Thursday, March 31, 2022

PI Pribadi “Yesus dengan Penjala Ikan”.

 

Thema            : PI Pribadi “Yesus dengan Penjala Ikan”.

Nats                : Lukas 5:11

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring,M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Salomo berpesan bahwa: Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya seperti buah apel emas di pinggan perak (Amsal 25:11). Artinya bahwa sesuatu yang disampaikan dengan bajik dan bijak akan memberikan hasil yang baik juga. Dalam hal memberitakan Injil kita perlu memperhatikan trik atau metode, sehingga pemberitaan kita itu menjadi berkat bagi orang yang mendengarnya. Apakah pada akhirnya pemberitaan kita itu membuat orang lain datang atau tidak kepada Tuhan, itu bukanlah lagi menjadi tanggung jawab kita. Tanggung jawab kita adalah memberitakannya dengan cara yang baik. Jika akhirnya orang datang kepada Tuhan oleh pemberitaan kita, maka itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Sehingga tidak ada ruang bagi kita untuk menyombongkan diri ataupun merasa gagal dalam pemberitaan Injil. Mari kita belajar dari Yesus  tentang cara menginjil yang baik.

 

B.      ISI

Cara atau trik yang dilakukan Yesus yang harus kita teladani dalam memberitakan Injil.

1.      Memulai pemberitaan saat seseorang sudah menyelesaikan pekerjaannya. “Nelayan-nelayannya telah turun dan membasuh jalanya” (ay. 2). Artinya bahwa sebagai pemberita Injil kita harus belajar melihat situasi. Jika orang yang ingin kita injili sedang sibuk melakukan pekerjaannya maka tunggulah waktu dimana ia sedang santai sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik.

2.      Ikut menjadi nelayan. “….dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ay. 4). Artinya bahwa untuk memulai pemberitaan Injil maka harus dimulai dengan apa yang dimengerti orang yang kita injili. Simon, dkk. adalah nelayan maka Yesus memulai pemberitaan Injil dengan ikut menjadi nelayan sehingga semua berjalan secara alami. Paulus berkata: “Bagi orang Yahudi aku seperti orang Yahudi, bagi orang yang hidup dibawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup dibawah hukum taurat…… supaya sedapat mungkin aku memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1 Kor. 9:20-22).

3.      Menuntun orang untuk mengaku sebagai orang berdosa (ay. 8). Melalui peristiwa tangkapan ikan yang begitu banyak sadarlah Simon, dkk. bahwa yang dihadapan mereka itu adalah Tuhan. Artinya bahwa melalui komunikasi yang kita lakukan maka orang yang mendengar akan sadar bahwa ia orang berdosa yang membutuhkan pengampunan dari Tuhan.

4.      Mengajak orang untuk datang kepada Tuhan. “Mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (ay. 10). Bahwa orang yang sudah mengakui dosanya maka selanjutnya di tuntun (dimuridkan) untuk melakukan hal-hal yang rohani: berdoa teratur, memuji Tuhan dan beribadah bahkan selanjutnya memberitakan injil bagi orang lain.

5.      Menuntun orang untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan. “…mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus”. (ay. 11). Orang yang sudah dimuridkan selanjutnya dituntun untuk mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh. Meninggalkan segala sesuatu bukan berarti bahwa tidak bekerja lagi, tetapi jangan ada sesuatu yang mengikat sehingga tidak datang kepada Tuhan pada waktunya.

 

C.      PENUTUP

Menyampaikan sesuatu yang benar hendaklah dengan cara yang tepat sehingga kebenaran yang disampaikan  dapat menjadi berkat. Akan selalu ada celah bagi kita untuk menyampaikan injil kepada orang lain. Mulailah dengan hal-hal sederhana sampai akhirnya orang lain bisa kita menangkan dan membawanya kepada Tuhan melalui gereja dimana kita berada saat ini. Tuhan Yesus memberkati.

 

Sunday, March 6, 2022

Waspadalah Terhadap Iblis

 

Thema    : Waspadalah Terhadap Iblis

Nats        : Lukas 22:3-6

Oleh        : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.      PENDAHULUAN

Sepanjang kehidupan manusia akan selalu berada dalam sebuah peperangan. Bukan peperangan secara fisik tetapi peperangan rohani. Iblis akan selalu berusaha menghambat seseorang untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Iblis memang tak akan sanggup melawan kuasa Tuhan tetapi setidaknya ia akan terus berusaha menghambat orang-orang datang kepada Tuhan. Ia akan berusaha untuk menghambat orang-orang percaya bertumbuh maksimal sehingga pekerjaan Tuhan pun menjadi lamban. Jika tidak waspada maka kita bisa menjadi korban keganasan setan yang bisa memakai segala cara dan memakai siapa saja untuk menghambat kita bertumbuh di dalam Tuhan. Mari kita waspada terhadap malaikat yang sudah memberotak dan dibuang Tuhan dari sorga itulah Bintang Timur Putra Fajar.

