Friday, June 11, 2021

Kehadiran Kaum Pria Minim Dalam Ibadah

                      Thema            : Kehadiran kaum pria minim dalam ibadah 

                     Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.      PENDAHULUAN

Jika dilakukan suatu pengamatan seputar kehadiran jemaat di gereja maka akan diperoleh data bahwa jumlah pria khususnya kaum bapak akan selalu lebih sedikit dari kaum wanita (kaum ibu). Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah populasi wanita lebih besar dari pria saat ini. Tetapi dalam hal jumlah kaum bapak dan ibu seharusnya sama. Sebab dalam sebuah keluarga Kristen konsepnya jelas satu lelaki dan satu perempuan menjadi satu daging. Sehingga idealnya jumlah kaum bapak dan ibu yang hadir dalam suatu ibadah seimbang. Namun faktanya jumlah kaum bapak selalu lebih sedikit. Sementara tokoh di dalam Alkitab baik para nabi, rasul, raja, dll. Selalu didominasi kaum pria. Bahkan Allah saja digambarkan sebagai pribadi yang maskulin (bergender pria). Yesus dalam kemanusiaanNya pun adalah seorang pria. Jadi harusnya seorang pria harus lebih maksimal dalam hal ibadah tanpa mengesampingkan kaum wanita. Dalam hal kepemimpinan pun Tuhan menunjuk kaum pria sebagai kepala (Imam) dalam sebuah rumah tangga.

B.      ISI

1.      Mengapa kehadiran kaum pria minim dalam ibadah?

a.       Karena keliru dalam memahami makna tanggung jawab.

Bahwa seorang laki-laki harus berpeluh dalam menafkahi keluarga (Kej. 2:17-19) adalah benar tetapi itu bukan berarti 7 hari dalam seminggu digunakan untuk bekerja. Ingat bahwa berkat Tuhan yang menjadikan kaya (tercukupi) bukan susah payah kita saat bekerja (Ams. 10:22). Saat seorang bapa mencari kerajaan Allah (beribadah) dan mencari kebenaran (Yesus) maka semuanya akan ditambahkan (Mat. 6:33).

b.      Karena akal lebih dominan dari iman.

Pria bermain logika dan perasaan ada pada wanita. Menurut logika jika setiap hari habis 2 kg beras maka sebulan harus 60 kg. Maka setiap hari harus menghasilkan minimal 2 kg beras termasuk hari minggu. Tetapi saat iman bekerja 5 roti dan 2 ikan (Mrk. 6:38) dapat mencukupi kebutuhan sebulan. Jadi jangan gunakan logika matematika dalam perhitungan Tuhan sebab Tuhan punya cara sendiri dan kita akan terkagum-kagum oleh berkatNya.

c.       Karena takut dianggap sebagai lelaki feminim

Ada kesan dibenak para lelaki dianggap sebagai laki-laki yang lemah (tidak keren) kalau rajin beribadah. Laki-laki yg keren adalah mereka yang duduk di kafe, di kedai tuak, ditempat fitness. Laki-laki yang gagah adalah mereka yang kuat secara fisik ditambah rokok ditangan. Jadi saat ada seorang pria rajin beribadah maka kelompok ini akan bilang : “Udah kayak pendeta kawan itu bah!”. Sehingga seorang pria menjadi malas sering-sering ke gereja karena takut di ceritakan sama teman-temannya.

d.      Karena memandang persekutuan sebagai kegiatan sosial.

Ada pemikiran bahwa mengikuti ibadah tak jauh beda dengan mengikuti kegiatan STM atau sejenisnya. Bahwa dalam kegiatan sosial kehadiran tidak perlu semua anggota keluarga hadir yang penting ada yang mewakili. Para suami sering menyuruh isteri dan anak-anaknya untuk hadir dalam ibadah sehingga seolah-olah itu mewakili kehadirannya.  

            Mungkin masih ada alasan-alasan lain mengapa pria minim hadir dalam suatu ibadah, tetapi apapun alasannya sesungguhnya itu terjadi karena para pria ini tidak bertumbuh secara rohani.

2.      Akibat minimnya kehadiran para pria dalam ibadah.

a.       Tidak cakap dalam memimpin memimpin isteri.

Ketika Ayub hidup saleh dan takut akan Tuhan (Ayub 1:1) maka ia dapat memimpin isterinya walau ada masalah yang begitu besar. Sementara seorang Simson dan Ananias gagal dalam membangun keluarga karena tidak membangun persekutuan dengan Tuhan.

b.      Tidak cakap dalam memimpin anak-anak.

