Thursday, June 30, 2022

Kesatuan Gereja

Thema            : Kesatuan Gereja

Nats                : Ef. 4:1-32

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

A.        PENDAHULUAN

Sebuah semboyan yang sangat populer “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya “Walaupun berbeda-beda tetap satu jua”. Bahwa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote kita dipersatukan dalam wadah NKRI. Secara rohani maka kita sebagai orang percaya juga harus selalu menjaga kesatuan gereja, baik sebagai organisasi maupun sebagai pribadi yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidupnya. Sejarah mencatat bahwa banyak terjadi perpecahan di kalangan gereja. Rasul Paulus pernah menegur jemaat Korintus. Kamu berkata: Aku dari golongan Paulus atau aku dari golongan Apolos atau aku dari golongan Kefas. Adakah Kristus terbagi-bagi? (1 Kor. 1:12). Artinya sejak semula perpecahan sudah sering terjadi dikalangan jemaat Tuhan sehingga Paulus dengan tegas menegur jemaat agar hidup dalam kesatuan. Dalam konteks GKRI maka kita sebagai jemaat hendaklah hidup dalam kesatuan sehingga pekerjaan Tuhan semakin berkembang. Mari bersatu untuk maju.  

B.        ISI

1.      Arti Gereja dan Kesatuan Gereja

a.       Gereja dalam bahasa Yunani disebut Ekklesia. Ek artinya keluar dari dan Kaleo artinya memanggil. Jadi Ekklesia (gereja) artinya : Orang-orang yang telah dipanggil keluar dari gelap kepada terang sehingga memiliki pengharapan (Ef. 4:4). Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, …… yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Pet. 2:9).

b.      Kesatuan Gereja adalah suatu usaha yang dilakukan orang-orang yang telah dipanggil keluar dari gelap kepada terang untuk membangun dan memelihara kebersamaan dalam Tuhan (Ef. 4:1-3).

2.      Dalam hal apakah kesatuan gereja harus dijaga?

a.       Satu Tuhan (Bapa, Anak dan Roh Kudus) ayat 4, 5 dan 6.

Bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang esa (ul. 6:4). Walaupun banyak orang yang menyerang doktrin Trinitas (Esa-Tri) yang kita yakini tetapi bagi kita orang Kristen ini adalah suatu ajaran yang fundamental. Kitab Kejadian diawali dengan ajaran Tritunggal. Kej. 1:1-3: Pada mulanya Allah (Bapa)…., Roh Allah (Roh Kudus) melayang-layang…. Ber-Firman-lah Allah…(Yesus adalah Firman Allah yg menjadi manusia, Yoh. 1:14).

b.      Satu iman (ay. 5).

Yaitu iman yang menyelamatkan. Bagaimanakah iman yang menyelamatkan? Sepuluh orang berpenyakit kusta datang kepada Yesus dengan iman (keyakinan) bahwa mereka akan sembuh. Secara jasmani kesepuluh orang itu sembuh tetapi secara rohani hanya satu orang yang beroleh keselamatan (Luk. 17:17-19).

c.       Satu baptisan (ay. 5)

Yesus berkata: “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Baptisan adalah perintah Tuhan Yesus, tetapi tidak ada cara khusus yang diperintahkan, apakah selam, percik, dll. Sebab esensi dari baptisan bukanlah cara atau media yang digunakan tetapi tentang hadirnya Roh Kudus di hati seseorang (Kis. 1:5).

d.      Satu pengharapan (ay. 4)

Yaitu pengharapan akan menerima kemuliaan Allah oleh karena Roh Kudus telah dikaruniakan kepada kita (Rm. 5:2 dan 5). Jika kita melihat hidup hari ini mungkin kita banyak yang kecewa dengan situasi, tetapi jika kita memandang kemuliaan yang akan diberikan kepada kita kelak maka kita akan bermegah dalam penderitaan yang sedang terjadi hari ini.