B.      ISI

1.      Bagaimanakah cara kerja iblis?

a.       Bekerja melalui hati (ay. 3a). “ Maka masuklah iblis ke dalam Yudas”.  Hal yang sama juga terjadi pada Ananias. Petrus berkata :”Ananias, mengapa hatimu dikuasi iblis…” (Kis.5:3). Artinya iblis bekerja melalui hati Yudas dan Ananias untuk merancang suatu kejahatan.

b.      Bekerja melalui kelemahan kita (ay. 5). “…bermufakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya”. Yudas adalah pribadi yang silau dengan uang. Yudas sering mengambil uang kas yang ia pegang (Yoh. 12:6). Iblis memakai kelemahan ini untuk meghancurkan Yudas. Ananis dan Safira juga binasa karena uang. Daud rontok karena nafsunya.

2.      Siapakah yang dipakai iblis ?

Jika orang yang dipengaruhi untuk menghambat pertumbuhan iman Kristen adalah mereka yang berada diluar orang-orang Kristen adalah sesuatu yang normal. Tetapi yang sering terjadi bahwa iblis sering memakai orang-orang Kristen itu sendiri. Siapakah mereka?

a.       Murid Yesus (ay. 3).  Yudas dipengaruhi Iblis untuk menghambat pelayanan Yesus. Petrus pun dipengaruhi Iblis untuk menjadi batu sandungan dalam pelayanan Yesus (Mat. 16:23). Saul Raja Israel pertama pilihan Tuhan pun menggunakan jasa iblis melalui wanita petenung (1 Sam. 28:7).

b.      Hamba Tuhan (ay. 4). Para imam kepala dan kepala pengawal bait Allah bekerja sama dengan Yudas untuk menghambat bahkan mengakhiri pelayanan Yesus. Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Amazia yang mengusir nabi Amos yang bernubut bagi Bangsa Israel di Betel (Am. 7:12). Selain hamba Tuhan, iblis juga sering memakai anak-anak hamba Tuhan atau anak-anak orang percaya untuk membuat pekerjaan Tuhan terhambat. Membuat pertumbuhan iman orang tua macet. Eli adalah orang percaya bahkan seorang Imam Besar tetapi anak-anaknya jahat dimata Tuhan (1 Sam. 2:11-12, 22). Hal yg sama juga dialami oleh seorang Ayub. Isterinya yg seharusnya mendukungnya melayani Tuhan tetapi sebaliknya menyuruh dia untuk mengutuki Tuhan (Ayub 2:9)

3.      Dimanakah Iblis bekerja?

Jika iblis berkeliaran di bar, kafe, ditempat remang-remang adalah hal yang normal. Tetapi faktanya iblis bekerja dan berkeliaran di rumah Tuhan.

a.       Iblis hadir mengacau di bait Allah (ay. 4). Yudas merancangkan kejahatan bersama para imam di bait Allah (gereja). Yudas menerima uang sogok di bait Allah. Imam Amazia mengadu domba orang Israel dengan Amos di Betel/Bait Allah (Am. 7:10).

b.      Iblis hadir ditengah persekutuan orang percaya (Luk. 22:21). Yudas hadir dalam perjamuan Paskah, mengikuti perayaan Paskah. Ikut makan roti dan minum anggur. Dengan kata lain iblis ikut “mengakui dosa“ dihadapan Tuhan.

4.      Bagaimana cara melawan Iblis?

a.       Jangan pernah menyetujui tawaran iblis (ay. 6). Jika iblis menawarkan atau meminta kita untuk melakuakan keinginannya lawanlah dia dengan iman yang teguh (2 Pet. 5:9).

b.      Jangan pernah beri kesempatan kepada iblis (ay. 6). Saat Hawa memberi ruang bagi iblis maka akhirnya ia jatuh ke dalam dosa. Tetapi saat Yusuf menutup ruang bagi Iblis maka ia tak jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan isteri Potifar.

