.      Arti Hidup Kudus

a.       Kudus

Dalam bahasa Ibrani kudus disebut Qadosh yang artinya “terpisah” atau “tidak bercampur dengan yang lain”.

b.      Hidup kudus berarti:

·         Hidup sebagai umat (bangsa) yang di pisahkan dari bangsa lain (Im. 10:26). Tuhan menetapkan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan.

·         Hidup sebagai pribadi yang telah dipanggil oleh Yesus keluar dari kegelapan kepada terang (ay. 15).

·         Hidup sebagai pribadi yang telah dilahirkan kembali oleh firman Allah yang hidup dan kekal (ay. 24).

2.      Bagaimana proses menjadi pribadi yang kudus?

a.       Kudus dalam arti telah dipisahkan dari maut

·         Allah menetapkan Yesus sebagai jalan keselamatan bagi dunia (Kej. 3:15, 1 Pet. 1:20). Ketika manusia rusak maka Allah merancang keselamatan bagi dunia ini.

·         Allah menebus manusia melalui darah Kristus yang tercurah di Golgota (ay. 18-19).

·         Manusia yang percaya (beriman) akan beroleh keselamatan (ay. 21)

Melalui proses ini manusia terpisah (qadosh) dari kematian kekal (maut).

b.      Kudus dalam arti  sebagai suatu perjuangan hidup benar di hadapan Allah.

Walaupun kit atelah menjadi pribadi yang telepas dari maut oleh darah Kristus, namun dalam menjalani hidup kita masih cenderung melakukan hal yang tidak pantas sebagai orang percaya. Bagaimana agar kita bisa hidup kudus?

·         Waspada (ay. 15). Sebagai manusia yang mewarisi karakter dosa kita masih mungkin jatuh ke dalam dosa sehingga kita harus senantiasa sadar dan berjaga-jaga (1 Pet. 5:8).

·         Taat (ay. 14). Kapan seseorang menjadi pribadi yang taat? Saat kita selalu rindu dengan Firman Allah sebagai makanan rohani kita (1 Pet.2:2, Maz. 119:9).

·         Tidak menuruti hawa nafsu (ay. 14). Bagaimana caranya? Mau dipimpin oleh Roh (Gal. 5:16-17).

·         Takut akan Tuhan (ay. 17). Seorang anak yang takut (menghargai) bapanya akan berusaha melakukan kesalahan sekecil mungkin, demikianlah kita dihadapan Tuhan.

·         Menghargai pengorbanan Yesus (ay. 18-19). Yesus memberikan keselamatan dengan sangat murah bahkan gratis tapi bukan murahan, taruhanya darah yang tertumpah. Ia mengratiskan karena tahu bahwa kita takkan mampu membayarnya. Jadi hargailah kesempatan yang diberikanNya, jika akhirnya pun kita jatuh pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.   

3.      Hasil Hidup Kudus.

Ketika seseorang memilih hidup kudus maka ia akan beroleh keselamatan (2: 2) dan menjadi milik/kepunyaan Allah (2:9-10). Selain itu Tuhan akan mendengar setiap doa dan seruan kita selama hidup di dunia (3:12).

C.      PENUTUP

Hidup kudus bukan ungkapan semata tetapi nyata di dalam perbuatan kita dalam menjalani hari-hari hidup. Karakter dosa akan selalu mengintip dan merongrong saat kita berusaha hidup kudus, jika ingin roh menang atas daging maka peliharalah roh melebihi daging maka kita akan menang. AMIN.


Tuesday, August 4, 2020

Bersandar Pada Tuhan

Thema                 : Bersandar Pada Tuhan

Nats                     : Fil. 4:13

Oleh                     : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Mengapakah setiap tempat duduk pada alat trasportasi memiliki tempat bersandar? Bahkan untuk transpotasi jarak jauh disetting tempat duduk dengan sandaran yang senyaman mungkin, bisa di setel posisinya. Semua itu dilakukan agar dalam menempuh sebuah perjalanan penumpang merasakan suatu kenyamanan. Walaupun perjalanan cukup melelahkan dengan adanya sandaran maka perjalanan masih bisa dinikmati. Demikianlah sesungguhnya hidup di dunia ini. Jika untuk perjalanan dalam hitungan jam pun kita butuh tempat bersandar, tidakkah seharusnya untuk perjalanan hidup yang bisa mencapai tiga per empat abad ini kita seharusnya memiliki tempat bersandar yangkokoh? Banyak orang bersandar kepada kekuatannya, hartanya dan pengertiannya sendiri. Jika itu terjadi pada orang yang tidak percaya maka sesuatu yang wajar, toh memang dia tidak butuh Tuhan. Tetapi jika itu terjadi pada diri orang percaya, tidakkah ia sadar bahwa itu akan membuat hidupnya semakin tak menentu. Bagi orang percaya bersandar pada Tuhan bukan pilihan terakhir dikala tak sanggup lagi tetapi pilihan utama baik dikala situasi aman maupun kelam. Segala sesutu indah pada waktunya, ini bukan bahasa putus asa tetapi bahasa pengharapan akan masa depan bersama Tuhan. Bersama Tuhan kita bisa.