Salomo berkata bahwa: Seorang anak seperti anak panah ditangan pahlawan demikianlah anak-anak pada masa mudanya (Maz. 127:4). Pahlawan dari seorang anak adalah bapanya. Bahwa Daud sebagai bapanya selalu mengajarkan Firman Tuhan kepada Salomo. Bagaiman seorang bapa mengajarkan Firman Tuhan jika ia sendiri tidak mengerti?

c.       Cenderung mengambil tidakan tanpa perhitungan.

Ketika Yusuf menghadapi masalah yang besar dalam perkawinannya maka ia tidak terburu-buru memutuskan tetapi dengan penuh pertimbangan sampai akhirnya datang pertolongan Tuhan (Mat. 1:20). Sementara Simson tanpa berpikir panjang memutuskan perkawinannya dengan Delila perempuan Filistin penyembah berhala hanya karena alasan suka dan malapetaka pun datang.

            Mungkin masih ada akibat-akibat yang lain, tetapi yang pasti minimnya kehadiran para pria dalam ibadah akan mendatangkan akibat yang negatif dan hal terburuknya keluarganya takkan menjadi bagian dari kerajaan sorga.

C.      PENUTUP

Tuhan menetapkan bahwa kaum prialah sebagai imam (pemimpin) di dalam sebuah rumah tangga. Biasanya jika seorang pemimpin tidak hadir dalam suatu organisasi maka para pegawai atau anggotanya pun akan bekerja seadanya saja. Demikian juga seorang pria (bapa) ketika tidak hadir ditengah keluarga sebagai seorang imam lewat kehadirannya dalam setiap persekutuan maka semua anggota keluarganya juga takkan maksimal secara rohani. Marilah para pria (kaum bapa) pimpinlah keluargamu untuk semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

Wednesday, June 9, 2021

Mengatur Perekonomian Keluarga

 

Thema                 : Mengatur Perekonomian Keluarga

Nats                       : Ibrani 13:5

Oleh                      : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

 

A.      PENDAHULUAN

Salah satu faktor yang mempengaruhi kebahagian sebuah keluarga adalah saat perekonomian keluarga berjalan dengan lancar. Tentu kita tidak setuju dengan pernyataan “Hepeng do na mengatur negara on (Uang yang mengatur segalanya)”. Harus kita akui bahwa untuk segala sesuatu membutuhkan benda yang namanya uang tetapi tidak semua hal bisa dinilai dengan uang. Ada keluarga yang sumber penghasilannya besar namun sering bermasalah bahkan terjadi keributan seputar keuangan keluarga. Sebaliknya ada keluarga yang sumber penghasilannya biasa-biasa saja tetapi adem sampai akhir bulan. Mengapa terjadi situasi yang bertolak belakang di antara kedua keluarga tersebut? Tentu semua kembali pada pengaturan perekonomian yang dibuat oleh kedua keluarga tersebut. Sebuah pepatah mengatakan “Besar pasak dari pada tiang”. Jika pengeluaran lebih besar dari pada apa yang dihasilkan diawal bulan maka sudah barang tentu akan terjadi defisit (minus) diakhir bulan. Mari belajar dari Firman Tuhan sehingga kita bisa aman dari awal sampai akhir bulan.

B.      ISI

1.       Prinsip praktis tentang pengaturan ekonomi keluarga.

a.       Belajar mencukupkan diri (Ibr. 13:5). Menurut Adam Smith (Econom) manusia adalah mahluk ekonomi yang cenderung tidak pernah merasa puas (cukup). Artinya saat suatu keinginan tercapai maka akan ada keinginan yang lebih besar. Jadi kapankah manusia merasa cukup? Ketika seseorang mampu bersyukur maka disanalah letak rasa cukup. Bahwa kebahagiaan adalah kombinasi rasa cukup dan ucapan syukur.

b.       Belajar hidup hemat (Ibr. 13:9). Gaya hidup manusia hari lepas hari semakin konsumtif yang artinya menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Hanya karena kemalasan maka seseorang akan memesan makanan melalui Go-Food. Makanan siap saji sesungguhnya bukan budaya kita tetapi hari ini dengan bangga banyak orang melakukannya. Ingat ajaran leluhur kita “Hemat pangkal kaya”.