C.      PENUTUP

Iblis akan selalu bekerja sampai dunia ini berakhir, maka jangan pernah menyetujui dan memberi kesempatan bagi iblis untuk mengambil bagian dalam hidup kita. Dan selalu andalkan Tuhan dalam segala hal. Lawanlah dia dengan iman yang teguh maka ia akan lari dari padamu. Selamat berperang melawan iblis yang ada disekitar kita. Ingat bahwa iblis itu dapat menyamar seperti malaikat terang. Waspadalah, waspadalah. Tuhan Yesus memberkati. Amin.






Donasi Untuk Pengembangan Pelayanan. 
No. Rekening BNI : 0330445252 (Cabang Medan)

Nama : Bpk NELSON

Wednesday, March 2, 2022

Kepribadian Penginjil Tentang Keselamatan

 

Thema   : Kepribadian Penginjil Tentang Keselamatan

Nats       : Roma 5:1-11

Oleh       : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.      PENDAHULUAN

Mungkinkah seseorang yang belum menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya mengajarkan tentang berbuat baik? Sangat mungkin, bahkan yang tidak pernah ke gereja pun bisa mengajarkan tentang moral yang baik kepada orang lain. Mungkinkah seseorang yang belum menerima Yesus sebagai Juru Selamat mengajak orang lain untuk menerima Yesus ? Yesus berkata: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” (Luk. 6:39). Kita semua diharapkan sebagai pemberita kabar baik (Injil) bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat satu-satunya yang dengan pasti menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya. Namun sebelum kita memberitakannya maka kita sendiri haruslah sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat dan mengerti tentang konsep keselamatan itu sendiri. Mari kita pelajari tentang bagaimana  keselamatan di dalam Yesus sebelum memberitakannya kepada orang lain.    

 

B.      ISI

1.       Kepribadian penginjil tetang konsep keselamatan sebelum memberitakan kepada orang lain.

a.       Memiliki pengetahuan yang benar bahwa keselamatan itu pasti (ay. 9-10).

Seorang penginjil jangan pernah memberitakan bahwa keselamatan itu “mudah-mudahan(insyaallah) tetapi pasti. Dalam ilmu Probability (peluang) ada 3 jenis peristiwa. Kemustahilan (peluangnya 0%), kemungkinan (peluangnya diantara 0%-100%) dan kepastian (peluangnya 100%). Bagi orang orang percaya keselamatan itu 100%.

b.       Memiliki pengetahuan yang benar bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan (ay. 8).

Semua ajaran agama (kecuali Kristen) mengajarkan bahwa keselamatan itu diupayakan oleh manusia. Tetapi Kristen mengajarkan bahwa keselamatan itu datang dari pihak Allah. Karena kasihNya maka Ia datang mencari manusia. Saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa maka Allah sendiri datang mencari mereka (Kej.3:9).

c.       Memiliki pengetahuan yang benar bahwa manusia selamat hanya karena iman (ay.1).

Semua ajaran agama (kecuali Kristen) menekankan bahwa manusia harus berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya agar beroleh keselamatan. Tetapi Kristen mengajarkan bahwa untuk selamat orang Kristen hanya bermodalkan iman (percaya) kepada Tuhan. Paulus berkata kepada jemaat di Efesus bahwa keselamatan hanya oleh karena iman, bukan hasil usaha, bukan hasil pekerjaan (Ef. 2:8). Jadi tidak perlukah orang Kristen berbuat baik? Tidak, jika itu untuk maksud beroleh keselamatan. Tetapi sebagai bukti bahwa ia orang yang telah diselamatkan, berbuat baik itu adalah keharusan dan itu terjadi secara otomatis.   

d.       Memiliki pengetahuan yang benar bahwa keselamatan adalah sekali untuk selamanya (6:10-11). Bahwa seseorang menerima Kristus (mati bagi dosa) itu hanya terjadi sekali saja. Orang yang sudah menerima Kristus masih mungkin berbuat dosa (kesalahan) tetapi itu takkan pernah membatalkan keselamatan yang sudah ia terima. Sebab ada sebuah jaminan itulah meterai Roh Kudus (2 Kor. 1:22, Ef. 1:13).