3.      Bagaimanakah cara menjaga kesatuan gereja?

a.       Memiliki sikap rendah hati (ay. 2). Jangan pernah ada diantara sesama orang percaya merasa dirinya yang paling benar.

b.      Memiliki perkataan yang lemah lembut, sabar dan membangun (ay. 2 dan 29).

c.       Memiliki sikap saling mengasihi dan membantu (ay. 2)

d.      Memiliki sikap yang ramah (ay. 32) dan tidak suka marah (ay. 26).

e.       Memiliki sikap saling mengampuni (ay. 32)

f.        Memiliki sikap yang jujur “Jangan ada dusta diantara kita” (ay. 25).

C.        PENUTUP

Mari kita selalu hidup dalam kesatuan, dalam kesatuan ada kekuatan. Salomo berkata : Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan (Pkh. 4:12). Dengan kesatuan maka berkat Tuhan akan berkelimpahan dalam kehidupan kita (Maz. 133:1-3). Dengan kesatuan maka pekerjaan Tuhan akan semakin berkembang. Mari tetap jaga kesatuan bermsama GKRI rumah kita bersama. Tuhan Yesus memberkati. 

Saturday, June 4, 2022

Metode PI Yesus Saat Ditolak Orang Yahudi

 

Thema            : Metode PI Yesus Saat Ditolak Orang Yahudi

Nats                : Yohanes 10 : 22–39

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.   PENDAHULUAN

Tidak semua orang memiliki respon yang baik dengan apa yang kita katakan kepada orang lain. Ade Armando menjadi korban pemukulan saat ia gencar memberitakan tentang cara beragama yang menggunakan logika dalam konteks Bhineka Tunggal Ika. Dalam konteks pemberitaan Injil pun demikian, bahwa saat injil kita beritakan akan beragam respon orang yang mendengarnya. Mungkin ada yang pura-pura tidak dengar, ada yang langsung meninggalkan, bahkan ada yang menolaknya baik secara halus maupun terang-terangan. Apakah itu menjadi alasan kita untuk berhenti memberitakannya? Tentu tidak. Yesus sendiri tidak jarang ditolak saat memberitakan Injil, tetapi Dia tetap memberitakannya. Mari belajar dari Yesus bagaimana menyikapi penolakan orang lain atas Injil yang kita beritakan.

 

B.   ISI

1.      Cara Yesus menginjili orang Yahudi yang menolak berita injil.

a.       Berjalan mendekati orang Yahudi (ay. 23). Yesus tahu bahwa orang Yahudi hidup dalam kebimbangan menunggu kedatangan Mesias. Banyak orang hidup dalam kebimbangan maka mari kita berjalan menyampaikan berita keselamatan.

b.      Membangun komunikasi dengan orang Yahudi (ay. 24-25). Walaupun berulang kali ditolak tetapi  Yesus tetap membangun komunikasi dengan orang Yahudi.

c.       Menghidari orang Yahudi setelah injil disampaikan (ay. 39-40). Setelah injil diberitakan dan Yesus ingin dilempari (ay. 31 dan 39) maka Ia menghindar. Bahwa ada kalanya kita juga tidak memaksakan secara terus menerus agar orang lain menerima pemberitaan kita. Yesus pun menyuruh para rasul keluar dan mengebaskan debu kaki ditempat dimana injil ditolak (Mrk 6:11). 

2.       Sikap Yesus atas penolakan orang Yahudi terhadap berita Injil.

a.       Tidak memaksakan kehendak (ay. 25-26). Yesus tidak memaksa orang Yahudi untuk percaya dengan berita Injil. Bagi Yesus penolakan orang Yahudi terhadap berita Injil semakin memperjelas bahwa mereka bukan domba. Yesus pernah berkata : Biarkan keduanya (lalang dan gandum) tumbuh bersama sampai waktu menuai (Mat. 13:30).

b.      Tetap tenang (ay. 32). Yesus meminta alasan kepada orang Yahudi mengapa mereka ingin melempariNya dengan batu. Bahwa saat orang menolak berita Injil yang kita sampaikan jangan membuat kita menjadi galau. Bila perlu tanyakan mengapa mereka tidak mau menerima.

