Thursday, July 30, 2020

Pemutusan Ikatan-Ikatan Dosa

Thema                 : Pemutusan Ikatan-Ikatan Dosa

Nats                       : Roma 3:23

Oleh                      : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.    PENDAHULUAN

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka citra/gambar Allah yang ada di dalam manusia itu menjadi rusak. Sehingga Rasul Paulus berkata bahwa semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Bagaimana agar manusia kembali menjadi pribadi yang segambar dengan Allah? Tidak ada pilihan lain terkecuali Ikatan/Kuasa dosa itu harus diputuskan di dalam nama Tuhan Yesus. Apakah orang yang telah memutuskan kuasa dosa serta merta menjadi pribadi yang sempurna dalam hidupnya dan tidak lagi berbuat dosa? Paulus berkata: “Yang baik yang aku kehendaki, tetapi yang jahat yang jahat yang aku perbuat” (Roma 7:19). Ini menunjukkan bahwa kuasa dosa begitu melekat dalam diri manusia sehingga butuh suatu perjuangan selama hidup untuk melawan kuasa dosa.

B.    ISI

1.       Arti Dosa

a.       Dalam PL dosa dalam bahasa Ibrani disebut “Khata” artinya tidak mengenai sasaran. Sejajar dengan itu dalam PB dosa dalam bahasa Yunani disebut “Hamartia” yang artinya tidak tepat sasaran. Bahwa apa yang dirancang oleh Allah dari semula begitu amat baik, tetapi manusia melenceng dari ketetapan Allah sehingga semua menjadi rusak. Hubungan manusia dengan Allah terputus.

b.       Dalam PL dosa dalam bahasa Ibrani disebut “Shagag” artinya kesalahan atau melakukan penyimpangan. Sejajar dengan itu dalam PB dosa dalam bahasa Yunani disebut “Plano” artinya melakukan perbuatan yang menyimpang dengan perbuatan tercela. Bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka manusia berperilaku menyimpang dalam perbuatan dan cenderung berbuat yang salah.

2.       Makna dan akibat Dosa

a.       Dosa sebagai sesuatu yang tidak tepat sasaran.

Ketika manusia ingin menjadi sama dengan Allah (Kej. 3:4) maka manusia telah keluar dari jalur yang ditetapkan Allah (tidak menuju sasaran Allah). Dan itulah dosa yang sesungguhnya, yaitu tidak mengakui kedaulatan Allah sebagai satu-satunya penguasa khalik langit dan bumi. Hal yang sama dilakukan oleh orang-orang Yahudi ketika menolak Yesus sebagai Tuhan dan menyalibkanNya. Dan hari ini banyak yang menolak Yesus sebagai Tuhan, bahkan oleh mereka yang mengaku sebagai seoran Kristen. Oleh Yohanes dosa ini disebut “dosa yang mendatangkan maut” (1 Yoh. 1:16). Bahwa akibat dari orang yang menolak Allah adalah maut (kematian kekal di neraka).

b.       Dosa sebagai perbuatan yang menyimpang.

Ketika manusia sudah mengakui kedaulatan Allah dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan maka ia sudah memutuskan dosa dalam arti sudah kembali ke jalur yang benar (kembali kepada rancangan Allah). Namun dalam menjalani hari-hari hidup masih ada kemungkinan melakukan dosa dalam arti perbuatan yang menyimpang. Oleh Yohanes itu disebut “dosa yang tidak mendatangkan maut” (1 Yoh. 1:16). Dosa yang demikian membuat hidup jauh dari damai sejahtera, dan mendapat disiplin dari Allah. Misalnya Daud, saat ia jatuh dalam dosa perzinahan maka Allah menghukumnya: Anaknya dengat Betsyeba meninggal, Anaknya Absalom ingin membunuhhnya, Absalom ingin membunuh saudaranya Amnon karena memperkosa Tamar saudara perempuannya. Artinya, bahwa Daud yang diurapi Tuhan mendapatkan disiplin dari Allah saat berbuat dosa.