2.       Kepribadian penginjill tentang bukti keselamatan telah menjadi milik seseorang. Dalam memberitakan keselamatan seorang penginjil harus menyampaikan bahwa saat seseorang diselamatkan maka ia akan:

a.       Bangga (bermegah) beroleh kasih karunia (ay. 2). Mengapa bangga? Karena memilki pengharapan menerima kemuliaan Allah. Menerima piala dari Kepala Desa saja kita bangga, apalagi menerima mahkota dari pencipta langit dan bumi.

b.       Bangga (bermegah) dalam kesengsaraan (ay. 3). Sengsara kok bangga? Bahwa melalui penderitaan akan semakin memurnikan kita, membuat kita semakin tekun. Dan ketekunan membuat kita menjadi tahan uji (ay. 4).

c.       Bangga (bermegah) sebagai pengikut Kristus (ay. 11). Mengapa bangga? Karena bisa membawa damai bagi dunia. Ketika manusia berdamai dengan Allah maka ia sendiri akan membawa damai bagi dunia.

d.       Sadar sebagai orang lemah, durhaka dan berdosa (ay. 6 dan 8). Oleh karena lemah maka kita butuh Tuhan untuk menguatkan. Karena durhaka maka kita butuh darah Kristus menyucikan. Karena berdosa maka kita butuh pengampunan dan kasih karunia Tuhan.

 

C.       PENUTUP

Dengan memastikan telah menjadi pribadi yang beroleh keselamatan dan memiliki pemahaman yang benar tentang keselamatan serta bisa memberi dan menyampaikan bukti seseorang yang telah diselamatkan maka kita sudah memiliki modal yang cukup untuk melangkahkan kaki memberitakan Injil. Tetapi mulailah semua dengan doa agar Tuhan memberi keberanian dan menyiapkan tuaian-tuaian sebagai sasaran pemberitaan Injil keselamatan. Mari beritakan selagi ada kesempatan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.  

Sunday, February 20, 2022

Ekspresi Iman

 

Thema            : Ekspresi Iman

Nats                : Roma 10:8-10

Oleh                : Pdt.Nelson Sembiring, M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Ketika kita beriman kepada Allah maka itu harus dinyatakan sehingga iman itu menjadi hidup. Bagaimanakah kita menyatakan iman kita? Banyak tokoh Alkitab menyatakan imannya kepada Allah dengan caranya masing-masing. Habel menyatakan imannya lewat persembahan terbaiknya kepada Allah. Nuh menyatakan imannya dengan taat membuat bahtera. Abraham menyatakan imannya dengan pergi meninggalkan kampung halamannya memenuhi panggilan Allah. Karena iman Musa lebih memilih menderita bersama umat Allah dari pada menjadi anak puteri Firaun. Demikian juga tokoh-tokoh yang lain menyatakan imannya kepada Tuhan. Artinya seorang yang beriman kepada Allah akan menyatakan atau mengekspresikan imannya dengan suatu tindakan nyata. Mari ekspresikan iman kita sehingga menjadi berkat bagi orang lain.

 

B.      ISI

1.      Dasar kita mengekspresikan iman kepada Allah. Kapankah seseorang bisa mengekspresikan atau menyatakan imannya kepada Allah?

a.       Saat seseorang dekat dengan Allah (ay. 8). “Firman itu dekat kepadamu”. Bahwa saat seseorang dekat dengan firman, baik firman dalam arti perkataan (Rhema) maupun firman sebagai pribadi Yesus Kristus (Logos) maka ia akan mampu mengekspresikan imannya.

b.      Saat seseorang percaya kepada Allah (ay. 9). “dan percaya dalam hatimu”. Saat seseorang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan maka ia akan mampu mengekspresikan imannya.

c.       Saat seseorang telah dibenarkan (ay. 10). “dan dibenarkan”. Bahwa saat seseorang dibenarkan (diampuni dosanya) akan mampu mengekspresikan imannya. Ekspresi orang yang berdosa (bersalah) akan jelas berbeda dengan mereka yang sudah dimaafkan (diampuni) kesalahannya.

 

2.      Cara orang percaya mengekspresikan iman. Saat kita dekat dengan Allah, percaya dan dibenarkan oleh Allah maka maka itu akan terlihat dari cara hidup kita.

a.       Rindu memberitakan firman (ay. 8). “Itulah firman iman, yang kami beritakan”. Rasul Paulus mengekspresikan imannya dengan senantiasa memberitakan firman Tuhan. Ada 14 kitab yang ditulis Rasul Paulus kepada berbagai jemaat yang ia layani. Inilah ekspresi iman orang percaya.