c.       Belajar hidup sederhana (1 Tim. 6:8). “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Tentu kata “asal” yang diucapkan Paulus maksudnya bukan asal-asalan (sembarangan) tetapi mengarah kepada pola pikir yang sederhana. Bahwa sesungguhnya hidup ini murah tapi tetapi gengsi yang membuat susah, hidup ini sederhana tetapi merk yang membuat jadi bisa merana. Tuhan tidak menyuruh seorang isteri berpakaian indah dan mahal tetapi berpakaian sederhana dan sopan (1 Tim. 2:9).

d.       Belajar hidup menabung (Kej. 41:48-49). “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Selama tujuh tahun masa kelimpahan Yusuf menabung (menyimpan) gandum dilumbung sehingga tujuh tahun masa kesusahan (kekeringan) dapat ia atasi dengan baik. Mari belajar untuk menyimpan gandum dilumbung.

e.       Bekerja dengan giat (2 Tes. 3:10). Dengan tegas Paulus berkata bahwa seorang yang tak mau bekerja tak layak untuk makan. Benar bahwa berkat datang dari Tuhan tapi firman Tuhan berkata bahwa tangan yang malas dan lamban akan mendatangkan kemiskinan (Ams. 10:4).

2.       Prinsip teologis tentang pengaturan ekonomi keluarga.

a.       Menyakini janji penyertaan Tuhan (Ibr. 13:5b). Tuhan takkan membiarkan dan meninggalkan kita dalam lembah kesusahan saat kita berseru padaNya. Bahwa tidak akan pernah orang benar  dan keturunannya menjadi peminta-minta (Maz. 37:5). Perlu diingat bahwa berkat Tuhan yang menjadikan kaya (tercukupi perekonomian) susah payah tidak akan menambahinya (Ams. 10:22). Artinya bahwa saat kita mencari kerajaan Allah (berdiam di rumah Tuhan) maka disanalah berkat itu akan mengalir. Bahwa Allah sendiri pun bekerja selama 6 hari dan pada hari ke-7 Ia beristirahat dan menguduskan hari itu.

b.       Mengembalikan sebagian berkat Tuhan kerumahNya (Mat. 22:21). Saat kita menerima berkat dari Tuhan maka sudah selayaknya kita berterima kasih (bersyukur) kepada Tuhan dengan jalan mengembalikan sebagian dari berkat itu untuk pekerjaan Tuhan. Ingat Tuhan tidak membutuhkan uang kita tetapi untuk kelangsungan pekerjaan Tuhan melalui gereja maka Tuhan meminta kita untuk mengambil bagian. Dan saat kita mengerjakan bagian kita maka Ia akan memberkati kita dengan caraNya yang luar biasa.

C.       PENUTUP

Karena perekonomian menjadi salah satu faktor penentu kebahagiaan keluarga maka tatalah sebaik mungkin sesuai dengan firman Tuhan baik secara praktis maupun teologis. Tentu ini tidak semudah membalik telapak tangan tetapi sesuatu yang bisa diupayakan melalui suatu perjuangan bersama seluruh anggota keluarga dan dengan tuntunan Tuhan sehingga kebahagiaan akan kita nikmati. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

Thursday, June 3, 2021

Sikap Anak Dalam Menghormati Orang Tua

                            Thema            : Sikap Anak Dalam Menghormati Orang Tua

                            Nats                : Efesus 6:1-4

                            Oleh                 : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

A.      PENDAHULUAN

Semua orang pernah menjadi anak dari seorang ayah dan ibu walaupun tidak semua orang akan menjadi seorang ayah atau ibu. Seorang anak yang patuh dan taat serta menghargai orangtua adalah harapan dari setiap orangtua. Sehingga pernah seorang ibu berkata: “Biarlah engkau menjadi bayi kecilku selamanya”. Apa makna ungkapan ibu tersebut? Bahwa ketika seorang ibu berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk menghadirkan seorang anak ke tengah dunia terbayar ketika melihat senyuman, tangisan, kelucuan dan keceriaan bayinya tersebut. Namun kebahagiaan itu terkadang pudar bahkan bisa hilang tatkala anak tumbuh menjadi dewasa terlebih saat seorang anak kurang atau bahkan tidak peduli dengan didikan dan nasihat dari orangtuanya. Maka kerinduan seorang ayah atau ibu adalah melihat anaknya tetap “bayi” yang bisa ia peluk, selalu dekat dengannya sebab ada kalanya si anak harus meninggalkannya saat generasi berganti. Wahai anak-anak dengarlah jeritan hati ayah dan ibumu yang selalu merindukanmu dalam setiap desahan nafasnya. Igatlah bahwa ada kalanya nanti engkau takkan bersamanya lagi. Buatlah ia bahagia selama ia ada didunia ini dengan jalan jadilah kamu anak yang berbakti kepadanya.