3.       Cara memutuskan ikatan dosa.

a.       Dosa yang mendatangkan maut.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka Allah menjanjikan suatu masa depan manusia dengan jalan mengutus anakNya yang tunggal ketengah dunia (Kej. 3:15) dan mengorbankan domba untuk menutupi ketelanjangn manusia (Kej. 3:21). Dan semua tergenapi saat firman menjadi manusia (Yoh. 1:14) dan Dialah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Dan semua orang yang menerimanya beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Maka putuslah kutuk dosa melalui kematianNya di atas salib.

b.       Dosa yang tidak mendatangkan maut.

Dosa sebagai suatu kesalahan akan terus menjadi bagian orang percaya sampai kembali kepada kekekalan. Orang sekelas Ayub pun mengutuki hari kelahirannya, Petrus pun masih kerap berseberangan dengan Yesus. Artinya ini adalah suatu perjuangan seumur hidup. Bagaimana agar kita sebagai orang percaya dapat memutus ikatan-ikatan dosa tersebut?

Ø  Tidak bergaul sembarangan (1 Kor. 5:33). Hawa Jatuh karena sembarangan bergaul.

Ø  Mematikan keinginan daging (Rm. 8:13). Dengan jalan mau dipimpin oleh Roh (Gal. 5:18 dan 25) dan menjadikan firman Tuhan sebagai standar hidup (Maz. 119:9).

Ø  Mengingat dan menghargai kesempatan yang diberikan Tuhan (Yoh. 8:11).

Ø  Waspada dengan godaan iblis ( 1 Pet. 5:8)

C.    PENUTUP

Sadarlah bahwa kita manusia yang telah mewarisi karakter dosa yang setiap saat siap menerkam kita. Kita tidak akan pernah langsung berubah total saat menjadi orang percaya. Tetapi kita harus terus mengalami perubahan secara progres menuju kesempurnaan. Mari terus berjuang mengalahkan kebiasaan-kebiasaan buruk di dalam diri kita. Tuhan akan bekerja saat seseorang membuka hati dan memberi ruang untuk tempat Roh Kudus bekerja. Artinya tanpa Tuhan kita tidak mampu dan tanpa kita Tuhan tidak akan berkarya dalam hidup kita.  Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Tuesday, July 21, 2020