b.      Mengakui Yesus sebagai Tuhan (ay. 9). “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan”. Banyak orang memiliki identitas (KTP) Kristen tetapi enggan mengakui Yesus sebagai Tuhannya dihadapan orang lain. Bahkan hanya karena pekerjaan, perkawinan, dll. mereka tak lagi mengakui Yesus Tuhan. Orang percaya harus mengskspresikan imannya dengan mengakui dihadapan orang lain bahwa Yesus adalah Tuhannya.

c.       Senantiasa berseru memanggil nama Tuhan (ay. 13). “Barangsiapa berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan”. Orang percaya akan mengekspresikan imannya dengan memanggil nama Tuhan melalui pujian (yg biasa bernayayi “Anak Medan” akan berganti “Aku anak Raja”) dan memanggil Tuhan di dalam doanya.      

 

C.      KESIMPULAN

Mari ekspresikan iman kita kepada Tuhan, sebab iman tanpa ekspresi (perbuatan) adalah iman yang mati. Iman yang mati bukanlah iman yang menyelamatkan. Semua saksi-saksi iman mengekspresikan imannya dengan suatu tindakan atau perbuatan sehingga mereka beroleh keselamatan dan pengalaman iman mereka menjadi berkat bagi banyak orang. Biarlah kita menjadi saksi-saksi iman berikutnya yang akan dikenang orang walaupun tidak tercatat dalam sejarah dunia. Mari ubah dunia dengan memulai dari diri kita. Tuhan Yesus memberkati.

Monday, February 14, 2022

AADI?

 

Thema            : AADI?

Nats                : 1 Tim.4 : 8

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.      PENDAHULUAN

Yosua berkata : Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (Yos. 24:15). Paulus berkata kepada orang-orang Ibrani : Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita (Ibr. 10:25). Daud berkata : Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar (Maz. 2:11). Ada apa dengan ibadah (AADI)? Sehingga Yosua, Paulus dan Daud menyerukan untuk beribadah kepada Tuhan. Ada apa dengan ibadah (AADI)? Sehingga gereja sebagai organisasi membuat jadwal ibadah dan menghimbau jemaat untuk menghadirinya. Tentu ibadah bukan hanya sekedar kegiatan berkumpul tetapi lebih dari itu ibadah memiliki makna yang penting dalam perjalanan kehidupan umat manusia. Mari kita terus beribadah kepada Tuhan.

 

B.      ISI

1.      Arti Ibadah.

a.       Ibadah adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai anggota keluarga Allah ( 1 Tim. 3:15-16). Jika kita merasa sebagai anggota keluarga Allah dalam konteks jemaat GKRI IMA maka ibadah adalah suatu kegiatan wajib yang harus kita laksanakan secara terus-menerus.

b.      Suatu kegiatan melatih diri agar terhidar dari pengaruh ajaran yang tidak benar (1 Tim. 4:7). Tanpa adanya ibadah sebagai filter maka kita akan mudah terpengaruh oleh berbagai ajaran yang tidak sehat. Banyak orang Kristen suka dengan “sulap” yang dikemas atas nama mujizat.  

 

2.      Ada Apa Dengan Ibadah?

a.       Dalam ibadah ada janji untuk hidup hari ini (1 Tim. 4:8)

·         Beroleh berkat secara jasmani (Mat. 6:33).

Bahwa saat kita mencari kerajaan Allah (beribadah) maka Tuhan berjanji akan memberkati hidup kita secara jasmani. Tuhan juga berjanji bahwa orang yang meninggalkan segala sesuatu untuk mengikutNya akan menerima berkat seratus kali lipat (Mat. 19:29).

·         Beroleh kebahagiaan di dunia (Wahyu 1:3).

Saat kita membaca dan mendengar firman saat ibadah serta melakukannya tiap-tiap hari sebagai praktek ibadah maka kita akan menjadi orang yang berbahagia. Yakobus berkata: Barang siapa mendengar dan meneliti serta melakukan firman dengan sungguh-sungguh maka ia akan berbahagia (Yak. 1:25).

b.      Dalam ibadah ada janji untuk hidup yang akan datang (1 Tim. 4:8)

·         Beroleh kehidupan yang kekal (Mat. 19:20).

Saat kita sungguh-sungguh mengikut Yesus maka Ia berjanji akan mengaruniakan hidup yang kekal. Yakobus berkata bahwa saat kita menerima firman maka jiwa kita akan selamat (Yak. 1:19).

·         Beroleh upah di sorga (Mat. 5:11-12).