3.      Hasil Pemberitaan Injil bagi orang Yahudi

Secara umum orang Yahudi menolak berita Injil. Tetapi lewat pemberitaan yang dimulai oleh Yesus akhirnya ada orang Yahudi yang menjadi percaya. Siapa mereka?

a.        Nikodemus (Yoh. 3:1). Dia awalnya tidak mengerti tentang keselamatan yang disampaikan Yesus (Yoh. 3:4) tetapi setelah Yesus menjelaskan maka ia menjadi percaya. Bahkan ikut menguburkan mayat Yesus (Yoh. 19:39-40).

b.      Kornelius (Kis. 10:22). Seorang perwira Yahudi yang takut akan Alah,tulus hati dan sangat baik.

c.       Akwila (Kis. 18:2). Seorang Yahudi yang menjadi rekan Paulus melayani jemaat di Korintus (Rm. 16:3).

Ini membuktikan bahwa pemberitaan yang kita lakukan takkan pernah kembali dengan sia-sia.

 

C.   PENUTUP

Jangan kecewa jika ada yang tidak mengiraukan bahkan menolak berita injil yang kita sampaikan. Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk mengubah hati orang menjadi percaya sebab itu adalah pekerjaanNya. Tuhan hanya menyuruh kita memberitakannya. Dan saat kita memberitakan injil maka itu sebagai bukti bahwa kita orang percaya yang bertumbuh. Mari mulai dari orang-orang terdekat kita.

Thursday, May 5, 2022

Metode PI “Yesus Dengan 5000 Orang”

Thema           : Metode PI “Yesus Dengan 5000 Orang”

Nats                : Matius 14:13-21

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Sebuah nats berbunyi : Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya (2 Tim. 4:2). Ini adalah sebuah perintah, bahwa kapan dan dimanapun kita sebagai orang percaya wajib memberitakan Injil kepada setiap orang. Yesus yang baru mendengar peristiwa kematian Yohanes Pembaptis sesungguhnya ingin mengasingkan diri. Mengapa? Secara manusia tentulah Yesus sedih atas kematian Yohanes sebab ia yang memproklamirkan pelayanan Yesus lewat sebuah peristiwa di Yordan. Setelah Yesus dibaptis  di Yordan maka Ia memulai pelayananNya di Galilea. Namun rasa sedih dan kehilangan itu tidak menjadi penghalang berita Injil. Ketika Yesus melihat orang banyak maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan. Sebagai orang yang telah menerima keselamatan maka memberitakan Injil adalah suatu kewajiban bagi kita. Apapun masalah yang ada dalam hidup tidak boleh menghalangi kita untuk memberitakan Injil Kristus. Penjara, kelaparan, penyakit, dll. tidak pernah menyurutkan semangat Paulus untuk memberitakan Injil. Namun demikian, kita harus tetap berhikmat dalam menyampaikannya agar berita itu menjadi berkat bagi orang yang mendengarkannya. Mari belajar metode penginjilan dari Yesus.    

 

B.      ISI

Metode Pemberitaan Injil oleh Yesus yang harus kita teladani dan terapkan adalah:

1.      Menyadari bahwa Pemberitaan Injil adalah hal yang utama (ay. 13).

“Setelah Yesus mendengar berita itu, maka menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri”. Bahwa situasi Yesus tidak dalam kondisi baik saat itu, namun orang banyak yang ingin mendengar dan mengikut Dia adalah hal yang paling utama bagi Yesus. Sebagaimana Paulus berkata bahwa memberitakan Injil adalah hutang yang harus ia bayar (Roma 1:14-15).   

2.      Memulai Pemberitaan Injil dengan hati (ay. 14).

“Ia melihat orang banyak maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan”. Jika dasarnya bukan cinta maka berita injil akan terasa hambar, baik bagi pemberita maupun penerima berita. Oleh karena belas kasihnya maka Bunda Teresa meninggalkan Skopje, Makedonia dan pergi ke Kalkuta India sampai meninggal pada September 1997. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk menyatakan kasih Kristus kepada suku terabaikan di Negara tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nomensen. Ia meninggalkan Jerman dan pergi ke Tanah Batak. Bagaimana dengan kita?