Bileam si Tukang Tenung


Thema            : Bileam si Tukang Tenung
Nats                : Bil. 23:23
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.        PENDAHULUAN
Tidak jarang kita mendengar ada orang yang mengalami suatu gangguan penyakit yang secara medis tidak terdeteksi apa yang menyebabkan ia sakit bahkan cek medis tidak bisa menyimpulkan penyakit yang dialami orang tersebut. Sehingga alternatif lain ditempuh oleh orang tersebut untuk beroleh kesembuhan. Dan akhirnya oleh “orang pintar” ia divonis mengalami gannguan oleh karena di santet (ditenung tau diguna-gunai). Jika hal ini terjadi pada orang yang belum percaya maka tidak ada hal yang diherankan. Tetapi sebaliknya jika hal ini menimpa orang yang mengaku sebagai orang percaya maka ada hal yang perlu diselidiki, mengapa itu bisa terjadi. Kita tahu bahwa dibalik santet/tenung/guna-guna ada satu kuasa yang bekerja yaitu kuasa Ibils yang memakai perantara manusia. Bileam adalah salah seorang pelaku tenung yang dicatat dalam Alkitab.
B.        ISI
1.      Bileam dan pekerjaannya
a.       Bileam adalah anak dari Beor dan tinggal di Petor dipinggir sungai Efrat (22:5). Petor adalah suatu daerah di Aram-Mesopotamia yang merupakan kampung halaman Abraham dan Ayahnya Terah. Ada kemungkinan Abraham dan Bileam memiliki hubungan keluarga. Tetapi yang pasti Bileam bukan orang Israel.
b.      Pekerjaan Bileam adalah tukang tenung (22:7). Dia akan menenung, mengutuk/menyerapah seseorang dengan suatu bayaran (22:16-17). Bileam adalah Nabi palsu (2 Pet. 2:15-16).
2.      Keyakinan Bileam
a.       Berdasarkan asal usulnya, sebagaimana Abraham maka Bileam pastilah bukan orang beragama Yudaisme, Kristen apalagi Islam. Agama Abraham dan keluarganya di Ur-Kasdim daerah Aram-Mesopotamia adalah agama Samawi (agama yang turun dari langit). Maka Bileam kemungkinan memilki keyakinan sama dengan Abraham.
b.      Berdasarkan karakter hidupnya maka Bileam bukanlah orang yang percaya sebagaimana Abraham. Mengapa? Bileam tergiur dengan uang/upah menenung (Bil. 22:16-17, 2 Pet. 2:15-16, Yud. 1:11, Why. 2:14)
c.       Berdasarkan pengakuan Bileam seolah-olah ia adalah orang percaya (Bil. 23:6, 24:13). Apakah pengakuan itu serta merta menunjukkan bahwa Bileam orang percaya? No, Bileam sadar diri bahwa Ia takkan pernah bisa melawan Allah untuk mengutuk/menyerapah bangsa Israel. Ia tahu kalau Allah itu Mahakuasa, sebagaimana iblis mengakui Yesus (Mrk. 5:6-7).  Dan sampai akhir hidupnya Bileam tetap tidak bertobat, ia mati dibunuh orang Israel atas perintah Tuhan kepada Musa (Bil. 31:7-8).
3.      Hasil Tenungan Bileam
Berulang kali Balak Raja Moab meminta Bileam untuk mengutuk/menyerapah/menenung bangsa Israel. Sebenarnya Bileam ingin melakukannya demi uang tetapi ia sadar tak mungkin melakukannya sebab Tuhan ada di pihak Israel. Sehingga terbuktilah firman Tuhan yang berkata:
a.       Jika Allah di pihak kita .... (Rm. 8:31)
b.      Roh yang ada di dalam kamu lebih besar dari .... (1 Yoh. 4:4)
c.       Tuhan Allahmu mengubah kutuk menjadi berkat ... (Ul. 23:5).
Artinya, bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya takkan pernah bisa disantet atau ditenung/diguna-gunai. Jadi bagaimana jika ada orang yang mengaku percaya tetapi kena santet? Ada 2 kemungkinan. Pertama, dia sesungguhnya belum orang percaya. Kedua, dia memang orang percaya tetapi lebih bergantung pada diri sendiri sehingga ada celah untuk kuasa iblis mengambil bagian dan Tuhan mengizinkan itu terjadi sebagai disiplin baginya untuk menyatakan kuasanya.
Ketika Bileam tak mampu menenung bangsa Israel maka ia mencari celah (kelemahan) bangsa Israel yaitu nafsu (berzinah, makanan haram, meyembah allah lain, Bil. 25:1-3). Artinya, bahwa musuh terbesar bukan tukang tenung tetapi diri sendiri.
C.        PENUTUP
Orang percaya takkan mengerjakan apa yang dikerjakan Bileam, orang percaya takkan terkena tenung Bileam. Orang percaya takkan mengikut jalan hidup Bileam. Jika ada orang yang terkena tenung Bileam dan hidup menurut jalan Bileam maka ia bukan orang percaya. Dan ingat tenung yang paling mengerikan bukanlah datang dari Bileam tapi dari nafsu yang ada dalam diri orang percaya.