 

B.      ISI

1.       Arti bersandar pada Tuhan

a.       Berserah diri dalam segala situasi (Fil. 4:11-12).

Ungkapan “segala keadaan dan segala hal” menunjukkan bahwa tiada keadaan yang tidak disyukuri rasul Paulus dalam perjalanan hidupnya. Sehingga hampir disemua surat yang ia tulis selalu ada ungkapan :”Aku bersyukur kepada Allah”. Bersyukur dikala kekurangan/kelaparan terlebih saat kelimpahan, bersyukur saat dipenjara terlebih saat di hadapan jemaat, bersyukur dikala ancaman datang terlebih disaat aman. Banyak orang Kristen mengeluh saat situasi kelam padahal ia lupa bersyukur saat situasi aman.  

b.       Berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan (Fil 4:13).

Ungkapan “segala perkara” menunjukkan bahwa tidak ada hal yang tidak diserahkan oleh rasul Paulus kepada Tuhan dikala ia menjalani hidupnya. Banyak orang percaya yang setengah hati dalam berserah diri kepada Tuhan, artinya memang ia menyebut nama Tuhan tetapi lebih cenderung mengandalkan kekuatannya. Sehingga akibatnya selalu hidup dalam kekuatiran.

 

2.       Sikap hidup orang yang bersandar pada Tuhan.

a.       Senantiasa bersukacita (Fil. 4:10).

Rasul Paulus dipenjara dikota Filipi (Fil. 1:3) tetapi tema utama surat Filipi adalah suka cita (Fil. 4:4). Jadi sukacita bukan karena tetapi walaupun. Walaupu dipenjara Paulus tetap bersukacita.

b.       Senantiasa hidup sederhana (Fi. 4:11).

“Bahagia adalah kombinasi rasa cukup dan ucapan syukur”.

c.       Tidak mencari keuntungan sendiri (Fil. 4:17).

Sebagai hamba Tuhan rasul Paulus layak mendapatkan penghidupan dari pelayanan yang ia kerjakan. Ia layak menerima setiap pemberian jemaat. Tetapi pengharapannya bukanlah jemaat tetapi Tuhan, keuntungannya bukalah berkat jasmani semata tetapi keselamatan yang sudah ia terima dari Tuhan.

d.       Senantiasa memuliakan Allah (Fil. 4:20).

Banyak orang tak bersandar kepada Tuhan sukses  luar biasa secara dunia dan sebaliknya tidak jarang orang yang bersandar pada Tuhan kehidupannya secara ukuran dunia tegolong biasa-biasa saja. Tapi Tuhan selalu memakai orang yang biasa dengan caranya yang luar biasa untuk kemuliaan namaNya.

 

3.       Hasil hidup orang yang bersandar pada Tuhan.

a.       Selalu ada kekutaatan dalam menjalani hidup (Fil. 4:13).

Poin utama bagi orang yang bersandar dan mengandalkan Tuhan bukan terpenuhiNya segala keinginan tetapi ada kesanggupan dalam menghadapi segala beban hidup.

b.       Tuhan memenuhi segala keperluan kita (Fil. 4:19).

Tuhan takkan memberikan apa yang kita inginkan tapi akan mencukupkan apa yang kita perlukan. Dialah yang paling tahu apa yang kita perlukan. Sebab kita sering gagal membedakan keinginan dan kebutuhan.

 

C.      PENUTUP

Bersandar kepada Tuhan bukan salah satu pilihan tetapi satu-satunya pilihan untuk mengarungi lautan kehidupan yang senantiasa bergelombang. Bersandar pada Tuhan bukan bermuara pada terpenuhinya semua keinginan tetapi ketika muncul sebuah kekuatan untuk terus bertahan dalam masa-masa kelam kehidupan. Mari pastikan sandaran anda agar sampai pada tujuan akhir kehidupan dengan aman. AMIN.