 

B.      ISI

1.      Arti menghormati orang tua (ay. 2)

a.       Menurut KBBI menghormati berarti: menaruh hormat (sopan), menghargai, menjunjung tinggi, mengakui dan menaati.

b.      Secara teologis: Hormat (Kavood) yang berarti “menjadi bernilai”. Bahwa saat kita menghormati seseorang maka kita memberi nilai tinggi (menghargai) orang tersebut (Ul. 32:3)

Jadi menghormati orang tua berarti menaruh hormat kepada orang tua sebagai pribadi yang bernilai tinggi dalam kehidupan seorang anak.

2.      Sikap seorang anak yang menghormati orang tua

a.       Menaati orang tua di dalam Tuhan (ay. 1). Selama apa yang dikatakan orang tua masih sesuai firman Tuhan maka itu haruslah ditaati.

b.      Mendengar didikan dan nasehat orang tua di dalam Tuhan (ay. 4b, Ams. 13:1). Bahwa secara umum orang tua akan mendidik dan menasihati anaknya ke jalan yang benar. Orang tua yang tak berTuhanpun mendidik anaknya ke arah yang baik apalagi orang tua yang mengenal Tuhan.

c.       Memiliki rasa segan kepada orangtua (Im. 19:3). Bahwa seseorang yang takut (segan) kepada Tuhan akan terlihat saat ia juga segan kepada orantuanya.

d.      Berusaha membuat orang tua bangga (Ams. 10:1).

3.      Hasil bagi seorang anak yang menghormati orang tua

a.       Berbahagia atau baik keadaannya (ay. 3, Ul. 5:16). Saat seorang anak menghormati orangtuanya maka orangtua akan bahagia dan kebahagiaan itu akan dirasakan oleh semua keluarga. Timotius menjadi pibadi yang berbahagia saat ia menaati ibunya Eunike dan neneknya Lois (2 Tim. 1:5). Sementara Simson menderita saat tidak mau mendengar nasihat orangtuanya (Hak. 14:3).

b.      Panjang umur atau lanjut umur (ay. 3, Ul.5:16). Tentu seorang anak yang menghormati orang tua pikirannya akan lebih tenang. Dengan pikiran yang tenang ditambah doa orang tua maka tak berlebihan jika dikatakan umur si anak akan panjang walaupun bicara umur semua kembali kepada Tuhan.

4.      Sikap orang tua terhadap anak.

Sebagai orangtua di dalam Tuhan maka harus memberikan rasa nyaman kepada seorang anak dengan cara:

a.       Menjaga perasaan anak-anak (ay. 4). Marahi dan cintai.

b.      Menghukum dengan kasih (Ams. 23:4). Dipukul kemudian dirangkul.

 

C.      PENUTUP

Menghormati orang tua adalah kewajiban setiap anak sejak ia terlahir sampai ia kembali ke alam keabadian. Saat menghormati orangtua sesungguhnya kita sedang merancang suatu kebahagiaan dimasa yang akan datang. Setidaknya dengan memperlakukan orangtua kita dengan baik kita sedang mempersiapkan seorang anak yang akan memperlakukan kita dengan baik kelak. Sebab apa yang kita tanam maka itu yang kemudian akan kita tuai. Tuhan memberkati.

Wednesday, April 7, 2021

KELUARGA YANG KUAT

 

Thema            : Keluarga Yang Kuat

Nats                : Maz. 112 : 1 – 10

Oleh                : Pdt. Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th.

 

A.      PENDAHULUAN

Berkeluarga bukanlah sekedar memiliki teman hidup atau memiliki keturunan. Tetapi lebih dari itu bahwa berkeluarga adalah memenuhi panggilan Tuhan. Ketika berkeluarga merupakan suatu panggilan maka sebuah keluarga akan melibatkan Tuhan di dalam menjalani mahligai rumah tangga sehingga menjadi kuat disaat badai hidup menerpa. Banyak keluarga bubar ditengah jalan sehingga anak-anak menjadi korban. Mengapa bisa demikian? Karena berkeluarga hanya sekedar memenuhi keinginan, sehingga saat keinginan tidak tercapai maka seseorang akan mencari jalan lain termasuk dengan membentuk keluarga baru dengan mengorbankan keluarga yang lama. Tetapi jika sungguh berkeluarga memenuhi panggilan dan Tuhan hadir sebagai nakhoda di dalamnya maka tak ada badai yang mampu menenggelamkannya. Sebab dari awal tujuannya sudah jelas yaitu untuk mengarungi samudera luas hingga sampai di dermaga kebahagiaan. Untuk menjadi keluarga yang kuat dibutuhkan suatu usaha di dalam Tuhan.