Friday, June 26, 2020

Murka Allah


Thema            : Murka Allah
Nats                : Roma 1: 18 – 32
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.      PENDAHULUAN
Allah kita adalah Allah yang penuh kasih. Allah yang selalu hadir dalam setiap perjalanan hidup kita. Tetapi sebaliknya Allah kita adalah Allah yang sangat benci dengan dosa, bahkan Ia murka terhadap orang yang selalu hidup dalam dosa. Sejak semula segala sesuatu begitu baik dicipta dan dirancang oleh Allah (kej. 1:31). Tetapi semuanya rusak setelah manusia lebih mendengar suara iblis dari pada suara Allah. Allah yang penuh kasih menyatakan keadilanNya lewat murkaNya kepada manusia. Puncak dari murka Allah ialah saat Ia mengorbankan Anak TunggalNya menjadi ganti atas dosa dunia. Apakah manusia akan tetap di murkai Allah setelah Kristus mencurahkan darahNya di bukit Golgota??
B.      ISI
1.      Mengapa Allah murka kepada manusia?
·      Karena manusia selalu berbuat fasik dan lalim (ay. 18). Allah murka dan mendatangkan air bah pada zaman Nuh karena kejahatan yang begitu besar dilakukan oleh manusia (Kej. 6:5-7).
·      Karena manusia menindas kebenaran dengan kelaliman (ay. 18). Siapakah kebenaran? (Yoh. 14:6). Hanya Yesuslah kebenaran, tetapi banyak orang yang menggantikan Yesus dengan yang lain, misalnya:
Ø  Hati dan pikirannya yang gelap (ay. 21).
Ø  Ilah-ilah lain (ay. 23, 25).
Ø  Kesenangan diri/hawa nafsu/Hedonisme (ay. 26)
·      Karena kemunafikan manusia (ay. 21-22). Manusia “mengenal Allah” dan seolah-olah berhikmat tetapi sesungguhnya tidak pernah sungguh-sungguh menyembah Allah. Mereka tahu hukum Allah tetapi selalu melanggarnya (ay. 32).
2.      Akibat murka Allah.
·      Allah membiarkan manusia dengan pilihan hatinya. Tiga kali dikatakan: Allah menyerahkan mereka …. (ay. 24, 26 dan 28). Artinya Allah sedang berkata: Terserah kaulah manusia!
·      Manusia akan di hukum (ay. 32, 2 : 5). Hukuman itu ada yang bersifat sementara dan kekal.
Ø  Hukum bersifat sementara diakibatkan oleh dosa yang tidak mendatangkan maut (1 Yoh. 5:16). Artinya, bahwa orang percayapun masih mungkin berbuat dosa, dan jika benar ia percaya maka Roh Kudus akan menuntunya untuk memohon ampun. Tetapi dosa yang ia perbuat tetap menerima konskuensi/disiplin dari Allah. Mis: Daud.
Ø  Hukum bersifat kekal diakibatkan oleh dosa yang mendatangkan maut (1 Yoh. 5:16). Ketika manusia tidak mengakui Allah, tidak menerima Allah (menolak Allah), menghujat roh Allah maka pastilah ia bukan anak Allah dan jika ia bukan Anak maka ia tak berhak menerima warisan kerajaan Allah.
3.      Jalan keluar dari murka Allah.
Tidak ada pilihan lain jika ingin terhindar dari murka Allah selain berbalik dan bertobat (2:4). Bertobat dalam 2 hal yaitu:
·      Bertobat menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat (Yoh. 1:12). Dosa mula-mula adalah ketika Adam dan Hawa ingin menjadi sama dengan Allah, artinya mereka ingin menyamai Allah dan tak perlu menerima dan mengakui Allah.
·      Bertobat dari kejahatan yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan kita hari-lepas hari (1 Yoh. 1:9).
C.      PENUTUP
Bahwa Allah kita penuh kasih adalah benar, tapi jangan uji bahwa Ia sabar. Ia sabar karena ingin melihat kita semua selamat. Ingat, bahwa dibalik kasihNya Dia juga punya murka yang besar yang akan  ditimpakan kepada orang yang terkesan melanggar bahkan yang tidak pernah mau mendengar dan mengakui kuasaNya yang besar. Amin.