Yesus berjanji jika oleh karena mengikut Dia kita dicela dunia maka kita akan beroleh upah besar di sorga. Yohanes menyampaikan janji Tuhan bahwa yang setia sampai akhir akan beroleh mahkota (Wahyu 2:10).

 

C.      PENUTUP

Tawaran dunia memang menggiurkan dan sepertinya prosesnya lebih menjanjikan. Ingat bahwa tidak ada sesuatu yang instan. Bahwa mie instan itu memang enak tapi tidak baik untuk kesehatan. Jangan pernah menggantungkan harapan pada dunia sebab dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginanya. Hanya satu tempat berharap itulah Yesus Tuhan yang akan selalu kita jumpai saat melakukan peribadahan. Tuhan Yesus memberkati.    

Saturday, February 12, 2022

Perasaan Versus Iman

 

Thema            : Perasaan Versus Iman

Nats                : Lukas 10:38-42

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Sebuah lirik lagu rohani berkata: “Yang terutama di dalam hidup ini meninggikan nama Yesus”. Sungguhkah ini ungkapan iman atau hanya sebatas perasaan? Jika ini ungkapan iman maka akan terlihat dari buahnya demikan sebaliknya jika ini hanya sebatas ungkapan perasaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa orang yang sungguh berTuhan pun ada kalanya berada pada situasi sulit yang membuat ia lemah. Tetapi jika sungguh itu ungkapan iman maka ia akan mampu melalui segala situasi dan membuat ia semakin kuat dalam menjalani kehidupan. Mari pastikan bahwa saat kita beragama bukanlah sebagai ungkapan perasaan tetapi lebih kepada ungkapan iman.  

 

B.      ISI

1.      Beragama sebagai ungkapan Perasaan. Seorang yang beragama dengan perasaan maka akan terlihat dari:

a.       Berusaha tampil terdepan (ay. 38). Marta langsung tampil menyambut Yesus dan murid-murindya.

b.      Lebih mengutamakan perkara jasmani (ay. 40a). Marta sibuk mempersiapkan makanan jasmani untuk Yesus dan murid-muridNya tetapi mengabaikan Firman yang disampaikan Yesus.

c.       Fokus kepada diri sendiri. Ungkapan: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli… (ay. 40) menunjukkan bahwa Marta sedang meminta Tuhan agar memperhatikan dirinya. Lebih dari itu Marta menyalahkan Maria saudaranya sendiri.

 

2.      Beragama sebagai ungkapan Iman. Seorang yang beragama dengan iman maka akan terlihat dari:

a.       Selalu ingin dekat dengan Tuhan (ay. 39). Maria duduk dekat kaki Tuhan artinya bahwa Maria ingin selalu dalam hadirat Tuhan.

b.      Selalu rindu mendengar firman Tuhan (ay. 39). Maria terus mendengar perkataanNya. Artinya Maria mendengarkan firman Tuhan bukan sewaktu-waktu tetapi secara teratur. Daud berkata : “yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam (Maz. 1:2)”.

c.       Tahu memilih yang terbaik (ay. 42). Maria telah memilih mengutamakan perkara rohani dari pada jasmani. Artinya apapun yang kita pilih, apapun yang kita lakukan semua atas dasar kasih kita kepada Tuhan (Kol. 3:23).

 

3.      Hasil saat kita beragama sebagai ungkapan Iman.

a.       Tidak hidup dalam kekuatiran (ay. 41). Marta mengkuatirkan hal-hal jasmani (makan-minum). Padahal burung di udara yang tak pernah menabur dan menuai pun Tuhan pelihara (Mat.6:26). Sementara Maria duduk tenang dekat Tuhan.

b.      Tidak bersusah hati memikirkan hidup (ay. 41). Maria berpikir lebih sederhana, ia percayakan hidupnya pada Tuhan. Sementara Marta menyusahkan dirinya sendiri dengan perkara jasmani yang tidak ada habisnya.

 

C.      PENUTUP

Mari gunakan iman saat datang kepada Tuhan. Memang kita tidak bisa terlepas dari perasaan, tetapi biarlah perasaan kita dituntun oleh iman saat datang kepada Tuhan. Sebab perasaan tanpa iman akan menjadi tumpul tetapi saat perasaan dipimpin oleh iman akan mantul (mantap betul). Sembari memikirkan perkara jasmani biarlah kita mengutamakan rohani. Jangan karena memikirkan segala seuatu yang akan kita tinggalkan kita melupakan hal terpenting saat kita pulang pada kekekalan. Tuhan Yesus memberkati.