 

B.      ISI

1.      Arti Keluarga yang kuat.

·         Keluarga yang membangun pondasi yang benar untuk anak cucunya (ay. 1 – 2).

Mewariskan harta kekayaan (ay. 5) bagi anak cucu adalah sesuatu yang baik, tetapi lebih dari itu mewariskan karakter takut akan Tuhan atau iman (ay. 1) adalah hal yang paling utama.

·         Keluarga yang menanamkan keteguhan hati (mental dan moral) dalam keluarga (ay. 8).

 

2.      Cara hidup agar keluarga kuat.

·         Aspek spiritual

Menjadi keluarga yang kuat harus dimulai dari sisi spiritual (kerohanian) yang baik. Yosua berkata berkata: Aku dan seisi rumahku hanya akan beribadah kepada Tuhan (Yos. 24:15). Bagaimana agar spiritual kuat dalam keluarga?

Ø  Hidup takut akan Tuhan (ay. 1)

Ø  Menyukai perintah (Firman) Tuhan (ay. 2, Maz. 1:2)

Ø  Percaya sepenuh hati pada Tuhan (ay. 7, Amsal 3:5)

·         Aspek mental

Ø  Memiliki pendirian yang tetap (ay. 6). Tidak mudah terpengaruh oleh situasi yang ada.

Ø  Memiliki keteguhan hati/tidak penakut (ay. 8). Tidak penakut bukan berarti nekat menembus bahaya tetapi lebih kepada sikap berani ketika benar.

·         Aspek moral

Ø  Suka berbuat kebajikan (ay. 3)

Ø  Selalu berlaku adil (ay. 4)

Ø  Memiliki belas kasihan (ay. 5 dan 9)

 

3.      Hasil bagi keluarga yang kuat.

Ketika sebuah keluarga kuat dalam aspek spiritual, mental dan moral maka akan ada hasil yang diperoleh yaitu:

·         Menjadi keluarga yang berbahagia (ay. 1)

·         Anak cucunya akan diberkati Tuhan (ay. 2, Maz. 37:25).

·         Hidupnya selalu beruntung (ay. 5, Yos. 1:8-9)

·         Memiliki nama baik yang akan dikenang orang (ay. 6)

 

C.      KESIMPULAN

Keluarga yang kuat bukan hanya berbicara tentang apa yang dimiliki sebuah keluarga tentang dunia ini. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa materi sangat menentukan langgeng tidaknya perjalanan sebuah keluarga. Tetapi lebih dari itu bahwa kehadiran Tuhanlah yang paling utama dalam menentukan kuat tidaknya sebuah keluarga untuk menjalaninya sampai akhir nanti. Bekerja dan berusahalah menghasilkan rupiah pada saatnya tetapi berdoa dan beribadahlah  pada waktunya agar rupiah yang dihasilkan dapat dinikmati untuk beroleh kebahagiaan. Amin.

Sunday, April 4, 2021

Makna Telur Paskah

 

Thema                 : Makna Telur Paskah

Nats                       : Yoh. 11:25

Oleh                      : Pdt. Nelson Sembiring, M. Th.

 

A.      PENDAHULUAN

Berbagai kegiatan dilakukan orang Kristen dalam menyambut perayaan Paskah. Via Dolorosa (Jalan salib), nonton bareng film dokumenter “The Passion Of The Christ” sampai menghias telur yang kemudian dinamakan “Telur Paskah”. Bahkan dikalangan anak-anak sampai remaja ini dijadikan sebagai suatu kompetisi (perlombaan) mencari telur Paskah. Tidak ada yang salah dengan semua kegiatan-kegiatan ini jika pada akhirnya membawa orang Kristen semakin mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidupnya. Menghias dan mencari telur paskah menjadi hal yang cukup menarik untuk kita perbincangkan. Sederhana, namun jika dimaknai maka kita akan semakin mengerti bagaimana kita harus menaruh kepercayaan dan harapan kita hanya kepada Yesus Kristus Tuhan. Mari menggali dan menemukan makna di balik telur Paskah.