Hukuman Akibat Kutuk Allah


Thema            : Hukuman Akibat Kutuk Allah
Nats                : Kejadian 3:17
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.
A.      PENDAHULUAN
Sebuah dongeng mengisahkan bagaimana seorang anak yang durhaka akhirnya dikutuk menjadi batu oleh ibunya sendiri karena si anak tidak mengakuinya sebagai ibu kandungnya. Terlepas dari benar tidaknya cerita ini, bahwa perbuatan yang salah akan mendatangkan akibat yang fatal. Cerita ini juga mengingatkan kita bagaimana isteri Lot menjadi tiang garam karena lebih mengikuti keinginan hatinya dari pada mengikuti perintah Allah. Mengapakah seorang anak tidak mengakui ibunya? Mengapakah isteri Lot tidak menuruti perintah Allah? Benar bahwa semuanya begitu amat baik diciptakan oleh Tuhan, tetapi akibat dosa maka semua menjadi terkutuk. Apakah akibat dari kutuk Allah? Bagaimana kita lepas dari kutuk Allah? Mari kita belajar dari Alkitab.  
B.      ISI
1.      Mengapa Allah mengutuk Dunia?
·      Karena manusia ingin menjadi seperti Allah (ay. 4). Memiliki ambisi/keinginan adalah sesuatu yang baik, tetapi saat iblis menumpang dalam keinginan kita maka itu akan berakibat buruk. Kegagalan Iblis menyamai Allah disurga membuat ia dibuang ke bumi dan iblis memperalat manusia untuk meneruskan misi dan ambisinya (Yes. 14:12-16).
·      Karena manusia lebih mendengar suara Iblis dari pada suara Tuhan (ay. 6). Ingat bahwa iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang. Jika kita tidak berhati-hati dan waspada maka kita pun bisa dipengaruhinya (1 Pet. 5:8).
·      Karena manusia bersembunyi/lari dari Allah (ay. 8). Saat manusia berbuat yang jahat di mata Tuhan seharusnya manusia datang kepada Allah dan mohon ampun. 
2.      Akibat Kutuk Allah.
·      Manusia hidup dalam ketakutan (ay. 10). Sampai hari ini semua manusia, bahkan orang percaya pun masih mengalami rasa takut.
·      Binatang/ular menjadi terkutuk (ay. 14). Sebelum manusia berbuat dosa semua damai termasuk manusia dengan binatang bahkan binatang dengan sesamanya. Dan kedamaian itu akan kembali saat Tuhan Yesus datang dan memimpin kerajaan 1000 tahun (Yes. 11:6-8).
·      Manusia (perempuan) mengalami kesakitan saat melahirkan (ay. 16). Bahkan dalam perkembangannya banyak perempuan mengalami penyakit kandungan. Bahkan tidak jarang perempuan menderita oleh karena laki-laki (suaminya) yang tidak bertanggung jawab.
·      Manusia (laki-laki) harus bersusah payah dalam mencari rezeki (ay. 17). Awalnya Adam tak perlu peras keringat memenuhi kebutuhannya, semua sudah disediakan Tuhan. Tetapi dosa membuat semua berubah, bahkan hari-hari ini banyak para suami menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang.
·      Manusia mengalami kematian jasmani (ay. 19). Allah tidak pernah merancangkan kematian bagi manusia tetapi karena dosa maka manusia ditetapkan untuk mengalami kematian (Ibr. 9:27). Kematian pertama dialami oleh Habel (Kej. 4:8).
·      Manusia mengalami kematian rohani (ay. 23). Manusia yang awalnya dekat dengan Allah menjadi jauh. Manusia terpisah dari Allah.
3.      Kelepasan dari kutuk Allah.
Allah begitu marah dengan manusia, tetapi kasihNya melampaui amarahnya yang besar. Setelah Ia mengutuk dunia, maka Ia juga merancangkan masa depan dunia agar terlepas dari kutuk tersebut.
·      Allah menjanjikan Juruselamat bagi dunia yang terkutuk (ay. 15). Yesus datang untuk menghapuskan kutukan tersebut (Gal. 3:13).
·      Allah menutupi ketelanjangan manusia dengan kulit binatang (ay. 21). Artinya Allah mengorbankan/menumpahkan darah domba untuk menebus manusia yang berdosa. Dan Yesus menggenapinya dengan dating sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).
C.      PENUTUP
Allah mengutuk dunia yang IA ciptakan, tetapi Allah tak dapat menyangkal diriNya bahwa IA cinta dengan dunia. Tetapi ingat bahwa ada kalanya ia tidak berkenan lagi untuk ditemui (Yes. 5:6). Pastikan diri kita sudah lepas dari kutuk Allah. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Penginjil Yang Dewasa