3.      Menjadi berkat saat pemberitaan Injil (ay. 14 dan 16)

“dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit”. Bahwa saat Yesus memberitakan Injil, Ia menjadi pembawa kesembuhan bagi orang yang dilayani. “kamu harus memberi mereka makan”. Yesus juga menjadi berkat dengan memberi makan orang-orang yang mendengar berita Injil. Artinya, sembari Injil kita beritakan maka kita harus menjadi berkat. Berkat tidak selalu berbicara materi tetapi lewat kehadiran kita orang lain merasakan damai sejahtera dan sukacita.

4.      Mengandalkan kuasa Allah saat memberitakan Injil (ay. 19).

“Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat”. Yesus dalam kemanusiaanNya mengandalkan kuasa Bapa di sorga untuk memberkati orang-orang banyak yang Ia layani. Mari kita beritakan Injil dengan mengandalkan kuasa Allah. Jangan lelah walau mereka yang mendengar berita itu belum kunjung datang, sebab tugas kita adalah menyampaikan. Roh Kudus yang menuntun mereka pada suatu pertobatan.   

 

C.      PENUTUP

Yesus telah memberi teladan memberitakan Injil. Nomensen dan Bunda Teresa pun telah memberi teladan selanjutnya. Jika hari ini kita percaya itu pun karena ada orang yang memberitakannya. Maka tongkat yang sudah ditangan kita, itulah keselamatan harus kita teruskan kepada orang lain. Janganlah tongkat estafet itu berhenti ditangan kita. Banyak jiwa yang sedang menuju kebinasaan. Mari kita teruskan berita keselamatan yang sudah kita miliki kepada orang berikutnya, sehingga mereka akan teruskan lagi dan lagi. Dan akhirnya dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang percaya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Thursday, April 28, 2022

Wanita Lebih Garang Dari Singa (Ibadah Kaum Bapak Yosua GKRI IMA)

 

Thema           : Waspadalah, wanita lebih garang dari singa !

Nats                : Hak. 14:5-6, 16:9

Oleh                : Pdt. Nelson Sebiring, M. Th.

 

A.      PENDAHULUAN

Semua orang akan berpikir seratus kali untuk melewati sebuah jalan jika disana ada seekor singa yang sering melintas. Mengapa? Karena singa adalah binatang buas yang sangat ganas dan berbahaya.  Adakah mahluk yang lebih ganas dari seekor singa? Ada. Mahluk itu disebut perempuan atau wanita. Pada dasarnya ia adalah mahluk yang lemah secara fisik tetapi oleh karena dosa maka ia menjelma menjadi pribadi yang sangat agresif dan bisa membuat seorang laki-laki tumbang bahkan tergeletak tak berdaya. Oleh karena itu sebelum kita sebagai kaum pria menjadi korban, mari kita kenali dan waspadai mahluk yang penuh dengan peasaan ini. Sebab jika tidak maka kita akan terkesan menjadi DKI (Dibawah Ketiak Isteri) atau menjadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Isteri).

 

B.      ISI

1.      Benarkah wanita lebih garang dari singa?

Wanita lebih garang dari singa bukanlah sekedar ungkapan tetapi fakta yang terjadi di lapangan. Bahwa banyak lelaki yang tumbang oleh karena kegarangan seorang wanita. Misalnya:

a.       Adam tumbang karena Hawa (Kej. 3:6). Tuhan berfirman kepada Adam berkuasalah atas semua binatang dibumi (Kej. 1:28). Adam berkuasa dan menaklukan semua ciptaan termasuk singa. Namun Adam takluk ditangan seorang wanita.

b.      Abraham tumbang karena Sara (Kej. 16:1-2). Firman Tuhan tentang janji keturunan kepada Abraham (Kej. 15:5) diragukan oleh Abraham sehingga mengikuti tawaran Sara.

c.       Isak tumbang karena Ribka (Kej. 27). Isak yang ingin memberkati Esau, oleh Ribka semuanya itu ditukangi dan melakukan penipuan sehingga keluarga menjadi berantakan.

d.      Simson tumbang karena Delila (Hak. 16:9). Simson mampu mengalahkan seekor singa (Hak. 14:5-6). Simson mampu menangkap ratusan serigala (15:4). Namun Simson takluk ditangan seorang wanita.