 

B.      ISI

1.       Latar Belakang di balik Telur Paskah

Ada beberapa hal yang melatar belakangi munculnya istilah telur Paskah.

a.       Legenda pertama. Mengisahkan bahwa Maria Magdalena yang pergi ke kubur Yesus pada hari minggu pagi membawa telur yang sudah direbus untuk dibagi-bagikan kepada beberapa wanita yang bersama dengan dia ke kubur Yesus. Ketika sampai di kubur Yesus dan melihat batu penutup kubur itu telah terbuka maka telur-telur yang ada dikeranjang Maria itu berubah menjadi merah. Dan itu didentikkan dengan kebangkitan Kristus dari kematian.

b.       Legenda kedua. Mengisahkan bahwa Maria Magdalena sebagai saski kebangkitan Kristus membawa berita kebangkitan kepada Tiberius Raja Romawi. Namun Tiberius menganggap itu cerita bohong dan mustahil terjadi dan mentertawakan cerita Maria. Namun Maria yang membawa telur ditangannya memperlihatkan itu kepada Raja. Telur yang awalnya putih tiba-tiba berubah menjadi merah seperti darah.

c.       Legenda ketiga. Di Jerman dan Inggris mengenal musim semi dan ini bersamaan waktunya dengan perayaan Paskah. Sebuatan untuk dewi musim semi adalah Eostre (Inggris) dan Austro (Jerman). Dari kata inilah muncul Happy Easter (Paskah). Musim semi diketahui sebagai awal dari kehidupan, bunga mekar dan dedaunan yang gugur tumbuh kembali. Hal ini didentikkan dengan telur yang merupakan sumber suatu kehidupan. Bahwa dari telur akan bangkit sebuah kehidupan.

Itulah beberapa cerita yang melatar belakangi munculnya istilah telur Paskah terlepas dari benar tidaknya legenda-legenda itu.

 

2.       Makna Telur Paskah dalam aspek Theologis.

Tidak ada ayat alkitab yang membahas tentang telur Paskah. Namun jika kita gali mungkin kita akan temukan beberapa makna. Tentu dengan tidak memaksakan ayat Alkitab yang tidak cocok tetapi dengan mengambil suatu perbandingan-perbandinngan atau bahasa Alkitabnya perumpamaan.

a.       Dari telur akan muncul (bangkit) sebuah kehidupan. Cangkang digambarkan sebagai kubur batu Kristus. Ketika cangkang itu retak dan terbelah maka muncullah sebuah kehidupan. Bahwa Yesus yang bangkit dari kematian akan memberikan kepada kita suatu kehidupan (Yoh. 11:25).

b.       Telur menetas dan menjadi hidup jika ia dihangatkan. Bahwa orang yang sungguh-sungguh Kristen akan selalu terhubung pada suatu sumber energi yang membuat dia tetap hangat bahkan panas sehingga rohnya menyala-nyala mengikut Tuhan (Roma 12:11). Dan Tuhan tidak suka kepada pribadi yang suam-suam (Wahyu 3:16).

c.       Telur adalah sumber makanan yang mengandung nilai gizi tinggi. Bahwa dengan mengkonsumsi telur secara teratur maka kita akan sehat. Ketika anak-anak berusaha keras mencari dan menemukan telur Paskah maka hal berikutnya yang akan dilakukan adalah memakan telur Paskah itu. Sebagaimana jasmani butuh roti maka roh kita juga butuh makanan (Mat. 4:4).

d.       Telur memiliki tiga bagian (kulit/cangkang, putih telur dan kuning telur). Bahwa ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Ketiganya berperan untuk menciptakan suatu kehidupan. Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan yang akan memberi kehidupan pada orang percaya.

 

C.       KESIMPULAN

Telur Paskah tetaplah telur biasa dan tidak ada yang istimewa, tetapi saat kita memaknainya dari aspek rohani maka akan menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk lebih mengerti tentang Dia. Ada kalannya kita harus merenungkan sesuatu yang biasa untuk satu tujuan yang luar biasa. Membuka mata disetiap pagi setelah tidur semalaman sepertinya adalah sesuatu yang lazim dan biasa saja. Tapi coba banyangkan jika esok hari mata kita tidak terbuka lagi. Maka renungkanlah esok pagi saat mata kita terbuka, tanyakan pada Tuhan apa rencanamu hari ini dalam hidupku Tuhan. Mampukan aku mengawali dan menyelesaikan hari ini. AMIN. 


Donasi Untuk Pengembangan Pelayanan. 
No. Rekening BNI : 0330445252 (Cabang Medan)
Nama : Bpk NELSON