Thema            : Penginjil Yang Dewasa
Nats                : Ef. 4:13
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.       PENDAHULUAN
Sebuah ungkapan berbunyi : “Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”. Apa makna ungkapan ini?  Bahwa semua manusia yang hidup akan menjadi tua tetapi tidak semua manusia menjadi dewasa. Idealnya semakin bertambah usia seseorang semakin dewasa pula cara berpikirnya. Dalam konteks kerohanian, seharusnya seseorang yang sudah mengenal Kristus semakin hari hidupnya semakin menyerupai Kristus. Namun tidak jarang kita melihat bahwa seseorang yang sudah cukup lama hidup sebagai pengikut Kristus tetapi kurang dewasa dalam iman dan pengetahuan tentang Allah. Sehingga  Rasul Paulu berkata kepada orang Ibrani: Dari segi waktu seharusnya kamu sudah menjadi pengajar (penginjil), tetapi kenyataannya kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras (Ibr. 5:12). Artinya, bahwa seharusnya sebagai orang yang sudah bertahun bahkan mungkin berpuluh tahun menjadi orang Kristen seharusnya kita sudah dewasa dalam iman dan tidak hanya sebatas menerima pengajaran tetapi mengajar (menginjili) orang lain untuk mengenal Kristus Tuhan.

B.       ISI
1.      Siapakah penginjil?
Penginjil adalah mereka yang menjadi pemberita-pemberita  kabar baik (Injil), Ef. 4:11. Siapakah yang menjadi pemberita kabar baik itu? Banyak yang menganggap bahwa penginjilan adalah adalah tugas para misionaris atau setidaknya mereka yang punya jabatan gerejawi. Jika hari ini kita masih berpikir demikian bertobatlah. Sebab pemberita Injil adalah setiap orang telah dipanggil Tuhan dari kegelapan kepada terang (1 Pet. 2:9). Bahwa sampai hari ini saya belum berhasil membawa orang untuk percaya kepada Tuhan jangan merasa gagal, sebab seseorang menjadi percaya bukan karena kita tetapi  karena pekerjaan Roh Kudus. Tetapi jika sampai hari ini saya belum pernah memberitakan Kristus kepada orang lain maka selidikilah hati anda, apakah memang saya sudah dipanggil dari kegelapan? Sebab Yohanes dan Petrus berkata: Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar (Kis. 4:20). Artinya jika sungguh kita percaya maka mulut kita rindu untuk menceritakan Injil.
2.      Bagaimanakah Penginjil yang dewasa?
·         Memilki Iman dan pengetahuan yang benar tentang Allah (Ef. 4:13)
Iman dan pengetahuan (hikmat) tidak bekerja masing-masing tetapi bekerja bersama sehingga tidak benar bahwa mereka yang beribadah di rumah lebih berhikmat dan mereka yang tetap ke gereja lebih beriman. Yang benar adalah dengan iman dan hikmat aku hadir di gereja dengan iman dan hikmat pula aku beribadah di rumah.  
·         Bertumbuh menyerupai Kristus (Ef. 4:13)
·         Menjadi sama dengan Kristus kita tidak akan pernah bisa, tetapi hidup semakin menyerupai Kristus adalah bukti kita bertumbuh dan semakin dewasa secara rohani. Indikator seseorang bertumbuh hanya satu : hidup berpadanan dengan panggilan Kristus.
·         Berpegang teguh pada kebenaran (Ef. 4:15).
Tidak ada kebenaran di luar Yesus. Artinya bahwa seorang yang telah dewasa maka ia tidak mudah diombang-ambingkan oleh: rupa-rupa angin pengajaran dan permainan palsu manusia yang menyesatkan (ay. 14).
3.      Dampak Penginjil yang dewasa
Ketika kita mejadi dewasa maka :
·         Saling memperlengkapi dalam pelayanan (ay. 12)
·         Terbentuk satu tim pelayan yang solid (ay. 16)
C.        PENUTUP
Menjadi dewasa bukan sebatas menghadirkan kegiatan rohani dalam diri tetapi lebih kepada satunya perkataan dan perbuatan yang didasari Injil Kristus. Tanpa ditahbis oleh gereja pun kita akan menjadi penginjil (Evangelis) saat mulut kita selalu rindu untuk bercerita tentang cintaNYA yang telah menyelamatkan kita. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

Sasaran Pemberitaan Injil


Thema            : Sasaran Pemberitaan Injil.
Nats                : Mat. 9:12-13
Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.