e.       Daud tumbang karena Betsyeba (2 Sa. 11:2). Daud berhasil menaklukkan Goliat (1 Sam. 17-48-50). Namun ia takluk oleh seorang wanita.

f.        Ananias tumbang karena Safira (Kis. 5:2). “Dengan setahu isterinya….”, berarti bahwa Safira ikut mendorong bahkan mungkin sangat menyetujui agar uang yang seharunya diberikan kepada Tuhan akhirnya mereka gunakan. Bahkan saat Petrus bertanya tentang harga tanah itu dengan yakin Safira menjawab : “Betul sekian” (ay. 8). Padahal ia diberi kesempatan untuk bertobat.        

2.      Sikap seorang laki-laki terhadap wanita yang lebih garang dari singa.

Rasul Pertus berkata bahwa ada singa yang mengaum-aum di sekitar kita dan kita bisa ditelannya (1 Pet. 5:8). Sebelum kita jadi korban keganasannya maka kita harus:  

a.       Selalu waspada (sadar dan berjaga-jaga, 1 Pet. 5:8). Yusuf selalu waspada terhadap isteri Potifar yang terus mengincar.

b.      Lawan dengan iman yang teguh (1 Pet. 5:9). Ada perintah : Hai suami, kasihilah isterimu (Ef. 5:25). Apakah Ayub tidak tahu perintah mengasihi isteri sehingga ia berkata : “Engkau seperti perempuan gila (Ayub 1:9)? Ayub orang percaya (Ayub 1:1). Oleh karena ia percaya (beriman) maka ia melawan iblis yang sedang mempengaruhi isterinya. Mengasihi isteri bukan berarti tetap mengikutinya walaupun sudah menyimpang dari iman.

c.       Menasehati atau menegur isteri (Amsal 27:5). Ingatkan bahwa: Isteri sangat berperan dalam keselamatan suami (1 Kor. 7:16a), berpenampilan seperti wanita yang beribadah (1 Tim. 2:9-10).

d.      Terus mendoakannya (1 Tes. 5:17). Bahwa yang memiliki hati seorang wanita adalah Allah maka Ia yang mampu mengubahkan karakter singa tersebut. Pastilah Ayub terus mendoakan isterinya sehingga akhirnya mereka berdua dipulihkan oleh Tuhan (Ayub 42:10).

 

C.      KESIMPULAN

“Wanita lebih garang dari singa” bukanlah ungkapan kebencian tetapi lebih kepada ungkapan kewaspadaan. Bahwa dari sejak semula wanita menjadi jalan masuk dosa dan ketidakwaspadaan dari seorang laki-laki maka ia ikut menyetujui dosa tersebut sehingga semua yang diciptakan baik menjadi rusak. Maka jika hari ini Tuhan sudah menetapkan kita sebagai pemimpin biarlah kita memimpin isteri dan keluarga kita dengan segala kewaspadaan agar warisan dosa itu tidak terus berkembang. AMIN.   

Monday, April 11, 2022

Kematian Kristus Memerdekakan Kita

 

Thema                  : Kematian Kristus Memerdekakan Kita

Nats                       : Roma 6:10

Oleh                       : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.      PENDAHULUAN

Menjadi orang merdeka adalah kerinduan setiap insan yang hidup. Sebuah ungkapan berbunyi ”Seperti burung dalam sangkar”. Walaupun sangkarnya terbuat dari emas maka ia akan tetap memilih hidup di alam bebas. Sebagai bangsa kita telah medeka secara de yure sejak 17 Agustus 1945 namu secara de facto masih banyak rakyat belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya khususnya dalam bidang ekonomi. Hal yang sama juga terjadi secara rohani, bahwa secara de yure kematian dan kebangkitan Kristus telah memerdekakan manusia dari dosa. Namun secara de facto atau faktanya banyak manusia yang masih hidup di dalam dosa. Biarlah peristiwa Paskah membuat kita semakin sadar tentang posisi kita di hadapan Tuhan. Yang belum merdeka biarlah beroleh kemerdekaan melalui momen Paskah ini dan yang sudah merdeka biarlah semakin bertanggung jawab mengisi kemerdekaannya dengan senantiasa hidup sesuai firman Tuhan.  