A.       PENDAHULUAN
Sebuah aliran teologi yaitu Teologi Pliralisme berpendapat bahwa kebenaran tidak hanya ada pada salah satu agama, artinya bahwa menurut teologi ini bahwa ada kebenaran di luar agama Kristen. Oleh karena pendapat ini maka ada sebagian orang Kristen berpendapat bahwa tidak perlu lagi melakukan penginjilan, sebab semua orang sudah memiliki agama. Hal ini menyebabkan banyak hamba Tuhan hanya fokus pada pengembangan gereja sebagai organisasi bukan sebagai lembaga misi. Mereka hanya sibuk mengurus gereja dari sisi administrasi tetapi mengabaikan pekerjaan menjangkau jiwa-jiwa yang hidup tanpa tujuan yang pasti. Tentu ini bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Alkitab sebagai pegangan hidup orang percaya.

B.       ISI
1.      Pesan Tuhan tentang pemberitaan Injil.
a.       Menjadikan semua bangsa menjadi murid Kristus (Mat. 28:19).
b.      Orang percaya menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).
c.       Tuhan ingin semua orang diselamatkan (1 Tim. 2:3-4).
Jadi jelas bahwa pesan Kristus tentang pemberitaan Injil ada sebagai tugas setiap orang percaya, sebab seorang yang memiliki agama tidak menjadi jaminan bahwa ia beroleh keselamatan.
2.      Sasaran pemberitaan Injil (Kis. 1:8)
a.       Yerusalem dan seluruh Yudea. Tentu kita sebagai orang percaya tidak pergi ke sana, tetapi yang dimaksudkan untuk konteks hari ini Yerusalem dan Yudea adalah keluarga dan tetangga sekitar kita.
Percakapan Yesus dengan Nikodemus adalah suatu penginjilan kepada tetangga (Yoh. 3:1-2).
Nikodemus seorang ahli agama tetapi ternyata dia tidak mengerti tentang keselamatannya (ay.4). Jadi, sebagai orang percaya mari kita bercerita Injil kepada keluarga dan tetangga kita apapun profesi mereka.
b.      Samaria. Tentu juga kita tidak akan jauh-jauh pergi ke sana. Samaria berarti kita bergerak lebih jauh lagi meninggalkan keluarga dan tetangga untuk memberitakan injil. Kita menjangkau masyarakat yang lebih luas (mis: dilingkungan pekerjaan kita).
Percakapan dengan perempuan Samaria adalah sebuah penginjilan Fenomenal yang dilakukan Yesus. Sebab ratusan tahun orang Yahudi dan Samaria terpisah, berseteru (Yoh. 4:9). Tetapi lewat penginjilan tembok pemisah yaitu kebencian yang berkarat selesai oleh karena Injil Kristus. Lewat penginjilan kaum wanita yang dianggap tidak terlalu penting menjadi berharga, perempuan Samaria dipercaya Tuhan menjadi saksi di kotanya sehingga banyak orang percaya (Yoh. 4:39).
c.       Ujung Bumi. Tentu bumi tidak berujung, sebab berbagai teori mengatakan bahwa bumi ini bulat. Tetapi Paulus telah membuktikannya. Ia pergi ke kota Filipi melayani kepala penjara (Kis. 16:23), pergi ke Atena/Yunani sebagai pemberita Injil Kristus yang disebut Dewa Asing oleh orang-orang Yunani (Kis. 17:18). Paulus menjelajahi banyak tempat dan menulis banyak surat kepada tiap-tiap jemaat yang ia injili. Di abad-abad selanjutnya Bunda Teresia peri ke India, Nomensen pergi ke Indonesia (Tapanuli).
Mari kita memberitakan Injil kepada keluarga, tetangga,  masyarakat, bangsa dan negara kita setidaknya melalui doa-doa kita dan segala sesuatu yang kita miliki.

C.        PENUTUP
Mari beritakan Injil, jangan katakan mulutku tak mampu berbicara. Sebab, Tuhan yang memampukan kita. Jika kita berat mulut, berbicaralah lewat perbuatan kita. Tidak semua orang suka dengan pemberitaan kita tapi semua orang akan suka dengan perbuatan baik kita. Jangan juga katakan, ah nanti aku ditolak dan pemberitaanku tak membuat mereka percaya. Percaya atau tidak bukanlah pekerjaan kita sebab yang membuat mereka percaya adalah Roh Kudus. Tetapi memberitakannya adalah tugas kita sebagai orang percaya. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.