 

B.      ISI

1.       Arti kematian Kristus memerdekakan kita.

Ratusan bahkan mungkin ribuan para pahlawan gugur di medan juang demi kemerdekaan bangsa ini. Bahwa kematian mereka tak pernah sia-sia. Hari ini kita hidup tidak sebagai bangsa yang terjajah. Secara rohani, kita memiliki satu pribadi yang rela mati agar kita merdeka. Apakah arti kematian Kristus memerdekakan kita?   

a.       Kematian Kristus membebaskan kita dari belenggu dosa (ay. 2, 10).

Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa maka kita mewarisi karakter dosa dan kematian Kristus di atas salib memutus belenggu dosa tersebut.

b.       Kematian Kristus membuat kita menjadi manusia baru (ay. 6)

Bahwa setiap orang yang menerima Yesus dalam hidupny,a maka manusia lamanya telah turut disalibkan bersama Kristus, sehingga kuasa dosa tidak lagi menguasai tubuhnya.  

c.       Kematian Kristus memberi kita hidup (ay. 8).

Ada sebuah lagu Batak Toba berbunyi :”Tudia ho dung mate ho”. Bahwa semua manusia yang hidup telah ditetapkan untuk mati (Ibr. 9:27). Semua orang yang mati dalam Kristus akan memiliki hidup. “Akulah kebangkitan dan hidup, …..  (Yoh. 11:25).

d.       Kematian Kristus menjadikan kita sebagai hamba kebenaran (ay. 13 dan 18)

Bahwa setiap orang yang telah mati bersama Kristus (mati bagi dosa) maka ia bebas melayani (dipakai) oleh Tuhan sebagai senjata (alat) untuk menyatakan kebenaran.

 

2.       Cara beroleh kemerdekaan melalui kematian Kristus.

a.       Dibaptis di dalam Kristus (ay. 3). Dibaptis dalam hal ini bukanlah sebatas sakramen (seremonial) tetapi lebih kepada beroleh hidup yang baru di dalam Kristus (ay. 4). Idealnya memang orang yang dibaptis (selam, percik atau tuang) adalah mereka yang telah lahir baru, tetapi pada kenyataannya banyak orang dibaptis hanya sekedar seremonial.   

b.       Hidup bagi Allah (ay. 11). Kristus mati untuk dunia (seluruh manusia) tetapi yang beroleh kemerdekaan adalah mereka yang mau hidup bagi Allah. Rasul Paulus berkata :”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Fil. 1:21). Bagaimanakah sikap pribadi yang hidup bagi Allah:

·         Tidak lagi diperbudak dosa (ay. 6,12). Orang percaya masih bisa berbuat dosa (kesalahan) tetapi ia tidak akan terus-menerus melakukan dosa.

·         Menyerahkan diri untuk menjadi alat Tuhan (ay. 13). Hidup ini adalah kesempatan, kesempatan utuk melayani Tuhan.

·         Menjaga kekudusan hidup (ay. 23). Berusaha hidup kudus tidak berarti kita menjadi eksklusif tetapi selalu berusaha hidup benar dan menjadikan firman Tuhan sebagai patron (pegangan/teladan).  

 

3.       Hasil akhir dari kematian Kristus  yang memerdekakan kita.

“Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (ay. 23). Saat seseorang medeka dalam Kristus selama hidupnya akan beroleh sorga saat meninggakan dunia.  

 

C.      KESIMPULAN

Jika ada sebuah kematian yang bermakna maka itu hanyalah kematian Kristus Tuhan kita. Sebab Ia mati bukan karena ajal tetapi karena suatu misi besar bahwa melalui kematian dan kebangkitanNya maka dunia beroleh jalan menuju keabadian. Semua pemimpin agama lahir termasuk Kristus, semua pemimpin agama mati termasuk Kristus tetapi hanya satu pribadi yang bangkit dari kematian, itulah Kristus Tuhan kita. Biarlah kematian dan kebangkitanNya sungguh-sungguh memerdekakan kita. AMIN.